
Rasanya waktu berjalan sangat lambat bagi Wahyu saat membawa Salma ke rumah sakit. Berkali-kali pria itu memanggil nama Salma namun wanita yang kini dalam pelukannya itu sama sekali tidak bergerak. Butuh waktu lima belas menit bagi mereka untuk akhirnya bisa tiba di rumah sakit. Sampai di sana Wahyu langsung membopong tubuh Salma yang bersimbah darah menuju ke dalam sambil berteriak meminta pertolongan. Perawat yang melihatnya langsung meletakkan tubuh Salma di atas brankar.
Dokter pun segera tiba dan memeriksa keadaan Salma yang kritis. Tak lama dokter dan perawat langsung membawa Salma ke ruang IGD. Saat Wahyu tengah panik memikirkan keadaan Salma tiba-tiba ponselnya berdering. Terpampang nama bu Rahma disana.
"Assalamualaikum nak Wahyu..." terdengar suara bu Rahma di seberang sana.
"Waalaikum salam bu ..."
"Nak Wahyu masih bersama Salma? sedari tadi ibu menelfonnya tapi ponselnya tidak aktif..." terang bu Rahma.
Suara wanita paruh baya itu terdengar panik. Dengan bergetar Wahyu mau tidak mau harus mengatakan dimana Salma sekarang.
"Maaf bu... Salma sekarang di rumah sakit... dia baru saja mengalami kecelakaan..."
"Innalillahi..." terdengar suara bu Rahma menjerit dan tak lama terdengar suara barang jatuh.
"Bu... ibu! ibu tidak apa-apa?" tanya Wahyu panik.
"Ibu tidak apa-apa... tolong katakan di rumah sakit mana Salma sekarang?" terdengar suara bu Rahma bergetar.
Perempuan paruh baya itu sangat panik... ini kedua kalinya putri sulungnya itu mengalami kecelakaan. Entah seberapa parahnya luka yang diderita oleh Salma saat ini.
"Kami berada di rumah sakit Tali Kasih bu... alamatnya akan aku kirimkan pada ibu..." jawab Wahyu.
"Baik .... terima kasih nak..."
"Sama-sama bu... dan maaf aku salah tidak bisa menjaga Salma dengan baik...."
"Tidak apa-apa nak... ini bukan salahmu... semuanya sudah takdir dari Allah..." ucap bu Rahma yang mencoba untuk tabah.
"Ibu sekarang ke sana ya nak..." sambungnya.
"Iya bu... ibu juga hati-hati di jalan"
"Iya... assalamualaikum..."
"Waalaikum salam..."
Setelah mematikan ponselnya bu Rahma langsung bersiap untuk pergi ke rumah sakit. Dengan cepat wanita itu lalu memesan taksi online untuk mengantarnya. Tak lama taksi yang dipesannya pun datang. Dengan segera ia pun masuk kedalamnya. Setelah berada di dalam taksi ia teringat belum menghubungi kedua putrinya yang lain. Segera ia menekan nomor Shania pada ponselnya.
Sementara Wahyu setelah panggilan dari bu Rahma berakhir langsung menghubungi pak Adi. Hanya pada ayahnya lah saat ini Wahyu bisa berbagi duka. Bahkan sejak dulu pun selalu begitu... entah mengapa.
"Assalamualaikum pa..." kata Wahyu begitu sambungannya diangkat oleh pak Adi.
__ADS_1
"Waalaikum salam... ada apa nak? kenapa suaramu terdengar panik?"
"Salma pa... dia baru saja kecelakaan... ini aku masih berada di rumah sakit..." terang Wahyu dengan suara bergetar.
"Baiklah ... papa langsung kesana... kau kirimkan alamatnya pada papa!"
"Iya pa..." sahut Wahyu.
Ada rasa sedikit lega dihatinya setelah menghubungi bu Rahma dan juga papanya. Tak lama terlihat pintu ruang IGD terbuka. Tampak seorang dokter keluar sari dalam sana.
"Keluarga nona Salma?"
"Saya dok... saya calon suaminya" sahut Wahyu.
"Begini... akibat kecelakaan yang menimpanya nona Salma mengalami pendarahan dan juga luka dalam. Ada beberapa bagian tulangnya yang retak termasuk tulang rusuknya. Disamping itu kami juga menemukan gumpalan di kepalanya akibat benturan. Oleh karena itu kami akan melakukan tindakan operasi" terang sang dokter.
"Baik dok... tolong lakukan yang terbaik untuk menyelamatkan nyawanya..." kata Wahyu.
"Kalau begitu silahkan anda mengurus administrasinya... saya akan segera melakukan tindakan operasi..."
"Baik dok..."
Sang dokter pun langsung kembali ke dalam ruang IGD. Tak berapa lama ia kembali keluar bersama para perawat membawa Salma menuju ruang operasi.
Wahyu pun hanya mengangguk dan langsung mengikuti perawat tersebut. Wahyu sedang mengurus administrasi saat bu Rahma datang. Wanita itu langsung menghampiri Wahyu.
"Bagaimana keadaan Salma nak?" tanyanya.
"Salma sedang dioperasi bu... lukanya cukup parah" terang Wahyu.
"Anda harus menanda tangani surat persetujuan operasi tuan" kata petugas administrasi pada Wahyu.
"Biar saya saja sus... saya ibunya pasien" kata bu Rahma.
Kemudian petugas itu pun memberikan dokumen yang harus ditanda tangani oleh bu Rahma. Setelah selesai mengurus administrasi, Wahyu dan bu Rahma segera pergi ke ruang operasi dimana Salma kini sedang diambil tindakan oleh dokter. Keduanya tampak cemas menunggu di depan ruangan.
Sesaat kemudian tampak pak Adi datang bersama Gita. Kedua juga tampak cemas. Pak Adi langsung memeluk Wahyu untuk memberi kekuatan padanya. Meski kini ia tahu jika Wahyu bukan putra kandungnya namun kasih sayangnya tak pernah berkurang pada Wahyu. Sementara Gita mendekat ke arah bu Rahma. Gadis itu mencoba memberi kekuatan pada ibu dari calon istri kakaknya.
"Ibu yang kuat ya... aku yakin kak Salma pasti kuat..." kata Gita sambil menggenggam tangan bu Rahma.
Wanita paruh baya itu tiba-tiba langsung memeluk Gita seolah mencari kekuatan pada gadis muda itu. Sungguh bu Rahma sangat butuh tambahan kekuatan saat ini. Salma yang sudah dua kali mengalami kecelakaan parah membuat bu Rahma sangat ketakutan. Ia sangat takut jika kali ini putrinya itu tidak mampu bertahan. Apa lagi tadi saat Wahyu menceritakan bagaimana tubuh Salma tertabrak langsung oleh truk dan terlempar ke jalan.
Gita mengelus punggung bu Rahma lembut. Ia dapat mengerti perasaan bu Rahma yang sangat terpukul karena kecelakaan Salma. Apa lagi dari cerita Wahyu jika tubuh Salma benar-benar dihantam oleh truk tersebut. Ibu mana yang akan kuat mendengar keadaan putrinya itu. Membayangkan kesakitan yang dirasakan Salma saat kejadian saja sudah membuat Gita ngeri.
__ADS_1
"Kau gantilah dulu pakaianmu nak..." kata pak Adi pada Wahyu.
Sedari tadi memang Wahyu masih mengenakan pakaiannya yang sudah kotor karena terkena noda darah Salma. Gita langsung memberikan paper bag yang berisi pakaian ganti untuk Wahyu. Pria itu pun menerimanya dan langsung pergi ke toilet untuk berganti pakaian.
Operasi yang dijalani oleh Salma terbilang lama membuat mereka yang menunggu di luar ruang operasi merasa sangat cemas. Bahkan sampai kedua putri bu Rahma yang lain datang bersama suami mereka masing-masing operasi yang dijalani Salma belum juga selesai. Dan setelah hampir enam jam akhir pintu ruang operasi pun terbuka dari dalam. Tampak dokter yang menangangi Salma menghampiri mereka.
"Bagaimana keadaan putri saya dokter?" tanya bu Rahma.
"Syukurlah operasi yang kami lakukan berjalan lancar... namun begitu kita harus menunggu hingga masa kritisnya berlalu dan berharap saja jika pasien bisa cepat sadar..." ungkap sang dokter.
"Alhamdulillah..." ucap semua orang yang ada disana.
Mereka saling menyunggingkan senyum kelegaan karena operasi yang dijalani oleh Salma berhasil.
"Untuk sementara pasien akan di pindahkan di ruang ICU agar kani dapat memantaunya... jika masa kritisnya berakhir baru dapat kami pindahkan ke ruang perawatan" sambung dokter tersebut.
Semua yang mendengarkan keterangan dokter pun mengangguk mengerti. Setelah menerangkan kondisi Salma dokter itu pun pamit. Sementara dari dalam ruang operasi tampak Salma sudah dibawa keluar dengan brankar ke ruang ICU. Tubuh Salma sudah penuh dengan berbagai selang untuk menunjang kesembuhannya.
Bu Rahma dan lainnya langsung mengikuti para perawat yang membawa Salma ke ruang ICU. Tapi saat sampai depan ruangan mereka tidak diperbolehkan masuk. Hanya salah satu diantara mereka saja yang bisa, itu pun harus mengenakan APD agar kesterilan dalam ruang ICU tetap terjaga. Bu Rahma yang langsung dipersilahkan masuk untuk menjenguk putrinya itu.
Dengan bergetar bu Rahma mengelus tubuh Salma yang terbaring lemah. Wajahnya yang akhir-akhir ini tampak sangat ceria kini berubah pucat. Bu Rahma tak dapat menahan kesedihannya.
"Salma... bangun nak... kamu harus sembuh..." isaknya.
"Kau tahu... beberapa waktu terakhir ini ibu merasa kau telah menemukan kebahagiaanmu bersama Wahyu... tapi kenapa kau jadi begini sayang?" sambung bu Rahma.
Rasanya tak kuat melihat kesedihan demi kesedihan terus membayangi kehidupan putrinya itu. Baru saja putrinya itu menemukan sosok pendamping yang baik seperti Wahyu... tapi mengapa Tuhan justru membuat putrinya celaka dan jadi seperti saat ini?
"Ini sungguh tidak adil ya Allah... putriku berhak bahagia... dia gadis yang baik dan lembut... tapi kenapa Kau selalu memberinya cobaan yang berat?" jerit bu Rahma dalam hati.
"Astaghfirullahalazim..." ucap bu Rahma lirih sambil mengelus dadanya yang sesak.
"Maafkan aku ya Allah... aku tidak seharusnya menolak takdirMu... tapi aku mohon sembuhkanlah putriku... biarkanlah ia menemukan kebahagiaannya..." do'a bu Rahma.
Setelah beberapa saat menemani putrinya bu Rahma akhirnya keluar dari ruang ICU karena memang tidak diperbolehkan untuk berlama-lama di dalam sana. Di luar tampak Wahyu sudah tidak sabar untuk dapat menemui Salma. Sehingga begitu bu Salma ke luar dari ruang ICU ia pun segera menggantikannya masuk ke dalam sana. Semua orang yang menyaksika pun memaklumi sikap Wahyu.
Sesampainya di dalam ruangan ICU tampak Wahyu tidak dapat menyembunyikan kesedihannya. Melihat wajah pucat calon istrinya dan tubuh yang penuh luka membuat hati pria itu teriris. Perlahan di belainya rambut Salma. Begitupun pipi gadis itu yang tampak tirus.
"Sayang bangunlah... jangan berlama-lama kau tidur...kita masih harus mempersiapkan pernikahan kita..." bisik Wahyu di telinga Salma.
Tiba-tiba terlihat air mata menetes dari pelupuk mata Salma. Seolah ia juga mendengarkan perkataan Wahyu.
"Jangan menangis sayang... hanya berusahalah untuk segera sembuh... agar kita bisa segera menikah..." ucap Wahyu sambil menghapus air mata Salma dengan ujung jarinya.
__ADS_1
Sementara di luar ruangan pak Adi tengah menerima telfon dari seseorang. Wajah pria itu tampak mengeras menahan amarah setelah mendengar perkataan orang di seberang telfonnya.