
Kehamilan Salma sudah memasuki usia tujuh bulan dan rencananya hari ini keluarganya akan mengadakan syukuran tujuh bulanan untuknya. Bu Rahma berserta kedua adiknya dan keluarga mereka pun sudah datang sejak kemarin sore. Mereka pun menginap di rumah pak Adi. Bukan apa-apa karena itu permintaan pak Adi karena ia ingin keluarga besannya tidak tinggal di hotel agar ia bisa menjamu mereka secara pribadi. Meski bu Rahma lebih memilih untuk menginap di rumah Wahyu namun pak Adi tidak merasa keberatan.
Ia sudah tidak mau memaksakan perasaannya pada bu Rahma. Walau pun ia merasa yakin jika wanita itu juga memiliki rasa yang sama dengannya, namun hubungan mereka yang rumit sehingga membuat wanita pujaannya itu masih meragu. Gita yang sudah mengetahui jika hubungan papanya dan bu Rahma yang tersendat pun berusaha untuk membantu papanya. Tapi ia harus melakukannya dengan sangat halus agar bu Rahma tidak merasa tertekan. Dan salah satunya adalah dengan mendekati kedua adik kakak iparnya yang sengaja ia undang untuk menginap di rumahnya.
Ya ide mengajak keluarga bu Rahma menginap di rumah pak Adi bukan seutuhnya ide pria itu tapi juga Gita yang beralasan agar ia tidak merasa kesepian di rumah. Dan karena sudah saling mengenal sebelumnya membuat Gita dan kedua adik Salma dapat bergaul dengan mudah. Bahkan dari keduanya Gita mendapatkan informasi penting tentang cara meluluhkan hati wanita itu. Bahkan dengan berhati-hati Gita juga menyampaikan maksudnya untuk menjodohkan ayahnya dengan bu Rahma. Meski awalnya terkejut apa lagi dengan status mereka yang besanan namun saat Gita menjelaskan semuanya akhirnya Shania dan Sakina pun bisa mengerti.
Kini keduanya malah mendukung rencana Gita untuk menjodohkan kedua orangtua mereka. Dan saat acara tujuh bulanan Salma terlihat ketiganya kompak memberikan kesempatan-kesempatan kecil pada pak Adi untuk bisa mendekati bu Rahma tanpa disadari oleh wanitab aruh baya itu. Acara tujuh bulanan Salma pun berjalan dengan lancar. Semua anggota keluarga berkumpul. Bahkan bu Desi juga hadir bersama Beni yang kini sudah dekat dengannya. Demikian juga dengan pak Alex yang segaja datang dari luar negeri demi bisa ikut acara tujuh bulanan Salma. Wahyu dan Salma memang mengadakan acara tujuh bulanan itu secara sederhana hanya dihadiri seluruh keluarga besar mereka dan juga anak-anak panti asuhan yang sengaja mereka undang.
Tanpa mereka sadari jika ada seseorang yang menyusup diantara mereka. Mencari kesempatan untuk melaksanakan aksinya. Melihat senyuman bahagia Salma saat menyambut para tamu membuat orang itu geram. Apa lagi sesekali Wahyu menghampiri istrinya itu dan mengecup mesra kening Salma. Bahkan pria itu tak perduli jika banyak mata yang melihat kelakuannya. Sesekali ia juga mengelus perut Salma yang semakin besar. Membuat wanita itu semakin geram.
"Mas... aku mau ke toilet dulu ya..." pamit Salma.
"Iya... jangan lama-lama... sebentar lagi para tamu akan pamit pulang..."
"Iya mas..."
Salma pun melangkah perlahan menuju toilet yang ada di dekat dapur. Melihat Salma yang berjalan sendiri membuat wanita yang sedari tadi mengawasinya pun segera mengikuti langkahnya. Tak ada yang curiga karena wanita itu menggunakan hijab dan pakaian yang seragam dengan para pendamping anak yatim yang diundang kesana. Entah dari mana wanita itu bisa mendapatkannya. Saat Salma masuk ke dalam toilet wanita yang ternyata adalah Friska itu sengaja bersembunyi di sambil menunggu Salma keluar.
__ADS_1
Tak lama Salma pun keluar dari dalam toilet. Friska pun segera bergerak mendekati Salma yang berjalan santai kembali ke ruang depan. Saat melewati taman samping yang cukup sepi Friska langsung menyerang Salma. Dengan membabi buta wanita itu mencoba untuk menusuk Salma dengan pisau daging yang sudah ia persiapkan sebelumnya. Namun tanpa ia duga seseorang datang dan menyelamatkan Salma dengan menjadikan dirinya sebagai tameng bagi Salma.
"Aarrghh...!!" terdengar erangan orang yang merelakan dirinya melindungi Salma.
Darah segar segera mengucur dari luka yang menganga di punggungnya.
"Mas Wahyu!" seru Salma saat menyadari jika Wahyu melindunginya dari serangan Friska dengan menggunakan tubuhnya.
"Mas..." tangis Salma pun tumpah saat tubuh Wahyu merosot dalam dekapannya.
Wanita hamil itu tak kuasa menahan tubuh suaminya sehingga keduanya pun terduduk di lantai dengan Wahyu masih dalam dekapan Salma. Fiska yang tak menyangka jika Wahyu yang terluka tampak tertegun dan mematung di tempatnya.
Para tamu dan pelayan yang ada di depan pun berlarian ke dalam saat mendengar teriakan Salma. Mereka terkejut saat melihat Salma yang memeluk Wahyu yang tidak sadar dan dalam keadaan terluka parah. Pak Adi langsung membopong tubuh Wahyu dibantu oleh pak Alex dan membawanya ke dalam mobil untuk dibawa ke rumah sakit. Sementara yang lain segera mengamankan Friska sambil menghubungi pihak kepolisian untuk menangkap wanita itu.
Salma dibantu ibu dan juga adik iparnya Agung ikut menemani Wahyu ke rumah sakit meski dengan menggunakan mobil yang berbeda. Bu Desi tampak syok melihat putranya bersimbah darah. Ia diantar oleh Beni ikut menyusul ke rumah sakit. Sementara acara langsung dihentikan dan kedua orangtua pak Adi dan bu Desi mewakili keluarga berusaha menenangkan para tamu dan mempersilahkan mereka pulang karena tragedi yang menimpa Wahyu.
Selama perjalanan tak henti-hentinya Salma menangis memikirkan keadaan suaminya saat ini. Bu Rahma mencoba menenangkan putrinya itu agar tidak stres dan mengganggu kehamilannya. Agung yang menyetir mobil pun terlihat berusaha agar tidak tertinggal dari mobil yang membawa Wahyu. Tak lama mereka pun tiba di depan rumah sakit. Segera Wahyu dibawa ke ruang IGD untuk segera mendapatkan penanganan. Salma tampak terseok menuju IGD dengan dipapah oleh bu Rahma. Di depan ruangan IGD Salma berusaha terlihat tegar dengan duduk dibangku menunggu kabar tentang suaminya.
__ADS_1
Bu Rahma pun duduk disamping putrinya itu sambil mengucapkan kata-kata penyemangat agar Salma tidak drop. Sementara bu Desi yang baru tiba langsung menatap nyalang ke arah Salma. Ingin sekali ia menyeret wanita itu keluar dari sana sebab karenanya putranya Wahyu ini dalam keadaan hidup dan mati. Namun semua itu tak mungkin dilakukannya karena semua orang yang ada disana akan mencegahnya.
"Dasar wanita pembawa s**l! kenapa tidak kau saja yang terluka... jadi biar kau menghilang dari kehidupan putraku..." batin bu Desi dengan penuh amarah.
Sudah hampir satu jam namun belum ada kabar dari dokter yang menangani Wahyu. Bahkan pintu IGD pun sedari tadi belum juga terbuka. Salma tampak kelelahan akibat kehamilannya.
"Salma... lebih baik kau istirahat dan pulang ke rumah..." kata pak Adi yang tidak tega melihat keadaan ibu hamil itu yang terlihat lelah.
"Ga pa... Salma mau disini saja menunggu mas Wahyu..." tolak Salma..
"Tapi kau harus menjaga dirimu nak... ini demi bayi dalam kandungan kamu..." bujuk pak Adi.
Bu Rahma juga ikut membujuk Salma agar mau pulang dan beristirahat.
"Aku akan pilang setelah tahu tentang keadaan mas Wahyu..." sahut Salma akhirnya.
Pak Adi dan bu Rahma pun tidak bisa berbuat banyak karena tidak ingin membuat Salma menjadi bertambah stres. Tak lama pintu ruang UGD terbuka dari dalam. Dokter yang menangani Wahyu memberikan kabar gembira bahwa luka yang diterimanya meski cukup dalam nmaun tidak melukai organ vitalnya hingga mereka bisa menyelamatkan nyawanya meski harus memakan waktu lama dan memberikan jahitan yang cukup banyak pada luka dipunggung Wahyu. Wahyu pun bisa segera di pindah ke ruang perawatan.
__ADS_1
Setelah mendengar keterangan dari dokter yang cukup melegakan akhirnya pak Adi memutuskan agar Wahyu dirawat diruang VVIP agar Salma juga bisa menemani suaminya dengan lebih leluasa. Dan dia juga bisa diawasi oleh tim medis agar tidak terjadi sesuatu yang buruk dengan kehamilannya.