
Pak Adi masih menatap tajam istrinya yang kini tampak pucat wajahnya setelah pak Adi mengatakan akan melakukan tes DNA. Wanita itu tampak tak menyangka jika pak Adi akan mempunyai ide seperti itu. Lagi pula siapa yang sudah memberitahu pada pak Adi jika Wahyu bukan anak kandungnya?
"Bagaimana?" desak pak Adi.
"Mas... kau dapat berita itu dari mana? pasti ada yang ingin keluarga kita hancur jadi dia memfitnahku..." kata bu Desi tetap mengelak.
Tentu saja dia harus membuat pak Adi tetap percaya jika Wahyu adalah putra kandungnya. Disamping ia tak ingin diceraikan ia juga tak mau kehilangan putranya karena mengetahui aibnya.
"Jadi kau masih tetap mau berbohong heh? baiklah jika itu maumu... tapi jangan salahkan aku jika bukan hanya Wahyu dan Gita yang akan mengetahui kebenarannya... orangtuaku juga akan aku pastikan untuk mengetahuinya..." kata pak Adi datar lalu pergi meninggalkan bu Desi yang masih terdiam di tempatnya.
Pak Adi berjalan cepat keluar dari dalam rumahnya dan menaiki mobilnya lalu pergi dari sana. Ia sangat menginginkan seseorang untuk bersandar sekarang. Tapi ia tak mungkin ia bisa mengandalkan istrinya sebab justru wanita itulah yang membuatnya dalam keadaan seperti sekarang. Dengan perasaan galau pak Adi mengemudikan mobilnya entah kemana. Ia tak mempunyai tujuan dan hanya sekedar melajukan kendaraannya tak tentu arah.
Hingga tanpa disengaja ia seperti melihat bu Rahma yang sedang berjalan ke arah sebuah mini market. Ternyata tanpa disadarinya pak Adi mengemudikan mobilnya ke arah rumah sakit. Dan kebetulan bu Rahma baru keluar dari sana hendak membeli sesuatu di mini market tak jauh dari rumah sakit. Entah mengapa pak Adi ingin berbicara dengan bu Rahma. Karena sejak dulu hanya bu Rahma yang mau mendengar keluh kesahnya. Dengan segera pak Adi mengarahkan mobilnya ke mini market dan langsung memarkirkannya di depan mini market itu. Lalu ia pun mengikuti bu Rahma masuk ke dalam mini market.
Bu Rahma tampak sibuk memilih barang yang ia inginkan hingga ia tak menyadari jika ada seseorang yang berdiri disampingnya. Saat bu Rahma hendak berbalik untuk membayar barang belanjaannya ia terkejut saat melihat pak Adi sudah berdiri dihadapannya.
"Mas Adi!" seru bu Rahma tertahan.
"Mas belanja disini juga?" tanyanya setelah berhasil mengatasi keterkejutannya.
"Tidak Ma... aku ingin bicara denganmu sebentar" jawab pak Adi.
"Baik mas tapi tunggu sebentar aku bayar belanjaanku dulu..." sahut bu Rahma sambil mengangguk.
Sebenarnya ia agak sungkan dengan pak Adi... namun karena statusnya sekarang yang calon besan membuat bu Rahma tak bisa menolak permintaan pak Adi. Bu Rahma pun segera menuju ke kasir diikuti oleh pak Adi yang mengekor dibelakangnya. Saat bu Rahma hendak membayar belanjaannya setelah sang kasir menyebutkan totalnya pak Adi malah membayarkannya terlebih dahulu.
"Ga usah mas ... biar aku bayar sendiri" tolak bu Rahma.
"Sudah... biar aku saja yang membayar kau tak usah merasa tak enak" kata pak Adi tak mau ditolak.
Akhirnya bu Rahma pun menyerah dan membiarkan pria itu membayarkan semua barang belanjaannya. Kemudian keduanya pun keluar dari dalam mini market. Pak Adi menyuruh bu Rahma untuk masuk ke dalam mobilnya dan tanpa bu Rahma pun hanya menurut. Kemudian pak Adi melajukan mobilnya menuju suatu tempat yang menurut pak Adi cocok untuknya berbicara empat mata dengan bu Rahma.
Setelah berkendara selama beberapa saat akhirnya pak Adi berhenti di sebuah restoran yang memiliki ruang privat. Karena pak Adi memang ingin berbicara berdua dengan bu Rahma tanpa ada yang mengganggu.
"Memangnya ada masalah apa mas? sampai kamu membawaku ke tempat seperti ini?" tanya bu Rahma saat keduanya sudah duduk di ruang privat yang dipesan pak Adi.
__ADS_1
"Kita pesan minuman dulu Ma..." ucap pak Adi.
Tak lama seorang pelayan datang untuk mencatat pesanan keduanya. Setelah memesan minuman dan pelayan itu pergi pak Adi mulai berbicara pada bu Rahma.
"Sebenarnya apa yang akan aku bicarakan ini merupakan masalah pribadiku dengan istriku Ma... tapi sungguh aku tidak tahu lagi harus bicara dengan siapa lagi mengenai masalah ini. Karena jika aku pendam maka aku tidak tahu apakah aku masih bisa waras" kata pak Adi yang membuat bu Rahma langsung mencemaskan pria yang ada dihadapannya itu.
"Memangnya masalah kamu itu begitu berat mas? sampai kau bicara seperti itu?" tanya bu Rahma.
Pak Adi menghela nafasnya kasar. Sejenak ia menjeda penjelasannya karena pelayan datang mengantarkan pesanan mereka. Setelah pelayan itu pergi barulah ia menceritakan semuanya pada bu Rahma. Dari pengakuan istri dan mertuanya yang tak sengaja ia dengar bersama Gita putrinya. Hingga keduanya yang diam-diam melakukan tes DNA baik dengan Gita maupun Wahyu.
"Jadi Wahyu bukan anak kandungmu mas?"
"Iya Ma... dan yang membuatku marah adalah Wahyu lahir dua tahun setelah pernikahan kami... itu berarti wanita itu telah berselingkuh dariku. Padahal aku sudah berusaha menjadi suami yang baik untuknya seperti janjiku padamu dulu" terang pak Adi dengan raut wajah yang memerah.
Pengorbanannya dan bu Rahma sudah disia-siakan oleh bu Desi. Dan bodohnya ia baru tahu setelah mereka menikah lebih dari tiga puluh tahun. Tapi Tuhan memang maha adil serapi apa pun bu Desi dan kedua orangtuanya menyembunyikan kebenarannnya akhirnya tetap terungkap. Bahkan melalui mulut mereka sendiri meski mereka tak menyadarinya.
"Lalu apa yang akan kau lakukan mas? apa kau tidak bisa memaafkan istrimu dan tetap menganggap Wahyu sebagai putramu?" tanya bu Rahma hati-hati.
"Entahlah Ma... kebohongannya sudah terlalu besar. Bukan hanya aku yang tersakiti disini Ma... tapi juga Gita dan Wahyu nantinya jika ia tahu yang sebenarnya. Bahkan Gita sempat syok setelah mendengar langsung pengakuan mamanya. Saat itu ia juga sangat ketakutan menyangka jika dia juga bukan putriku... apa kau tahu Ma... kesakitanku bisa aku tahan tapi tidak untuk anak-anakku... Wahyu masih aku anggap sebagai putraku selamanya... tapi apa bisa kau bayangkan betapa hancurnya ia jika mengetahui kenyataannya?"
"Jika saja dia mau mengalah dan merestui Wahyu dan putrimu Salma... mungkin aku akan mempertimbangkan untuk tidak mengungkapkan semuanya pada Wahyu... tapi ini... dia malah bekerja sama dengan orang yang telah memcelakai putrimu..."
Bu Rahma langsung terkejut saat mendengar penuturan pak Adi. Ia taknmenyangka jika kecelakaan yang menimpa putrinya merupakan persekongkolan yang dilakukan oleh bu Desi. Ia seperti mengulang kejadian dimasa lalunya dengan pak Adi. Dimana kedua orangtua pak Adi melakukan segala cara untuk memisahkan keduanya meski dengan cara kotor. Kini bu Rahma menjadi khawatir dengan keselamatan putrinya itu.
"Mas aku ke rumah sakit sekarang ya... Salma sendirian disana..." kata bu Rahma tiba-tiba.
"Tapi bukannya ada kedua anakmu yang lain yang menjaga Salma?"
"Mereka sudah pulang tadi mas... karena salah satu cucuku mendadak sakit jadi mereka langsung pulang makanya malam ini aku yang menjaga Salma. Tapi tadi aku ke mini market untuk membeli beberapa barang jadi aku meninggalkan Salma sendiri... aku khawatir pada keadaan putriku" kata bu Rahma.
"Kalau begitu sekalian aku antar"
Bu Rahma.mengangguk menuruti perkataan pak Adi. Fikirannya kini tertuju pada Salma. Ia takut jika bu Desi akan menyuruh orang lagi untuk menyakiti putrinya itu.
"Mas bisa kau percepat mobilnya?" pinta bu Rahma saat keduanya dalam perjalanan ke rumah sakit.
__ADS_1
"Ini sudah cepat Ma... jika aku menambah kecepatan lagi maka itu akan membahayakan diri kita sendiri..." sahut pak Adi yang masih fokus pada jalanan didepannya.
Sementara di rumah sakit tampak Wahyu sudah merasa tenang. Ia bahkan sudah membersihkan dirinya dan berganti pakaian di sana setelah mendapatkan pakaian baru yang diantarkan oleh asistennya. Saat ini ia tengah menyantap makan malamnya bersama Salma. Ia juga memesan makanan itu pada asistennya saat mengantar pakaian untuknya.
"Mas sudah... aku sudah kenyang..." ucap Salma.
Wahyu memang menyuapi Salma sambil ia juga menyuapi dirinya sendiri. Karena keduanya makan bersama.
"Sedikit lagi sayang..." bujuk Wahyu.
Akhirnya Salma pun kembali membuka mulutnya dan menerima suapan dari Wahyu.
"Nah... begitu..." kata Wahyu sambil tersenyum senang karena kali ini Salma makan cukup banyak.
Mungkin karena itu bukan makanan rumah sakit yang hambar. Sehingga nafsu makan Salma sedikit meningkat. Selesai makan Wahyu meletakkan bungkus makanan di tempat sampah lalu membersihkan dirinya. Setelah itu ia kembali menemani Salma dengan duduk disamping brankar gadis itu.
"Apa kau tidak ingin istirahat saja dulu mas?" tanya Salma saat melihat Wahyu masih duduk berada disampingnya.
"Aku ingin bersamamu disini Ma..." sahut Wahyu sambil menggenggam tangan Salma.
"Tapi kau pasti lelah mas..."
"Tidak apa-apa Ma..."
"Kalau begitu kau naiklah kemari mas... kau bisa tidur disampingku" ucap Salma tiba-tiba sambil menggeser tubuhnya agar ada ruang untuk Wahyu berbaring.
Wahyu tersenyum senang. Tanpa fikir panjang pria itu langsung menaiki brankar dan berbaring di samping Salma. Untung saja brankar yang digunakan Salma berukuran besar sehingga dapat menampung tubuh keduanya.
"Sekarang kau juga tidurlah..." kata Wahyu sambil membelai wajah Salma.
Keduanya kini berbaring saling berhadapan. Saat ini Salma baru sadar jika yang dilakukannya cukup nekat. Karena keduanya kini dalam keadaan yang sangat dekat dan bisa saja mengundang setan lewat. Wajah gadis itu seketika memucat.
"Kamu kenapa?" tanya Wahyu saat melihat wajah Salma yang tiba-tiba pucat.
"Emm... ga... ga pa-pa mas... sudah lebih baik kita tidur saja..." sahut Salma tergagap dan langsung memejamkan matanya.
__ADS_1
Wajah pucatnya kini berganti memerah karena malu akibat kebodohannya. Wahyu pun hanya tersenyum karena menyadari apa yang kini tengah dirasakan oleh Salma.