Jodoh Istri Kedua

Jodoh Istri Kedua
Belum Menyerah


__ADS_3

Selesai makan siang dengan Wahyu, Salma bergegas menuju kamar untuk mengambil vitamin yang diberikan oleh bu Desi kemarin. Ia merasa tidak enak karena belum sempat meminum pil yang dibawa khusus oleh ibu mertuanya itu. Apa lagi tadi bu Desi juga kembali mengingatkannya untuk segera meminum pil pemberiannya. Salma segera menuju meja rias tempat kemarin ia sempat meletakkan botol pil pemberian bu Desi padanya. Saat melihat botol itu ia pun segera mengambil sebutir pil dari dalamnya dan mengambil air putih untuk meminumnya.


"Ada apa sayang? kenapa kau buru-buru?" tanya Wahyu saat melihat Salma yang baru keluar daru dalam kamar mereka.


"Ini mas... aku mau minum pil pemberian mama... aku tidak enak sampai tadi mama harus mengingatkanku lagi untuk meminumnya..." jawab Salma sambil menunjukkan pil yang ada di telapak tangannya.


"Ya sudah... kau tunggu saja disini biar aku yang mengambilkan air minumnya..." kata Wahyu.


Salma pun menurut dan kembali ke dalam kamar untuk menunggu suaminya. Sementara Wahyu tampak berjalan sambil mengeraskan rahangnya. Ia sesungguhnya sedang menahan amarahnya pada bu Desi mamanya. Untung saja tadi saat pulang dari rumah sakit ia langsung meletakkan botol vitamin yang ia dapat dari dokter untuk menggantikan botol pil penggugur kandungan dari mamanya. Sehingga istrinya Salma tidak merasa curiga.


Setelah meminum pil yang ia kira pemberian dari mama mertuanya Salma tampak sangat bahagia. Wahyu yang melihatnya pun jadi penasaran.


"Kelihatannya kau sangat bahagia sayang..." kata Wahyu.


"Iya mas... sepertinya mama sudah mulai mau menerimaku sebagai menantunya mas..." sahut Salma sambil tersenyum bahagia.


Wahyu hanya bisa tersenyum miris. Istri polosnya tak menyadari jika sesungguhnya mamanya masih belum menerimanya sebagai menantu. Bahkan ia berencana melukai Salma dan juga bayinya.


"Iya sayang... semoga saja begitu..." kata Wahyu sambil memeluk istrinya itu erat.


"Sungguh kau sangat baik dan polos Salma... bahkan orang berniat jahat padamu pun kau tidak menyadarinya..." batin Wahyu.

__ADS_1


Untuk saat ini Wahyu memang belum bisa berbuat apa-apa pada mamanya yang berniat jahat pada istrinya karena ia tak ingin membuat Salma menjadi stres jika mengetahui kenyataannya. Ia hanya bisa membentengi istrinya itu agar tidak ada celah bagi bu Desi untuk bisa mencelakai Salma dan juga kandungannya. Karena itulah saat Salma tertidur siang itu Wahyu langsung mengumpulkan semua pekerja di rumahnya agar bisa lebih menjaga istrinya terutama jika berhubungan dengan mamanya.


Meski mereka merasa jika perintah tuannya agak aneh yang menyuruh mereka mengawasi bu Desi jika berada di sekitar Salma namun para pejerja itu tetap patuh pada perintah tuannya. Setelah memberikan perintah Wahyu pun kembali ke dalam kamarnya untuk melihat keadaan Salma.


"Aku akan menjagamu dan calon anak kita sekuat tenaga dari kejahatan siapa pun meski itu mama kau sendiri Salma..." batin Wahyu sambil mengelus perut istrinya yang mulai mengembung.


Ya Wahyu tak akan membiarkan siapa pun untuk menyakiti istri dan juga calon anaknya meski itu ibunya sendiri. Dilain tempat tampak pak Alex tengah berbincang dengan sang dokter yang selama ini telah merawatnya. Ia menginginkan donor dari orang lain selain putranya Wahyu meski untuk itu kemungkinan ia mendapatkan donor secepatnya sangat mustahil. Namun pak Alex sudah memutuskan agar Wahyu tidak menjadi pendonornya. Alasannya karena kini Wahyu akan menjadi seorang ayah. Dan Alex tidak ingin ada efek samping yang akan merugikan putranya itu.


Entah mengapa sejak pertemuannya dengan Wahyu dan Salma membuat pria yang dulu datang dengan sejuta dendam menjadi berbalik dan malah menginginkan kehangatan keluarga terutama dari putra kandungnya Wahyu. Ia juga menginginkan pengakuan dari Wahyu jika ia adalah ayah kandungnya. Meski untuk itu ia mesti sedikit bersabar. Dan setelah menemui sang dokter pak Alex segera mengatur keberangkatannya kembali ke negara tempat putranya itu berada. Ia ingin segera memberitahunpada Wahyu jika ia adalah ayah kandungnya. Untuk itu orang pertama yang harus ia temui adalah pak Adi.


Bukan tanpa alasan ia menemui mantan suami bu Desi yang diakui sebagai ayah kandung Wahyu oleh bu Desi dulu. Ia tahu jika pak Adi adalah pria yang baik dan hanya korban dari keegoisan kedua orangtuanya dan juga bu Desi. Ia mengetahui itu semua setelah ia menyuruh anak buahnya untuk menyelidiki keluarga pak Adi.


Dilain pihak setelah memperingati semua pekerja di rumahnya untuk memperketat keamanan dirumahnya terutama menyangkut keselamatan istrinya, Wahyu mulai mencari cara agar ia bisa menghentikan rencana mamanya untuk mencelakai Salma. Dan itu berarti ia harus memiliki bukti kuat untuk menekan mamanya itu agar tidak bisa berkilah. Saat itulah ia berniat menemui pak Adi untuk meminta pendapat dari pria itu.


Setelah membuat janji dengan pak Adi keduanya pun bertemu saat makan siang. Sengaja keduanya bertemu restoran yang memiliki tempat privat agar keduanya dapat berbicara dengan lebih leluasa. Keduanya makan siang terlebih dahulu sebelum Wahyu mengatakan alasannya meminta bertemu dengan pak Adi.


"Jadi mamamu berencana mencelakai Salma dan juga janinnya?" tanya pak Adi setelah Wahyu menceritakan semuanya.


"Iya pa... aku juga tidak menyangka sebegitu bencinya mama pada Salma hingga ia juga ingin mencelakai janin yang sedang dikandungnya... padahal itu juga anakku pa... calon cucunya..." ucap Wahyu dengan suara bergetar.


Sungguh Wahyu tak menyangka jika wanita yang sudah melahirkannya itu memiliki sifat yang sangat kejam dan pendendam.

__ADS_1


"Kau jangan khawatir nak... papa akan membantu kamu..." kata pak Adi.


Kedua pria itu kemudian terdiam larut dalam fikiran mereka masing-masing. Mereka sama-sama sedang memikirkan cara yang tepat untuk menghentikan rencana bu Desi. Karena bukan tidak mungkin jika wanita itu akan melakukan hal lain untuk mencelakai Salma.


.....


Tak terasa jika kandungan Salma sudah memasuki bulan ke lima... perutnya pun sudah mulai membesar. Dan selama kehamilannya ini Wahyu sungguh menjaga istrinya itu agar tidak sering berinteraksi dengan bu Desi. Itu ia lakukan untuk menjaga keselamatan istri dan juga calon anaknya. Selama itu juga bu Desi sudah berkali-kali mencoba mencelakai menantunya itu dengan cara halus namun selalu saja gagal. Dan itu membuat bu Desi sangat marah. Ditambah kini pak Alex sudah berdamai dengan pak Adi dan juga Wahyu. Bahkan Wahyu sudah mengakui pak Alex sebagai ayah kandungnya. Hal ini membuat bu Desi sangat marah.


Ia merasa jika hanya dia yang tidak mendapatkan apa yang ia inginkan. Meski sebenarnya kini ia juga sudah mulai dekat dengan asisten papanya namun rasa dendamnya pada bu Rahma masih tetap ada. Entah mengapa wanita itu tidak bisa ikhlas jika belum melihat bu Rahma dan putrinya menderita. Padahal keduanya tak pernah melakukan kesalahan padanya. Hanya karena masa lalu pak Adi dan bu Rahma dulu membuat wanita itu dibutakan oleh dendam yang tidak beralasan.


"S**l*n! bagaimana bisa wanita itu bisa lolos berkali-kali dari rencanaku untuk mencelakainya? bahkan kandungannya pun semakin besar..." gumam bu Desi saat berada di dalam kamarnya sendirian.


Ia memang sangat gusar karena semakin besar kandungan Salma akan semakin susah ia menyingkirkan wanita itu dari hidup putranya. Apa lagi Wahyu juga sudah mengetahui jika ia berniat mencelakai Salma. Ya suatu hari saat bu Desi merasa mempunyai kesempatan untuk mencelakai menantunya itu dengan sengaja menumpahkan sabun pel ke lantai didepan kamar mandi saat Salma baru saja masuk ke dalamnya. Saat itu ia yakin jika rencananya akan berhasil karena saat itu suasana terlihat sepi. Tapi tanpa ia ketahui jika gerak geriknya sudah diawasi oleh salah seorang pekerja yang ada di rumah Wahyu.


Dan pekerja itu pun langsung merekam kegiatan bu Desi melalui ponselnya dan mengirimkannya pada Wahyu. Hal itu langsung membuat Wahyu langsung meradang dan langsung pulang untuk menemui bu Desi. Dan dengan bukti rekaman itu Wahyu menekan bu Desi agar tidak lagi mengganggu istrinya.


"Aku harus segera menyingkirkan wanita itu bagaimana pun caranya... jika dengan cara halus tidak bisa maka akan aku lakukan dengan cara yang kasar... kalau perlu akan lakukan dengan tanganku sendiri untuk menyingkirkannya!"


Saat itulah ia teringat dengan salah salah satu teman masa lalunya yang seorang kriminal dan sering melakukan tindak kejahatan. Meski sudah lama tidak bertemu tapi bu Desi yakin jika orang itu bisa ia ajak kerja sama untuk melancarkan rencananya. Dengan segera ia pun mencari nomor orang itu di kontak ponselnya dan tak butuh waktu lama ia pun langsung melakukan panggilan. Setelah beberapa saat orang itu pun mengangkat panggilannya. Dan setelah mengatakan niatnya mereka pun membuat janji untuk bertemu dan merencanakan langkah selanjutnya. Senyuman kini mengembang dibibir wanita paruh baya itu. Ya... kini bu Desi sudah mulai bisa tersenyum karena ia yakin jika rencananya kali ini pasti akan berhasil.


Dirumah bu Rahma entah mengapa sejak sore tadi ia merasakan firasat yang tidak enak. Dan ia selalu teringat dengan putri sulungnya Salma. Kandungan Salma yang mulai membesar membuat bu Rahma mengkhawatirkan putrinya itu karena tinggal sendiri bersama suaminya. Meski disana juga ada para Art yang ikut menjaga Salma namun sebagai ibu bu Rahma tetap khawatir apa lagi ini kehamilan pertama Salma.

__ADS_1


__ADS_2