
Saat membalikkan tubuhnya Salma terkejut melihat Amran yang sudah berdiri dihadapannya. Hampir saja botol air mineral yang ada ditangannya terjatuh.
"Maaf ..." kata Amran yang melihat Salma terkejut dan hampir menjatuhkan botol air mineral.
"Mas juga mau minum?" tanya Salma berusaha menghilangkan keterkejutannya.
Amran pun mengangguk. Salma mengambil dua gelas dan mengisinya dengan air lalu menyerahkan salah satunya pada Amran. Sedang ia mengambil gelas satu lalu meminum isinya hingga kandas. Amran tak meminum pemberian Salma tapi malah memperhatikan Salma saat gadis itu minum.
Selesai minum Salma langsung mencuci gelasnya dan meletakkannya di rak.
"Mas ga jadi minum?" tanyanya saat melihat Amran yang masih memegang gelas yang masih terisi penuh.
"Aku minum di kamar" ucap Amran sambil berlalu.
Salma menghela nafas pelan. Sebenarnya sejak tadi jantungnya sudah maraton karena ulah Amran yang berada di dekatnya tiba-tiba. Ia takut jika terjadi sesuatu yang tidak ia inginkan meskipun sebenarnya itu sah-sah saja karena mereka berdua masih suami istri. Tapi jujur Salma masih bertekad ingin mengakhiri hubungan rumit antara dirinya, Amran dan juga Nadia. Dia tak mau selamanya terikat dengan keduanya. Meski mungkin kini mulai ada rasa yang menyusup dihatinya pada Amran. Tapi dia juga tak mau egois karena sesungguhnya Nadia tak benar-benar menginginkannya sebagai madunya.
Apa jadinya nanti jika Nadia menyadari jika Salma mulai menyukai suaminya. Salma tak mau jika sepupunya itu menjadi semakin menggila. Karena itulah Salma harus membentengi perasaannya agar tak terlanjur mencintai suaminya. Ia tak mau hatinya terluka jika perpisahan terjadi padanya dan Amran. Ia ingin semua kembali seperti sebelum Nadia memintanya menjadi madunya jika perpisahan itu terjadi. Agar ia dapat melanjutkan hidupnya tanpa bayang-bayang masa lalu. Setelah Amran pergi Salma pun langsung kembali ke kamar dan segera menguncinya. Tapi baru saja ia hendak memejamkan mata terdengar ketukan di pintu kamar. Dengan perlahan Salma pun membuka pintu kamar. Terlihat Amran berdiri dengan memegang paper bag.
"Maaf tadi aku lupa memberikanmu ini..." ucapnya.
"Ini..."
"Itu baju ganti bisa kau gunakan untuk besok pagi" terang Amran.
Salma pun mengangguk dan mengucapkan terima kasih. Saat Salma akan menutup pintu kamar tiba-tiba Amran menahan dengan tangannya.
Salma yang terkejut memandang Amran dengan tatapan takut. Amran yang melihat ketakutan dimata Salma menghela nafas kasar.
"Aku hanya ingin bicara denganmu sebentar Ma..." ucapnya.
"Kita bicara di luar saja mas..." usul Salma.
Amran pun mengangguk. Keduanya pun lalu duduk di sofa ruang tamu.
"Eum sebenarnya apa lagi yang ingin kau bicarakan mas? bukankah semuanya sudah jelas?" tanya Salma.
"Tapi aku tak ingin menceraikanmu Ma..." ucap Amran mulai frustasi.
__ADS_1
"Mas... kamu dan aku menikah karena terpaksa.... jadi tak ada salahnya jika kita berpisah agar tak lagi tersiksa" kata Salma.
"Aku tahu saat ini mas berkata seperti itu pasti karena mas merasa bersalah karena sudah terpedaya oleh Nadia. Tapi aku yakin mas kalau kau masih mencintai Nadia... dan aku yakin cuma kamu yang bisa memadamkan dendam Nadia padaku" sambung Salma walau dalam hatinya merasa sakit saat mengucapkan setiap kata yang baru saja keluar dari mulutnya.
Amran terdiam saat mendengarkan perkataan Salma. Dipandangnya wajah Salma yang terlihat tenang tak terlihat perubahan emosi disana.
"Jadi sampai saat ini kau masih tetap tak memiliki perasaan apapun padaku?" tanya Amran sambil menatap mata Salma mencoba mencari kejujuran disana.
Salma pun menatap balik Amran dengan berani dan mencoba untuk tegar. Ia tak ingin Amran mengetahui isi hatinya yang sebenarnya. Cukup lama keduanya saling tatap dan akhirnya Amran yang mengalihkan pandangannya terlebih dahulu. Amran pun lalu berdiri dan meninggalkan Salma sendiri. Setelah kepergian Amran, Salma pun menghela nafasnya pelan. Ia masih betah duduk di sofa dan memandang kosong kearah depan.
"Aku harus kuat..." gumamnya sambil menggigit bibirnya agar air mata yang sedari tadi ditahannya tak jadi keluar.
Ya ... Salma sudah memutuskan untuk mengubur dalam-dalam perasaan yang baru saja hadir dihatinya untuk Amran. Perasaan yang diam-diam mulai menyusup dan menggodanya untuk memiliki Amran sejak perubahan sikap Amran padanya.
Setelah merasa tenang ia pun kembali kedalam kamar. Dengan cepat ditutupnya pintu kamar dan menguncinya dari dalam bahkan ia sengaja meninggalkan anak kunci ditempatnya agar tak dapat dibuka dari luar walau dengan kunci cadangan. Salma merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur dan menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. Tapi tetap saja matanya tak dapat terpejam. Dengan resah Salma membolak-balikkan badannya mencari posisi yang nyaman namun tak berhasil bahkan kedua matanya semakin terbuka lebar.
Akhirnya dengan langkah pelan ia masuk ke kamar mandi bermaksud mengambil air wudhu. Dari pada tidak bisa tidur Salma memutuskan untuk sholat sunnah. Saat melaksnakan sholat sunnah ia tak menyadari jika di balkon ada sepasang mata yang sejak tadi memperhatikannya. Selesai sholat Salma pun segera menuju tempat tidur dan membaringkan badannya disana. Tak lama ia pun tertidur.
Saat itulah perlahan pintu kaca balkon kamar itu dibuka dari luar. Dengan langkah pelan orang itu mendekati Salma yang sudah tertidur. Lalu ia pun perlahan ikut berbaring di samping tubuh Salma.
"Maafkan aku Ma... tapi ijinkan aku untuk sekali ini tidur disampingmu sebab mungkin saja ini terakhir kalinya kita bisa tidur bersama" batin pria itu yang ternyata adalah Amran.
"Aku tak ingin kau merasa ketakutan di dekatku Ma" gumamnya lirih.
Disibakkannya anak rambut yang sempat menutupi wajah gadis itu.
"Pantas saja semua orang memujimu ... wajahmu secantik hatimu..." batinnya lagi.
Diciumnya kening Salma sebelum ia ikut tertidur disamping gadis itu.
Sementara di rumah Nadia yang sejak sore kelabakan mencari kabar Amran dan Salma juga belum merasa tenang. Meski Amran dan Salma sudah memberi alasan yang masuk akal namun instingnya sebagai seorang istri sangat kuat. Walau otaknya menerima alasan keduanya tapi hatinya tetap merasa tak tenang.
"Apa besok pagi-pagi aku ke rumah mama Aya saja? memastikan jika Salma memang menginap disana" batinnya.
"S***... seharusnya dulu aku mengikuti saran mas Amran untuk belajar menyetir dan memakai mobil sendiri jadinya kan tidak perlu repot minta bantuan orang lain" batinnya lagi.
Sedari tadi memang ia hanya melakukan panggilan telpon pada Amran, Salma dan juga mama Aya untuk menanyakan keberadaan mereka.
__ADS_1
Sebenarnya malam itu juga ia ingin ke rumah mama mertuanya untuk memastikan Salma benar-benar menginap disana. Tapi ia takut jika mama mertuanya itu akan menganggapnya over protective padahal dia sendiri yang dulu meminta Salma untuk menjadi madunya.Dengan perasaan resah ia pun berusaha untuk tidur. Tak lama ia pun terlelap dan masuk ke alam mimpi. Tapi keresahannya ternyata terbawa dalam tidurnya dan membuatnya sering mengigau.
Salma terbangun saat merasakan seseorang tengah memeluknya dari belakang. Dengan mengerjapkan matanya yang masih terasa lengket karena baru tertidur sebentar ia berusaha melihat sekelilingnya. Saat melihat kearah pinggangnya ia dapat melihat lengan seseorang tengah memeluk erat. Salma terkesiap. Ia berfikir siapa orang yang sedang memeluknya ini dan dari mana orang itu masuk ke dalam kamar? sedangkan ia sangat yakin jika sebelum tidur ia telah mengunci pintu kamar dan meninggalkan anak kuncinya disana.
Dengan perasaan takut dan jantung yang berdebar kencang ia berusaha untuk membalikkan badannya dan melihat siapa yang saat ini tengah memeluknya. Salma sangat terkejut saat mendapati Amranlah yang berada di depannya. Tampak wajah pria itu yang tertidur pulas.
"Bagaimana dia bisa masuk ke dalam?" gumamnya lirih.
Salma berusaha untuk memindahkan tangan Amran dengan perlahan agar tidak membuat pria itu terbangun dari tidurnya. Namun pergerakannya itu malah membuat Amran mempererat pelukannya hingga membuat wajah Salma dan Amran saling berdekatan. Salma bahkan dapat merasakan hembusan nafas Amran yang menerpa wajahnya. Seketika Salma merasa gugup. Ia merasakan jika jantungnya serasa akan melompat keluar dari dadanya.
Dengan perlahan ia kembali mencoba untuk menjauhkan tubuh Amran darinya. Tapi kali ini ia malah membuat pria itu membuka matanya perlahan. Salma langsung terdiam mematung.
"Kau sudah bangun?" ucapnya dengan suara serak habis bangun tidur.
Salma masih terdiam. Setelah berhasil membuka matanya lebar Amran langsung menyadari jika sedari tadi ia telah memeluk Salma.
"Maaf..." ucapnya sambil langsung melepaskan pelukannya.
Keduanya pun terdiam dalam posisi berhadapan.
"Bagaimana kau bisa masuk kemari?" tanya Salma setelah sekian lama keduanya terdiam.
"Tadi saat meninggalkanmu aku salah masuk kamar" jawab Amran.
"Tapi kenapa aku tidak melihatmu mas?" tanya Salma yang masih penasaran.
"Tadi aku berada di balkon.... dan saat aku masuk kau sudah tertidur" jelas Amran.
"Tapi kenapa mas tidak kembali ke kamar tamu?".
"Karena aku ingin bersamamu... sebab mungkin saja ini terakhir kalinya aku bisa tidur denganmu" ungkap Amran sambil memandang Salma dengan tatapan yang sulit untuk diartikan.
Salma terdiam mendengar semua perkataan Amran. Hatinya yang sedari tadi gelisah tak karuan membuat wajahnya sedikit pias. Amran memberanikan diri untuk membelai wajah Salma perlahan. Gadis itu tampak diam dan tak menolak perlakuan Amran.
"Aku sungguh tidak dapat menahan perasaanku padamu Ma..." ucap Amran pelan.
"Anggap aku egois ... setelah semua perlakuan kasarku padamu, aku sekarang malah menginginkanmu" sambungnya sambil mendekatkan wajahnya pada Salma.
__ADS_1
"Aku mencintaimu Salma..." ucapnya sambil menatap mata Salma dalam.
Salma merasa tenggorokannya tercekat mendengar pengakuan Amran.