
Pagi sudah menjelang saat Salma terbangun dari tidurnya. Dengan sedikit tergesa ia turun dari brankar tempat ia beristirahat di samping brankar Wahyu. Di pandanginya wajah Wahyu yang masih terlihat pucat dan belum juga sadar. Perlahan ia mengecup kening Wahyu.
"Aku sholat dulu ya mas..." pamitnya pada Wahyu meski Wahyu belum bisa menjawabnya.
Tak terlihat bu Rahma di ruang perawatan Wahyu. Mungkin ibunya itu juga tengah sholat di musholla rumah sakit. Walau agak kesusahan Salma berjalan menuju musholla untuk menjalankan kewajibannya sekaligus mendo'akan suaminya agar segera sadar. Saat ia baru selesai mengambil air wudhu dan masuk ke musholla ia bertemu dengan ibunya.
"Kau ada disini nak?"
"Iya bu... aku ingin sholat dan mendo'akan mas Wahyu..." sahut Salma.
"Ya sudah... ibu tunggu kamu diluar ya..."
"Iya bu..."
Bu Rahma pun menunggu putrinya itu di luar musholla. Namun tak berapa lama ia mendadak ingin ke toilet sehingga wanita paruh baya itu pun langsung ke sana untuk menuntaskan hajatnya. Saat Salma baru saja selesai dan keluar dari dalam musholla ia dikejutkan dengan kehadiran bu Desi yang telah menunggunya.
"Ada apa ma?" tanya Salma yang mengira jika telah terjadi sesuatu pada Wahyu.
"Ikut aku!" sahut bu Desi dingin sambil menarik tangan Salma kasar.
Dengan terseok Salma mengikuti langkah ibu mertuanya yang membawanya keluar dari rumah sakit.
"Kita mau kemana ma?" tanya Salma yang bingung dengan bu Desi yang membawanya keluar dari rumah sakit.
"Jangan ribut dan ikuti saja perintahku!" sentak bu Desi yang membuat Salma langsung terdiam.
Bu Desi langsung membawa Salma ke tempat parkir dan menyuruh Salma untuk masuk ke dalam mobilnya. Walau masih tak mengerti dengan sikap aneh ibu mertuanya tapi Salma tetap menuruti perintah wanita paruh baya itu. Setelah keduanya masuk ke dalam mobil bu Desi pun langsung melajukan mobilnya keluar dari area rumah sakit. Sementara bu Rahma yang baru saja keluar dari dalam toilet terkejut saat tak mendapati Salma baik di luar maupun di dalam musholla. Tanpa berfikir buruk ia segera pergi ke ruangan Wahyu mengira jika putrinya itu sudah pergi ke ruangan Wahyu terlebih dahulu.
Alangkah terkejutnya bu Rahma saat tak mendapati Salma di ruang perawatan Wahyu. Ia pun mulai mencari keberadaan putrinya itu di sekitaran rumah sakit. Pak Adi dan yang lainnya pun ikut mencari saat bu Rahma memberitahukan jika Salma menghilang. Setelah mencari beberapa saat dan tidak membuahkan hasil pak Adi berinisiatif untuk memeriksa cctv yang ada di rumah sakit itu. Didampingi bu Rahma ia pun segera menemui petugas untuk memeriksa cctv dimana terakhir Salma terlihat oleh bu Salma.
Keduanya sangat terkejut saat melihat rekaman cctv yang memperlihatkan bagimana Salma dibawa oleh bu Desi dengan sedikit kasar. Saat di telusuri terlihat keduanya masuk ke dalam mobil bu Desi sebelum akhirnya menghilang setelah keluar dari tempat parkir.
"Apa yang mantan istrimu itu ingin lakukan pada putriku mas?" tanya bu Rahma yang merasakan firasat buruk saat melihat perlakuan bu Desi pada Salma.
"Aku juga tidak tahu Ma... lebih baik sekarang kau kembali ke ruangan Wahyu biar aku yang akan mencari Salma bersama orang suruhanku..."
"Tapi mas..."
__ADS_1
"Sekali ini tolong turuti perintahku Ma... Wahyu akan sangat syok jika tahu Salma menghilang saat dia sadar nanti... hanya kamu yang bisa menenangkannya..." terang pak Adi.
Dengan terpaksa akhirnya bu Rahma pun menuruti perkataan pak Adi. Meski ia juga sangat mengkhawatirkan keadaan Salma, namun saat ini Wahyu juga membutuhkannya. Apa lagi jika ia tahu bahwa pelaku yang membuat Salma menghilang adalah ibu kandungnya sendiri. Perlahan wanita paruh baya itu pun berjalan kembali ke ruangan Wahyu. Sementara pak Adi langsung menhubungi anak buahnya untuk melacak keberadaan bu Desi dan juga Salma.
Pak Adi berusaha menghubungi bu Desi melalui ponselnya. Namun hingga berkali-kali tidak juga diangkat oleh mantan istrinya itu. Takut jika bu Desi melakukan sesuatu yang buruk pada Salma ia pun meminta bantuan anak buahnya untuk melacak keberadaan mantan istrinya itu melalui GPS yang ada di ponselnya. Tak butuh waktu lama anak buah pak Adi langsung bisa mengirimkan lokasi dimana ponsel bu Desi berada. Dengan cepat pak Adi melajukan mobilnya ke lokasi tersebut. Sementara itu Salma tengah diseret oleh bu Desi ke dalam sebuah hutan.
"Ma... kenapa mama membawaku kemari?" tanya Salma panik.
"Kau itu perempuan pembawa sial! jadi sekarang kau harus aku singkirkan agar putraku tidak lagi mendapatkan kesialan karenamu!" sentak bu Desi.
"Ma... jangan lakukan itu ma... aku tidak bermaksud mencelakai mas Wahyu..." ucap Salma memohon pada bu Desi.
"Aku tidak perduli! sekarang kau harus enyah dari kehidupan putraku!" kata bu Desi sambil terus menyeret Salma.
Dalam keadaan hamil Salma tidak mungkin bisa melawan tenaga ibu mertuanya itu apalagi daerah yang mereka lalui cukup terjal. Dengan terseok Salma mengikuti langkah ibu mertuanya itu. Bahkan salah satu alas kakinya sampai terlepas dan membuat wanita hamil itu berjalan hanya dengan satu alas kaki. Cukup lama mereka berjalan hingga akhirnya mereka tiba di sebuah tebing yang cukup curam.
"Mama... apa yang akan mama lakukan padaku?" tanya Salma ketakutan saat bu Desi menyeretnya ke tepi tebing.
"Aku yang mendorongmu atau kau akan terjun sendiri ke bawah sana hah?" kata bu Desi dengan mata berkilat bengis.
"Kau fikir aku akan menerimamu setelah kau mengandung? dasar bodoh! Wahyu bisa menghamili wanita lain setelah kau dan anakmu itu lenyap..." kata bu Desi sambil tersenyum sinis.
Salma terdiam karena terkejut dengan kebencian yang diperlihatkan oleh ibu mertuanya itu. Ia tak menyangka jika sikap baiknya selama ini hanya topeng belaka.
"Jangan lakukan ini ma... mama bisa di penjara jika semuanya terungkap..." ucap Salma mencoba menyadarkan bu Desi akan konsekuensi yang harus ditanggungnya nanti.
"Aku tidak perduli! bahkan jika Wahyu membenciku sekalipun aku tidak perduli! karena aku sudah puas bisa menyingkirkanmu! karena itu akan membuat ibumu sangat menderita... ha... ha... ha..." bu Desi tertawa menakutkan saat menerangkan rencananya.
"Sekali lagi aku katakan... kau terjun sendiri atau aku yang harus mendorongmu sekarang?" sambung bu Desi sambil mendekat ke arah Salma yang sudah berada di sisi tebing.
"Jangan ma... aku mohon ampuni aku... jangan lakukan ini pada ku..." ucap Salma sambil melangkah mundur saat bu Desi semakin mendekat.
Tanpa ia sadari jika kini dirinya sudah benar-benar berada di tepi tebing yang curam. Salma semakin ketakutan saat salah satu kakinya terpeleset dan hampir jatuh ke bawah karena menyadari jika ia sudah tidak dapat berlari dan meloloskan diri dari bu Desi.
"Mama... biarkan aku dan anakku hidup... aku berjanji akan menjauh dari mas Wahyu..." Salma mencoba bernegosiasi pada bu Desi.
Baginya berpisah dengan Wahyu lebih baik demi menyelamatkan nyawa buah hati mereka.
__ADS_1
"Ha... ha... ha... kau fikir aku bodoh hah? kau sekarang berjanji menjauhi putraku tapi berencana kembali lagi padanya suatu saat nanti...kau fikir aku tidak tahu rencana licikmu?"
"Ma... aku janji seumur hidupku akan menjauhi mas Wahyu... asal mama membiarkan kami hidup..."
"Tidak mau dengan suka rela atau harus kupaksa kau harus mati hari ini!" seru bu Desi langsung mendorong tubuh Salma.
Wanita hamil itu pun langsung terjengkang ke belakang dan tubuhnya langsung meluncur bebas ke bawah jurang diiringi dengan teriakannya yang memilukan.
"Aaarrggghh!!"
"Ha... ha... ha..." mendengar suara teriakan Salma, bu Desi malah tertawa puas.
Dendamnya pada bu Rahma akhirnya terbalas. Dengan ini pak Adi juga tidak akan bisa kembali pada bu Rahma. Padahal selama ini pun bu Rahma sudah menolak pak Adi. Namun karena rasa dendamnya bu Desi sama sekali tidak mengindahkan kenyataan tersebut tapi malah tetap memupuk dendamnya yang tak beralasan.
Merasa jika Salma sudah pasti tewas jatuh ke dalam jurang, bu Desi pun bergegas pergi dari tempat itu. Saat ia akan masuk ke dalam mobilnya ternyata ia bertemu dengan pak Adi yang sudah sampai di tempat itu bersama anak buahnya. Meski terkejut namun bu Desi berusaha memasang wajah normal.
"Desi dimana Salma?" tanya pak Adi langsung.
"Apa maksudmu mas?" bu Desi balik bertanya seolah tidak mengerti maksud pak Adi.
"Jangan berkelit Des... aku tahu kau membawa Salma dari rumah sakit... jadi dimana dia sekarang?" tanya pak Adi lagi.
"Aku tadi membawanya ke rumah Wahyu..." kata bu Desi memberi alasan.
"Jangan bohong Desi! tadi aku sudah menghubungi orang di rumah Wahyu... dan Salma belum juga kembali... dan terakhir dia terlihat bersamamu..." cecar pak Adi.
"Aku benar-benar tidak tahu! tadi aku menurunkannya di depan komplek karena temanku menelfon..." sahut bu Desi bersikeras.
"Pak saya menemukan sandal wanita..." terdengar suara salah satu anak buah pak Adi.
Memang pak Adi langsung menyuruh anak buahnya untuk menyebar mencari Salma saat mereka sudah sampai di tempat bu Desi memarkirkan mobilnya. Tak lama orang itu mendekat dengan membawa sebuah sandal. Dan pak Adi langsung terkejut saat mengenali jika sandal itu adalah sandal yang dipakai oleh Salma.
"Apa yang sudah kau lakukan pada Salma, Desi?" tanya pak Adi dengan wajah mengeras.
"Jawab! apa yang sudah kau lakukan padanya?" tanyanya lagi sambil mengguncang pundak bu Desi karena tak juga mau menjawab.
"Ha... ha... ha... dia sudah mati!" tawa bu Desi sambil memperlihatkan ekspresi puas.
__ADS_1