Jodoh Istri Kedua

Jodoh Istri Kedua
Ancaman


__ADS_3

Wanita yang semula terlihat garang pada Salma tampak langsung memucat begitu melihat wajah Wahyu sudah terpampang di depannya.


"Mau apa kau berani mengganggu calon istriku?" sergah Wahyu dengan wajah merah padam.


"A...a..ku..." ucap wanita itu tergagap.


"Cepat katakan siapa yang menyuruhmu hingga berani sekali memfitnahku di depan calon istriku!"


"A..a...ku... cuma ..."


"Cuma apa hah!" seru Wahyu yang sudah tidak sabar.


"Aku... cuma... disuruh..."


"Disuruh siapa?"


"Bu... bu.. Des... si..." sahut wanita itu dengan gemetar.


"Pergi segera dari situ... atau kau akan menanggung akibatnya..."


Tanpa menunggu lama wanita itu langsung berbalik dan melangkah pergi dengan tergesa-gesa. Ia tidak mau jadi pelampiasan dari kemarahan Wahyu. Soal bu Desi yang akan marahinya karena gagal menjalankan perintah sudah tidak dihiraukannya. Sebab kini bu Desi sendiri pasti akan kelabakan menghadapi kemarahan putranya sendiri.


Setelah kepergian wanita yang tidak jelas asalnya itu Wahyu langsung meminta Salma agar tidak terlalu menjadikannya fikiran. Meski didepannya Salma mengangguk patuh namun didalam hatinya Salma tetap kefikiran.


"Mungkin ini memang resikonya karena mama mas Wahyu belum bisa menerimaku..." batin Salma setelah mematikan sambungan telfonnya.


Sementara Wahyu tampak sangat marah setelah mengetahui jika mamanya sampai menyuruh seseorang untuk mengaku sebagai calon istrinya. Ingin rasanya ia segera menemui mamanya untuk meminta penjelasan langsung. Tapi pekerjaannya tidak dapat ditunda apa lagi saat seperti ini mamanya juga pasti sedang sibuk menghabiskan uang ayahnya dengan berfoya-foya dengan teman sosialitanya. Karena itu ia menutuskan untuk menemui mamanya sepulang dari kantor saja.


Sore menjelang saat Wahyu selesai dengan pekerjaannya. Dengan cepat ia melajukan mobilnya ke rumah kedua orangtuanya. Saat ia masuk ke dalam terlihat jika semua anggota keluarganya sedang berkumpul. Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Wahyu. Dengan segera ia langsung menanyai mamanya.


"Ma... apa maksud mama menyuruh orang untuk mengaku sebagai calon istriku pada Salma?"


"Apa maksud kamu? mama sungguh tidak mengerti dengan yang kamu maksud" elak bu Desi.


"Jangan bohong Ma... tadi orang itu sendiri yang mengaku jika ia disuruh oleh mama"


"Apa betul itu ma?" kini pak Adi ikut bertanya.

__ADS_1


"Em... itu...itu..." mama Desi terlihat gugup.


"Jawab ma! jangan berani-berani berbohong!" sentak pak Adi.


Bu Desi hanya bisa menundukkan kepalanya.


"Aku ga nyangka kamu masih saja menggunakan cara licik itu untuk mendapatkan keinginanmu!" sambung pak Adi dengan wajah yang sudah memerah.


"Maksud papa apa?" tanya bu Desi.


"Apa perlu aku ungkit masalah kita dulu hah?" sergah pak Adi.


"Jangan mama fikir selama ini aku diam karena tidak tahu... tapi jangan sekali-kali kamu mencoba untuk menghancurkan hubungan Wahyu dengan Salma... sebab kalau tidak kau akan tanggung akibatnya!" sambung pak Adi.


Bu Desi langsung terdiam. Walau pak Adi tak mengatakannya dengan jelas tapi ia tahu maksud dari perkataan pak Adi. Seketika hatinya gemetar karena cemas. Apa pak Adi sudah tahu kebenarannya alasan kenapa hingga mereka sampai menikah?


Apakah jebakan yang ia susun dengan orangtua pak Adi saat itu sudah diketahui oleh pak Adi? tapi jika benar mengapa pria itu tetap mau menikahinya dan membatalkan pernikahannya dengan gadis kampung itu? Bu Desi semakin bingung dan takut. Tanpa sepengetahuan bu Desi dan orang tua pak Adi, pak Adi yang tahu jika dirinya dijebak oleh orangtuanya sendiri merasa terpukul karena dikhianati oleh kedua orangtuanya yang sangat ia sayangi dan hormati. Hanya demi harta dan status yang sama mereka mengorbankan kebahagiaan putra kandungnya sendiri.


Mereka memandang bu Desi sebagai wanita yang cocok untuk pak Adi hanya karena status dan kekayaan keluarganya saja. Seandainya mereka tahu sifat dan kelakuan bu Desi yang sesungguhnya maka mereka akan merasa sangat malu karena saat itu bu Desi termasuk wanita yang tidak dapat menjaga kehormatannya. Sedang pak Adi terpaksa menikahi wanita itu karena nama baiknya yang sudah tercemar akibat kelakuan orangtuanya sendiri dan juga atas suruhan bu Rahma yang tak menginginkan pak Adi menjadi anak yang durhaka. Apa lagi kedua orangtua bu Desi juga memohon agar pak Adi dapat merubah sifat putri mereka itu.


Ternyata setelah pernikahan keduanya bu Desi mulai berubah tak lagi bergaul bebas dan hanya suka berbelanja saja. Itu sudah cukup membuat pak Adi perlahan mulai dapat menerimanya. Walau sesungguhnya ratu dihatinya tetaplah bu Rahma. Tapi kini sikap bu Desi yang arogan dan hendak memutuskan hubungan Wahyu dan Salma membuat pak Adi kembali teringat tentang kelakuan bu Desi dan kedua orangtuanya di masa lalu yang sangat menyakitinya itu.


Suasana yang panas membuat ruangan tempat mereka berkumpul menjadi hening. Bu Desi makin bertambah cemas karena kini bukan hanya masalah putranya saja yang harus ia fikirkan tapi juga masa lalunya dengan pak Adi kembali muncul.


"Sekarang mama tinggal pilih mengikuti aturan papa atau lebih baik kita jalan masing-masing saja" ucap pak Adi memecahkan keheningan.


Semua yang ada disana tampak terkejut dengan ucapan pak Adi termasuk Wahyu. Ia tak menyangka jika karena membelanya ayahnya memutuskan untuk berpisah dari ibunya.


"Pa... apa papa serius?" tanya Wahyu.


"Papa serius nak... sudah sejak lama papa membiarkan mama kamu bertindak seenaknya tanpa mau menuruti perkataan papa... dan kali ini adalah puncaknya..." terang pak Adi.


"Jika papa beneran pisah sama mama bagaimana dengan Gita pa? Gita ga mau papa sama mama pisah!" ucap Gita dengan air mata yang sudah menggenang disudut matanya.


"Semuanya itu tergantung pada mama kalian... papa hanya memberikan pilihan padanya sedang keputusannya tetap berada ditangan mama kalian" sahut pak Adi lalu berdiri dari duduknya dan berjalan ke arah kamarnya.


"Ma... kenapa mama ga nurut saja dengan perkataan papa?" tanya Gita yang benar-benar tidak ingin melihat kedua orangtuanya berpisah.

__ADS_1


"Jangan salahkan mama... ini semua gara-gara kakak kamu!" kata bu Desi yang tak mau disalahkan.


"Jika mama tidak menyuruh perempuan itu untuk mengganggu hubunganku dengan Salma maka aku juga tidak akan memberitahu pada papa" kata Wahyu.


"Kamu dan papa kamu memang sama... selalu tertarik dengan perempuan rendahan!" sungut bu Desi.


"Mama jangan menyebut Salma perempuan rendahan ma... dia perempuan baik-baik dan selalu menjaga kehormatannya... bukan seperti perempuan lain yang dengan mudah menyerahkan tubuhnya dengan alasan cinta apa lagi harta..." ungkap Wahyu.


Mendengar perkataan Wahyu seketika hati bu Desi mencelos... ia teringat dengan sikapnya yang dengan mudahnya menyerahkan kesuciannya pada lelaki yang dicintainya. Tapi ternyata setelah puas pria itu justru pergi meninggalkannya. Karena itulah akhirnya ia pun melakukan pergaulan bebas karena merasa tak lagi harus menjaga kehormatannya.


Tapi sejak kedua orangtuanya mengenalkannya pada pak Adi ia langsung jatuh cinta dan merasa bisa kembali hidup tenang menjadi wanita terhormat dikalangannya. Masa lalunya yang kelam tidak pernah diketahui oleh kedua mertuanya. Karena itulah mereka sangat menyayanginya bahkan sebelum ia resmi menikah dengan pak Adi. Bahkan mereka tega menghancurkan rencana pernikahan putra mereka sendiri dengan menjebak pak Adi dengan bu Desi dan mengirim foto tidak senonoh keduanya pada bu Rahma.


Jika dulu ia bisa mendapatkan pak Adi berkat bantuan dari kedua mertuanya maka kini ia tak tahu harus minta bantuan pada siapa lagi sebab sejak menikah, pak Adi tak mengijinkan bu Desi untuk sering menemui keduanya jika masih ingin menjadi istrinya. Mungkinkah itu karena pak Adi sudah tahu kebenarannya? bu Desi kini baru menyadarinya. Jika sekarang ia kembali meminta bantuan pada kedua mertuanya maka bukan tidak mungkin pak Adi akan langsung mengusirnya dari rumah dan menceraikannya.


Wahyu akhirnya juga keluar dari ruangan itu dan berniat kembali ke rumah pribadinya. Gita segera menyusul langkah kakaknya.


"Kak... maaf jika selama ini aku juga sudah bersikap tak pantas pada kak Salma..." ucap Gita tulus.


"Tidak apa-apa dek... kakak tahu kamu hanya belum mengenalnya saja... jadi kau salah faham padanya..." sahut Wahyu sambil mengelus kepala Gita.


"Kau tahu... baru kali ini kakak melihatmu tanpa make up berlebihan... dan itu membuatmu bertambah cantik..." sambung Wahyu.


"Terima kasih kak... ini karena papa yang menasehatiku..." terang Gita tersenyum.


"Ya... papa memang selalu tahu yang terbaik bagi kita anak-anaknya..."


"Kakak tidak menginap di sini?"


"Ga dek... kakak ga mau mama tambah marah kalau kakak ada di sini..."


Gita pun mengangguk pelan. Sudah sejak lama ia tidak pernah mengobrol lama seperti ini dengan kakak satu-satunya itu. Sebenarnya ia juga sangat ingin selalu seperti ini mengobrol bareng dengan Wahyu seperti saat ia kecil dulu.


"Tapi kalau kamu mau... kamu bisa menginap di rumah kakak..." ajak Wahyu.


"Bolehkah?"


"Tentu saja... kau kan adikku satu-satunya..."

__ADS_1


"Ok... kalau begitu aku minta izin dulu sama papa" kata Gita dengan wajah yang berseri.


Wahyu pun mengangguk dan membiarkan adiknya itu untuk menemui papanya terlebih dahulu.


__ADS_2