
Pagi ini Wahyu sarapan dengan kedua orangtuanya dan juga Gita adiknya setelah semalam ia menginap dirumah kedua orangtuanya. Tampak bu Desi dan juga Gita masih terlihat kesal karena kejadian semalam.
"Hari ini kita berangkat bersama saja Wahyu" ucap pak Adi tiba-tiba saat mereka baru saja selesai makan.
"Baik pa..." sahut Wahyu tak keberatan.
"Mas boleh ga hari ini aku pergi sama Gita ke mall?" tanya bu Desi.
"Bukankah itu saja kegiatanmu sehari-hari?" sahut pak Adi menohok.
"Ya ga gitu juga pa... kami juga punya kegiatan lain kok..." ucap Gita tak ingin dianggap pemalas.
"Ah palingan juga cuma ke kafe atau salon langganan kalian" ujar pak Adi lagi dengan nada malas.
Kedua ibu dan anak itu pun hanya bisa terdiam karena ucapan pak Adi tak ada yang salah.
"Ayo Wahyu kita berangkat!" kata pak Adi sambil berdiri dari tempat duduknya.
Wahyu pun langsung mengikuti langkah papanya. Sedang bu Desi langsung mendengus sebal dengan kelakuan suami dan juga putranya itu.
"Wahyu.... bisa papa bertemu dengan wanita yang kau sukai itu?" tanya pak Adi saat keduanya sudah berada di dalam mobil.
"Bisa pa... kapan papa ingin menemuinya?" kata Wahyu yang gembira karena ini pertanda jika papanya sudah memberi lampu hijau padanya.
"Bagaimana kalau siang nanti setelah kita meeting dengan klien?"
"Baik pa..." sahut Wahyu dengan senyum yang terkembang karena kini ia punya alasan untuk bisa menemui Salma.
Wahyu yakin jika ia pergi bersama papanya Salma tak akan menghindarinya lagi karena ia tahu jika Salma sangat menghormati orang yang lebih tua darinya jadi ia pasti tak akan bisa menolak bertemu dengan papanya.
Siang itu tampak Salma tengah sibuk mempersiapkan pesanan pelanggannya yang sudah memesan sejak pagi melalui ponselnya. Untung saja kini ia sudah mempunyai dua orang karyawan yang membantunya. Sejak memiliki kios pelanggan Salma memang bertambah banyak bahkan sekarang banyak ojek online yang datang ke kiosnya karena mereka juga sering mendapat orderan untuk membeli disana.
Saat Wahyu datang dengan pak Adi terlihat jika Salma tak menyadari kedatangan keduanya karena sibuk menyiapkan dagangannya.
"Siang Ma" sapa Wahyu.
Salma langsung menoleh mendengar suara pria yang akhir-akhir ini mengganggu fikirannya. Wajahnya langsung berseri saat melihat Wahyu benar berada di depannya. Namun sedetik kemudian dia berusaha bersikap biasa saja sebab teringat dengan ucapan mama Wahyu.
Walau begitu ekspresi wajahnya saat pertama masih tertangkap oleh Wahyu yang membuat hati pria itu menghangat. Wahyu yakin jika ekspresi datar yang kemudian ditunjukkan oleh Salma hanya pura-pura saja.
"Ya mas? apa ada yang mas mau beli?" tanya Salma.
"Ehm... sebenarnya aku hanya ingin mengajakmu untuk bicara sebentar Ma... karena ada yang ingin bertemu denganmu" kata Wahyu.
Salma memgernyitkan dahinya tak mengerti. Siapa yang ingin menemuinya melalui Wahyu? fikiran Salma pun buntu.
"Ini... papaku ingin bertemu dan bicara sebentar denganmu..." sambung Wahyu sambil menunjuk seorang pria paruh baya yang berdiri tak jauh dari mereka.
Pria paruh baya itu pun tersenyum pada Salma saat gadis itu menoleh kearahnya. Salma pun membalas senyuman itu sambil sedikit membungkukkan badannya.
"Tapi mas ... saat ini aku sibuk sekali.. sepertinya satu jam lagi aku bisa sedikit bebas..." sahut Salma dengan wajah tak enak.
"Ga pa-pa kami bisa menunggumu..." ujar Wahyu yang tak ingin kesempatannya terlewat.
"Tapi mas .... kalau menunggu di sini tempatnya kurang nyaman..."
"Kalau begitu biar kami menunggumu di rumahmu... ibumu ada di rumahkan?" ucap Wahyu.
"Iya... ibu ada dirumah... baiklah kalian tunggu saja di rumahku... akan aku usahakan untuk secepatnya pulang" kata Salma akhirnya karena tak enak dengan papa Wahyu.
"Baiklah... ayo aku perkenalkan dulu dengan papa..." kata Wahyu yang langsung menggandeng tangan Salma dan menuntunnya pada papanya.
__ADS_1
"Pa... perkenalkan ini yang namanya Salma" kata Wahyu.
"Salma ..." ucap Salma memperkenalkan dirinya sambil mengangsurkan tangannya.
"Adi..." sahut papa Wahyu menjabat tangan Salma.
"Kenapa wajahnya mirip sekali dengannya..." batin papa Wahyu saat memandang wajah Salma.
"Pa... saat ini Salma masih sibuk... bagaimana jika kita tunggu dirumahnya saja?" tanya Wahyu.
"Iya om... disana ada ibu saya..." sambung Salma.
"Baiklah... sekalian saya juga ingin mengenal orangtua kamu..." sahut pak Adi sambil tersenyum.
"Baiklah Ma... kami pergi dulu ..." kata Wahyu.
Salma pun mengangguk sambil tersenyum. Lalu kedua pria itu pun melangkah memasuki mobil dan meninggalkan tempat itu. Setelah kepergian keduanya Salma pun langsung melanjutkan pekerjaannya. Ia ingin segera menyelesaikan semuanya agar ia dapat segera menyusul Wahyu dan papanya.
"Ini rumahnya Wahyu?" tanya pak Adi saat keduanya sampai di depan rumah kontrakan Salma.
"Iya pa..." jawab Wahyu sambil membuka seat beltnya.
Keduanya pun lalu keluar dari dalam mobil dan melangkah ke depan pintu rumah. Wahyu pun segera mengetuk pintu rumah itu sambil mengucapkan salam.
"Assalamulaikum... bu..." panggil Wahyu.
"Waalaikum salaam" terdengar suara bu Rahma dari dalam rumah.
Tak berapa lama pintu rumah pun terbuka dari dalam. Tampak bu Rahma berdiri diambang pintu rumah dan memandang Wahyu dengan gembira.
"Oh... nak Wahyu... sudah lama ga pernah main kemari?" ucapnya sambil tersenyum.
"Maaf bu... akhir-akhir ini Wahyu sedang sibuk..." ujar Wahyu memberi alasan.
"Mas Adi"
"Rahma"
Ucap keduanya bersamaan. Dua manusia paruh baya itu pun berdiri mematung saling berhadapan.
"Papa dan bu Rahma saling kenal?" ucap Wahyu yang langsung menyadarkan keduanya.
"Itu...ehm... kami teman satu kampung dulu nak Wahyu..." terang bu Rahma sedikit gugup.
"Iya..." ujar pak Adi membenarkan.
Wahyu pun hanya ber oh ria sambil mengangguk.
"Ternyata Salma benar anaknya..." batin pak Adi.
"Pantas saja wajah mereka mirip sekali..." sambungnya masih dalam hati.
"Mari masuk..." ajak bu Rahma pada kedua tamunya.
Walau hatinya masih gugup karena harus bertemu dengan pria dari masa lalunya itu yang ternyata merupakan ayah dari pria yang tampaknya menyukai putrinya.
"Silahkan duduk dulu... kalian ingin minum apa?" tanya bu Rahma setelah keduanya masuk ke dalam rumah.
"Terserah ibu saja..." ucap Wahyu sambil tersenyum.
Sedang pak Adi sedari tadi memandang bu Rahma dengan pandangan yang sulit diartikan.
__ADS_1
"Baiklah saya tinggal ke belakang dulu sebentar..." kata bu Rahma kemudian dia pun langsung menuju ke arah dapur.
Sesampainya di dapur wanita itu pun berhenti sejenak sambil memegang pinggiran meja dapur dan memejamkan matanya. Rasanya ia masih tak percaya jika pria yang dulu pernah berada dalam hatinya sekaligus juga yang sudah menorehkan luka bisa berada dihadapannya saat ini. Dan pria itu ternyata ayah Wahyu.
"Kenapa aku tak menyadari jika wajah keduanya hampir mirip?" gumam bu Rahma.
Tak terasa air mata meleleh di kedua pipinya. Namun dengan cepat wanita paruh baya itu menghapusnya dengan telapak tangannya. Kemudian ia pun segera menyiapkan minuman untuk kedua orang pria yang tengah duduk di ruang tamunya.
Sementara pak Adi tampak memindai isi ruang tamu tersebut. Ia dapat melihat beberapa foto terpajang di dinding ruangan tersebut. Salah satunya tampak foto keluarga bu Rahma. Terlihat keluarga itu tampak sangat bahagia. Bu Rahma tampak duduk berdampingan dengan seorang pria sambil tersenyum sedang dibelakang mereka berdiri tiga orang gadis dengan wajah yang hampir mirip satu sama lain juga terlihat tersenyum sepertinya mereka adalah suami dan anak-anak bu Rahma sebab ia bisa melihat Salma juga disana.
Sepertinya foto itu sudah lama karena terlihat wajah Salma yang terlihat masih imut. Pak Adi tampak tersenyum tipis saat menyadari jika sedari tadi Wahyu tampak sesekali melihat ke arah luar. Putranya itu ternyata tengah menunggu pujaan hatinya datang.
Tak berapa lama tampak bu Rahma ke luar dari dalam dengan membawa dua cangkir teh hangat.
"Silahkan di minum... maaf hanya ada teh hangat ..." ucap bu Rahma sambil tersenyum ramah.
"Terima kasih...." ucap pak Adi dan Wahyu bersamaan.
"Eum... sebenarnya ada perlu apa ya nak Wahyu datang dengan membawa papanya?" tanya bu Rahma yang penasaran.
"Begini bu... papa saya ingin bersilaturahmi sekaligus berkenalan dengan Salma dan juga ibu..." terang Wahyu.
Bu Rahma pun hanya mengangguk mengerti.
"Tapi jam segini Salma kan masih ada di kios nak Wahyu..."
"Kami sudah tahu bu... sebab kami baru saja dari sana dan Salma menyuruh kami untuk menunggunya di sini...."
"Oooh.... saya kira Salma belum tahu jika kalian datang kemari..." sahut bu Rahma.
"Ayo silahkan diminum tehnya..." sambung bu Rahma.
Kedua pria itu pun lalu menyeruput teh yang sudah di sediakan oleh bu Rahma.
"Rasanya masih sama seperti dulu saat aku sering datang ke rumahnya..." batin pak Adi sambil menikmati teh yang disediakan oleh bu Rahma.
"Maaf disini tidak ada cemilan ..." ucap bu Rahma.
"Ga apa-apa bu..." sahut Wahyu.
Saat itulah terdengar suara seseorang tengah memarkirkan sepedanya. Tak lama Salma pun muncul sambil mengucapkan salam.
"Asssalamualikum..."
"Waalaikum salam" jawab ketiga orang yang berda di dalam rumah.
"Maaf menunggu lama ..." ucap Salma pada Wahyu dan juga papanya.
"Tidak apa-apa nak..." sahut pak Adi.
Sedang Wahyu hanya tersenyun namun wajahnya tampak sangat bahagia dengan kedatangan Salma.
"Ibu... ini aku bawakan camilan untuk tamu kita..." ucap Salma pada ibunya.
"Iya nak..." sahut bu Rahma.
Lalu Salma pun pergi ke dapur untuk meletakkan gorengan yang dibawanya ke dalam piring kemudian membawanya kembali ke depan.
"Silahkan pak Adi dan nak Wahyu dicicipi gorengan buatan anak saya..." ucap bu Rahma.
Keduanya pun langsung mencicipi gorengan yqng dibawa Salma.
__ADS_1
"Bahkan gorengannya pun sama seperti buatan Rahma dulu...." batin pak Adi yang semakin terkenang dengan masa lalunya dengan bu Rahma.