
Hari ini Salma izin pada suaminya untuk mengecek kiosnya. Walau selama ini ia sudah mendapatkan laporan dari orang kepercayaannya tentang perkembangan kiosnya yang memang semakin maju namun tak bisa dipungkiri terkadang ia juga ingin melihat langsung kios yang dulu ia rintis dari nol. Namun ia tidak berangkat bersama Wahyu karena suaminya itu harus pergi ke luar kota hingga berangkat pagi-pagi sekali untuk menemui klien yang penting. Hingga akhirnya Salma hanya diantarkan oleh sopir.
Lama tak mengunjungi kiosnya membuat para karyawan sangat senang dengan kedatangan Salma. Apa lagi sifat Salma yang sangat ramah pada setiap karyawannya membuat mereka semua bisa dekat dengan Salma bahkan ia tidak segan membantu para karyawannya melayani para pelanggan. Saat mereka sedang sibuk melayani para pelanggan tiba-tiba terjadi hal yang sangat tidak terduga. Kios Salma didatangi sekelompok orang yang mengenakan topeng dan berniat merampok kios Salma. Para karyawan dan pengunjung yang datang sangat panik saat para perampok menodongkan senjata mereka.
Salah satu dari perampok itu bahkan menarik Salma agar mau menujukkan letak brankas dan juga kodenya kepada mereka. Dengan dibawah ancaman senjata tajam Salma pun pasrah dan memberikan apa yang perampok itu minta. Salma berharap para perampok itu tidak menyakitinya dan juga bayi yang dikandungnya. Setelah mengambil semua uang yang ada dikasir dan juga brankas para perampok itu kembali membawa Salma bersama mereka untuk dijadikan sandera.
Dengan terseok Salma mengikuti langkah para perampok yang menyanderanya dan menuju ke mobil yang sudah menunggu mereka. Dengan kasar mereka memaksa Salma masuk ke dalam mobil. Demi melindungi bayi dalam kandungannya Salma berusaha untuk tegar dan menuruti perintah para perampok itu. Di dalam mobil mata Salma langsung ditutup dengan kain agar tidak dapat melihat keadaan sekelilingnya dan mengenali wajah para perampok itu. Kemudian mereka pun membawa Salma entah kemana.
Sementara di kios setelah ke pergian para perampok itu para karyawan langsung menghubungi kepolisian dan melaporkan apa yang terjadi termasuk Salma yang kini jadi sandera. Bahkan mereka juga langsung menghubungi Wahyu.
"Apa!" seru Wahyu saat baru saja mendapat kabar dari karyawan kios bahwa kios Salma baru saja dirampok dan para perampok itu membawa Salma sebagai sandera.
"Maaf tuan saya terpaksa harus mengakhiri pertemuan kita kali ini karena saya ada urusan penting yang mendadak..." kata Wahyu pada klien bisnisnya itu.
Untung saja sang klien bisa mengerti dan bersedia menjadwalkan lagi pertemuan mereka dilain waktu.
" Kita pulang sekarang... dan segera cari keberadaan istriku melalui GPS ponselnya!" titah Adam pada sang asisten yang duduk disamping sang sopir.
Tanpa banyak tanya sang asisten pun langsung melaksanakan perintah bosnya. Ia sudah tahu jika saat ini istri dari bosnya itu tengah diculik karena tadi ia mendengarkan saat bosnya itu berbicara dengan karyawan kios Salma. Sementara Salma yang dalam keadaan terikat tangannya dan ditutup matanya tak mengetahui kemana ia akan dibawa oleh penculiknya.
"Saya mohon lepaskan saya... bukankah kalian sudah mendapatkan apa yang kalian mau?" ucap Salma dengan suara bergetar.
"Diam! dan jangan banyak bacot!" terdengar bentakan dari salah satu penculiknya.
"Sepertinya tempat ini cocok untuk mengeksekusinya..." terdengar lagi suara penculik yang lain.
__ADS_1
"Apa kalian yakin akan melakukannya? dia sedang hamil... apa kalian tidak takut jika arwahnya akan balas dendam pada kita?" terdengar suara dari penculik pertama.
"Kau itu kriminal tapi otak kamu b***h! mana ada orang mati bisa balas dendam... itu hanya khayalan dari orang-orang pengecut yang dihantui rasa bersalah!" sahut penculik yang lain.
Salma merasa semakin takut saat mendengar perkataan para penculiknya.
"Apa mereka akan membunuhku? tapi apa untungnya? sedang aku sama sekali tidak bisa mengenali mereka... jadi aku bukan ancaman bagi mereka bukan?" batin Salma ketakutan.
Bukan kematian dirinya yang ia takuti namun keselamatan buah hatinyalah yang sangat ia cemaskan. Dalam hatinya Salma tak putus berdo'a agar ia dapat selamat dari genggaman para penculiknya. Saat itulah terdengar suara sirine dari mobil polisi yang semakin mendekat.
"S**l kenapa para polisi itu bisa dengan cepat menemukan kita?" terdengar umpatan dari salah seorang perampok.
"Heh percepat mobil ini t*l*l! apa kau sudah kakek-kakek? hingga tidak bisa memyetir dengan benar?"
"B***g**k! ini sudah paling cepat b***h! atau kau mau ikut mati bersama perempuan hamil itu?" terdengar teriakan salah seorang perampok yang bertugas mengemudikan mobil mereka.
Seluruh penumpang didalam mobil berteriak ketakutan begitu pula dengan Salma. Meski ia tidak dapat melihat sekelilingnya namun benturan yang terjadi sangat keras menyebabkan dirinya terlonjak dan bertubrukan dengan tubuh para penculik yang berada di sampingnya. Untuk beberapa saat Salma merasakan tubuhnya seperti diputar persis seperti pakaian dalam mesin cuci. Ia juga mendengar suara decitan mobil yang bergesekan dengan aspal bercampur erangan kesakitan dari orang-orang yang ada di sampingnya.
Setelah bebepa saat ia merasakan mobil ynag ditumpanginya berhenti dan suara erangan kesakitan pun juga berhenti. Salma merasa tubuhnya berat seperti tertindih sesuatu. Dengan susah payah Salma berusaha melepaskan ikatan pada tangannya dengan menggunakan mulutnya. Untung saja para penculiknya mengikat tangannya di posisi depan hingga ia bisa membuka dengan mulutnya. Setelah beberapa saat mencoba akhirnya ikatan itu terbuka. Segera Salma juga membuka penutup matanya.
Dengan mengerjapkan matanya Salma berusaha melihat kearah sekelilingnya. Pantas saja ia merasa tubuhnya berat ternyata tubuh salah satu perampok itu menindihnya dari samping. Ia juga dapat melihat jika para perampok itu sedang tidak sadar karena luka yang mereka derita sangat parah. Untung saja Salma saat itu duduk diapit oleh dua orang penculik sehingga saat kecelakaan itu terjadi kedua perampok itu seperti tameng untuk Salma. Sehingga saat ini Salma tidak mengalami luka yang serius. Hanya terdapat beberapa lebam dan juga luka goresan di beberapa bagian tubuhnya.
Menyadari jika para penculiknya tengah tak berdaya akibat kecelakaan itu Salma bergegas untuk berusaha keluar dari dalam mobil dan segera mencari bantuan. Dengan mengerahkan seluruh tenaganya Salma berusaha menggeser tubuh perampok yang berada di sampingnya agar ia bisa membuka pintu mobil. Setelah berusaha keras akhirnya ia bisa menggeser tubuh pria itu menjauhi pintu mobil. Setelahnya Salma pun berusaha membuka pintu mobil namun ternyata macet.
Ketakutan jika sewaktu-waktu para perampok itu akan ada yang tersadar Salma berusaha memecahkan kaca mobil agar ia bisa merangkak keluar dari sana. Dan dengan menggunakan salah satu senjata perampok yang ada di dekatnya Salma pun memecahkan kaca jendela. Setelah membersihkan sisa kaca ia pun merangkak keluar dari dalam mobil.
__ADS_1
Setelah berhasil keluar dari dalam mobil Salma baru menyadari jika saat ini ia berada di sisi jurang yang cukup curam. Jika sedikit saja posisi mobil itu bergeser saat tadi ia merangkak keluar maka bisa dipastikan jika mobil itu akan langsung terjun bebas ke bawah jurang. Dengan tubuh gemetar Salma kembali merangkak meninggalkan para perampok itu di dalam mobil. Meski ia sebenarnya tidak tega meninggalkan para perampok itu di dalam mobil dalam keadaan berbahaya namun Salma sadar ia tidak bisa menolong mereka sendiri. Ia harus mencari bantuan.
Ya meski mereka telah berbuat jahat padanya namun Salma masih mempunyai rasa kemanusiaan yang tidak tega jika ada orang lain yang berada dalam bahaya. Dengan terseok Salma berusaha untuk sampai ke atas jurang. Ia juga tidak bisa terlalu cepat melangkah karena kondisi alam yang terjal dan ia juga harus menjaga kandungannya. Tak lama terdengar suara sirine dan suara mobil berhenti diatas jurang. Tampak wajah beberapa orang melongok dari atas. Dengan sedikit tenaga yang tersisa Salma berusaha mengeluarkan suaranya.
"Tolong! dibawah sini!" teriaknya dengan sekuat tenaga.
"Apa anda baik-baik saja?" terdengar suara jawaban dari atas sana membuat Salma sedikit merasa lega.
"Iya... tapi tolong saya cepat! saya sudah lelah..." teriaknya lagi.
Tak lama terlihat seutas tali meluncur dari atas disamping Salma.
"Tunggu sebentar... petugas kami sedang menuju kesana!" terdengar pemberitahuan dari atas yang dapat dipastikan jika itu dari petugas penyelamat.
"Salma!" tiba-tiba terdengar suara Wahyu suaminya yang terdengar sangat khawatir.
"Mas Wahyu!" sahut Salma yang ingin memberitahukan pada suaminya jika dia masih selamat dan baik-baik saja.
"Kau tenanglah sayang... mas akan menolongmu!" seru Wahyu.
"Pak biarkan saya yang membawa istri saya kemari... saya juga tahu tentang prosedur penyelamatan..." pinta Wahyu pada ketua petugas penyelamat.
"Tapi pak..."
"Istri saya sedang hamil besar pak... jika saya yang datang menyelamatkannya dia akan merasa lebih nyaman dan tidak stres pak..." terang Wahyu memohon pengertian pada petugas itu.
__ADS_1
Setelah berfikir sejenak ketua regu penyelamat itu pun mengangguk dan menyuruh anak buahnya untuk menyiapkan Wahyu dalam misi penyelamatan Salma. Sementara ada petugas lain yang akan membantu Wahyu sekaligus mengecek apakah masih ada korban lain yang masih selamat.
Setelah semu persiapan selesai Wahyu dan seorang petugas penyelamat pun mulai turun ke bawah jurang untuk menyelamatkan Salma. Sementara semua keluarga Wahyu dan Salma juga sudah mendengar tentang yang menimpa Salma. Pak Adi dan Gita langsung meluncur ke lokasi tempat Salma kecelakaan. Begitu juga dengan bu Rahma. Ia langsung datang begitu mendengar kabar dari pak Adi tentang Salma. Karena ini hari kerja ia hanya ditemani oleh Shania sedang Sakina berjaga dirumah karena suami mereka bekerja dan anak-anak mereka juga masih sekolah.