
Sejak kencan mereka hubungan Wahyu dan Salma semakin dekat walau pun Salma belum mengatakan dengan jelas tentang perasaannya pada Wahyu. Namun dengan sikap Salma yang semakin terbuka pada Wahyu membuat pria itu merasa jika Salma sudah mulai membuka hatinya untuk Wahyu. Sedangkan Salma yang merasakan kenyamanan bersama Wahyu pun mulai menyadari perasaannya pada pria itu.
Walau ia sadar jika hubungannya dengan Wahyu akan mendapatkan rintangan terutama dari mama Wahyu yang sudah jelas tidak menyukainya. Namun ia sudah mulai menyiapkan dirinya. Ya Salma kini bertekad akan memperjuangkan hubungannya dengan Wahyu. Jika dulu ia terkesan menyerah saat bersama Amran namun tidak sekarang. Dulu ia menyerah karena tak ingin menjadi orang ketiga dan menyakiti sepupunya. Tapi kini berbeda. Ia dan Wahyu sama-sama sendiri jadi tak ada salahnya jika mereka bersatu.
Pagi ini sengaja Wahyu menjemput Salma di rumahnya. Bu Rahma yang selalu ramah menyambutnya. Saat Wahyu mengutarakan maksud kedatangannya dengan senang hati bu Rahma segera memanggilkan putrinya itu. Salma yang tak menyangka jika Wahyu akan menjemputnya terlihat terkejut. Namun rona merah di wajahnya sudah memperlihatkan bagaimana perasaan gadis itu saat ini.
"Sudah ayo sana cepat temui nak Wahyu... kasihan jika dia harus menunggu lama" kata bu Rahma yang bahagia melihat wajah putrinya yang ceria.
"Iya bu..." sahut Salma sambil mengambil tas selempangnya lalu mengenakannya dibahunya.
Saat keduanya menemui Wahyu tampak pria itu sangat terpesona dengan penampilan Salma yang terlihat cantik walau dengan dandan yang sederhana.
"Kalau begitu kami permisi dulu ya bu..." pamit Wahyu pada bu Rahma.
"Iya nak..."
"Salma berangkat dulu ya bu" ucap Salma.
"Iya ... "
"Assalamualaikum..." ucap Salma dan Wahyu bersamaan setelah keduanya mencium punggung tangan bu Rahma secara bergantian.
"Waalaikum salam" sahut bu Rahma.
Dalam hatinya bu Rahma sangat bersyukur putrinya dapat bertemu dengan pria baik seperti Wahyu. Dan dia berharap jika Wahyu adalah jodoh terbaik bagi putrinya itu. Sementara Wahyu yang kini tengah mengemudikan mobilnya tampak sangat bahagia.
"Kamu kenapa mas... kok dari tadi senyum-senyum begitu?" tanya Salma yang duduk disampingnya.
"Ga pa-pa... aku lagi senang aja pagi ini bisa berangkat bareng sama kamu" sahut Wahyu sambil menggenggam tangan Salma.
Mendengar ucapan Wahyu, Salma tak dapat berkata apa-apa... wajahnya yang langsung merona sudah menggambarkan jika ia juga merasakan yang sama dengan Wahyu.
"Emm... kamu sudah makan?" tanya Wahyu.
"Belum mas"
"Kalau begitu kita makan dulu saja ya..."
"Iya mas" sahut Salma.
Wahyu pun mengarahkan mobilnya ke sebuah restoran langganannya. Tampak tempat itu terlihat cukup ramai karena mereka memang buka saat jam sarapan. Wahyu dan Salma memilih untuk duduk di area luar restoran karena tempatnya yang cukup privasi.
Saat keduanya tengah menikmati makanan pesanan mereka tiba-tiba terdengar suara seseorang yang memanggil nama Wahyu.
"Wahyu? benerkan kamu Wahyu" ucap seorang pria dari arah belakang Salma.
Wahyu langsung mendongak dan menatap pria yang menghampirinya itu.
"Dirga?" sahut Wahyu.
__ADS_1
Deg...
Salma tertegun dengan ucapan Wahyu barusan. Dirga ada dibelakangnya sekarang? Sungguh Dirga adalah salah satu diantara sekian orang dari masa lalunya yang tidak ingin ia temui saat ini. Tapi entah kenapa justru pria itu kini sudah ada dibelakangnya.
"Kamu makan disini juga?" tanya Dirga.
"Iya... kamu juga?"
Dirga mengangguk.
"Mau makan bareng kita?" tanya Wahyu.
"Maaf aku tidak bisa ... soalnya aku ada janji dengan seeorang..." sahut Dirga.
"Kalau begitu aku permisi dulu... itu orangnya sudah datang" pamit Dirga sambil menunjuk seseorang yang baru saja sampai.
Lalu pria itu pun berlalu tanpa menyadari jika yang bersama dengan Wahyu adalah Salma karena sejak tadi Salma hanya diam dan tak menoleh kebelakang.
"Kamu tidak menyapa Dirga?" tanya Wahyu pada Salma saat Dirga sudah menjauh.
"Untuk apa? bukannya aku sama dia tidak begitu akrab?" sahut Salma.
"Hemmm... tapi kabarnya dulu dia sempat nkasir kamu lho..." goda Wahyu.
"Aku ga tahu" sahut Salma cuek.
"Lagi pula jika tadi aku menyapanya apa kamu ga akan cemburu mas?" goda Salma balik.
"Mungkin apa?" tanya Salma yang kini dapat melihat perubahan wajah Wahyu.
"Mungkin aku cemburu... karena itulah aku ga bilang kalau kamu ada disini" kata Wahyu datar.
Tiba-tiba entah keberanian dari mana Salma sudah menggenggam tangan Wahyu. Ini pertama kalinya gadis itu menyentuh Wahyu terlebih dahulu. Sontak hal ini membuat Wahyu terkejut dan merasa senang.
"Karena itulah tadi aku bersikap begitu mas" ucap Salma lembut.
Ia memang tak ingin bertemu Dirga namun ia lebih tidak ingin jika Wahyu akan cemburu dan salah faham padanya.
"Mas kita keluar sekarang yuk... nanti kamu telat ke kantornya" ajak Salma.
"Iya ..."
Mereka pun segera keluar dari restoran tersebut setelah Wahyu membayar pesanan mereka. Untung saja saat menuju ke mobil mereka tak lagi bertemu dengan Dirga. Namun tanpa mereka berdua sadari jika sedari tadi Dirga tengah mengamati keduanya. Sebenarnya Dirga sudah tahu jika Wahyu datang bersama Salma sebab dia sudah berada di restoran itu terlebih dahulu dari pada keduanya. Sehingga ia melihat saat keduanya datang.
Bahkan ia tadi sengaja datang menghampiri mereka berharap jika Salma pun akan ikut menyapanya. Tapi harapannya sia-sia. Bahkan untuk menoleh pun gadis itu terlihat enggan.
"Sebegitu bencikah kamu atas tindakanku dulu Ma? sampai melihatku saja kamu tidak sudi" batin Dirga.
Saat melihat mobil Wahyu meninggalkan restoran segera Dirga mengikutinya dengan mobilnya. Tak lama terlihat Wahyu menurunkan Salma di depan sebuah kios. Gadis itu tampak tersenyum bahagia sambil melambaikan tangannya saat mobil Wahyu meninggalkan tempat itu.
__ADS_1
Dirga mendengus kesal. Dalam hatinya ia meruntuki tindakannya yang gegabah dulu sehingga membuat Salma tak menyukainya begitu juga dengan bu Rahma. Tak lama terlihat Salma masuk ke dalam kios dan mobil Wahyu memasuki halaman gedung kantor yang terletak di seberang.
"Ternyata saat bekerja pun kalian masih berdekatan" batin Dirga.
Ada rasa iri dan tak rela saat melihat kedekatan Wahyu dan Salma. Tapi apa yang bisa ia lakukan sekarang untuk memisahkan keduanya? apalagi Salma yang tak mau bersikap ramah dengannya. Saat ini rasanya sulit untuk mendekati Salma apalagi jika ia ingin merebut Salma dari Wahyu. Dengan hati yang kesal Dirga pun mengendarai mobilnya meninggalkan tempat itu.
Di kantornya Wahyu tampak sangat bahagia bahkan asistennya sampai merasa aneh dengan tingkah atasannya yang sedari tadi terus tersenyum. Namun tentu saja ia tak berani menegurnya biarlah atasannya itu menikmati kebahagiaannya pasalnya jarang sekali ia melihat atasannya itu sebahagia ini.
"Hari ini apa saja jadwalku?" tanya Wahyu masih dengan mode bahagia.
Asistennya yang bernama Heru itu pun langsung menjelaskan jadwal kerja Wahyu hari ini secara rinci. Wahyu yang biasanya akan biasa saja saat jadwalnya padat tapi kini langsung berubah masam dan mendengus kesal.
"Apa kau tidak bisa mengalihkan beberapa meeting agar hari ini aku bisa pulang cepat?" tanyanya.
"Bisa tuan... kalau begitu meeting terakhir akan saya tunda" kata Heru yang tak mau membantah tuannya.
Seketika wajah mendung Wahyu berubah jadi bersinar cerah secerah mentari di pagi hari.
"Bagus... kalau begitu kita bekerja sekarang"
"Baik tuan" sahut Heru langsung memberikan dokumen yang harus di periksa oleh Wahyu.
Sementara Salma sudah sibuk menyiapkan dagangannya bersama karyawannya. Hari ini hati Salma sangat bahagia. Akhirnya ia merasakan juga indahnya saat merasakan jatuh cinta. Walau dulu ia pernah jatuh cinta pada mantan suaminya tapi saat itu bukan keindahan yang ia rasakan namun hanya kesedihan karena cinta yang sampai.
Tanpa Salma sadari jika sedari ada seseorang yang tengah memperhatikannya. Dengan pandangan yang sulit untuk diartikan tiba-tiba orang itu melangkah ke arah Salma. Saat melihat seseorang mendekatinya sambil tersenyum Salma menyapanya mengira jika ia salah satu dari pelanggannya.
"Selamat pagi... ada yang bisa saya bantu?" sapanya ramah.
"Ya... saya mau kamu menjauhi Wahyu!"
"Maksud mbak apa ya?" tanya Salma yang kaget dengan ucapan wanita yang ada di depannya itu.
"Apa perkataan saya kurang jelas hah? saya mau kamu menjauhi Wahyu... karena dia itu calon suami saya!" sentak wanita itu dengan suara keras.
"Tapi mbak... setahu saya Wahyu masih sendiri dan tidak terikat dengan siapa pun walau hanya status sebagai calon suami..." sahut Salma.
Pengalamannya mengajarkan agar ia tak mudah percaya dengan omongan orang lain sebelum ada buktinya.
"Jika benar mbak calon istrinya kenapa saya ga pernah dengar satu pun keluarga mas Wahyu mengatakan tentang mbak..."
"Kau!"
"Silahkan pergi jika mbak cuma mau cari gara-gara! dan satu lagi jika memang terbukti mbak calon istrinya maka tanpa diminta pun saya akan menjauhi mas Wahyu karena saya bukan perebut pasangan orang lain!" kata Salma.
"Tapi ingat mbak ... jika ternyata mbak berbohong maka saya tidak akan pernah melepaskan mas Wahyu untuk mbak..."
Wanita itu langsung terdiam. Tanpa ia duga tiba-tiba Salma langsung menghubungi seseorang.
"Mas aku mau tanya... apa mas kenal wanita ini?" tanya Salma sambil mengarahkan kamera ponselnya pada wajah wanita itu.
__ADS_1
Tampak jika kini Salma tengah melakukan vidio call dengan Wahyu. Wajah pria itu langsung memerah menahan amarahnya.