Jodoh Istri Kedua

Jodoh Istri Kedua
Undangan


__ADS_3

Di tempat lain tampak Amran tengah bersantai di depan rumahnya saat Nadia keluar dari dapur dengan membawa secangkir kopi untuk suaminya itu. Sejak perceraian Amran dan Salma perilaku Nadia sudah mulai berubah lebih baik. Ia yang dulu selalu merasa iri pada orang lain terutama Salma kini mulai lebih menyukuri apa yang telah ia miliki. Beruntung ia memiliki madu seperti Salma, jika orang lain maka suaminya kini pasti sudah menceraikannya dan memilih madunya.


Karena kebanyakan orang akan mementingkan dirinya sendiri dari pada orang lain apalagi jika ia merasa lebih benar. Bahkan sikap Amran padanya juga masih sama seperti saat mereka baru menikah.


"Mas ... diminum kopinya" kata Nadia sambil meletakkan segelas kopi di atas meja.


"Terima kasih Nad..." sahut Amran lalu menyeruput kopi buatan istrinya itu.


"Mas boleh aku bicara sebentar?"


"Ya?"


"Mas... aku ingin bertemu Salma..." ucapnya takut-takut.


Amran memandang wajah Nadia. Tampak sekali jika istrinya itu tengah memendam rasa bersalah pada Salma.


"Hemmm... apa kau yakin?"


"Iya mas... walau nanti Salma menolak untuk bertemu... setidaknya aku sudah berusaha" terang Nadia.


Tampak sekali jika wanita yang dulu sangat iri dan membenci Salma sudah berubah.


"Akan kucoba agar kau bisa bertemu dengannya" ucap Amran.


"Terima kasih mas" sahut Nadia sambil memeluk suaminya.


Amran pun membalas pelukan istrinya itu. Sesungguhnya ia juga merindukan wanita yang pernah menjadi istri keduanya itu. Mungkin saat Nadia bertemu Salma nanti ia juga bisa melihat wanita yang masih tersimpan dihatinya itu meski ia harus menahan perasaannya agar tak seorang pun yang tahu termasuk Salma sendiri. Ia juga tak berani mengatakan pada Nadia jika ia tahu dimana Salma sekarang agar istrinya tak berprasangka buruk dan akhirnya sifat iri dan dengkinya muncul kembali.


..........


Salma yang baru saja selesai sholat isya' dikejutkan dengan bunyi ponselnya. Segera ia membereskan mukena dan sajadahnya kemudian ia pun segera mengangkat ponselnya itu.


"Assalamualaikum..." sapa seseorang yang dua hari ini memenuhi fikirannya.


Wahyu...


Sejak munculnya wanita suruhan mamanya yang mengaku sebagai calon istrinya, Wahyu memang seperti menghilang. Entah apa yang terjadi pada pria itu. Apa ia bertengkar dengan mamanya? Entahlah... yang pasti Salma tak berani menghubungi pria itu terlebih dahulu. Ia takut menambah masalah bagi pria itu.


"Waalaikum salam... ada apa mas?" tanya Salma.


"Maaf jika dua hari ini aku tidak menghubungimu..." ucap Wahyu.


"Ga pa-pa mas... aku mengerti mungkin mas lagi sibuk, jadi ga bisa menghubungiku" sahut Salma.


"Ya kau benar... aku memang sedang sibuk mempersiapkan pesta ulang tahun perusahaan menggantikan papa..." terang Wahyu.

__ADS_1


Salma pun hanya bisa berohria mendengar ucapan Wahyu.


"Aku menghubungimu untuk mengajakmu untuk menghadiri acara itu bersamaku" sambung Wahyu.


"Tapi mas..." sahut Salma kaget.


"Kenapa?" tanya Wahyu tak menduga jika Salma menolak permintaanya.


"Aku... aku takut jika kedatanganku akan membuat masalah dan mengacaukan pesta itu" jawab Salma dengan lirih.


"Tidak Salma... kau tenanglah... mama tidak akan berbuat macam-macam. Karena papa sudah memperingatkannya agar bisa menerimamu. Bahkan kini Gita adikku juga sudah mulai menerimamu dan ingin bertemu denganmu"


Salma menghela nafasnya berat. Tapi apa yang dikatakan Wahyu tentang adiknya yang mulai menerima kehadirannya membuat Salma mulai memiliki keyakinan baru jika mama Wahyu suatu saat nanti juga akan menerima kehadirannya.


"Baiklah mas aku akan datang... kapan acaranya?"


"Besok malam... jadi besok sehabis magrib aku akan menjemputmu di rumah"


"Baik mas... aku tunggu" sahut Salma.


Mereka pun mengobrolkan hal lain hingga akhirnya Wahyu mengakhiri percakapan mereka dan Salma pun bersiap untuk tidur. Ternyata undangan Wahyu membuat Salma sedikit grogi. Bagaimana tidak seumur hidupnya ia belum pernah menghadiri acara seperti itu. Tiba-tiba saja ia teringat jika ia tak memiliki gaun yang cocok untuk menghadiri acara semegah itu.


"Besok lebih baik aku membeli baru baru agar mas Wahyu tidak merasa malu datang bersamaku" batin Salma sambil mulai memejamkan matanya untuk tidur.


..........


Rencananya setelah dari kiosnya ia akan pergi ke mall untuk membeli gaun yang akan ia kenakan. Ia tahu jika waktu yang tersisa setelah dari kios akan sangat sempit namun mau bagaimana lagi. Hari ini ia tak mungkin menutup kiosnya sebab sudah ada banyak pesanan untuk hari ini yang dipesan pelanggannya dari jauh hari. Karena itu ia tidak bisa begitu saja membatalkannya dan menutup kiosnya.


Selesai menyisir rambut dan membenarkan make up tipisnya Salma pun keluar dari dalam kamarnya untuk sarapan. Di depan meja makan tampak bu Rahma juga sudah duduk bersiap untuk sarapan bersama putrinya itu.


"Bu... nanti malam mas Wahyu akan mengajakku pergi ke pesta perusahaan..." kata Salma sebelum keduanya sarapan.


"Apa kau yakin akan datang kesana nak?" tanya bu Rahma.


"Iya bu... ga enak soalnya sama papa dan adik mas mas Wahyu yang ingin aku datang" sahut Salma.


"Ya sudah kalau begitu..."


"Nanti pulang dari kios aku ingin membeli baju untuk nanti malam... jadi aku pulang agak sore... bolehkan bu?"


"Boleh sayang... nanti kamu datang ke pesta itu sendiri atau dijemput nak Wahyu?"


"Mas Wahyu akan menjemputku habis magrib bu..."


Bu Rahma mengangguk lalu keduanya pun melanjutkan sarapan mereka.

__ADS_1


Di rumahnya tampak Wahyu sedang bahagia. Saatnya kini ia menunjukkan pada semua orang siapa calon istrinya. Ada rasa bangga pada diri pria itu yang mendapatkan cinta pertamanya setelah beberapa tahun memendam perasaannya sendiri. Jika semuanya lancar malam ini akan ia gunakan sebagai momen untuk melamar Salma menjadi istrinya.


Dengan perasaan riang Wahyu sengaja berangkat ke kantor dengan menyetir sendiri mobilnya. Saat melewati kios Salma dapat ia lihat jika gadis itu masih berjualan. Wahyu hanya tersenyum saat melihatnya. Sungguh jika gadis lain maka hari ini pasti akan digunakan untuk perawatan diri agar terlihat sempurna nanti malam dibanding dengan berjualan.


Tapi Salma tetaplah Salma bukan seperti gadis lain yang senang berdandan demi memikat lawan jenisnya. Dia lebih sering cuek dengan penampilannya yang selalu sederhana. Namun disitulah kecantikanya terpancar. Tanpa polesan yang berlebihan ia tetap tampil cantik dan menawan.


Setelah mengawasi semua persiapan untuk nanti malam akhirnya Wahyu tampak puas dengan hasil kerja anak buahnya. Dan yang terpenting ia sudah menyiapkan momen khusus untuk dirinya melamar Salma. Sambil tersenyum puas ia kembali ke dalam ruangannya. Ada beberapa berkas yang masih harus ia periksa dan tandatangani sebelum akhirnya pekerjaannya hari ini benar-benar selesai.


Setelah berkutat dengan semua berkas dokumen selama beberapa jam akhirnya ia dapat bernafas lega karena semuanya sudah selesai. Segera ia menghampiri jendela kantornya yang mengarah ke kios Salma. Tampak jika Salma sedang membereskan kiosnya karena sepertinya kiosnya tutup lebih cepat hari ini.


"Mungkinkah kau ingin bersiap untuk pesta nanti malam?" gumam Wahyu senang.


Ternyata meski terkesan cuek namun Salma tetap mempersiapkan dirinya dengan baik untuk acara nanti malam. Dengan segera pria itu mengambil jasnya yang sedari tadi berada di sandaran sofa. Ia pun bergegas meninggalkan kantornya setelah memberitahu pada asistenta bahwa ia akan pulang cepat.


Setelah masuk ke dalam mobilnya ia langsung melajukan mobilnya ke kios Salma . Mobil itu pun berhenti di depan kios saat Salma baru saja mengunci kiosnya. Gadis itu tampak terkejut saat melihat Wahyu sudah berdiri di samping mobilnya saat Salma membalikkan badannya.


"Kamu sudah berada di sini sejak kapan mas?" tanyanya penasaran.


"Baru saja... ayo ikut aku!" ajak Wahyu.


"Mau kemana mas?" tanya Salma.


"Ikut saja ... nanti juga kamu akan tahu" ucap Wahyu menarik Salma untuk masuk ke dalam mobilnya.


Walau masih penasaran namun Salma menurut dan langsung masuk ke dalam mobil. Kemudian Wahyu pun ikut masuk ke kursi kemudi dan langsung menjalankan mobilnya meninggalkan tempat itu. Tak berapa lama mobil mereka sampai di sebuah butik terkenal di kota itu. Salma tampak terkejut ketika Wahyu membawanya ke tempat itu.


"Kita mau apa kemari mas?"


"Tentu saja untuk membeli gaun untukmu" sahut Wahyu enteng.


"Tapi mas... gaun disini pasti mahal... aku tak akan sanggup untuk membelinya" ujar Salma.


"Siapa bilang kalau kau yang akan membayar? aku yang membawamu kemari... jadi pasti aku yang akan membayarnya" sahut Wahyu sambil tersenyum.


"Tapi mas..."


"Tidak ada tapi-tapian... malam ini aku ingin kau memakai gaun terbaik saat kita pergi bersama" terang Wahyu.


Ia pun sudah membuka seat beltnya sedang Salma masih termangu dikursinya. Melihat Salma yang masih tidak bergerak dari tempatnya Wahyu pun berinisiatif membuka seat belt Salma hingga gadis itu terkejut saat menyadari jika wajah keduanya sudah berhadapan dengan jarak yang begitu dekat.


"Ka..kau mau apa mas?" tanya Salma gugup.


"Membuka seat beltmu... agar kita bisa segera turun" ucap Wahyu.


Salma mengehembuskan nafasnya pelan untuk menetralisir detak jantungnya yang sudah marathon saat pria itu berada didekatnya. Setelah berhasil membuka seat belt Salma, Wahyu pun mengajak gadis itu untuk segera turun. Dengan kaki yang sedikit gemetar karena kejadian barusan Salma pun menapakkan kakinya di atas aspal. Melihat betapa megahnya butik yang akan mereka masuki membuat Salma langsung menciut.

__ADS_1


Wahyu yang melihat itu langsung menghampiri Salma dan menggandeng tangannya untuk masuk bersama ke dalam butik.


__ADS_2