Jodoh Istri Kedua

Jodoh Istri Kedua
Pulang


__ADS_3

Setelah keluar ruang perawatan Salma bu Desi hanya bisa mengekor kedua mertuanya yang sama sekali tak mau mengajaknya bicara. Bahkan untuk memandangnya pun mereka sepertinya sudah tidak sudi. Saat sedang menunggu didepan pintu lift terbuka pak Hamid langsung menghubungi besannya dan menyuruh mereka untuk menemuinya di rumah. Meski merasa sedikit heran pak Danu yang menerima panggilan dari pak Hamid pun langsung menyetujuinya dan mengajak serta istrinya.


"Papa... aku mohon dengarkan aku..." ucap bu Desi mencoba untuk memberanikan diri berbicara pada pak Hamid dan istrinya yang sedari tadi mendiamkannya.


"Jangan berani bicara sepatah kata pun pada kami sebelum kita sampai di rumah!" sergah pak Hamid.


Bu Desi pun langsung terdiam tak berani lagi untuk berbicara sedang di dalam hatinya ia tengah berusaha untuk mencari cara agar bisa tetap meyakinkan mertuanya jika semua yang terjadi bukan murni kesalahanya.


Tak butuh waktu lama ketiganya pun sampai di rumah pak Hamid. Dan tak lama berselang kedua besannya pun juga tiba. Mereka langsung menuju ke ruang tamu dan duduk saling berhadapan dengan bu Desi berada diantara kedua orangtuanya. Dan tanpa basa basi pak Hamid menjelaskan semua yang terjadi di rumah sakit dan memperlihatkan semua bukti yang tadi ditunjukkan oleh pak Adi tentang bu Desi. Kedua orangtua bu Desi pun tampak terkejut karena besan dan menantunya sudah mengetahui tentang kebenaran yang selama ini mereka sembunyikan.


Dan yang membuat keduanya tambah terkejut adalah kenyataan jika selama ini mereka juga telah dibohongi oleh putri mereka mengenai kenyataan jika ia hamil bukan karena bu Desi yang mabuk dan tanpa sadar melakukan one night stand tapi karena berselingkuh. Kedua orangtua bu Desi menatap putri mereka dengan pandangan penuh kekecewaan. Kasih sayang dan perlindungan yang selama ini mereka lakukan untuk menutupi aib putrinya telah disalah gunakan oleh bu Desi.


Mereka menyesal telah terlalu memanjakan dan selalu menuruti kemauan bu Desi. Hingga keduanya dengan mudah bisa dibohongi olehnya selama bertahun-tahun.


"Jadi apa yang akan kalian lakukan pada putri kami?" tanya pak Danu pasrah.


Ia tahu kesalahan putrinya sudah sangat fatal dan akan sulit untuk dimaafkan.


"Kami akan mengurus perceraian mereka..." sahut pak Hamid dingin.


Ia sudah sangat marah pada menantunya itu. Terlebih ia juga sangat malu mengingat ia dulu yang memaksakan pada putranya untuk menikah dengan bu Desi hanya karena statusnya sebagai putri tunggal pengusaha kaya yang sederajat dengannya. Kini ia sadar bahwa harta dan kedudukan tinggi tidak menjamin kebahagiaan dalam pernikahan jika tidak ada kesadaran moral didalamnya. Dapat dilihatnya putranya selalu setia meski awalnya ia terpaksa menikah dengan bu Desi. Tapi tidak dengan bu Desi yang sedari awal ia sanjung sebagai menantu idaman namun nyatanya justru ia telah berselingkuh hingga melahirkan Wahyu.


Mendengar keputusan pak Hamid, pak Danu dan istrinya terlihat pasrah karena sadar ini semua akibat perbuatan putri mereka sendiri yang telah bermain api dalam rumah tangganya. Tapi tidak dengan bu Desi. Dulu ia berselingkuh karena kesepian saat pak Adi berada di luar negeri dan menjadi kecanduan meski suaminya itu telah kembali. Tapi sejak selingkuhannya itu tiba-tiba menghilang tanpa kabar membuat bu Desi sadar jika hanya pak Adi pria yang mau bertanggung jawab padanya meski tahu masa lalunya yang terbiasa hidup bebas.


"Tapi pa... aku masih mencintai mas Adi... aku sudah menyesali kesalahanku dulu pa..." ucap bu Desi mencoba meluluhkan hati kedua mertuanya.


"Kesalahanmu itu sangat fatal Des... bagi keluarga kami tak ada maaf bagi seorang peselingkuh sepertimu!" bentak pak Hamid.


"Tapi pa..."


"Tidak ada tapi-tapian! kau segera bereskan barang-barangmu di rumah Adi dan keluar dari sana... kami tidak ingin melihat wajahmu lagi saat kami berkunjung kesana besok pagi!" sergah pak Hamid memberikan keputusan akhirnya.


"Kau tunggu saja surat perceraianmu dikirim ke rumah kedua orangtuamu!" sambungnya dingin.


"Kalau begitu kami permisi..." ucap pak Danu berdiri dan mengandeng tangan istrinya.


Bu Desi tampak terdiam tak ingin pergi begitu saja dari sana. Ia masih ingin memperjuangkan kedudukannya sebagai menantu di keluarga pak Hamid.

__ADS_1


"Kau tidak ingin ikut kami?" tanya pak Danu pada bu Desi.


"Pa..."


"Kalau kau tidak ingin ikut terserah... papa sudah tidak perduli!" kata pak Danu datar.


Ia pun melanjutkan langkahnya bersama istrinya pergi dari tempat itu. Bu Desi tampak bimbang antara mengikuti kedua orangtuanya atau tetap disana berusaha membujuk kedua mertuanya.


"Apa kau benar-benar sudah tidak punya harga diri lagi hah? aku bilang pergi dari sini!" kata pak Hamid membuat bu Desi tersentak.


Tidak ada harapan lagi baginya untuk bisa membujuk mertuanya yang sangat marah itu. Dengan langkah gontai akhirnya bu Desi mengikuti kedua orantuanya keluar dari rumah pak Hamid. Sampai di luar ia pun segera masuk ke dalam mobilnya sendiri sedang kedua orangtuanya menaiki mobil mereka sendiri.


Bu Desi tampak tak dapat mengendalikan kemarahannya di dalam mobil. Ia berteriak dan mengumpat sepanjang perjalanan. Namun semua umpatan dan teriakannya sia-sia karena tak bisa mengembalikan keadaan seperti semula. Kedua mertuanya sudah tak lagi sudi melihatnya sedangkan kedua orangtuanya sudah sangat kecewa padanya mengetahui fakta jika mereka juga dibohongi oleh bu Desi.


Padahal selama ini mereka menyangka jika putrinya sampai hamil itu karena ketidak sengajaan akibat bu Desi yang mabuk. Tapi ternyata kenyataan menampar mereka sebab putri mereka ternyata berselingkuh hingga lahirlah Wahyu. Mereka baru sadar mengapa saat itu bu Desi ngotot ingin menggugurkan kandungannya meski tahu jika pak Adi sangat mengharapakan seorang anak.


Malam itu bu Desi pulang ke rumah pak Adi dan mendapati suaminya itu tengah duduk di ruang tengah menunggunya.


"Bagaimana? apa kau akan pergi malam ini juga atau besok?" tanya pak Adi datar.


"Maafkan aku mas... aku mohon... saat itu aku kesepian daan akhirnya khilaf mas..." ucap bu Desi memohon.


"Khilaf? bahkan sampai aku pulang pun kau masih berhubungan dengan laki-laki b***gs*k itu kau kau bilang khilaf? bahkan fotomu dengannya pun masih kau simpan" sahut pak Adi marah.


Ia marah bukan hanya karena bu Desi berkhianat padanya tapi juga karen ia merasa bodoh tak bisa menduga jika perempuan g*t*l seperti bu Desi tak bisa menahan nafsunya barang sebentar. Dia juga bertambah kecewa karena anak yang sangat disayanginya dan ia banggakan ternyata bukan darah dagingnya.


Bu Desi terdiam... saat itulah ia melihat Gita yang sedang turun dari lantai atas tempat kamarnya berada. Dengan penuh harap ia segera memanggil putrinya itu untuk meminta bantuan.


"Gita! tolong mama nak... papamu marah sama mama..." serunya sambil bangkit dan berjalan ke arah putrinya itu.


"Memang mama kenapa?" tanya Gita.


"Papamu... dia mengusir mama dari sini!" terang bu Desi sambil menangis.


Namun reaksi Gita tak seperti harapannya. Bukannya memeluk dan menenangkan bu Desi namun gadis itu justru diam dan memandangnya tajam.


"Mama sudah ketahuan selingkuh kan?" ucap Gita yang membuat bu Desi terkejut.

__ADS_1


"Dari mana kau tahu kabar itu Gita? semua itu bohong! papamu..."


"Papa korban perselingkuhan mama! jadi jangan memutar balikkan fakta!" sahut Gita yang membungkam mulut bu Desi lalu kembali ke kamarnya.


"Kau ingin kubantu untuk membereskan barang-barangmu atau kau lakukan sendiri?" tanya pak Adi enteng setelah Gita kembali ke kamarnya.


Bu Desi terdiam tapi kemudian wanita paruh baya itu pun melangkah ke kamarnya dengan pak Adi dan segera membereskan barang-barangnya sendiri tanpa bersuara. Kini hanya orangtuanya yang mau menerimanya.


Pagi ini setelah mendapat persetujuan dari dokter yang merawatnya Salma akhirnya bisa pulang ke rumah. Tampak wajah Salma yang sumringah karena sudah diperbolehkan pulang. Wahyu pun dengan setia mendampinginya hingga ia sengaja tak masuk ke kantor demi bisa mengantar Salma pulang. Bu Rahma yang sudah datang sejak pagi pun merasa lega saat mendengar putrinya sudah bisa pulang. Dia segera membereskan barang-barang Salma untuk di bawa pulang.


Setelah semua urusan administrasinya selesai akhirnya Salma pulang bersama bu Rahma dan diantar oleh Adam. Saat mereka sampai di depan rumah tampak pak Adi sudah menunggu disana bersama Gita. Gita bahkan langsung memeluk Salma dan ikut menggandengnya saat masuk ke dalam rumah.


"Bu... boleh saya bicara sebentar?" pinta Wahyu pada bu Rahma saat Salma sudah masuk ke dalam kamarnya bersama Gita.


"Iya ada apa nak Wahyu?"


"Begini bu... saya ingin pernikahan saya dengan Salma dipercepat" ucap Wahyu.


"Maksudnya?"


"Iya bu... saya ingin segera menikahi Salma"


"Biarkan saja Rahma... toh Salma sudah keluar dari rumah sakit" timpal pak Adi yang juga ada di sana.


"Apa kau sudah bicara dengan Salma?"


"Sudah bu... tapi belum tentang tanggal pastinya" terang Wahyu.


"Baiklah jika itu yang kalian inginkan ibu hanya bisa memberikan restu" ujar bu Rahma.


Wahyu dan pak Adi tersenyum senang dengan ucapan bu Rahma


"Kalau begitu akan saya persiapkan semuanya... ibu dan Salma tidak perlu repot memikirkannya" lanjut Wahyu.


Bu Rahma pun hanya mengangguk setuju dengan rencana Wahyu.


"Tapi bisakah ibu merahasiakannya dulu dari Salma? saya tidak ingin dia tertekan karena baru keluar dari rumah sakit. Biar Salma tahu jika semuanya persiapan sudah selesai" sambung Wahyu yang tak ingin Salma merubah keputusannya untuk tetap menikah.

__ADS_1


__ADS_2