Jodoh Istri Kedua

Jodoh Istri Kedua
Terbuka


__ADS_3

Selesai makan malam tampak seluruh anggota keluarga Permana berkumpul di ruang keluarga. Pak Adi sang kepala keluarga tampak duduk di kursi kebesarannya yang berada ditengah ruang keluarga. Sedang bu Desi dan Gita duduk berdampingan disisi kanan pak Adi sedangkan Wahyu memilih berada di seberang ibu dan adiknya. Tampak sekali jika ketiga sedang dalam suasana yang saling bertentangan.


"Kalian tahu kenapa kalian semua aku kumpulkan disini?" suara pak Adi memecahkan keheningan suasana di ruangan itu.


"Pasti karena tingkah putramu itu kan mas?" ucap bu Desi yang memang siang tadi saat Wahyu pergi segera menghubungi suaminya dan menceritakan semuanya.


"Apa maksud ibu? kenapa ibu jadi membahas tingkahku? sedang ibu sendiri sudah berbuat sangat keterlaluan pada temanku!" sahut Wahyu tak terima dengan ucapan ibunya.


"Sudah-sudah! aku kumpulkan kalian bukan untuk berdebat didepanku mengerti!" suara pak Adam terdengar menggelegar membuat semua yang ada disana terdiam.


"Sekarang aku tanya padamu ma... kenapa kau sangat tidak menyukai wanita yang dicintai Wahyu? apa karena dia miskin? atau karena dia janda?" tanya pak Adi yang sontak membuat bu Desi dan Gita terperangah.


Pasalnya mereka tak menyangka jika ternyata pak Adi malah terlihat seperti mendukung Wahyu.


"Maksud kamu apa mas? tentu saja karena perempuan itu sama sekali tak selevel dengan kita... dia itu miskin dan juga janda... aku yang melahirkan Wahyu tentu saja aku ingin Wahyu bisa mendapatkan seorang gadis yang baik dan selevel dengan kita... bukan malah janda miskin seperti yang kini disukainya..." sahut bu Desi.


"Level? level apa yang mama maksud? kekayaan? kehormatan? itu yang mama maksud?" tanya pak Adi.


"Kalau bicara kekayaan tentu saja wanita itu malah lebih kaya dari mama... begitu juga kehormatan"


"Apa maksud papa?" teriak bu Desi tak terima dengan ucapan suaminya.


"Bukankah selama ini mama hanya bisa meminta uang pada papa tanpa pernah bisa mencarinya sendiri? sedang tentang kehormatan apa perlu papa ceritakan didepan anak-anak tentang masa lalu mama?" sentak pak Adi dengan wajah datar.


Wajah bu Desi seketika berubah menjadi pucat saat mendengar perkataan pak Adi. Ia ingat masa lalunya yang kelam. Dimana ia pernah menjadi wanita bebas yang sering bergonta-ganti pasangan dan keluar masuk club malam. Jika bukan karena orangtuanya menjodohkannya dengan pak Adi mana mungkin ia bisa seperti sekarang. Hanya kedua orangtuanya dan pak Adi yang tahu masa lalu dari bu Desi sedang orangtua pak Adi sama sekali tak pernah mengetahuinya.


"Maksud papa apa?" tanya Wahyu.


Gita pun tampak penasaran dengan ucapan papanya tentang masa lalu mamanya itu.


"Itukan masa lalu pa... jangan suka diungkit lagi!" ucap bu Desi masih dengan wajah pias.


"Lalu apa yang mama lakukan sekarang pada wanita yang disukai Wahyu ha? bukankah itu sama saja?" balik pak Adi.


Bu Desi pun langsung terdiam mendengar ucapan suaminya itu.


"Sebenarnya papa tidak ingin melakukan ini tapi tingkah kalian berdua semakin lama semakin menjadi!" sambung pak Adi sambil menunjuk bu Desi dan Gita.

__ADS_1


"Apa kalian tahu pandangan orang lain dengan tingkah kalian? kalian berdua itu memang sangat bodoh... tidak dapat membedakan mana yang tulus dan mana yang hanya ingin memanfaatkan kalian!" ucap pak Adi lagi.


"Kali ini aku akan perlihatkan sebuah kebenaran pada kalian... tapi jika kalian tetap saja pada pendirian bebal kalian maka terserah saja aku sudah tidak lagi mau tahu..."


Kemudian pak Adi menekan remote TV yang ada di ruangan itu. Seketika tampak sebuah rekaman disebuah kafe. Disana terlihat teman-teman bu Desi dan juga calon besannya yang sedang mentertawakan kebodohannya dan niat mereka yang hanya ingin memanfaatkan bu Desi saja. Melihat itu tampak wajah bu Desi seketika memerah tak menyangka jika orang-orang yang dipercayanya menusuknya dari belakang.


"Aku memperlihatkan ini hanya ingin mengingatkan kalian semua bahwa tidak semuanya yang terlihat baik itu benar-benar baik dan apa adanya... kalian adalah keluargaku kewajibanku melindungi kalian semua..." kata pak Adi lalu melangkah meninggalkan anak dan istrinya itu.


Wahyu pun segera mengikuti ayahnya. Tampak pak Adi memilih untuk duduk di teras belakang. Wahyu yang berada dibelakangnya pun segera duduk di samping ayahnya itu.


"Pa... terima kasih sudah membela Wahyu..." ucapnya.


"Papa tidak membela siapa-siapa ... hanya saja saja papa ingin membuat mama kamu sadar bahwa selama ini dia sudah bergaul dengan orang yang salah... dan papa juga tidak ingin Gita juga mengalaminya" sahut pak Adi.


"Lalu bagaimana dengan wanita yang kau sukai itu? apa benar dia seorang janda?" tanya pak Adi.


"Iya pa... tapi aku tahu jika dia bukan seseorang yang suka mempermainkan hubungan apalagi pernikahan. Jadi pasti ada alasan yang kuat mengapa ia bisa bercerai dengan suaminya" terang Wahyu.


"Jadi dia belum menceritakan semuanya padamu?"


"Kami baru bertemu lagi pa... aku yang lebih dulu menyukainya ... bahkan sejak kami sekolah tapi dia tidak mengetahuinya" ujar Wahyu.


"Apa wanita itu juga menyukaimu?"


"Aku belum tahu pa... apa lagi belum sempat aku menanyakan perasaannya padaku dia sudah menjauhiku karena mama..."


"Lalu apa kau akan menyerah dan menjauhinya?" tanya pak Adi.


"Gak pa... aku akan tetap berjuang untuk mendapatkan hatinya..." kata Wahyu yakin.


"Bagus... perjuangkan cintamu jangan sampai nantu kamu menyesal karena tak pernah memperjuangkannya..." ucap pak Adi sambil menepuk pundak putranya itu.


"Ngomong-ngomong siapa namanya?"


"Salma pa..."


"Salma..." gumam pak Adi.

__ADS_1


"Ada apa pa? apa papa mengenalnya?"


"Tidak..." pak Adi menggelengkan kepalanya.


Kemudian mereka pun melanjutkan obrolan keduanya mengenai Salma. Sedangkan di dalam tampak bu Desi yang masih marah dan kesal setelah mengetahui jika dirinya sudah ditipu dan dimanfaatkan oleh temannya sendiri.


"Kurang ajar sekali mereka... ternyata mereka sangat meremehkanku..." ucap bu Desi geram.


"Iya ma... apalagi tante Lusi berani sekali dia menipu kita dengan mengatakan jika Kiara lulusan luar negeri... seharusnya aku sudah curiga saat dia sama sekali tak pernah menggunakan bahasa inggris saat berbicara..." sahut Gita yang merasa kecewa wanita yang dibanggakannya ternyata cuma penipu.


"Awas saja akan aku balas mereka semua!" kata bu Desi dengan geram.


"Lalu bagaimana dengan wanita yang disukai kak Wahyu ma? apa kita harus menerimanya?" tanya Gita yang masih tidak menyukai Salma.


"Tentu saja tidak... masih banyak gadis kaya lain yang lebih cocok untuk Wahyu..." kata bu Desi.


"Iya mama benar... aku juga ga bisa bayangkan harus menerima janda miskin itu jadi bagian dari keluarga kita" sahut Gita.


Malam itu Wahyu menginap di rumah orangtuanya karena keinginan ayahnya. Saat memasuki kamarnya dulu Wahyu melihat jika segala sesuatunya masih sama seperti saat terakhir ia tinggal disana. Saat memeriksa lemari pakaiannya ia melihat kotak yang ia simpan sejak SMU dulu.


Diambilnya kotak itu dan dibukanya perlahan. Tampak beberapa barang yang sengaja ia simpan saat SMU dulu. Saat melihat satu persatu tampak sebuah foto lama saat ia dan Salma satu grup dalam lomba. Wahyu tersenyum saat melihat wajah Salma yang imut dengan kepang duanya. Salma tampak tersenyum manis sambil ikut memegang piala yang mereka menangkan.


"Kau masih tetap sama tak pernah berubah... tulus dan selalu mengalah pada orang lain..." gumamnya sambil mengelus foto wajah Salma dengan ibu jarinya.


Di tempat lain tampak Salma tengah termenung diatas tempat tidurnya. Entah mengapa sejak tadi ia teringat dengan Wahyu. Sudah beberapa hari ini Wahyu menuruti permintaannya untuk tidak lagi menemuinya. Ada rasa rindu yang Salma rasakan pada pria itu. Pria itu sudah sering membuatnya terus tersenyum hanya dengan sedikit kelakarnya. Dulu ia ingat jika Wahyu adalah pemuda yang berbeda. Saat sekolah Wahyu terlihat sangat dingin dan jarang tersenyum. Namun karena memiliki kecerdasan yang diatas rata-rata membuatnya jadi idola baik bagi para siswa mau pun guru.


Kepopulerannya di sekolah hanya bisa dikalahkan oleh Dirga yang seorang ketua OSIS dan kapten tim basket sekolah. Namun Salma yang saat itu cuma fokus sekolah tak pernah ambil pusing dengan semua itu. Bahkan saat satu grup dengan Wahyu pun ia tak pernah bercakap-cakap diluar lokasi lomba. Bahkan saat semua orang merayakan kemenangan mereka dengan para guru Salma malah sengaja berbohong agar bisa segera pulang dan tak ikut merayakan pesta kemenangan yang di buat oleh para guru.


Ya ... Salma memang sedikit introvert saat masih sekolah. Ia tak suka berkumpul dengan teman-teman sebayanya. Ia lebih suka menghabiskan waktunya di rumah untuk belajar dan membantu pekerjaan ibunya. Karena itulah ia jadi pandai memasak karena sering membantu ibunya itu.


Salma mendesah pelan.... sejak Wahyu tak menemuinya Salma merasa kesepian. Apa kini ia mulai tergantung pada pria itu? Tidak... Salma menggelengkan kepalanya pelan. Kata-kata mama Wahyu masih terngiang ditelinganya...


Janda...


Karena status itu mama Wahyu tak menginginkannya dekat dengan putranya. Apalagi jika ia tahu jika Salma pernah jadi istri kedua... maka gelar pelakor pun akan mengikuti gelar janda yang sudah disandangnya.


Salma mengusap wajahnya pelan. Ia merasa bingung dengan hatinya saat ini. Ia yakin jika Wahyu hanya teman baginya. Tapi entah kenapa saat pria itu tak ada ia jadi seperti kehilangan nyawanya. Apakah ia mulai menyukai pria itu? lalu apa yang terjadi dengan nama mantan suaminya yang selama ini ada di dalam hatinya? mungkinkah nama itu sudah mulai tergeser dengan nama baru? yaitu Wahyu... yang kini sudah mulai menghiasi fikirannya...

__ADS_1


__ADS_2