Jodoh Istri Kedua

Jodoh Istri Kedua
Motif


__ADS_3

Bu Desi tampak mondar mandir didalam kamarnya. Sedari tadi ia tengah berfikir tentang alasan Alex kembali dan mengusik hidupnya. Benar perkataan pak Adi... mana mungkin Alex tiba-tiba kembali dan ingin mengakui Wahyu setelah sekian puluh tahun lamanya. Jika dlihat dari kekuasaannya sudah tentu Alex pasti sudah mengetahui kebenaran tentang cukup lama.Tapi mengapa pria itu baru datang sekarang? batin bu Desi yang sama sekali tidak bisa menebak motif pak Alex yang sesungguhnya.


"Aaarrggh! s**l... kenapa pria itu datang saat aku sudah tidak memiliki apa-apa untuk melawannya?" seru bu Desi frustasi.


Tiba-tiba saja ia teringat sesuatu yang membuatnya langsung bergegas menuju lemari pakaian yang ada di dalam kamarnya. Segera ia membuka pintu lemari itu dan memeriksa sesuatu yang ada di bagian bawah. Lama tangannya mengobrak abrik isi lemari bagian bawah itu. Ia yakin jika ia masih menyimpan benda itu di dalam sana. Tak lama ia tersenyum tipis saat ia menemukan benda yang dicarinya itu. Sebuah amplop besar yang tampak sudah mulai usang. Dengan segera ia memeriksa isi amplop tersebut.


Senyumannya semakin mengembang saat melihat jika surat-surat yang tersimpan disana masih utuh. Ya itu adalah surat berharga milik orangtuanya yang ia curi dulu saat masih belum menikah dengan pak Adi. Surat itu merupakan surat tanah milik ayahnya yang ada di kampung halaman sang ayah. Pak Danu memang sering berinvestasi dengan membeli tanah. Karena menurutnya investasi tanah merupakan salah satu investasi yang aman dan memiliki resiko kerugian yang kecil. Karena seringnya ia membeli tanah membuat pak Danu sering kali lupa jika ia memiliki tanah di daerah tertentu. Apa lagi semua urusan pajak selalu ditangani oleh asistennya. Sehingga ia tak pernah mengingat setiap tanah yang sudah dibelinya.


"Hemmm... dengan ini aku bisa mendapatkan uang untuk menyingkirkan ibu dan anak itu dari keluargaku..." batinnya sambil tersenyum.


"Tapi apa yang harus aku lakukan? apa aku harus menjualnya atau menggadaikannya saja? Ah... sudahlah akan aku fikirkan nanti saja... yang terpenting aku masih punya sesuatu untuk mendapatkan tambahan uang..." ujarnya sambil tersenyum dan kembali menyimpan surat-surat itu di dalam lemari.


Sementara itu tampak pak Alex tengah gusar pasalnya ia baru saja mengetahui jika anak buahnya kecolongan sehingga bu Desi dapat lari dari pengawasan anak buahnya itu.


"Dasar perempuan tak tahu diuntung! beraninya melarikan diri dariku..." gumamnya marah.


Jika saja saat ini ia tidak membutuhkan Wahyu untuk menyelamatkan nyawanya tak mungkin ia jauh-jauh kembali kemari hanya untuk mengakui Wahyu sebagai putranya. Meski pun ia sampai saat ini belum juga mempunyai anak dari istrinya tapi sungguh perpisahannya selama puluhan tahun dengan darah dagingnya itu membuatnya tak memiliki ikatan batin sedikit pun pada Wahyu. Ia bahkan ingin memanfaatkan momen ini untuk membuat bu Desi membayar sakit hatinya karena lebih memilih pak Adi untuk dijadikan ayah bagi Wahyu.


Ia bahkan tak merasa jika disini ia juga bersalah. Berselingkuh dengan istri orang dan pergi tanpa memberi kabar sama sekali. Ya saat itu ia menganggap jika hubungannya dengan bu Desi hanya untuk kesenangan dan memenuhi rasa penasarannya karena tertantang memiliki hubungan gelap dengan istri orang. Tapi saat ia kembali dan melihat jika bu Desi kembali pada suaminya dan telah mengandung ia merasa terhina. Dan langsung kembali ke negaranya karena harus menggantikan ayahnya mengurus perusahaan.


Dan dua tahun lalu ia menerima vonis dari dokter jika ia memiliki penyakit yang cukup parah. Kanker darah... membuatnya harus menjalani perawatan yang intensif. Meski masih stadium dua tapi jujur saat dimana ia harus menjalani pengobatan membuatnya takut mati. Ia masih ingin hidup panjang dan sehat. Dan berkat uang yang dimilikinya membuat ia bisa cepat pulih meski belum sembuh total. Dokter menyarankan agar ia mencari pendonor sumsum tulang belakang agar ia benar-benar sembuh.


Dan dimulailah perburuan pendonor sumsum tulang belakang yang cocok untuknya. Dan sampai saat ini ia belum juga mendapatkannya membuat ia menjadi frustasi. Hingga sebulan yang lalu ia tak sengaja melihat berita pernikahan Wahyu. Melihat foto wajah Wahyu yang ada di dalam berita itu membuatnya seperti melihat dirinya sendiri saat muda. Tidak dapat dipungkiri jika wajah Wahyu sangat mirip dengannya saat muda. Rasa putus asa karena belum juga menemukan pendonor yang cocok dengannya membuatnya langsung menyelidiki siapa Wahyu sebenarnya.


Saat mengetahui jika Wahyu merupakan anak dari pak Adi dan bu Desi membuatnya merasa memiliki harapan jika Wahyu merupakan putra kandungnya hasil perselingkuhannya dengan bu Desi. Pak Alex pun berusaha untuk menyelidiki lebih lanjut apakah Wahyu benar putra kandungnya atau tidak. Dan dia merasa sangat beruntung saat salah satu anak buahnya yang membuntuti pak Adi memergoki pria itu tengah melakukan tes di sebuah rumah sakit bersama putrinya.


Bahkan anak buahnya juga berhasil mengetahui hasil tes yang menyatakan jika Wahyu bukan putra kandung pak Adi. Sejak itu ia yakin jika Wahyu adalah putra kandungnya karena hanya dia yang berhubungan dengan bu Desi saat itu. Bak mendapatkan durian runtuh pak Alex merasa sangat bahagia karena selain ia akan mendapatkan pendonor yang dibutuhkannya ia juga bisa merebut putranya dari pak Adi dan bu Desi.

__ADS_1


"Sungguh balas dendam yang sempurna..." gumam pak Alex saat membayangkan Wahyu yang mau mengakuinya sebagai ayah dan juga mau menjadi pendonornya.


Ya membuat Wahyu dekat dan mengakuinya sebagai ayah kandungnya merupakan balasan atas kebohongan bu Desi yang menyembunyikan kelahiran Wahyu.


Sementara Salma hari ini hendak berkunjung ke rumah ibunya. Sejak Salma menikah dengan Wahyu bu Rahma memang kembali ke rumah lamanya. Hal ini membuat Salma tidak bisa sering mengunjungi ibunya. Dan setelah beberapa hari merencanakannya akhirnya ia bisa mengunjungi ibunya itu setelah meminta izin pada suaminya. Wahyu yang semula berniat untuk menemani istrinya menemui bu Rahma terpaksa membatalkan rencananya karena ada pertemuan mendadak dengan kliennya.


Dan disinilah sekarang Salma berada dalam mobil bersama sopirnya menuju kediaman ibunya. Rasanya seperti mimpi saat menyadari ia kembali ke kota asalnya. Memang sejak meninggalkan kota itu setelah hampir dua tahun yang lalu ia tak pernah lagi kembali ke sana. Kenangannya pada pernikahan pertamanya yang membuatnya enggan menjejakkan kakinya ke kota tempatnya dilahirkan. Meski bukan tempat tinggalnya bersama suaminya dulu namun di kota itulah awal ia terjebak dalam pernikahan yang dirancang oleh sepupunya.


Dengan menghembuskan nafas pelan Salma mencoba menata hatinya. Ada kerinduan yang sangat ia rasakan saat mobil yang ditumpanginya mulai memasuki perbatasan kota. Rindu akan tempat tinggalnya dimana dulu ia dilahirkan juga makam ayahnya yang sudah hampir beberapa tahun tidak didatanginya.


"Ehmm... pak bisa kita ke tempat ini terkebih dahulu?" kata Salma sambil menunjukkan sebuah alamat area pemakaman.


"Iya nyonya..." sahut sopir itu patuh.


Dengan segera sang sopir mengarahkan mobil yang dikemudikannya ke sebuah area pemakaman umum yang terletak tak jauh dari jalan utama antar kota. Setelah sampai di depan pemakaman mereka pun berhenti. Salma mengambil pasmina yang ada di dalam tasnya dan memakainya.


"Baik nyonya..."


Salma pun keluar dari dalam mobil dan langsung menuju lokasi makam ayahnya. Saat ia sampai di depan makam ayahnya ia pun segera membersihkan beberapa rumput yang mulai tumbuh disana baru kemudian ia mulai membacakan do'a.


"Ayah... maaf baru kali ini Salma datang... mungkin ayah sudah tahu jika Salma sudah menikah dengan orang yang Salma cintai... sebenarnya dia ingin menemani Salma tapi ada pekerjaan yang tidak bisa ia tinggalkan... jadi mungkin lain kali Salma akan datang kemari lagi bersamanya..." ucapnya setelah selesai berdo'a.


Puas berdo'a didepan makam ayahnya Salma pun kemudian beranjak dan kembali ke dalam mobil. Dan sopir pun kembali menjalankan mobilnya. Tak lama ia pun sampai di rumah ibunya. Bu Rahma tampak terkejut saat melihat Salma sudah berdiri didepannya saat ia membuka pintu.


"Assalamualikum bu..."


"Waalaikum salam... ya Allah Ma... kamu datang nak..." sambut bu Rahma bahagia.

__ADS_1


Ia pun langsung memeluk putri sulungnya itu. Tak bisa dipungkiri jika wanita paruh baya itu sangat merindukan putrinya. Meski sejak menikah Salma sering menghubunginya melalui ponsel.


"Kau datang sendiri? Wahyu mana?" tanyanya saat melepaskan pelukannya dan tak melihat Wahyu disamping putrinya.


"Mas Wahyu mendadak ada pekerjaan penting bu... jadi dia tidak bisa datang..." terang Salma.


"Ya sudah... ayo masuk dulu ke dalam..." ajak bu Rahma.


"Kakak!" seru Sakina gembira dari dalam saat melihat kakak sulungnya datang.


Keduanya pun saling berpelukan untuk melepaskan kerinduan. Ketiganya pun lalu masuk dan berbincang bersama. Rumah bu Rahma juga sudah direnovasi untuk menambah kamar sehingga saat seluruh keluarga berkumpul bisa menginap disana. Sehingga Salma dapat dengan nyaman menginap disana. Sakina langsung mengantar Salma menuju kamarnya dulu. Meski rumah telah direnovasi namun keadaan kamarnya masih tetap sama. Membuat Salma terkenang pada masa lalunya saat remaja dan akhirnya menikah.


Meski itu bukan pernikahan yang diinginkannya namun itu adalah bagian dari masa lalunya yang membawanya pada kehidupannya sekarang. Bertemu dengan Wahyu yang bisa membuatnya jatuh cinta lagi dan menjadi istrinya.


"Terima kasih Na..." ucap Salma pada adik bungsunya itu.


"Untuk?"


"Untuk membiarkan semuanya masih seperti dulu..." sahut Salma sambil mengedarkan pandangannya pada seisi kamarnya.


"Sama-sama kak..." sahut Salma sambil meletakkan koper Salma di sudut ruangan.


"Sekarang kakak istirahat saja dulu... nanti akan aku panggil saat makan malam..."


"Baiklah... dan sekali lagi terima kasih Na..."


"Kakak jangan terus-terusan berterima kasih seperti itu... sudah lebih baik sekarang kakak istirahat... aku keluar dulu ya..."

__ADS_1


"Iya..." sahut Salma sambil mengangguk.


__ADS_2