
Sudah dua minggu Salma berjualan di kios barunya. Benar kata Wahyu dengan berjualan di kios membuatnya lebih ringan berjualan dan ibunya pun tak lagi kerepotan membantunya menyiapkan barang dagangannya. Salma bisa melakukannya sendiri karena semua dilakukan di satu tempat. Salma hanya perlu berangkat ke kiosnya lebih pagi dan saat pulang ia juga langsung ke pasar sehingga lebih praktis.
Seperti perkataan ibunya Salma pun mulai menyelidiki Wahyu. Namun karena kesibukannya berjualan membuatnya agak kesulitan. Apalagi ia tidak biasa bertindak seperti detektif dalam mencari informasi. Salma berusaha akrab dengan para pembelinya apalagi para karyawan yang satu kantor dengan Wahyu. Sedikit demi sedikit Salma berusaha mengorek informasi dari mereka.
Alangkah terkejutnya Salma saat mengetahui jika tidak ada yang bernama Wahyu yang bekerja disana. Salma mulai bertanya-tanya mengapa Wahyu berbohong jika ia bekerja di perusahaan depan tempatnya berjualan. Apa ini berarti ada yang disembunyikan oleh pria itu darinya?
Pertanyaan demi pertanyaan mulai muncul dikepala Salma seiring dengan informasi yang didapatnya.
"Mungkinkah aku harus menjauhi Wahyu? apa mungkin dia sudah menikah dan menyembunyikannya dariku?" batin Salma saat sendiri di kiosnya.
Salma kembali membereskan barang dagangannya saat tiba-tiba ada pelanggan yang datang.
"Selamat datang... " ucapnya ramah.
"Cih saya kesini bukan buat beli makanan murahan buatanmu ya... saya cuma mau memperingatkan kamu agar jangan lagi menggoda anak saya!" seru seorang ibu-ibu dengan dandanan yang wah.
"Maksud ibu apa ya?" tanya Salma tak mengerti.
"Jangan berlagak bego ya... sudah cukup kamu menggoda anak saya Wahyu... dia itu sudah akan menikah dengan gadis yang sederajat dengan dia dan bukan dengan janda gatel dan miskin seperti kamu!" sentak wanita itu yang ternyata adalah bu Desi mama Wahyu.
"Maksud ibu apa? saya tidak pernah menggoda anak ibu... saya memang kenal dengan yang namanya Wahyu tapi yang saya tahu dia bukan orang kaya seperti ibu... jadi jangan menuduh saya yang bukan-bukan apalagi membawa-bawa status janda..." sahut Salma.
"Ini lihat! masih berani kamu mengelak hah?" kata bu Desi sambil memperlihatkan ponselnya ke wajah Salma.
Salma terkejut saat melihat foto dirinya yang sedang duduk berdua dengan Wahyu ketika keduanya sedang minum es kelapa waktu itu.
"Ja...aa..di..." ucap Salma tercekat.
"Iya.... itu Wahyu anak saya! jadi mulai sekarang jauhi anak saya atau saya akan bikin kamu menyesal!" kata bu Desi sambil membalikkan tubuhnya dan pergi meninggalkan Salma yang masih termangu karena terkejut mengetahui fakta bahwa Wahyu bukan orang biasa seperti yang ia duga selama ini.
"Jadi mas Wahyu bukan pegawai kantor biasa.... pantas saja saat aku tanyakan pada pelangganku tak ada satu pun yang mengenalnya...." batin Salma.
Siang itu Salma menutup kiosnya dengan perasaan lesu walau hasil penjualannya cukup meningkat. Dia benar-benar kepikiran dengan ucapan bu Desi. Walau sebenarnya saat ini perasaannya pada Wahyu hanya sebagai teman namun tuduhan mamanya Wahyu membuat Salma berfikir untuk mulai menjauhi pria itu.
Saat ini Salma memang ingin fokus dengan usahanya dan tak ingin berurusan dengan masalah percintaan. Sebab tak bisa dipungkiri nama mantan suaminya masih terpatri dihatinya dan belum juga bergeser walau Salma sudah berusaha untuk melupakannya.
__ADS_1
"Siang Ma..." sapa Wahyu tiba-tiba.
Salma yang terkejut hampir saja melemparkan kain lap yang ia pegang ke arah Wahyu.
"Mas.... kamu bikin kaget aku aja..." serunya.
"He..he...he... maaf!" sahut Wahyu sambil terkekeh.
"Ada perlu apa ya mas?"
"Aku ingin bicara sama kamu sebentar bisa?" tanya Wahyu.
Salma berfikir sejenak. Mungkin saja ini saat yang tepat baginya untuk menanyakan jati diri Wahyu yang sebenarnya dan tentang wanita paruh baya yang mengaku sebagai mamanya.
"Baik mas tapi aku tutup kios dulu ya" ucap Salma menyetujui ajakan Wahyu.
Selesai menutup kiosnya Salma mengeluarkan sepedanya dan mulai menaikinya. Sedang Wahyu mengendarai motornya dan melajukannya perlahan mengikuti sepeda Salma.
Keduanya berhenti disebuah warung kaki lima yang berada di taman kota tak jauh dari rumah Salma. Setelah memesan makanan keduanya memilih tempat duduk di bangku taman sebelah warung tersebut agar dapat berbincang lebih leluasa. Dan setelah menyantap makanan mereka barulah keduanya berbicara serius.
"Eum...sebenarnya apa yang ingin mas bicarakan ya?" tanya Salma.
Salma yang mendengar pekataan Wahyu entah mengapa langsung merasakan jika Wahyu ingin mengungkapkan perasaannya padanya. Ia langsung teringat dengan wanita paruh baya yang tadi datang ke kiosnya.
"Sebenarnya aku suka sama kamu Ma... bahkan aku menyukaimu sejak dulu... saat kita masih sekolah..." ungkap Wahyu.
"Namun saat itu aku tak berani mengungkapkannya karena sikapmu yang selalu menjaga jarak pada setiap orang apalagi para cowok di sekolah" sambungnya.
"Ditambah lagi aku mendengar kabar jika Dirga juga menyukaimu... aku semakin tidak percaya diri untuk mengungkapkan perasaanku padamu" lanjut Wahyu sambil memandang Salma lekat.
"Tapi mas..." kata Salma yang sedikit terkejut walau tadi sudah menduganya.
"Aku tahu mungkin bagimu ini terlalu cepat apalagi dengan status kamu. Pasti kau masih trauma untuk menjalin hubungan kembali... aku tidak memaksamu untuk menjawabnya sekarang cukup ijinkan aku untuk selalu disampingmu Ma" potong Wahyu sambil menggenggam tangan Salma.
Perlahan Salma melepaskan tangannya dari genggaman Wahyu. Ditatapnya wajah pria itu. Tak terlihat kebohongan disana hanya ada ketulusan. Namun Salma juga tak lupa jika Wahyu juga sudah berbohong selama ini padanya. Dan itu membuat Salma merasa kecewa pada Wahyu.
__ADS_1
"Maaf mas... aku tahu aku tidak berhak melarangmu untuk memiliki rasa yang lebih padaku... tapi apa tidak sebaiknya kau fikirkan lagi? apa kata orang jika tahu kamu mencintai seorang janda miskin sepertiku? apa kata keluargamu mas? apa mereka setuju dengan pilihanmu?" tanya Salma yang membuat Wahyu tertegun.
"Maksud kamu apa Ma?"
"Aku sudah tahu mas kalau selama ini kamu sudah berbohong tentang identitasmu. Entah apa maksud kamu berbuat seperti itu... tapi aku juga tidak terima dengan ucapan mamamu yang menghina statusku" terang Salma.
"Jadi mamaku menemui kamu Ma?"
"Iya mas... baru tadi sebelum kamu datang" sahut Salma.
"Aku harap mas ga lagi terlalu dekat denganku... aku tidak mau hubungan mas dan keluarga mas terganggu" sambung Salma.
"Aku minta maaf telah berbohong padamu Ma. Tapi Ma... aku berbohong padamu karena aku tidak mau kau merasa minder dan malah menjauh dariku sedang tentang mama aku minta maaf atas sikapnya padamu. Jadi aku mohon jangan suruh aku untuk menjauhimu..." ucap Wahyu memohon.
"Mas ... kamu tahu kita sangat jauh berbeda... aku tidak mau sebuah keluarga hancur karena aku. Sebab bagiku keluarga adalah harta yang paling berharga dalam hidupku. Jadi demi kebaikan bersama turutilah permintaan kedua orangtuamu jangan sampai kamu menyesal setelah kehilangan mereka"
"Tapi Ma... aku mencintaimu... sungguh aku benar-benar mencintaimu"
"Cinta itu bisa berubah sewaktu-waktu mas ... sesuai dengan ketetapan Allah... jadi jalani saja semuanya dengan ikhlas... aku yakin gadis pilihan orangtuamu adalah yang terbaik menurut mereka" terang Salma.
"Baik untuk mereka belum tentu baik untukku kan Ma?" sanggah Wahyu.
"Mas kan belum mencobanya... bagaimana mas tahu jika itu tidak baik untukmu? setidaknya cobalah untuk mengenal gadis yang dijodohkan untukmu... mungkin setelah terbiasa cinta itu akan muncul dengan sendirinya" ucap Salma mencoba menasehati Wahyu.
"Fikirkan apa yang aku katakan mas... dan berilah waktu untuk kita berjauhan sejenak.... mungkin dengan itu kita bisa tahu apa yang sebenarnya kita inginkan" sambung Salma sambil beranjak dari tempat duduknya.
"Baiklah Ma ... jika itu yang kau inginkan... aku akan melakukan apa yang kau suruh. Tapi jika rasa ini masih tetap ada maka apa pun yang terjadi aku akan kembali kepadamu..." ucap Wahyu saat Salma hendak berjalan pergi meninggalkannya.
Salma menghentikan langkahnya saat mendengar ucapan Wahyu. Jujur hatinya bergetar mendengar perkataan Wahyu namun ia juga tak mau egois memisahkan seorang anak dari ibunya hanya karena cinta yang ia sendiri tak tahu apakah bisa membalasnya.
Salma kembali melanjutkan langkahnya tanpa mau menoleh kembali kearah Wahyu. Bukan karena benci namun ia tak ingin jadi merubah keputusannya setelah melihat wajah Wahyu.
Gadis itu pun langsung membayar pesanannya dan bergegas mengambil sepedanya dan segera pulang. Tak terasa air mata Salma menetes sepanjang perjalanan pulangnya. Sesekali ia berusaha menghapusnya dengan telapak tangannya. Dan saat sampai di rumah setelah mengucapkan salam Salma langsung masuk ke dalam kamar. Untung saja ibunya sedang di dapur sehingga ia bisa langsung masuk ke dalam kamar tanpa terlihat oleh ibunya wajahnya yang sembab.
Sementara Wahyu setelah kepergian Salma masih duduk termenung ditempatnya. Ia tak menyangka jika mamanya bertindak secepat ini untuk menjauhkannya dari Salma. Kemudian pria itu pun bangkit dan hendak membayar makanannya namun ternyata Salma telah membayarnya.
__ADS_1
"Kau benar-benar sakit hati dengan perkataan mamaku Ma... hingga makanan pun kamu tak ingin aku membayarkannya" batin Wahyu setelah mengucapkan terima kasih pada pelayan disana.
Segera Wahyu menyalakan motornya dan melajukannya ke arah kediaman keluarganya. Ia harus segera menemui mamanya dan meminta penjelasan darinya. Apalagi ia tahu jika salah satu alasan Salma menolaknya karena sikap mamanya yang sudah merendahkan gadis pujaannya itu.