JODOHKU..

JODOHKU..
HIDUP DAMAI


__ADS_3

Empat tahun kemudian..


"Sayang! Kamu tidak berencana memberi adik buat Celine? Biat dia punya teman bermain." Tanya Adi.


Pertanyaannya mengejutkanku. Baru semalam aku dan Adi melakukan hal selayaknya suami istri, dan sekarang pagi pagi baru saja bangun sudah menyerangku dengan pertanyaan yang sulit aku percaya.


"Kenapa memangnya?" Tanyaku tak mengerti.


"Kalau kamu setuju kan kita bisa lebih sering melakukannya." Goda Adi.


"Dasar kamu! Jangan terlalu berterus terang." Kataku meneriakkinya.


"Kamu malu ya?" Kata Adi dengan senyum menggoda.


"Enggak!" Kataku beranjak meninggalkannya. Agar tak menggodaku lagi.


"Sayang! Aku serius!" Kata Adi.


Tangannya mencoba meraihku tapi gagal.


"Aku nggak dengar dan nggak mau dengar!" Kataku.

__ADS_1


Aku berlari menuju kamar mandi. Wajahku memerah, merasa sangat malu karena Adi seterus terang itu. Aku menenangkan hatiku sendiri.


Setelah selesai mandi aku keluar dari kamar mandi.


"Sayaaaaaang!" Panggil Adi yang masih diatas tempat tidur.


"Aku mau masak dulu sudah pagi." Kataku berjalan keluar kamar.


"Ya elah." Kata Adi sedikit kecewa.


"Kamu jaga Celine dulu disinu." Suruhku.


Memang saat ini usia Celine sudah hampir 4 tahun. Tahun demi tahun tak terasa kini sudah berlalu. Dan kami sudah mulai terbiasa tanpa kehadiran Ibu mertua, meski terkadang Adi atau Bapak melamun sedih saat mengingatnya.


Adi sekarang juga sama sekali tidak berkomunikasi dengan Rudi. Tetapi pemahaman Adi berbeda. Menurutnya, mereka tak berkomunikasi lagi karena Rudi yang sibuk dengan usahanya. Dan ku membiarkan pemahaman itu berlanjut.


Setelah sarapan sudah siap, aku memanggil Bapak dan Adi untuk pergi makan.


"Bapak! Sarapannya sudah siap. Bapak sarapan dulu ya sebelum pergi bekerja." Panggilku dari balik pintu kamar Bapak.


"Iya Nak." Jawab Bapak.

__ADS_1


Aku dan Adi sudah berulangkali menyuruh Bapak untuk berhenti bekerja, tetapi jawabannya selalu sama. "Jika Bapak berhenti bekerja, Bapak mau ngapain dirumah? Bapak sudah terbiasa bekerja. Sudah kalian jangan menkhawatirkan Bapak." Selalu jawaban itu yang dilontarkan. Aku dan Adi cuma bisa mengalah dan tak melarangnya lagi.


Aku berjalan menuju kamarku dan Adi.


(Membuka pintu)


"Sayang sarapannya sudah siap. Sarapan dulu gih. Biar gantian aku yang jaga si kecil." Kataku menyuruh Adi untuk pergi sarapan.


Adi tak menjawab, hanya berjalan mendekatiku. Kedua tangannya tiba tiba memegang wajahku. Wajahnya didekatkan kewajahku. Dia mencium bibirku dengan lembut. Dia menurunkan kedua tangannya kepundakku dan aku menyadari itu. Aku melepaskan ciumannya.


"Sayang! Kalau kamu tidak pergi sarapan sekarang, kamu akan terlambat bekerja." Kataku memperingatinya.


"Iya deh." Jawab Adi lesu


"Bagaimana kamu akan bekerja kalau kamu selesu ini." Kataku dengan senyum menggodanya.


"Awas kamu." Ancam Adi.


Adi berbalik dan pergi sarapan. Aku hanya tertawa mendengar ancamannya.


Bapak dan Adi sarapan bersama. Setelah selesai sarapan, Mereka pergi bekerja.

__ADS_1


Dan setelah mereka berdua berangkat, sudah waktunya melakukan pekerjaan yang oling melelahkan. Mengurus rumah. Aku membersihkan setiap ruangan sendiri.


Setelah selesi membersihkan rumah, aku melihat jam didinding. Sudah jam 09.00 WIB. Aku memandikan sikecil dan menyuapinya untuk makan. Setelah selesai makan, aku menemaninya bermaib sebentar dan menyuruhnya tidur siang. Disaat sikecil tidurlah akhirnya aku bisa beristirahat.


__ADS_2