Jodoh Istri Kedua

Jodoh Istri Kedua
Berbagi Duka


__ADS_3

Hari ini Salma tampak sibuk di kiosnya hingga ia lupa jika ia belum makan siang hingga waktunya ia harus menutup kiosnya. Saat itulah perutnya mulai berdemo karena telat diisi. Karyawan Salma yang sudah seperti teman pun menggoda atasannya itu. Salma pun hanya tersenyum mendengarnya. Saat para karyawan mulai pulang setelah Salma mengunci kiosnya tanpa ia duga seseorang menarik tangannya dengan kasar.


"Dasar perempuan matre! kua mendekati Wahyu pasti karena dia kaya kan?" sentak seorang wanita muda dengan dandanan glamour.


"Maksud mbak apa ya?" tanya Salma yang tak mau terpancing emosi.


"Mbak...mbak... aku bukan mbakmu! mana cocok aku dipanggil mbak emang mbak jamu hah!"


"Yah mungkin saja mbaknya penjual jamu modern" sahut Salma enteng.


"Kau!" tunjuk wanita itu kehabisan kata-kata.


"Berani sekali kau datang kemari dan mengganggu calon istriku!" bentak Wahyu yang tenyata sudah berada di sana.


"Wahyu!" seru wanita itu kaget karena tak menduga jika pria itu sudah ada disana.


"Pergi!" usir Wahyu dengan wajah mengerikan.


"Tapi..."


"Pergi sekarang! atau kau akan menerima balasannya!" seru Wahyu.


Dengan kesal wanita itu pun meninggalkan tempat itu. Setelah kepergian wanita itu Wahyu langsung menuntun Salma untuk masuk ke dalam mobilnya. Salma pun menurut tanpa protes. Saat di dalam mobil perut Salma kembali bersuara membuat suasana yang semula sedikit tegang menjadi cair.


"Kita cari makan dulu ya?" ajak Wahyu dengan suara lembut.


Salma hanya mengangguk pelan karena masih malu akibat perutnya yang tidak bisa diajak kompromi. Sesampainya di restoran pilihannya Wahyu pun memgajak Salma turun. Setelah masuk ke dalam keduanya langsung memesan menu makanan. Keduanya seakan sepakat untuk tidak membahas masalah wanita tadi sebelum keduanya selesai makan.


Setelah keduanya menghabiskan makanannya Wahyu langsung mengajak Salma ke suatu tempat yang menurutnya enak untuk keduanya berbicara. Dan Wahyu pun memilih ke pantai. Salma sangat senang saat mereka tiba di tepi pantai. Sudah lama sekali ia tak pernah ke pantai sejak ayahnya meninggal dunia. Karena dulu ayahnyalah yang sering mengajak keluarganya ke pantai.


Sesaat keduanya terdiam dan menikmati suasana pantai yang sepi. Kemudian Wahyu mengajak Salma untuk duduk dibawah pohon yang ada di tepi pantai itu.


"Salma ... apa kau marah padaku karena ucapan wanita tadi?" tanya Wahyu.


"Gaklah mas... buat apa? toh tidak ada gunanya... yang terpenting bagiku itu perasaan kamu sama aku... yang lainnya aku tidak lagi perduli" sahut Salma.


"Sekali ini ... jujur aku ingin egois mas... apa aku salah?" sambung Salma sambil menatap Wahyu.


"Tidak... kau tidak salah... diantara kita tidak ada yang salah Ma..." ujar Wahyu membalas tatapan Salma.

__ADS_1


Tiba-tiba Wahyu mendekatkan dirinya dan memeluk tubuh Salma dengan erat. Salma yang tak menyangka dengan yang dilakukan Wahyu hanya terdiam. Namun kemudian ia pun membalas pelukan pria itu.


"Kenapa mas? apa ada yang mengganggu fikiranmu?" tanya nya lembut sambil mengusap punggung pria yang mulai mengisi hatinya itu.


"Ada yang harus aku ceritakan tentang masa laluku padamu Ma..." ucap Wahyu sambil mengurai pelukannya.


Salma pun terdiam dan mendengarkan apa yang ingin dikatakan oleh Wahyu. Setelah menghembuskan nafasnya perlahan Wahyu pun mulai menceritakan kejadian saat ia difitnah oleh Friska wanita yang tadi mendatangi Salma. Diungkapkannya semua tanpa ada rahasia bahkan apa yang ia rasakan saat itu pun ia ungkapkan pada Salma.


Saat ini Salma dapat melihat kerapuhan Wahyu... yang seakan trauma dengan urusan hukum. Kejadian saat ia harus mendekam dalam tahanan membuat pria itu rapuh. Ia tak menyangka akan mengalami hal itu karena fitnahan orang yang ia anggap teman. Apa lagi saat itu usianya masih tergolong muda 20 tahun. Belum lagi menghadapi cemoohan orang yang menganggapnya sebagai seorang pemerkosa walau hal itu akhirnya tidak terbukti.


Salma memeluk tubuh Wahyu yang kini bergetar saat mengingat masa lalunya. Pria itu pun pasrah dalam pelukan Salma. Seakan telah mengeluarkan batu besar yang selama ini menghimpit hatinya akhirnya Wahyu merasa lega.


"Terima kasih Ma... kamu sudah mau mendengarkan curhatanku..." ucap Wahyu masih dalam pelukan Salma.


"Sama-sama mas..." sahut Salma lembut.


Keduanya pun kembali menikmati suasana pantai yang kini sudah menjelang sore. Bahkan keduanyan berjalan-jalan beriringan di tepian pantai sambil saling bergandengan tangan.


"Mas lebih baik kita pulang sekarang... aku takut ibu khawatir..." kata Salma yang menyadari hari sudah semakin sore.


"Baiklah... kita pulang sekarang" sahut Wahyu.


Malam harinya saat semua orang telah tidur tampak Gita masih berdiri di balkon kamarnya. Hari ini setelah dari rumah sakit dan kampus yang ingin di masukinya ia merasa sangat lelah namun tak dapat memejamkan matanya.


Ya... meski pak Adi telah berjanji tetap akan memperlakukannya sebagai putrinya walau apa pun hasil dari tes DNA yang telah mereka lakukan tapi tetap saja Gita merasa tidak nyaman. Sejak kecil baru kali ini memiliki perasaan seperti ini.


"Heh... kenapa rasanya sangat menyakitkan padahal hasil tes itu belum keluar..." desah Gita.


"Jika benar aku juga bukan anak papa... aku harus bagaimana? apa kau harus mencari siapa papa kandungku? lalu bagaimana dengan papa Adi?" batinnya bergejolak.


Tiba-tiba ia pun merasa pusing dan memutuskan untuk masuk ke dalam kamarnya untuk beristirahat.


Ditempat lain pak Adi juga tengah merasakan kegelisahan yang sama. Hatinya tengah bergemuruh membayangkan jika ada kemungkinan bahwa kedua anaknya bukanlah darah dagingnya. Di pandanginya wajah bu Desi yang tengah tertidur pulas disampingnya.


"Bisa-bisanya kau tidur dengan pulas selama ini Des... padahal kau menyimpan rahasia kelam yang sangat besar!" batin pak Adi geram.


Sudah satu minggu sejak pak Adi dan Gita melakukan tes DNA. Dan hari ini keduanya akan mengetahui hasilnya. Sejak pagi Gita sudah bersiap rencananya ia dan pak Adi akan ke rumah sakit bersama. Keduanya akan beralasan jika Gita ingin diantar pergi kuliah oleh pak Adi. Memang Gita sudah mendaftar kuliah dan sudah mulai mengikuti mata kuliahnya. Namun sebenarnya hari ini ia kuliah siang.


Sedang Wahyu sedang sibuk untuk mempersiapkan pernikahannya dengan Salma. Walau Salma tidak meminta pernikahannya digelar mewah tapi Wahyu ingin semuanya sempurna jadi dia sendiri yang turun tangan untuk memeriksa segala persiapannya. Hari ini ia juga akan membawa Salma ke butik untuk mencari gaun pengantin. Karenanya setelah sarapan ia pun segera menjemput calon istrinya itu.

__ADS_1


Saat sampai di rumah Salma ia langsung disambut hangat oleh bu Rahma. Wanita paruh baya itu tampak ikut bersemangat mempersiapkan pernikahan Salma. Meski ini pernikahan keduanya. Tapi bagi bu Rahma dan Salma persiapan seperti ini yang pertama untuk Salma karena dulu pernikahannya dan Wahyu hanya formalitas tanpa ada rasa.


"Bu... nanti acara lamarannya akan diadakan satu minggu sebelum akad..." kata Wahyu.


"Baiklah nak Wahyu ibu dan keluarga hanya ikut saja dengan keinginan nak Wahyu beserta keluarga" ujar bu Rahma.


"Tapi... apa mama nak Wahyu sudah memberikan restu?" tanya bu Rahma.


Ia tak ingin peristiwa yang dulu menimpanya dengan pak Adi kembali terulang pada Wahyu dan Salma.


"Ibu jangan khawatir.... mama akan ikut apa kata papa..." sahut Wahyu.


Bagi bu Rahma jawaban Wahyu mengisyaratkan bahwa mamanya masih belum merestui.Tapi ia tak ingin merusak kebahagiaan Wahyu dan juga Salma. Karenanya ia harus memberitahu pak Adi agar waspada dan menjaga putranya agar tak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Dengan terpaksa ia yang biasanya tak pernah memeriksa ponsel putriya pun akhirnya mencari kontak pak Adi di ponsel Salma saat gadis itu tengah di kamar mandi. Untung saja putrinya itu benar menyimpan nomor pak Adi.


Setelah Wahyu dan Salma pergi bu Rahma pun menghubungi ponsel pak Adi. Namun sampai panggilan yang ke tiga kali pria itu belum juga mengangkatnya. Akhirnya ia pun hanya mengetikkan pesan agar pak Adi mau menemuinya.


Sementara pak Adi dan Gita kini tengah berada di ruangan dokter yang akan membacakan hasil tes DNA yang mereka lakukan. Oleh karena itulah pak Adi mensilentkan ponselnya. Sehingga ia tidak tahu jika bu Rahma menghubunginya.


"Bagaimana dokter hasilnya?" tanya pak Adi.


"Begini pak... dari hasil tes yang sudah kita lakukan maka sampel pak Adi dan Wahyu menunjukkan jika kalian bukanlah ayah dan anak... maaf" terang sang dokter.


Meski pak Adi sudah menduganya namun tentu saja ia masih berharap ada keajaiban jika Wahyu itu putra kandungnya. Tapi hasil tes DNA telah mematahkan harapannya sehingga kekecewaan sangat tergambar diwajahnya. Begitu juga Gita ia juga tampak syok dengan hasil yang ditunjukkan oleh dokter.


"Lalu bagaimana dengan tes yang saya dan Gita dokter?" tanya pak Adi lagi.


"Untuk tes dengan sampel milik pak Adi dengan Gita menunjukkan jika 99 persen kalian ayah dan anak..." kata sang dokter yang membuat pak Adi dan Gita saling berpelukan.


"Kau putriku... benar-benar putriku..." ucap pak Adi sambil membingkai wajah Gita dengan kedua telapak tangannya.


"Iya ayah..." sahut Gita dengan berlinang air mata bahagia.


Ayah dan anak itu pun cukup lama berpelukan. Hingga akhirnya pak Adi mengurai pelukannya.


"Dokter bisa merahasiakan hal ini dari orang lainkan?"


"Tentu saja pak Adi... kami akan menjaga kerahasiaan hasil tes ini" sahut sang dokter yang memahami keinginan pak Adi.


Keduanya pun akhirnya keluar dari ruangan dokter dengan perasaan campur aduk.

__ADS_1


__ADS_2