Jodoh Istri Kedua

Jodoh Istri Kedua
Tanda - Tanda


__ADS_3

Hari ini bu Desi akan memulai rutinitas barunya untuk bekerja pada perusahaan papanya. Meski bagi sebagian orang apa yang dilakukan oleh bu Desi sekarang adalah hal yang sangat terlambat untuk bekerja pada papanya tapi bu Desi sudah membulatkan tekadnya demi memuluskan rencananya. Ia juga sudah mempersiapkan mentalnya untuk mendengarkan gunjingan dari orang-orang sekitarnya. Apa lagi para karyawan yang sudah bekerja sejak lama dan tahu semua tentang masa lalu bu Desi yang sama sekali tak berpengalaman. Mereka pasti akan meragukan kinerjanya. Oleh karena itu hari ini ia benar-benar mempersiapkan semuanya.


Sejak pagi ia sudah bersiap. Tidak seperti biasanya yang selalu bangun agak siang. Pak Danu yang melihat sikap putrinya yang mulai berubah lebih baik tampak tersenyum senang. Hari ini ia akan mendampingi putrinya masuk kantor untuk pertama kalinya. Ia seperti melihat mimpinya menjadi nyata. Putri satu-satunya mau membantunya diperusahaan. Andai saja sejak dulu putrinya itu mau melakukannya maka ia yakin jika kehidupan putrinya akan lebih baik karena wanita itu pasti akan lebih menghargai kerja keras suaminya dan bukannya hanya bisa menghamburkannya saja.


Selesai sarapan bu Desi dan pak Danu berangkat bersama ke kantor. Setelah menyampaikan pada seluruh karyawannya jika mulai hari ini bi Desi akan bergabung bersama mereka ia pun membawa putrinya itu ke ruangan yang telah ia siapkan untuk bu Desi. Sebagai langkah awal bu Desi hanya akan mendampingi papanya sambil mempelajari seluk beluk kantor dengan asisten papanya. Kebetulan asisten pak Danu adalah teman lama bu Desi. Sehingga wanita paruh baya itu tidak merasa canggung.


Baru seharian ia merasakan dunia kerja sudah membuat otak bu Desi merasa lelah. Bukan buruk tapi malah sesuatu yang baik karena kini fokus bu Desi tertuju pada pekerjaan barunya dan bukan lagi masalah rumah tangganya. Beni asisten pak Danu sangat membantu bu Desi dalam mempelajari tugasnya. Lelaki yang seumuran dengan bu Desi itu tampak sangat sabar saat menerangkan segala sesuatu yang tidak dimengerti oleh Desi. Sesungguhnya tanpa diketahui oleh siapa pun sejak dulu pria itu telah menaruh hati pada bu Desi.


Namun ia tak pernah berani mengungkapkannya. Apa lagi saat bu Desi dijodohkan dengan pak Adi. Beni yang saat itu baru merintis karirnya merasa tak pantas bersanding dengan wanita pujaannya itu. Hingga akhirnya ia pun menerima perjodohan yang dilakukan orangtuanya dengan gadis pilihan mereka. Tapi pernikahan itu tak berlangsung lama karena hanya bertahan lima tahun saja. Bukan karena Beni tidak menerima istrinya atau pun sebaliknya. Tapi semua memang karena takdir sebab istri Beni meninggal saat mengandung putra pertama mereka. Dan yang menyedihkan ia juga membawa serta janin mereka karena istrinya meninggal karena kecelakaan saat usia kandungannya baru lima bulan.


Dan kini saat Beni tahu jika rumah tangga bu Desi dalam masalah pria itu berusaha mengalihkan perhatian bu Desi dengan pekerjaan saat pak Danu memberitahunya jika bu Desi akan mulai bekerja di perusahaannya. Meski sudah lama berlalu tapi ternyata rasa itu masih ada. Dan saat ia berdekatan dengan bu Desi ia kembali merasakan apa yang pernah ia rasakan dulu pada wanita paruh baya itu.


Pak Danu yang memperhatikan putrinya pun merasa jika sikap Beni pada bu Desi agak berbeda. Tapi ia tak mencurigai apa pun pada asistennya itu. Ia hanya menyangka jika perlakuan Beni pada bu Desi adalah bentuk kesetiaannya pada pak Danu. Sementara Wahyu sudah kembali pada rutinitasnya setelah kembali dari rumah bu Rahma dengan Salma. Begitu juga dengan pak Adi dan Gita. Pak Adi kini hanya fokus pada pekerjaannya dan mengurus perceraiannya dengan bu Desi.


Siang ini Salma berniat mengantarkan makan siang untuk suaminya. Dengan semangat ia sengaja memasak makanan kesukaan suaminya itu sendiri. Setelah selesai ia pun segera mandi dan bersiap menuju ke kantor Wahyu. Wanita itu tampak menyunggingkan senyumannya saat menuju kantor suaminya itu. Dalam bayangannya Wahyu akan sangat bahagia dengan kedatangannya sebab baru kali ini ia datang ke kantor Wahyu dengan inisiatifnya sendiri sejak ia menikah dengan Wahyu.


"Pak nanti tidak usah menunggu saya ya..." kata Salma pada sopir pribadinya.


Sang sopir pun mengiyakan dan menganggukkan kepalanya. Salma kembali tersenyum sambil melihat keluar jendela mobil. Tak lama mereka pun tiba di depan kantor Wahyu. Segera Salma keluar dari dalam mobil setelah kembali mengingatkan pada sopirnya untuk tidak menunggunya. Sesampainya di loby ia pun menemui respsionis untuk menanyakan keberadaan suaminya. Ya meski ia istri Wahyu Salma tidak mau seenaknya masuk ke ruangan suaminya.


"Permisi mbak... apa pak Wahyu ada di ruangannya?" tanya Salma ramah.


Resepsionis yang sudah mengenal Salma karena ia juga diundang saat pernikahan Wahyu dan Salma pun mengatakan jika Wahyu masih berada diruangannya dan mempersilahkan Salma untuk masuk ke sana. Salma pun mengucapkan terima kasih sebelum ia beranjak ke ruangan Wahyu. Setelah menaiki lift Salma pun melangkahkan kakinya menuju ke ruangan Wahyu. Sebelum ia masuk ke ruangan suaminya ia bertemu dengan sekretaris Wahyu yang langsung mempersilahkannya untuk masuk ke ruangan Wahyu.


"Permisi..." ucap Salma saat memasuki ruangan suaminya itu.


"Masuk!" jawab Wahyu tanpa melihat siapa yang datang karena tengah fokus dengan pekerjaannya.


Salma pun melangkah masuk dan berdiri di seberang meja tempat Wahyu bekerja. Merasa jika orang yang masuk ke ruangannya hanya diam Wahyu pun menegurnya tapi masih fokus pada pekerjaannya.


"Ada apa?" kata Wahyu tanpa melepaskan pandangannya dari berkas-berkas yang ada dihadapannya.


"Aku..." sahut Salma terpotong karena Wahyu yang langsung mendongakkan kepalanya saat mendengar suara Salma.


"Salma?" seru Wahyu kaget.

__ADS_1


"Ehmmm.... iya mas..."


"Ada apa kemari?" tanya Wahyu lembut sambil berdiri dan menghampiri Salma.


"Aku hanya ingin mengantarkan makan siang untukmu mas..." sahut Salma salah tingkah.


"Ayo duduk dulu disini..." ucap Wahyu sambil menggandeng istrinya untuk duduk di sofa yang ada di ruangan itu.


Kemudian Salma mengeluarkan kotak makan yang dibawanya dari rumah dan meletakkannya di atas meja setelah ia dan Wahyu duduk di sofa. Wahyu terlihat sangat senang sehingga ia langsung membuka kotak makan itu dan melihat isinya. Dan Wahyu bertambah senang saat melihat makanan yang dibawa Salma adalah makanan kesukaannya. Tapi tidak dengan Salma. Entah mengapa saat Wahyu membuka kotak makan yang dibawanya tiba-tiba Salma merasa mual saat mencium bau masakan yang ada di dalamnya.


Padahal ia sendiri yang memasak dan menyiapkan makanan itu. Seketika Salma langsung menutup hidungnya dengan tangannya sendiri.


"Jangan di buka mas! baunya tidak enak... kita makan yang lain saja..." kata Salma sambil menahan rasa mualnya.


"Tapi ini baunya enak Salma..." ujar Wahyu.


"Ga mas... baunya ga enak... aku jadi mual..." ucap Salma yang kini sudah tidak bisa menahan rasa mualnya dan langsung berlari ke arah kamar mandi.


Wahyu yang melihat Salma berlari ke kamar mandi dan langsung mendengar suara wanita itu memuntahkan isi perutnya pun langsung menutup kotak makanan yang dibawa Salma dan menyusul wanita itu ke kamar mandi. Di kamar mandi Wahyu melihat Salma yang tengah berjongkok mengeluarkan isi perutnya di toilet. Pria itu segera menghampiri Salma dan memijat tengkuk istrinya itu pelan agar merasa lebih baik. Setelah berhasil mengeluarkan isi perutnya Salma tampak lega namun terlihat wajahnya pucat dan badanya yang lemas.


Dengan telaten Wahyu memapah tubuh Salma dan membawanya keluar dari dalam kamar mandi. Setelah mendudukkan Salma di sofa Wahyu segera mencari kotak obat dan mengambil minyak kayu putih untuk dioleskan pada tubuh Salma. Ia pun segera memindahkan kotak makan yang tadi dibawa Salma ke meja kerjanya setelah ia selesai mengoleskan minyak kayu putih pada Salma.


"He... um..." sahut Salma sambil menganggukkan kepalanya pelan.


Mata wanita itu masih terpejam dan wajahnya pun masih terlihat pucat.


"Kita ke dokter ya..." ajak Wahyu.


Salma menggeleng pelan.


"Ga usah mas... palingan aku hanya masuk angin... istirahat sebentar juga sembuh..." tolak Salma.


"Kalau begitu lebih baik kamu makan saja dulu ya... agar perut kamu tidak kosong..." bujuk Wahyu.


"Tapi aku lagi ga ingin makan mas..."

__ADS_1


"Jangan begitu sayang... kalau kamu ga makan nanti sakit kamu tambah parah..."


"Hem... baiklah... tapi aku ga mau makan makanan yang aku bawa tadi mas..." kata Salma.


"Lalu kamu mau makan apa?" tanya Wahyu dengan suara lembut.


"Aku ingin makan pakai rujak mas"


"Hah? tapi kamu kan baru saja muntah sayang... masak mau makan rujak?"


"Tapi aku inginnya makan nasi pakai rujak mas..." ucap Salma yang kini malah menatap Wahyu dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


"Baiklah..." sahut Wahyu pasrah karena ia memang selalu tidak tega jika Salma sudah bersikap seperti ini.


Wahyu pun langsung menyuruh Siska sekretarisnya untuk membelikan nasi dan rujak untuk Salma. Sebab Salma sama sekali tak mau menyentuh makanan yang dibawanya padahal disana juga ada nasinya. Setelah menunggu tiga puluh menit akhirnya pesanan Salma pun tiba. Wanita itu langsung menyantap makanan yang dipesannya dengan lahap. Wahyu hanya bisa menatap istrinya itu sambil menelan salivanya.


"Kenapa mas tidak ikut makan?" tanya Salma saat melihat Wahyu yang sedari tadi hanya memandanginya.


"Mas nanti saja sayang..." tolak Wahyu.


Salma hanya mengangguk dan meneruskan makannya tanpa terganggu.


"Kenapa Salma bisa aneh begini?" batin Wahyu sambil menatap Salma yang tengah makan dengan lahap.


Tak lama Salma pun sudah menghabiskan makanannya dan bersendawa pertanda wanita itu sudah merasa kenyang.


"Maaf mas..." ujar Salma karena tak sengaja bersendawa.


"Ga pa-pa sayang... apa sekarang kau mau istirahat?" tawar Wahyu.


"Iya mas... aku mau istirahat sebentar setelah itu aku mau sholat..."


"Kalau begitu kau duduk saja dulu sebentar mas mau menyelesaikan yang tadi... setelah itu kita ke musholla..."


"Mas ga makan dulu?"

__ADS_1


"Nanti saja sehabis sholat..."


Wahyu pun kembali menyelesaikan pekerjaannya dan lima belas menit kemudian ia pun selesai. Kemudian ia dan Salma pergi ke musholla yang ada di gedung kantor Wahyu. ---


__ADS_2