
Wahyu melajukan motornya dengan cepat menuju kediaman orangtuanya. Ia ingin sekali meminta penjelasan mamanya tentang perkataannya pada Salma. Setelah memarkirkan motornya di depan rumah orangtuanya Wahyu pun langsung masuk dan mencari mamanya.
"Maa..." panggilnya saat melihat mamanya yang sedang berbincang dengan Gita adiknya dan seorang wanita muda yang tidak ia kenal.
"Eh Wahyu.... kebetulan kamu pulang nak... ayo duduk dan bergabung dengan kami..." ucap mamanya sambil berdiri dan segera menyeret tangan Wahyu agar mau duduk bersama mereka.
"Oh iya Wahyu... perkenalkan ini putri teman mama namanya Kiara" kata bu Desi sambil memberi kode pada gadis itu untuk berkenalan dengan putranya.
"Kenalkan ... saya Kiara ..." ucap gadis itu sambil mengulurkan tanganya.
"Hem" sahut Wahyu datar.
Karena Wahyu tak juga menyambut uluran tangannya gadis itu pun kembali menurunkan tangannya.
"Wahyu... kamu kenapa sih ga mau membalas uluran tangan Kiara? memangnya mama ga pernah ngajarin kamu sopan santun ha?" kata bu Desi yang mulai emosi dengan kelakuan putra sulungnya itu.
"Aku kemari cuma mau bicara sama mama dan bukan sama yang lain..." sahut Wahyu.
"Memangnya ada apa kamu mau bicara sama mama?" tanya bu Desi.
"Apa yang mama katakan pada Salma?" tanya Wahyu tanpa menjawab pertanyaan mamanya.
"Oh jadi janda gatel itu sudah mengadu sama kamu ya ..." kata bu Desi menatap sinis.
"Salma bukan janda gatel ma... dan dia juga ga bilang apa yang sudah mama katakan padanya dia hanya ingin Wahyu menjauhinya karena mama ga suka padanya" terang Wahyu dengan wajah menerah menahan marah mendengar kata hinaan mamanya pada Salma.
"Nah kalau begitu bagus .... artinya janda itu sadar diri siapa dia sebenar" sahut bu Desi.
"Ma... Wahyu ga suka mama mencampuri urusan pribadi Wahyu... apa lagi mama sampai menghina wanita yang Wahyu cintai" ucap Wahyu.
"Cinta? kamu bilang kamu cinta sama janda miskin itu? Wahyu kamu itu mama sekolahkan sampai ke luar negeri bukan hanya agar kamu pintar tapi juga memiliki pasangan yang sederajat dengan kita... bukan perempuan sembarangan apalagi janda"
"Cukup ma... jangan lagi mama menghina Salma... apa salahnya jika dia seorang janda? apa salahnya jika dia miskin? lagi pula dia tidak pernah mengemis ma... dia selalu bekerja keras untuk kehidupannya bukan seperti orang-orang yang mengaku kaya padahal cuma bisa menengadahkan tangan pada suami atau orangtuanya saja" sahut Wahyu.
"Kamu membicarakan mama sama adik kamu Wahyu?"
"Memang mama baru merasa ya kalau selama ini mama dan Gita cuma bisa meminta uang dari papa" ujar Wahyu.
"Cukup mas... memang apa salahnya kalau aku sama mama meminta uang sama papa? toh beliau juga cari uang juga buat kami" ucap Gita.
"Iya... dan saking enaknya cuma bisa menghabiskan uang kalian lupa jika kalian itu tak lebih baik dari Salma"
"Mas!"
__ADS_1
"Apa? kau mau bilang kalau kamu lebih baik dari Salma hanya karena bisa memakai barang-barang branded sedang dia tidak begitu?" ucap Wahyu.
"Maaf tante sepertinya saya mau pulang saja dulu" tiba-tiba Kiara menyela pertengkaran mereka.
"Eh ... iya ... maaf lho nak kamu jadi melihat perdebatan kami..." ujar bu Desi tidak enak.
"Iya tante... mungkin lain kali aku mampir lagi kemari"
"Iya ... jangan sungkan untuk sering main kemari"
"Kalau begitu aku permisi...mas... Git..." ucap Kiara berpamitan pada Wahyu dan Gita.
"Iya kak..." sahut Gita sambil tersenyum.
Sedang Wahyu hanya memasang wajah datarnya tanpa mau membalas perkataan Kiara. Setelah kepergian Kiara ruangan itu menjadi hening. Masing-masing dari ketiga orang yang masih berada di dalam ruangan itu masih enggan untuk mulai berbicara. Wahyu yang sudah enggan berada dalam satu ruangan dengan ibu dan adiknya itu pun akhirnya lebih memilih untuk keluar dan kembali ke rumahnya sendiri tanpa berpamitan.
"Ma ... sepertinya kita harus lebih tegas sama perempuan itu agar segera menjauhi mas Wahyu" ucap Gita setelah Wahyu pergi.
"Iya mama tahu sayang... kamu tenang saja mama akan membuat janda itu meninggalkan Wahyu dengan sendirinya" sahut bu Desi sambil tersenyum licik.
.....
Salma yang sedang membereskan pakaiannya di kamar tiba-tiba mendengar suara panggilan masuk dari ponselnya. Segera ia meraih ponselnya dan menerima panggilan itu tanpa melihat siapa yang menghubunginya.
"Halo Ma...." terdengar suara yang sudah tiga bulan lebih ini ia rindukan.
"Kamu apa kabar?"
"Alhamdulillah baik mas... bagaimana dengan kamu sendiri mas?"
"Alhamdulillah aku juga baik"
"Bagaimana dengan Nadia? apa hubungan kalian sudah semakin baik?"
Hanya terdengar ******* dari seberang sana. Tampak sekali jika sang pemilik suara sedang berusaha menahan emosinya.
"Nadia baik... dan kami berusaha untuk memperbaiki semuanya seperti yang kau minta Salma" ucap Amran.
"Kau tahu nomorku dari mana mas?"
"Aku tak sengaja mendapatkannya dari ponsel mama..." sahut Amran.
"Maafkan aku Ma... aku sudah berusaha untuk tak mencari tahu atau pun menghubungi kamu... tapi..." ucap Amran tercekat.
__ADS_1
"Aku bisa mengerti mas... tapi aku mohon setelah ini tolong hapus nomor ini.... jalan kita sudah berbeda mas... jangan kau sakiti Nadia... sebenarnya dia hanya ingin diperhatikan saja... jadi aku mohon lupakan aku mas..." ungkap Salma.
"Aku tahu... tapi kenapa rasanya sakit sekali Ma...."
"Mas kita bersama cuma sebentar... sedang kau dan Nadia telah bersama bertahun-tahun... jadi melupakanku akan lebih mudah mas dari pada melupakan kebersamaan kalian selama ini"
"Baiklah..... terima kasih Ma... telah hadir dalam hidupku walau cuma sebentar..." ucap Amran dengan suara bergetar.
"Iya mas...." sahut Salma dengan air mata yang sudah menetes dipipinya.
Salma pun langsung mematikan sambungan telfon dari Amran. Sudah tiga bulan sejak perceraiannya dan kepergiannya dari kota tempatnya dilahirkan. Namun masih saja ia menangis saat mendengar suara mantan suaminya itu. Salma menghapus air mata yang sudah terlanjur menetes dengan telapak tangannya. Setelah mendengar suara Amran tadi hatinya sedikit tenang entah mengapa. Mungkinkah karena rasa rindunya yang terjawab walau hanya dengan mendengar suara pria itu Salma jadi merasa mendapatkan sedikit kekuatan untuk melanjutkan hidupnya.
Sedangkan Amran yang baru saja mematikan ponselnya menghembuskan nafasnya pelan. Saat ini ia sedang berada di dalam apartemennya. Tempat dimana ada kenangan manis antara dirinya dan juga Salma. Ada rasa berdosa saat tadi Salma menanyakan Nadia. Ya Nadia memang sudah berubah... tapi hatinya pun sudah berubah karena kini masih ada nama Salma disana.
"Entah sampai kapan aku akan menyimpan namamu dihatiku Ma.... tapi seperti katamu aku harus berusaha untuk bisa melupakan rasa cintaku padamu karena ada Nadia...ya Nadia" gumamnya pelan.
Teringat dengan Nadia, Amran pun segera beranjak dari tempatnya dan meninggalkan apartemennya. Besok dia akan menyuruh Bayu untuk membantunya menjual apartement itu agar ia tak lagi memikirkan tentang Salma. Sesungguhnya Amran tipe pria setia hanya aja takdir membuat hatinya jadi mendua. Namun pilihan telah ditetapkan Amran tak ingin lagi mengulangi kesalahan yang sama karena itu ia akan berusaha menyingkirkan semua kenangan tentang Salma dan memulai hidup barunya dengan Nadia.
Sementara itu di sebuah kafe tampak seorang wanita paruh baya sedang berbincang dengan teman sosialitanya.
"Bagaimana Jeng? apa rencananya berjalan dengan lancar?" tanya temannya.
"Tentu saja jeng Tari... mana bisa jeng Desi itu menolak anak saya yang cantik itu... ya... walau pun ijasah luar negerinya itu palsu...hi...hi...hi.." sahut Lusi ibu dari Kiara.
"Ternyata walau pun kaya raya jeng Desi itu gampang banget dikibuli" sahut Tari.
"Tentu saja jeng... orang dia itu cuma ahli dalam menghabiskan duit suaminya aja..." ucap Lusi tersenyum mengejek.
"Mana tahu dia soal begituan" sambungnya.
"Tapi kan suami dan anaknya gimana jeng?"
"Itu gampang Jeng... yang penting kalau mamanya udah setuju suaminya pasti setuju.. dan anaknya juga pasti nurut..." sahut Lusi yakin.
"Iya deh... yang penting nanti kalau udah jadi besanan jangan lupa dengan kita-kita yang udah ngenalin kalian berdua ..."
"Ow tentu saja... tenang saja kalian pasti dapat bagian...." sahut Lusi disambut dengan tawa oleh kedua temannya.
Mereka sudah membayangkan keberhasilan menjadi besan keluarga paling kaya di kota T dan bisa ikut menikmati kekayaan dan kesuksesan keluarga itu. Namun mereka tak menyadari jika dari tadi percakapan mereka sudah direkam oleh seseorang yang duduk tak jauh dari tempat mereka. Orang itu tampak tersenyum puas dengan hasil kerjanya. Tak lama orang itu pun segera menghubungi seseorang melalui pesan. Setelah itu orang itu pun pergi meninggalkan kafe itu setelah mendapatkan pesan balasan.
Wahyu yang sedang melamun di balkon kamarnya tampak terusik dengan bunyi ponselnya. Saat ia mengangkatnya terdengar suara ayahnya yang menyuruhnya untuk datang ke rumah orang tuanya. Walau pun keberatan Wahyu tak dapat menolak perintah ayahnya itu. Karena itulah ia pun mengiyakan dan segera bersiap untuk pergi ke rumah ayahnya.
Saat Wahyu sampai di sana sudah tampak ayahnya berserta ibu dan juga adiknya Gita sudah menunggunya di meja makan.
__ADS_1
"Kita makan malam saja dulu baru bicara" kata ayah Wahyu pak Adi Permana.
Keempatnya pun lalu makan dalam hening hanya terdengar suara sendok dan garpu yang beradu. Setelah selesai mereka pun berpindah ke ruang keluarga untuk berbicara.