Jodoh Istri Kedua

Jodoh Istri Kedua
Tentang Mantan


__ADS_3

Pak Adi dan Wahyu tampak sangat menikmati gorengan yang dibawa oleh Salma. Setelah menikmati gorengan tampak Wahyu berusaha untuk bisa berbicara berdua dengan Salma.


"Maaf bu... bisakah saya mengajak Salma keluar sebentar untuk bicara berdua?" ijin Wahyu pada bu Rahma.


"Tapi mas... bagaimana dengan pak Adi?" ujar Salma mencari alasan untuk menghindar dari Wahyu.


"Biar saya tunggu disini saja ... tidak apa-apa kan bu Rahma?" ucap pak Adi.


"Eh... iya tidak apa-apa" sahut bu Rahma yang sedikit kaget dengan perkataan pak Adi.


Salma yang sudah tidak punya alasan lagi untuk menolak akhirnya menyetujui ajakan Wahyu. Kemudian keduanya pun pamit untuk keluar sebentar pada bu Rahma dan pak Adi.


"Kalian perginya jangan lama-lama ya... kasihan papa kamu jika menunggu lama Wahyu..." ucap bu Rahma yang sebenarnya tak ingin berlama-lama berdua dengan pak Adi.


"Iya bu... jangan khawatir kami hanya sebentar saja kok" sahut Wahyu.


"Salma pamit dulu ya bu..." ucap Salma sambil mencium tangan ibunya.


"Iya hati-hati ya nak" sahut bu Rahma.


Setelah Salma dan Wahyu pergi, bu Rahma yang tak ingin berada satu ruangan berdua dengan pak Adi segera pergi ke dapur.


Sedang pak Adi yang sudah tahu jika bu Rahma enggan berdekatan dengannya pun hanya bisa menghela nafas pelan. Sikap bu Rahma yang seperti itu sangat dimengerti oleh pak Adi yang sadar jika itu terjadi karena ulahnya dimasa lalu. Sambil duduk di ruang tamu sendirian pak Adi pun terkenang dengan masa lalunya bersama bu Rahma.


35 tahun yang lalu...


Saat itu pak Adi yang sudah berpacaran dengan bu Rahma dan bahkan sudah hampir menikah terpaksa membatalkan pernikahan mereka karena orang tua pak Adi yang ternyata tak menyetujui anak mereka menikah dengan gadis yang tidak selevel dengannya. Bahkan dengan tega kedua orangtuanya itu menjebak pak Adi agar bisa menikah dengan gadis pilihan mereka sekaligus menggagalkan pernikahannya dengan gadis pujaannya.


Malam itu sengaja orangtua pak Adi menaruh obat tidur pada minuman putra mereka sendiri dan menyuruh wanita pilihan mereka untuk berpose seronok dan mengirimkan gambarnya pada bu Rahma. Bu Rahma sebenarnya masih mempercayai pak Adi saat ia bilang jika ia hanya dijebak. Namun ia juga menyadari betapa bencinya orangtua pak Adi padanya membuatnya lebih memilih mengalah dan meninggalkan pak Adi.


Dan kini takdir seolah mempermainkan keduanya kembali. Karena ternyata anak-anak mereka terlibat dalam urusan asmara. Walau keduanya belum yakin jika Salma mau menerima Wahyu karena sikapnya yang tampak masih menjaga jarak. Namun bukan tidak mungkin jika akhirnya keduanya akan bersatu. Sebab Wahyu tipe pria yang tidak gampang menyerah. Apalagi Salma adalah satu-satunya wanita yang bisa membuatnya jatuh cinta bahkan sejak dibangku sekolah.


Pak Adi kembali menghela nafas pelan, kini ia tahu jika ibu dari gadis yang dicintai putranya ternyata adalah wanita yang dulu sangat dicintainya dan bahkan hingga saat ini. Hal ini tentu saja membuat hatinya tak bisa tenang. Disatu sisi ia masih menyimpan rasa pada bu Rahma namun disisi lain ada anak dan juga istrinya apalagi Wahyu yang sangat mencintai Salma.


Kedua insan yang pernah memiliki hubungan di masa lalu itu pun hanyut dalam fikiran mereka masing-masing di ruangan yang berbeda. Keduanya tampak berkali-kali menghela nafasnya memikirkan takdir yang sedang mempermainkan keduanya saat ini.


Sementara Salma dan Wahyu tampak belum beranjak dari dalam mobil setelah Wahyu menghentikan mobilnya di pinggir jalan dekat taman kota. Keduanya seakan salah tingkah setelah beberapa hari tak saling jumpa.


"Ma... apa kau tidak merindukanku?" ucap Wahyu tiba-tiba memecah keheningan diantara keduanya.


"Hemm... aku..." sahut Salma ragu-ragu.


"Aku apa Ma?" cecar Wahyu.


"Aku sedikit merindukanmu mas..." ucap Salma dengan suara lirih namun masih dapat terdengar oleh Wahyu.

__ADS_1


Seketika wajah pria itu pun langsung berseri-seri.


"Sedikit juga tidak apa-apa... yang penting kamu sudah mulai merindukanku..." ujar Wahyu bahagia.


Mendengar itu seketika wajah Salma merona. Entah kenapa setiap perkataan Wahyu membuat hati Salma berbunga-bunga. Benarkah jika kini Salma mulai memiliki rasa yang sama dengan Wahyu? Entahlah... namun yang pasti saat ini Salma sudah merasa bahagia hanya dengan menatap wajah Wahyu yang ada dihadapannya.


Tiba-tiba tangan Wahyu menggenggam tangan Salma lembut, membuat gadis itu reflek menoleh kearah pria itu.


"Aku benar-benar mencintai kamu Ma..." ucap Wahyu dengan tulus.


"Aku tahu kamu mungkin masih trauma karena pernikahanmu dulu.... tapi ijinkan aku untuk bisa membalut lukamu itu..." sambungnya.


"Apa kamu serius mas?"


Wahyu menganggukkan kepalanya dan menarik tangan Salma serta mendekatkannya kedadanya.


"Dengar... jantungku ini berdetak lebih kencang hanya jika berada didekatmu Ma..." ucap Wahyu.


Salma hanya bisa tertunduk malu. Ini kali kedua ia dekat dengan seorang pria dan melakukan kontak fisik walau masih dengan batas yang wajar.


"Mas ... apa kamu ga ingin tahu tentang masa laluku?" tanya Salma setelah beberapa saat keduanya terdiam.


"Untuk apa Ma? toh itu tidak penting ... yang terpenting sekarang dan masa depan kita" sahut Wahyu sambil tetap menggenggam tangan Salma.


"Tapi mas... aku rasa kau harus tahu.... karena bukan tidak mungkin suatu saat nanti akan ada orang yang akan mengungkit masa laluku itu... dan aku tidak mau jika pada akhirnya kamu akan salah faham" terang Salma.


Akhirnya Salma pun menceritakan tentang masa lalunya termasuk pernikahannya dengan Amran. Sesekali Salma menghela nafasnya pelan saat menceritakan semuanya pada Wahyu. Tak ada satu pun yang ia sembunyikan pada pria itu termasuk juga perasaan yang pernah hadir dihatinya pada mantan suaminya itu. Ya Salma hanya berusaha untuk jujur pada Wahyu.... laki-laki yang kini ia rasa sudah mulai mengisi hatinya.


Wahyu memeluk tubuh Salma saat gadis itu baru saja selesai menceritakan tentang masa lalunya. Salma tampak terkejut dengan perlakuan Wahyu tersebut hingga ia pun hanya terdiam. Namun rasa nyaman yang mulai hadir didalam hatinya membuatnya perlahan membalas pelukan Wahyu. Merasakan jika Salma membalas pelukannya membuat Wahyu bertambah bahagia. Ini mungkin pertanda jika gadis itu sudah mulai bisa menerima cintanya.


"Kau jangan khawatir Ma.... selamanya aku hanya akan mempercayaimu dan tak akan membiarkan orang lain menghancurkan kepercayaanku padamu" ucap Wahyu lembut.


Salma hanya mengangguk pelan saat mendegar ucapan tulus dari Wahyu. Hatinya menghangat karena perlakuan pria itu yang selalu lembut padanya.


"Mas... lebih baik kita pulang sekarang... kasihan papa kamu jika harus menunggu lebih lama" kata Salma masih dalam pelukan Wahyu.


"Iya Ma... tapi ijinkan aku untuk tetap seperti ini sebentar lagi..." tawar Wahyu yang masih ingin memeluk gadis pujaannya itu.


Salma pun pasrah dan membiarkan Wahyu untuk tetap memeluknya. Tak lama Wahyu pun mulai melepaskan pelukannya. Tampak sekali jika pria itu sebenarnya belum ingin mengakhiri kegiatan mereka ini namun ia juga mengingat ayahnya yang masih berada di rumah Salma.


"Baiklah ... mari kita pulang sekarang" ujar Wahyu sambil kembali pada posisinya didepan kemudi lalu mulai menjalankan mobilnya menuju ke rumah Salma.


Sementara itu di rumah Salma...


Pak Adi yang sedari tadi ditinggalkan sendirian di ruang tamu oleh bu Rahma tampak mulai sedikit gelisah. Pasalnya ia merasa jika saat ini adalah kesempatannya untuk bisa bicara berdua dengan bu Rahma setelah sekian tahun lamanya.

__ADS_1


"Aku harus bicara dengannya ... sekarang atau tidak selamanya" gumam pak Adi.


Lalu pria paruh baya itu pun beranjak dari tempat duduknya dan segera mencari bu Rahma. Tampak olehnya bu Rahma yang sedang berada di dapur membelakanginya. Entah apa yang sedang dilakukan oleh wanita itu hingga ia tak menyadari jika pak Adi sudah berada di belakangnya.


"Rahma..." pamggil pak Adi.


Seketika bu Rahma terlonjak dan segera membalikkan tubuhnya. Terlihat jika wajah wanita itu sedikit sembab.


"Kau menangis Ma?" tanya pak Adi.


Bu Rahma langsung menggelengkan kepalanya cepat. Lalu ia pun menunjukkan apa yang dilakukannya tadi. Terlihat di meja dapur terdapat seonggok bawang yang sebagian sudah dikupas.


"Maaf tadi aku tengah mengupas kulit bawang..." jelas bu Rahma sambil tersenyum.


"Kau jangan bohong Ma! aku tahu kau mengupas bawang hanya alasanmu saja untuk menutupi jika sedari tadi kau menangis!" ucap pak Adi sambil menangkup wajah bu Rahma.


"Lepas mas... kau jangan macam-macam!" sahut bu Rahma mencoba menepis tangan pak Adi.


Dan pak Adi pun malah menarik tubuh bu Rahma untuk masuk kedalam pelukannya. Mendapat perlakuan seperti itu bu Rahma langsung berontak berusaha melepaskan diri dari pelukan pak Adi.


"Lepas mas... aku mohon!" desis bu Rahma yang takut jika tiba-tiba Salma dan Wahyu datang.


"Aku mohon Rahma... aku sangat merindukanmu... ijinkan aku untuk memelukmu sebentar saja..." bisik pak Adi ditelinga bu Rahma.


"Tapi mas..."


"Sssst... aku mohon Rahma ..." potong pak Adi.


Bu Rahma pun akhirnya terdiam dan membiarkan pak Adi merengkuh tubuhnya. Tak berapa lama terdengar suara deru mobil memasuki halaman rumah.


"Mas... mereka sudah datang..." ucap bu Rahma langsung melepaskan pelukan pak Adi.


Pria paruh baya itu pun menurut dan segera melangkah kembali ke ruang tamu. Sedang bu Rahma masih terdiam di dapur sedang berusaha menetralkan debaran jantungnya karena ulah pak Adi tadi.


"Assalamualaikum..." ucap Salma dan Wahyu berbarengan saat keduanya berada di depan pintu.


"Waalaikum salaam..." sahut pak Adi menoleh dari tempatnya duduk.


"Maaf pa... jika papa menunggu lama..." ucap Wahyu sambil mendudukkan dirinya di kursi di samping papanya.


Sedang Salma setelah menyapa pak Adi sebentar kemudian ia pun masuk ke dalam mencari ibunya.


"Ga apa-apa... apa kau sudah berhasil bicara dengan Salma?" tanya pak Adi.


"Iya pa... semoga setelah ini hubunganku dengan Salma semakin baik" ucap Wahyu bahagia.

__ADS_1


Pak Adi pun tersenyum melihat kebahagiaan putranya itu.


__ADS_2