JODOHKU..

JODOHKU..
BERTEMU


__ADS_3

Setelah mendengar semua penjelasan dari Rudi, hati Adi bagaikan tersambar petir. Betapa menyesalnya dia karena tak ingin mempercayaiku dan tak mau mendengarkan pejelasan dariku. Tubuhnya terasa lemas setiap saat mengingat apa yang telah dia lakukan. Rasa menyesalnya kini selalu datang menghantuinya.


Hari demi hari dia jalani dengan perasaan bersalahnya. "Apakah Vina mau memaafkan aku?" Katanya dalam hati. Setiap malam dia slalu tak bisa memejamkan mata karna pikirannya slalu tertuju padaku. Adi slalu mencoba menghubungiku tapi aku tak ingin meresponnya. Bagiku semua sudah tidak ada gunanya lagi. Aku berpikir jika dia memang ingin mendengarkan penjelasanku, dia pasti akan datang menemui aku langsung. Tidak seperti ini.


Suatu hari, tepatnya siang jam 10.37WIB, disaat aku terbaring di Rumah sakit untuk istirahat, dan kebetulan Rudi sedang bekerja pada saat itu. Aku melihat ada seseorang masuk ke ruangan dimana aku di rawat. Aku sangat mengenal orang itu. Aku terkejut melihat dia berdiri di balik pintu dengan mata menunjukkan kesedihannya. Aku bingung saat itu, Tak hentinya aku menatap dia tanpa kata. Rasa tak percayapun ada di hatiku. Banyak pertanyaanpun muncul. "bagaimana dia tau aku ada disisni? Untuk apa dia disisni? Ada urusan apa dia menemuiku?"


Adi berjalan mendekat. Semakin jelas raut wajah sedihnya. "Ada apa dengan dia?" tanyaku dalam hati.


"Vin, maafin aku. Selama ini mungkin aku nsudah menyakitimu. Dan maaf aku sudah membuatmu seperti ini. Kalau saja waktu itu aku mau mendengarkan penjelasanmu, semua tak akan seperti ini. Aku sangat menyesal setelah tau semuanya. mungkin aku tak pantas untuk di maafkan tapi aku mohon kamu maafin semua kebodohan aku ini." kata Adi menjelaskan rasa penyesalannya.


Aku diam hanya menatapnya, dengan sejuta kebingungan yang ada dihatiku. Tak terasa aku meneteskan air mata. Entah itu perasaan lega karena dia akhirnya tau, atau rasa sakit karena rasa kecewaku. Aku hanya memalingkan wajah darinya. menunjukkan rasa kecewaku yang begitu besar kepadanya. TAk ingin menjawab semua yang dikatakannya.


"Vin maafin aku. Aku tau kamu kecewa." Lanjutnya.


"Lebih baik kamu pergi. Aku belum siap bertemu sama kamu." Usirku, karena aku tak ingin melihatnya.

__ADS_1


"Tapi Vin ..."


"Pergi!!!". Teriakku padanya karena tak mau mendengarkanku.


Rasa kecewaku yang amat besar membuatku tak ingin bertemu dengannya. Lukaku yang hampir sembuh kini tergores kembali karena kedatangannya yang tak lagi aku harapkan. Aku menangis sesegukan karena merasakan sakit yang amat dalam.


Sampai waktu Rudi pulang kerja, Dia melihat mataku sembab. Dia bergegas mendekatiku karena rasa khawatirnya. Aku masih terlihat begitu menyedihkan.


"Kamu kenapa?" Tanyan Rudi penasaran dengan apa yang membuatku seperti ini.


Dia tak lagi bertanya padaku. Dia hanya memelukku seakan dia tau rasa sakit yang aku rasakan saat itu. Dia hanya menunggu aku tenang dan menceritakannya sendiri padanya.


Beberapa saat aku dipeluknya, setelah aku m erasa lebih tenang dia melepaskan pelukannya denga kedua tangan berada dibahuku. Dia hanya diam dengan mata menatapku, aku balik menatapnya.


"Dia (Adi) tadi datang menemuiku. Dia meminta maaf kepadaku. Dan dia mengatakan bahwa dia menyesal karena tak mendengarkanku waktu itu. Apakah aku terlihat begitu menyedihkan? Dia tak tau betapa kecewanya aku karna seseorang yang sangat aku cintai dan aku percaya justru sebaliknya kepadaku?" Kataku menceritakan kepada Rudi tentang kedatangan Adi.

__ADS_1


"Apa yang harus aku lakukan? Bagaimana aku harus menghadapi dia?" Lanjutku


"Maafkan aku, karena aku yang sudah sengaja memberi tahu Adi tentang semua yang terjadi. Karena aku tau kalian berdua saling mencintai. Dan aku tak ingin kalian berpisah hanya karena salah paham dengan kedatanganku." Kata Rudi meminta maaf


Aku hanya dia dan tetap menangis. Rudi memegang tanganku dan selalu mengatakan bahwa dia menta maaf. Aku memaafkannya, Karena aku tau dia yang paling mengerti aku dan terduli terhadapku. DIa tersenyum kepadaku, aku balik tersenyum padanya.


"Udah ahh jangan nangis lagi, kamu tambah jelek." Kata Rudi mengejekku sambil mengusap air mataku.


"Emangnya aku jelek ya?" Tanyaku sambil tersenyum


"Iya. Soalnya aku hobi nangis sih jadi di takdirin jelek." Canda Rudi.


"Kamu jahat". Kataku sambil mencubit perutnya dengan keras.


"Aduh aduh sakiit." Teriak Rudi kesakitan tapi aku tak memperdulikan teriakannya.

__ADS_1


Akhirnya hari itu aku bisa tersenyum berkat Rudi. Kalau bukan karna dia mungkin aku tak akan sekuat ini.


__ADS_2