Jodoh Istri Kedua

Jodoh Istri Kedua
Luka Masa Lalu


__ADS_3

Pagi hari suasana di rumah pak Adi tampak sedikit suram. Gita tampak murung dan hanya mengaduk makanan yang ada di dalam piringnya tanpa berniat untuk menyentuhnya. Wahyu yang mengira jika adiknya memang tengah patah hati pun hanya bisa memperhatikan tanpa bisa menegurnya. Orangtua pak Adi dan bu Desi seolah tak perduli dengan keadaan sekitarnya. Mereka tampak makan dengan biasa. Sedang bu Desi sedari tadi menatap suaminya yang mendiamkannya sejak semalam.


Pak Adi sendiri makan dengan tenang walau dalam hatinya bergemuruh menahan emosi setelah mengetahui kebenarannya semalam. Selesai makan pak Adi langsung mengajak Gita untuk ikut bersamanya. Gita pun langsung mengikuti ayahnya tanpa protes. Begitu pun Wahyu, ia segera menyelesaikan makannya dan menyusul ayah serta adiknya.


"Kalian tidak berpamitan dengan kami?" tanya pak Hamid yang melihat anak dan cucunya pergi tanpa berkata apa-apa.


"Kami pergi dulu..." ucap Wahyu.


"Hemmm..." sahut pak Hamid.


Saat ketiganya telah pergi pak Hamid menatap menantunya yang masih mengunyah makanannya.


"Kau tidak lihat sikap suami dan anakmu itu? mereka aneh sekali" kata pak Hamid.


"Sejak semalam mas Adi mendiamkan aku pa" adu bu Desi.


"Apa karena kau tidak setuju dengan wanita yang disukai Wahyu?" tanya pak Danu.


"Entahlah..." sahut bu Desi yang memang tahu mengapa suaminya mendiamkannya.


Sementara itu didepan rumah tampak Gita langsung masuk ke dalam mobil papanya.


"Papa pergi dulu dengan Gita... kau handle dulu urusan kantor ya" kata pak Adi pada Wahyu.


"Baik pa... sebenarnya kalian mau kemana?" tanya Wahyu penasaran karena tak biasanya adiknya itu pergi bersama papanya sepagi itu.


"Gita ingin melanjutkan kuliahnya... jadi papa ingin menunjukkan beberapa kampus yang mungkin cocok untuknya" kata pak Adi memberi alasan.


Wahyu tampak agak terkejut. Pasalnya Gita sudah lama tak menunjukkan niatnya untuk kuliah. Namun ia pun senang karena adiknya itu akhirnya mau juga kuliah.


"Baiklah papa pergi dulu"


"Iya pa..." sahut Wahyu lalu ia pun masuk ke dalam mobilnya sendiri dan pergi ke kantor.


Sementara pak Adi dan Gita pergi menuju rumah sakit untuk melakukan tes DNA.


"Pa... tadi aku sempat masuk ke kamar kak Wahyu... dan mengambil beberapa helai rambutnya..." kata Gita saat mereka dalam perjalanan.


"Maksud kamu?" tanya pak Adi tak mengerti pasalnya mereka semalam hanya berencana jika cuma mereka berdua yang akan melakukan tes DNA.

__ADS_1


"Bukankah semalam kakek Danu bilang jika mama sendiri juga ga tahu siapa ayah kandung kak Wahyu? mungkin saja..." terang Gita menggantung.


Ya... dalam hatinya Gita masih berharap ada kemungkinan jika Wahyu adalah kakak kandungnya.


"Kau benar nak..." sahut pak Adi tersenyum.


Mendengar ucapan Gita dalam hati pak Adi juga jadi berharap jika Wahyu benar putra kandungnya. Sesampainya di rumah sakit keduanya pun langsung pergi menemui dokter teman pak Adi untuk melakukan tes DNA.


Selesai melakukan tes pak Adi mengajak Gita untuk mencari kampus yang cocok untuknya. Melihat itu Gita memandang pak Adi dengan tatapan haru. Walau belum pasti jika Gita putri kandungnya namun pak Adi masih memperhatikan pendidikannya.


"Makasih pa..." ucap Gita sambil memeluk pak Adi sebelum keduanya turun dari mobil.


"Maaf jika selama ini Gita sudah menyia-nyiakan waktu" sambungnya.


"Tidak apa-apa sayang... semua orang pernah melakukan kesalahan... yang terpenting sekarang kau telah menyesalinya dan mau berubah" sahut pak Adi sambil tersenyum.


Sementara di rumah tampak bu Desi sedang kesal pasalnya ia tidak bisa kemana-mana hari ini karena ada kedua orangtuanya dan juga mertuanya. Ya dihadapan mereka terutama kedua mertuanya dia harus menjaga sikapnya agar mereka selalu mendukungnya.


Ditempat lain Wahyu tampak tengah sibuk dengan pekerjaannya. Selain mengurus perusahaannya sendiri ia juga mengurus perusahaan pak Adi. Namun ia tak keberatan karena merasa sudah menjadi tanggung jawabnya sebagai putra sulung pak Adi.


Karena tengah sibuk dengan kegiatannya ia sampai tak menyadari jika ada seseorang yang memasuki ruangannya.


"Pagi Wahyu..." terdengar suara seorang wanita yang menyapanya.


"Siapa yang mengijinkanmu masuk kemari?" tanya Wahyu dengan ketus.


"Hei... kau jangan berlebihan begitu Wahyu..." ucap wanita itu kaget dengan reaksi yang ditunjukkan oleh Wahyu padanya.


"Berlebihan? apa menurutmu sikapku ini berlebihan menghadapi wanita ular sepertimu itu? masih untung kau tidak aku habisi karena berani lancang datang kemari!" kata Wahyu membuat wanita yang berada dihadapannya itu gemetar.


Ia tak menyangka jika Wahyu masih saja mengingat kesalahannya di masa lalu.


"Tapi itukan sudah lama berlalu..." sanggah wanita itu.


"Sudah lama ya... hah! kau fikir dengan berlalunya waktu bisa menghapus kesalahanmu yang fatal itu? bahkan dengan percaya dirinya kamu berani datang tanpa pernah mengakui kesalahanmu"


"Maaf..." ucap wanita itu tercekat.


"Maaf? sudah tidak ada gunanya kau meminta maaf padaku...sebab karena ulahmu aku hampir saja kehilangan masa depanku!" sahut Wahyu sengit.

__ADS_1


"Tapi aku melakukannya karena aku sangat mencintaimu Wahyu... jika dengan cara itu kau bisa memilikimu makanya aku mau melakukannya" terang wanita itu tak mau kalah.


"Termasuk dengan menjebakku dengan mengatakan jika aku sudah memperkosamu begitu?"


Prok...prok...prok...


Wahyu bertepuk tangan masih ditempat duduknya.


"Kau fikir aku akan tersentuh dengan alasan gilamu itu hah? sampai kapan pun aku tak akan pernah melirikmu apa lagi mencintaimu! camkan itu!" sambung Wahyu.


"Siska!" panggil Wahyu pada sekretarisnya.


Tak lama Siska pun masuk dengan tergopoh ke dalam ruangan Wahyu. Dia pun terkejut mendapati seorang wanita sudah berada di ruangan atasannya itu.


"Kenapa wanita ini bisa masuk ke ruanganku?" tanya Wahyu dengan wajah seram.


"Maa...maaf pak ... saya tidak tahu ... tadi saya ke toilet sebentar..." jawab Siska dengan gugup.


"Bawa dia keluar! dan lain kali jangan biarkan dia masuk ke perusahaan ini apalagi ruangan saya!" perintah Wahyu.


"Mari nona..." kata Siska mempersilahkan wanita itu pergi dengannya.


"Kau tidak bisa berbuat begini padaku Wahyu!" ucap wanita itu hendak berontak.


"Tapi aku bisa!" sahut Wahyu kembali melanjutkan kegiatannya tanpa melihat wanita itu lagi.


Siska pun memaksa wanita itu untuk segera keluar dari sana. Dengan terpaksa wanita yang bernama Friska itu pun akhirnya keluar dengan diiringi Siska dibelakangnya.


Ketika pintu ruangannya ditutup oleh Siska dari luar Wahyu langsung menghentikan kegiatannya dan menghembuskan nafasnya kasar. Ingatnya terlempar kembali ke masa lalu saat ia masih kuliah disebuah universitas ternama di luar negeri. Ia ingat betul kejadian malam itu saat ia berada di asrama mahasiswa dan teman sekamarnya tengah keluar tiba-tiba Friska yang dikenalnya karena sesama mahasiswa dari Indonesia menelfonnya.


Wahyu yang saat itu menganggap Friska adalah temannya tanpa curiga mau menemui gadis itu di kamarnya karena gadis itu meminta bantuannya untuk mengerjakan tugasnya. Tapi yang yerjadi sungguh diluar dugaannya wanita itu yang semula mencoba menggoda Wahyu namun tak berhasil malah berteriak setelah melukai dirinya sendiri dan juga merobek pakaiannya sendiri dan mengatakan jika Wahyu telah berusaha untuk memperkosanya saat mahasiswa lain datang ke sana.


Wahyu hampir saja masuk ke dalam penjara dan dikeluarkan dari kampusnya jika bukan karena cctv yang ada di lorong asrama dan juga kejelian para detektif kepolisian disana. Akibat kejadian itu Friska pun akhirnya dikeluarkan dari kampus karena sudah melakukan fitnah dan membohongi petugas kepolisian. Walau kebenaran akhirnya terungkap namun nama baik Wahyu sebagai salah satu mahasiswa terbaik pun sempat tercoreng.


Wahyu tidak akan pernah memaafkan wanita itu karena telah membuatnya malu dan sempat membuat ayahnya kelimpungan mencarikan pengacara untuk membelanya. Ya pak Adi harus meninggalkan perusahaannya demi menemani putranya itu meski saat itu perusahaan masih membutuhkan perhatian pak Adi. Tapi pria itu lebih memilih mendampingi putranya yang tersandung masalah.


Jika telah menyangkut papanya maka Wahyu tidak akan pernah memaafkan siapa pun yang telah berbuat salah. Karena Wahyu sangat mencintai dan menghormati papanya itu yang sudah ia anggap sebagai pahlawan dalam hidupnya. Hanya papanya yang percaya padanya saat tak seorang pun mempercayainya termasuk mamanya. Ya saat kejadian itu bu Desi malah menyuruh Wahyu mengakui kejahatan yang tidak pernah ia lakukan dan mau bertanggung jawab pada Friska dengan menikahinya. Alasannya agar semua cepat selesai sebab keluarga Friska berjanji tidak akan melanjutkan proses hukum jika Wahyu mau bertanggung jawab dan menikah dengan Friska.


Sedang Friska yang kini berada di luar gedung perusahaan Wahyu tampak sangat kesal. Ia kembali mendatangi Wahyu karena ia mendengar jika Wahyu telah melamar seorang wanita dan akan segera menikahinya. Friska yang masih menyimpan rasa pada Wahyu merasa tak rela jika pria itu menikah dengan orang lain. Tapi ia tak menyangka jika kebencian Wahyu masih sangat besar padanya. Friska meruntuki dirinya karena dulu sangat ceroboh memfitnah Wahyu sehingga pria itu jadi sangat membencinya sekarang.

__ADS_1


"Apa tidak ada cara lain yang bisa aku lakukan untuk membuatmu memaafkanku?" batin Friska.


Dengan perasaan kacau ia pun masuk ke dalam mobilnya dan melajukannya menuju ke kantor papanya. Dalam fikiran Friska kini hanya papanya yang bisa membantunya saat ini karena cuma papanya yang selalu mau memenuhi semua permintaannya.


__ADS_2