Jodoh Istri Kedua

Jodoh Istri Kedua
Hidup Baru


__ADS_3

Sudah satu minggu sejak Salma dan bu Rahma menemui Amran dan juga mamanya. Proses perceraian yang diminta oleh Salma pun sudah mulai diurus oleh Amran dan juga pengacaranya. Nadia pun sudah tahu jika Amran akan menceraikan Salma. Mengetahui hal itu tentu saja Nadia merasa sangat bahagia karena berfikir jika kesempatannya untuk kembali mendapatkan hati suaminya itu semakin besar. Apalagi Salma yang masih amnesia akan membuat peluang Amran kembali pada gadis itu sangat kecil.


Sementara Amran walau pun ia telah menuruti semua permintaan Salma untuk menceraikannya namun tetap saja hatinya tak bisa begitu saja menghilangkan perasaan cinta yang baru saja tumbuh. Walau sejak pertemuan terakhir mereka Salma tak pernah lagi mau menemuinya. Bahkan semua urusan perceraian hanya di wakilkan pada pengacaranya.


Karena kedua belah pihak sudah sepakat maka proses perceraian keduanya pun berjalan dengan cepat. Hanya tiga bulan akhirnya keduanya pun resmi bercerai. Salma tak menuntut apa-apa dari mantan suaminya itu. Namun Amran bersedia memberikan tunjangan padanya selama masa idah. Walau sempat menolak namun akhirnya ia pun menerimanya.


"Sekarang apa rencana kamu nak?" tanya bu Rahma suatu hari.


"Aku akan cari kerja lagi bu..." terang Salma.


"Dimana?"


"Kalau bisa di luar kota..."


"Kenapa nak? apa kau tidak bisa melupakan semuanya jika tetap disini?" tanya bu Rahma.


"Bukan begitu bu... hanya saja aku tidak ingin suatu saat bertemu lagi dengan mas Amran juga Nadia" ungkapnya.


"Ibu tahu nak... hatimu masih sakit. Baiklah ... bagaimana jika kita berdua pindah ke luar kota bersama?"


"Tapi bu .... bagaimana dengan rumah ini? juga Shania dan Sakina?"


"Rumah ini biar ditempati oleh salah satu dari mereka... nanti biar ibu yang bicara kamu tenang saja" kata bu Rahma yang tak ingin membiarkan putrinya itu sendirian di luar kota dengan status barunya.


"Baiklah jika itu yang terbaik menurut ibu" sahut Salma.


Beberapa hari kemudian setelah bu Rahma berbicara dengan kedua putrinya yang lain akhirnya diputuskan jika Sakina yang akan menempati rumah bu Rahma sebab Shania ternyata sudah mengajukan KPR dengan suaminya.


Akhirnya bu Rahma dan Salma memutuskan untuk pindah ke kota T. Mereka pun sepakat agar kepergian keduanya dirahasiakan dari semua orang terutama keluarga Nadia dan suaminya. Salma memang bertekat mengubur semua kenangannya dan memulai hidup baru bersama ibunya di kota T.


"Ibu... kakak.... jangan lupa sering-sering beri kabar pada kami ya...." ucap Sakina saat keduanya akan berangkat ke kota T dengan menggunakan mobil travel.


"Iya nak... kalian jangan khawatir kami akan selalu mengabari kalian. Kalian juga bisa mengunjungi kami di sana..." kata bu Rahma sambil memeluk kedua putrinya.


Salma pun mengangguk dan ikut berpelukan dengan ketiganya. Setelah berpamitan ibu dan anak itu pun segera naik ke dalam mobil travel yang telah menunggu mereka. Saat mobil itu berangkat meninggalkan tempat itu tampak keempat wanita ibu dan anak itu tak dapat menahan tangis. Mereka terpaksa berpisah demi menjaga saudari mereka dari masa lalunya. Itulah keluarga yang sesungguhnya... berkorban demi melindungi anggota keluarga mereka.


Salma bersandar pada ibunya saat mobil mereka mulai menjauh dari rumah penuh kenangan tempatnya dibesarkan bersama kedua adiknya.


"Maafkan Salma bu.... karena Salma ibu harus meninggalkan rumah tempat penuh kenangan bersama bapak..." ucapnya sendu.


"Tidak apa-apa nak... lagi pula dengan begini ibumu yang sudah menjadi nenek ini bisa merasakan petualangan baru dalam hidup ibu ..." sahut bu Rahma sambil menepuk lengan Salma lembut.

__ADS_1


Sementara Shania dan Sakina masih berdiri di depan rumah walau mobil travel yang membawa ibu dan kakak mereka sudah tidak lagi terlihat.


"Aku sudah merasa merindukan ibu dan kak Salma...kak" ucap Sakina pada Shania.


"Aku juga Na..." sahut Shania.


Lalu keduanya pun masuk ke dalam rumah dimana suamibdan anak-anak mereka sudah menunggu di dalam.


...........


Mobil yang membawa bu Rahma dan Salma pun tiba di kota T. Disana mereka diturunkan di sebuah rumah kontrakan kecil yang telah disewa sebelumnya oleh Salma saat diantarkan oleh Agung suamin Sakina. Memang sebelum pindah ke kota T Salma terlebih dahulu mencari kontrakan disana agar saat pindah ibunya merasa nyaman karena tak perlu tinggal dipenginapan terlebih dahulu.


"Rumahnya nyaman sekali Ma..." kata bu Rahma yang baru pertama kali melihatnya.


"Iya bu.... walau pun agak kecil. Lagi pula uang sewanya cukup murah dan tempat ini tidak begity jauh dari pusat kota" terang Salma.


Keduanya pun lalu masuk ke dalam rumah dan meletakkan barang bawaan mereka yang hanya berupa pakaian saja. Rumah tersebut juga sudah diisi perabotan oleh Salma sebelumnya. Mereka pun memiliki kamar masing-masing karena di rumah itu ada dua kamar tidur.


"Kita istirahat saja dulu bu.... baru besok kita bereskan barang-barang" kata Salma.


Bu Rahma pun setuju, lalu keduanya pun masuk ke dalam kamar mereka masing-masing. Sesampainya di dalam kamar Salma meletakkan tas pakaiannya di dekat lemari dan langsung merebahkan diri diatas tempat tidur.


"Mulai besok aku akan menjalani kehidupan baru.... semangat Salma..." gumamnya memberi semangat pada dirinya sendiri.


Bu Rahma yang juga tengah berbaring di tempat tidurnya memandang langit-langit kamarnya sendu. Tak bisa di pungkiri selama ini ia tak pernah hidup diluar kotanya dilahirkan. Namun demi menjaga putri sulungnya ia rela memberanikan diri diusia senjanya menjalani hidup baru di tempat yang sama sekali tak dikenalnya.


"Mas... akan kujaga setiap putri kita dengan caraku sampai ada seseorang yang tepat datang dan bisa menjaga mereka. Shania dan Sakina sudah menemukannya... kini tinggal Salma ... aku harap setelah ini ia juga akan menemukannya seperti kedua adiknya. Setelah itu aku ikhlas jika aku harus menyusulmu..." batinnya dengan mata berkaca-kaca.


Ada rasa sedih tak terkira saat melihat kehiduoan putri sulungnya itu. Di saat kedua adiknya sudah memiliki keluarga yang bahagia namun nasibnya sangat tak beruntung. Menikah hanya jadi istri kedua dan akhirnya bercerai agar tak merasa tersiksa dan membuat orang lain terluka.


"Semoga kau segera menemukan jodohmu nak..." gumam bu Rahma sebelum akhirnya ia tertidur.


Pagi hari saat Salma terbangun ia mendapati ternyata ibunya juga sudah bangun dan sibuk di dapur.


"Ibu sudah bangun dari tadi?" tanyanya pada bu Rahma.


"Tadi sewaktu azan subuh Ma... kamu sudah sholat?"


"Sudah bu..."


"Ibu masak apa? perasaan aku belum menyetok bahan makanan..." ucap Salma yang melihat ibunya memasak sesuatu.

__ADS_1


"Kemarin ibu sengaja membawa beras dan telur serta mie instan beberapa bungkus untuk jaga-jaga. Dan ternyata benar disini belum ada apa-apa..."


"Bagaimana ibu membawanya? kenapa aku tak tahu?"


"Ibu memasukkannya dalam tas karena ibu hanya membawa sedikit" jelas bu Rahma.


Salma tersenyum ... ibunya memang selalu bisa diandalkan. Ia selalu memikirkan segalanya demi anak-anaknya. Akhirnya mereka berdua sarapan dengan nasi dan telur ceplok dengan mie instan sebagai sayurnya.


"Hari ini apa rencanamu Ma?" tanya bu Rahma saat keduanya tengah beristirahat setelah membereskan barang yang mereka bawa dari rumah lama.


"Hem... sepertinya aku akan mulai melamar kerja bu..." sahut Salma sambil memijit kaki ibunya pelan.


"Kamu akan melamar kerja dimana Ma? bukankah ijasahmu cuma SMU? apa nanti tidak sulit untuk mendapat pekerjaan?"


"Yang penting dicoba dulukan bu?"


"Apa tidak sebaiknya kamu jualan saja.... kan kamu masih punya simpanan uang. Kalau kurang ibu bisa menambahinya..." usul bu Rahma.


"Jualan? jualan apa bu?"


"Apa saja.... misalnya gorengan... bukankah semua orang suka? jadi tidak sulit untuk memasarkannya" kata bu Rahma lagi.


Salma pun mengangguk. Memang benar kata ibunya. Jika mencari kerja dengan ijasah SMUnya saja akan susah untuk mendapatkan pekerjaan. Lagi pula dengan berjualan ia akan lebih punya waktu untuk menemani ibunya agar tak kesepian di rumah apalagi ini di kota yang baru baginya.


"Baiklah bu...." ucap Salma akhirnya.


Akhirnya ia pun memutuskan untuk berjualan gorengan dengan berkeliling agar cepat mendapatkan pelanggan. Untuk itu Salma pun membeli sebuah sepeda bekas yang ia lihat di pasar loak saat ia dan ibunya sedang berbelanja bahan untuk berjualan di pasar yang letaknya berdekatan.


Karena kota T termasuk kota kecil maka disana masih banyak orang yang menggunakan sepeda maupun becak. Karenanya selesai berbelanja mereka pulang dengan bu Rahma naik becak bersama barang belanjaannya dan Salma mengayuh sepeda yang baru dibelinya mengekor dibelakang.


Sesampainya dirumah mereka pun langsung menurunkan bahan belanjaan mereka. Tak lama ponsel Salma berdering. Tertera dilayar nama Shania. Salma sudah mengganti nomor ponselnya dan hanya keluarganya saja yang tahu nomor barunya. Kecuali mama Aya yang sengaja Salma beri tahu karena sudah menganggapnya seperti ibunya sendiri namun dengan syarat tak memberitahukan pada yang lain terutama Amran.


"Assalamulaikum kak..." terdengar suara Shania dengan latar belakang sedikit berisik.


"Waalaikum salam.... kok ramai Nia?" tanya Salma penasaran.


"Ini kak... anak-anak ribut ingin bicara dengan kakak dan ibu...." ujar Shania.


"Ya sudah vc aja...." sahut Salma.


Tak lama panggilan pun berubah menjadi vc. Tampak diseberang Shania dan Sakina berserta anak-anak mereka berjejal melihat kearah kamera ponsel untuk melihat bibi dan nenek mereka yang baru kali ini jauh dari mereka.

__ADS_1


"Nenek....bibi..." teriak mereka serentak saat melihat wajah Salma dan bu Rahma di layar ponsel.


"Anak-anak..." sapa bu Rahma dan Salma terharu melihat cucu dan keponakan mereka.


__ADS_2