
Salma mengurai pelukan suaminya itu. Ada hal penting yang harus ia katakan sebelum hatinya berubah haluan.
"Mas ada yang harus aku bicarakan" ucapnya.
"Apa?"
"Duduk dulu mas!" kata Salma menarik suaminya untuk duduk berdampingan di kursi.
"Alasan aku kemari selain ingin mengatakan kejujuran pada kamu dan mama .... aku juga sudah memutuskan untuk pisah sama kamu mas..."
Duaaaarrrrr....!!!
Bagai petir di siang bolong ungkapan Salma membuat Amran syok. Ia yang semula sangat bahagia karena mengira Salma kembali padanya ternyata salah. Istrinya itu justru datang untuk meminta pisah dengannya.
"A...apa... maksud... kamu Ma?"
"Iya mas ... aku ingin kita cerai..."
"Tapi..."
"Tidak ada tapi-tapian mas... hubungan kita memang harus kita akhiri sekarang... aku tidak ingin ada lagi masalah apalagi dengan Nadia... mungkin dengan perceraian kita Nadia bisa melupakan dendamnya dan hidup bahagia bersamamu mas..." terang Salma.
"Tapi Ma... apa kau sama sekali tak memiliki perasaan apa pun padaku?"
Salma menggelengkan kepalanya.
"Lalu yang terjadi saat di apartement itu..."
"Itu hanya khilaf saja mas, saat itu aku hanya terbawa suasana..." potong Salma.
Sebenarnya sakit rasanya saat Salma harus mengatakan itu semua. Namun apa daya hanya itu yang bisa dijadikan alasan agar Amran mau segera menceraikannya.
Amran diam terpekur tanpa bisa berfikir apa-apa lagi. Harapannya agar bisa hidup bersama Salma sudah musnah karena gadis itu yang memilih untuk berpisah.
"Sore ini aku akan langsung pulang dengan ibu mas... kau uruslah berkas perceraian kita dan tolong jangan bilang Nadia jika aku tidak amnesia" kata Salma setelah beberapa saat mereka terdiam.
"Kau sudah memikirkan semuanya Ma?"
"Tentu mas... selama bersama ibu aku selalu berfikir mencari jalan terbaik bagi kita bertiga... dan inilah yang terbaik menurutku..." sahut Salma.
"Apa kau membenciku Ma?"
"Tidak mas.... untuk apa aku membencimu? itu hanya akan membebani hidupku jadi aku berusaha untuk tidak membenci siapa pun termasuk kamu dan Nadia" terang Salma.
"Ma... bolehkah aku mengantarmu pulang?"
"Tidak usah mas... aku dan ibu sudah menyewa mobil berserta mobilnya untuk pulang pergi..." tolak Salma.
Ia tak ingin jika semakin lama berdekatan dengan Amran akan membuatnya goyah dan berubah fikiran untuk berpisah dengan suaminya itu. Sedangkan hal itu tidak boleh terjadi. Salma ingin menjalani hidupnya dengan tenang seperi sebelum ia menikah.
__ADS_1
"Setidaknya perbolehkan aku mengantarmu sampai di batas kota...." mohon Amran tak putus asa mencoba untuk bisa lebih lama menghabiskan waktu dengan Salma.
"Biarkan saja nak... biar ibu pulang dengan sopir dari sini... kamu diantar Amran sampai batas kota lalu kau bisa pindah ke mobil ibu..." kata bu Rahma tiba-tiba diangguki oleh mama Aya yang ada disampingnya.
Sesungguhnya dua wanita paruh baya itu tak benar-benar pergi meninggalkan keduanya berbicara. Mereka malah berusaha mencuri dengar apa yang dibicarakan Salma dan Amran. Bukan dengan maksud buruk ... keduanya hanya berusaha untuk mengubah keputusan Salma dengan cara halus. Sebenarnya semua keinginan mama Aya. Bu Rahma hanya ingin melihat putrinya bahagia tak perduli jika ia berpisah atau malah masih bersama Amran.
Karena desakan kedua wanita itu akhirnya Salma pun luluh. Ia mau diantar Amran dengan mobilnya sampai di perbatasan kota. Ia tak ingin kehadirannya diketahui oleh Nadia. Akhirnya setelah makan siang Salma dan ibunya pun bersiap untuk pulang. Tepat jam 4 sore dua mobil beriringan keluar dari rumah mama Aya. Satu mobik berisi sopir dan bu Rahma yang temani mama Aya yang ikut mengantar.
Sedang mobil satunya milik Amran yang berisi Salma dan dikemudikannya sendiri oleh Amran. Kedua mobil itu berjalan beriringan menuju luar kota. Selama perjalanan mama Aya dan bu Rahma berbincang hangat. Keduanya memang sepakat tetap menjalin silaturahmi walau nantinya Amran dan Salma benar berpisah.
Sementara di dalam mobil lainnya Amran dan Salma saling terdiam tak tahu harus bicara apa. Waktu yang singkat membuat Amran tak mampu mengucapkan semua yang ada difikirannya.
"Apa kau sama sekali tak mau memikirkan lagi keputusanmu itu Ma?" ucap Amran akhirnya.
"Maaf mas... tapi keputusanku sudah bulat" sahut Salma.
Amran hanya bisa menghela nafasnya pelan. Ia tahu bahwa ia sudah tak bisa lagi merubah keputusan Salma. Jika mengingat perjalanan pernikahan mereka Amran sadar jika sejak awal ia hanya memberikan luka pada istri keduanya itu. Kebahagiaan yang hendak ia tawarkan kini tak ada artinya karena tetap Salma akan terluka karena posisinya yang jadi istri kedua. Untuk Nadia ... ia ingin berpisah dari perempuan itu setelah ia tahu sifat aslinya. Namun ia tak bisa begitu saja melakukannya.
Nadia cukup licik dengan sikapnya. Jika Amran mengajukan gugatan cerai maka yang salah posisinya ada padanya dan bukan Nadia. Jika harus bertahan ia tak tahu apakah bisa karena fakta jika ia dipaksa menikahi Salma karena ada pria masa lalu diantara keduanya.
"Aku mencintaimu Salma..." ucap Amran tiba-tiba.
Membuat Salma langsung menoleh kearah pria yang masih menjadi suaminya itu. Tak dapat dipungkiri hati Salma sangat bahagia namun ia tak boleh terlena dan merubah kepurusannya.
"Tapi kau tak boleh mas.... kita akan segera berpisah ... lupakan saja aku" ucap Salma.
"Kau tahu mas... kisah kita seperti pelangi yang terlihat indah setelah hujan. Namun akan segera hilang setelah tertimpa cahaya matahari... jadi anggap saja aku seperti pelangi yang hanya singgah sekejap lalu menghilang tanpa bekas" sambung Salma.
"Lebih baik jangan mas...." sahut Salma cepat.
"Lebih baik jangan kau temui aku lagi karena itu akan membuatku sulit untuk melupakanmu..." sambung batin Salma.
Amran pun hanya bisa pasrah. Ia kini hanya ingin menikmati saat-saat berdua dengan Salma sebelum gadis itu berpindah ke mobil yang membawa bu Rahma dan kembali ke kotanya. Akhirnya mereka pun tiba diperbatasan kota. Tampak di depan gapura selamat jalan terpampang.
Amran pun meminggirkan mobilnya lalu berhenti teoat dibelakang mobil yang dinaiki bu Rahma dan mama Aya. Tampak mama Aya sudah turun dari mobik diikuti bu Rahma. Salma pun segera membuka sabuk pengamannya dan membuka pintu untuk keluar dari dalam mobil. Tiba-tiba Amran menggenggam tangab Salma.
"Maafkan senua kesalahanku selama ini Ma... dan aku harap setelah ini kau akan bahagia..." ucap Amran tulus.
"Iya mas..." jawab Salma sambil tersenyum.
Kemudian mereka pun turun dari mobil dan menghampiri mama Aya dan bu Rahma. Mama Aya langsung memeluk Salma.
"Maafkan mama dan Amran ya nak..." bisiknya ditelinga Salma.
Salma pun hanya bisa mengangguk dan menggigit sudut bibirnya agar air matanya tak keluar dan membasahi pipinya.
"Kamu jaga dirimu baik-baik ya sayang... jangan bersedih lagi ..." sambung mama Aya.
"Iya ma..." sahut Salma dengan suara bergetar.
__ADS_1
"Ibu.... maafkan kesalahan Amran selama ini" kata Amran pada bu Rahma.
"Iya nak... ibu sudah maafkan. Sekarang kau jagalah Nadia... jangan sampai ia berulah lagi..." jawab bu Rahma.
Amran pun mengangguk. Ia tahu jika kini tugasnya menjaga Nadia agar tak lagi mengganggu kehidupan Salma walau itu berarti ia harus terjebak selamanya bersama Nadia. Tapi Amran ikhlas dan menganggap ini bentuk tanggung jawabnya sebagai suami dan imam pada Nadia sekaligus membayar kesalahannya pada Salma.
Setelah Salma dan mama Aya bertukar posisi mobil yang disewa bu Rahma pun melaju meninggakan tempat itu menuju ke rumah bu Rahma. Sementara Amran dan mama Aya juga kembali ke rumah mama Aya.
"Apa kau sudah bulat dengan keputusanmu Ma?" tanya bu Rahma sesaat setelah mereka meninggalkan perbatasan kota.
"Iya bu... insyaallah ini yang terbaik...."
"Aamiin... kamu yang kuat ya nak... karena ini awal dari kehidupanmu yang baru dengan status janda"
"Aku tahu bu..." sahut Salma sambil menyandarkan kepalanya pada pundak ibunya.
Di rumah mama Aya ....
Amran dan mama Aya baru saja masuk ke dalam rumah saat terdengar suara Nadia yang memberi salam.
"Assalamualaikum... ma..."
"Waalaikum salam..." sahut mama Aya dan Amran serentak.
Mama Aya pun segera keluar menemui Nadia.
"Ada apa Nad? kau mencari Amran?" tanya mama Aya langsung.
"Emm... iya ma... tadi aku ke kantor mas Amran dan Bayu bilang kalau mas Amran kemari" sahut Nadia tersenyum canggung.
"Ada apa?" tanya Amran yang juga ikut keluar.
"Em... itu mas... aku..." ucap Nadia gugup tak tahu harus bicara apa pada suaminya itu.
Jujur ia masih takut dengan sikap suami dan mama mertuanya itu sejak kejadian di rumah sakit. Tapi ia sadar jika cintanya hanya untuk Amran. Sedang apa yang telah ia lakukan dulu itu karena ia yang sedang dibutakan rasa iri dan dendam pada Salma. Jadi kini Nadia berniat untuk berusaha mendapatkan maaf dari Amran dan mama Aya dan mempertahankan rumah tangganya.
"Ma... kami pulang dulu" kata Amran yang tak mau Nadia berlama-lama berada di rumah mamanya.
Mama Aya pun mengangguk mengerti.
"Nadia juga pamit dulu ya ma..."
"Hemm.." sahut mama Aya datar.
Walau begitu wanita paruh baya itu masih mau membiarkan tanggannya dicium oleh Nadia untuk berpamitan. Lalu Amran dan Nadia pun masuk ke dalam mobil dan meninggalkan rumah mama Aya.
"Mas... ada apa mas ke rumah mama?" tanya Nadia pelan.
"Apa harus ada alasannya jika aku mau ke rumah mamaku sendiri?" tanya Amran ketus.
__ADS_1
Nadia hanya menggeleng dan menghela nafasnya pelan. Ia tahu akan sangat sulit perjuangannya nanti demi mendapatkan lagi maaf dan hati suaminya itu.