Jodoh Istri Kedua

Jodoh Istri Kedua
Rasa Setiap Hati


__ADS_3

Wahyu masih sibuk berkutat dengan pekerjaannya saat sekretarisnya mengatakan jika pak Alex datang dan ingin menemuinya. Wahyu langsung menghela nafasnya berat. Sungguh meski ia sudah mengetahui jika pria itu adalah ayah kandungnya namun ia tetap tidak merasakan adanya ikatan batin dengannya. Berbeda dengan pak Adi. Mungkin karena pria itulah yang membesarkannya membuatnya memiliki ikatan kuat bak ayah dan anak kandung.


"Bagaimana pak? apa anda mau menemui tuan Alex?" tanya sang sekretaris melalui sambungan telfon.


"Hemm... baiklah biarkan dia masuk..." jawab Wahyu akhirnya.


Wahyu kemudian bangkit dari kursinya dan berjalan menyambut pak Alex yang diantar masuk oleh sekretarisnya.


"Selamat datang pak... silahkan duduk" kata Wahyu dengan ramah.


Meski Wahyu tak begitu menyukai pria yang ada didepannya namun ia harus bersikap profesional dan menyembunyikan perasaannya.


"Kalau saya boleh tahu ada keperluan apa anda datang kemari?" tanya Wahyu sedikit bodoh.


"Tentu saja saya ingin membahas masalah kemarin... tentang tawaran saya itu..." kata Alex yang sedikit kesal dengan tingkah Wahyu yang terlihat bodoh dan tak menganggap penawarannya dengan serius.


"Oh itu... maaf tapi saya masih memikirkannya tuan..." ucap Wahyu.


"Apa anda tidak bisa bergerak lebih cepat? bukannya anda seorang pebisnis handal... sehingga anda pasti tahu jika tawaran seperti ini sangat jarang bisa anda dapatkan?" ujar pak Alex yang terlihat kesal dengan sikap Wahyu yang dianggapnya bertele-tele.


"Anda benar... tapi saya juga tidak bisa bertindak gegabah dengan langsung menerima penawaran anda tuan..." sahut Wahyu telak.


"Meski anda seorang pengusaha yang tersohor dan sukses diberbagai negara tapi saya tidak bisa begitu saja mempercayai anda karena saya baru mengenal pribadi anda..." sambung Wahyu.


Alex tampak tersenyum. Ternyata Wahyu bukan orang yang mudah tergoda dengan keuntungan instan.


"Saya mengerti... oleh karena itu bagaimana jika kita makan siang bersama agar kita bisa saling mengenal dan anda bisa mempercayai saya..."


"Mohon maaf pak Alex bukannya saya menolak... tapi siang ini saya akan pergi keluar kota..." tolak Wahyu halus.


"Apakah ada keperluan bisnis?" tanya pak Alex ingin tahu karena Wahyu lebih mementingkan keperluannya dari pada ajakannya.


"Bukan... saya hanya ingin memberikan kejutan pada istri saya yang sedang berada di rumah orangtuanya tuan..." sahut Wahyu sambil tersenyum.


"Oh rupanya tuan Wahyu ini tipe pria yang penyayang istri rupanya..." kata pak Alex sambil terkekeh.

__ADS_1


Wahyu hanya tersenyum mendengar perkataan pak Alex.


"Bukankah wajar jika saya menyayangi istri saya sendiri tuan..."


"Benar... benar sekali..." sahut pak Alex.


Keduanya pun akhirnya bisa berbincang akrab hingga tiba waktu makan siang. Sang sekretaris datang mengingatkan jika Wahyu akan berangkat menyusul Salma. Wahyu pun meminta maaf pada pak Alex karena tidak bisa melanjutkan perbincangan mereka. Alex pun memaklumi dan ia pun undur diri setelah sebelumnya memberikan undangan pertemuan di lain waktu. Keduanya bahkan keluar dari kantor Wahyu bersama.


Keduanya berpisah saat memasuki mobil mereka masing-masing. Setelah masuk ke dalam mobilnya Alex tersenyum senang karena ia sudah semakin dekat dengan Wahyu. Rasanya ia sudah tidak sabar untuk memberitahu pada pria itu bahwa dirinya adalah ayah kandungnya.


"Lihat saja Desi... anak kita akhirnya mulai dekat denganku... dan sebentar lagi dia akan menerimaku sebagai ayah kandungnya dan akan meninggalkanmu dan lelaki bodoh itu!" gumam pak Alex tersenyum puas.


Sementara Wahyu tengah fokus mengendarai mobilnya untuk menyusul Salma. Sepanjang perjalanan Wahyu tampak sangat bahagia membayangkan wajah terkejut istrinya saat pertemuan mereka nanti. Sungguh hati Wahyu sangat bahagia hingga ia melupakan masalah keluarganya dan juga pak Alex. Senyuman tak pernah lepas dari bibirnya. Bayangan wajah Salma yang merona saat menerima kejutannya membuat Wahyu tak sabar untuk segera sampai di rumah mertuanya itu.


Sedangkan di rumah kedua orangtuanya bu Desi tengah berbincang dengan kedua orangtuanya itu. Sejak kembali ke rumah orangtuanya bu Desi kembali menjaga kelakuannya agar tak lagi menimbulkan masalah. Ia juga mencoba membuktikan jika dirinya sudah mulai berubah meski ia masih enggan membahas pernikahan Wahyu dan Salma. Kedua orangtua bu Desi pun memakluminya karena menurut mereka semua perubahan tidak harus secepat membalikkan telapak tangan. Melihat sikap bu Desi yang berusaha berubah saja sudah membuat keduanya bahagia.


Lain dalam fikiran kedua orangtuanya, lain pula dalam fikiran bu Desi. Saat ini ia tengah menjalankan rencananya untuk memisahkan Wahyu dengan Salma juga menyingkirkan pak Alex. Untuk itu ia membutuhkan uang yang banyak agar bisa menjalankan rencananya. Dan bersikap patuh adalah salah satu cara untuk meraih kepercayaan kedua orangtuanya agar ia bisa mendapatkan apa yang ia mau. Seperti saat ini ia tengah mencoba untuk mendapatkan simpati agar ayahnya mau memberinya uang untuk memenuhi kebutuhannya.


"Pa... bisakah papa membantuku dengan memberiku dana untuk merintis usaha baruku?"


"Itu kan dulu pa... sekarang aku harus mulai belajar mandiri karena sebentar lagi mas Adi akan menceraikanku..." terang bu Desi dengan wajah sendu.


"Bukannya papa melarang atau tidak percaya padamu untuk memberikan bantuan dana... tapi apa tidak lebih baik kau ikut papa ke kantor dan mulai belajar mengurus perusahaan papa?"


"Tapi pa... apa ini tidak sudah sedikit terlambat untuk aku membantu bisnis papa?" ujar bu Desi mencoba bernegosiasi.


"Tentu saja tidak sayang... lagi pula kau hanya akan mengawasi... semuanya orang kepercayaan papa yang akan mengerjakan semuanya..." terang pak Danu.


"Hemm... baiklah jika itu menurut papa yang terbaik..." sahut bu Desi menurut.


"Baiklah... setidaknya setiap bulan papa pasti akan memberiku gaji sehingga aku mendapatkan pemasukan dari pada tidak sama sekali..." batin bu Desi.


Lain lagi dengan pak Adi...


Saat ini dia tengah kebingungan karena tengah merasakan rindu pada bu Rahma. Wanita yang sejak dulu telah bertahta di dalam hatinya. Meski sejak menikahi bu Desi ia telah mencoba untuk melupakan wanita yang menjadi cinta pertamanya itu namun tak dapat dipungkiri jika jauh di dalam lubuk hatinya ada ruang tersembunyi yang menyimpan nama bu Rahma. Dan kini saat dirinya bertemu kembali dengan wanita itu rasa yang sekian lama ia usahakan untuk dihilangkan malah tumbuh kembali dengan subur. Apa lagi kenyataan jika pernikahannya dengan bu Desi yang akan segera berakhir, membuat pak Adi semakin berharap jika ia dapat kembali berjodoh dengan wanita ayu yang sederhana itu.

__ADS_1


Kepergian bu Rahma kembali ke rumahnya setelah pernikahan Wahyu dan Salma membuatnya merasakan kerinduan mendalam karena tak lagi bisa bertemu dengan pujaan hatinya itu. Meski begitu ia mencoba untuk menahannya. Tapi tidak hari ini... Wahyu yang tadi pagi berpamitan padanya jika ia akan menyusul Salma membuat pria paru baya itu kembali dalam dilema. Di satu sisi ia ingin seperti Wahyu dengan menyusul bu Rahma. Namun disisi lain ia juga harus menjaga perasaan putrinya Gita. Karena walau bagaimana pun bu Desi adalah ibu kandungnya sebesar apa pun kesalahannya. Pak Adi tidak bisa dengan seenaknya menggantikan posisi bu Desi dengan bu Rahma. Apalagi dalam waktu yang sangat singkat.


Saat tengah berperang dengan hatinya tiba-tiba pintu ruangannya diketuk dari luar. Saat pak Adi mempersilahkan masuk ternyata putrinya Gita yang datang. Seolah tengah ikut merasakan kegundahan ayahnya gadis itu sengaja mendatangi kantor ayahnya setelah pulang kuliah.


"Siang pa..." sapanya lembut.


"Siang sayang..." sambut pak Adi langsung bangkit dari duduknya dan menghampiri Gita lalu memeluk gadis itu erat.


"Papa kenapa? kelihatannya suntuk sekali..." ucap gadis itu setelah melepaskan pelukannya.


"Ga pa-pa kok sayang... hanya lelah saja karena pekerjaan hari ini cukup banyak..." elak pak Adi sambil tersenyum.


"Hemm... benarkah? apa tidak ada yang papa sembunyikan dariku?" berondong Gita sambil menaik turunkan alisnya.


"Apa maksud kamu sayang?"


"Hemm... mungkin saja papa sedang merindukan seseorang... seperti kak Wahyu saat ini..." sambung Gita.


"Apa sayang? papa benar-benar tidak mengerti maksud dari perkataanmu tadi..."


"Benarkah? atau papa hanya pura-pura tidak mengerti saja..."


"Sayang..."


"Baiklah kalau papa tidak mau mengaku... kalau begitu aku tidak jadi mengajak papa ke rumah bu Rahma karena sebenarnya aku akan menyusul kak Wahyu dan kak Salma kesana..." ucap Gita sambil mengerling ke arah papanya.


"A... apa?" tanya pak Adi terkejut.


"Ya... aku ingin menyusul kak Wahyu dan kak Salma mumpung besok weekend dan aku ingin sekali jalan-jalan ke sana..." kata Gita sambil tersenyum simpul melihat tingkah papanya yang bagai ABG labil yang tengah jatuh cinta dan sedang menutupi perasaannya.


Ya Gita memang sudah mengetahui masa lalu ketiga orang dewasa itu. Dari mana ia tahu? Gita tahu saat di rumah sakit ia tak sengaja mendengar perdebatan mamanya dengan bu Rahma. Saat itu ia tengah ingin menjenguk Salma sendiri namun akhirnya ia urungkan saat mendengar perdebatan mamanya yang mengungkap masa lalu kedua orangtuanya itu dengan bu Rahma. Sebenarnya saat mendengar kenyataan jika dulu sebelum menikah dengan mamanya pak Adi sudah hampir menikah dengan bu Rahma namun batal akibat perbuatan mamanya dan kedua orangtua pak Adi yang notabene adalah kakek dan neneknya sendiri.


Untung saja saat itu tidak ada yang menyadari kehadirannya disana. Hingga ia memendam semua yang ia ketahui sendiri. Rasa tidak rela jika sesungguhnya papanya masih menyimpan rasa pada mertua kakaknya itu perlahan sirna saat ia menyadari jika semua kesalahan berasal dari mamanya sendiri. Kini ia juga menyadari jika kedua orangtuanya akan lebih bahagia dengan menjalani hidupnya masing-masing. Dan untuk papanya ia sudah rela jika pria itu kembali pada bu Rahma. Sedangkan untuk mamanya ia juga berharap agar wanita yang telah melahirkannya itu juga bisa menemukan kebahagiaan meski bukan dengan papanya.


Karena itulah saat ini ia ingin menyatukan papanya dengan bu Rahma. Toh ia juga tahu jika wanita itu adalah wanita baik-baik. Terbukti dengan wanita itu yang selalu menolak papanya karena yang masih berstatus suami orang. Dia juga tak pernah meminta papanya untuk berpisah dengan mamanya. Justru wanita itu menyuruh papanya untuk tetap mempertahankan pernikahannya meski mamanya melakukan hal buruk padanya. Ia tipe wanita yang tak bisa bahagia diatas penderitaan orang lain. Dan justru sebaliknya ia malah rela menderita demi kebahagiaan orang lain.

__ADS_1


__ADS_2