
Dua minggu telah berlalu, masa cutiku sudah habis. Besok aku harus kembali bekerja seperti biasa. Tapi pendapat Adi berbeda kali ini. Setelah makan malam Adi berbicara kepadaku dengan serius.
"Sayang, Kamu di rumah aja ya. Biar aku yang kerja. Lagian jarak kerja kamu sama kerja aku itu jauh. Jadi, mulai sekarang kamu di rumah aja ya nemenin Ibu." Kata Suamiku Adi
Aku hanya bengong tak tau apa maksud Adi berkata seperti ini. Aku gak boleh bekerja? Lalu apa yang akan aku lakukan di rumah? Aku bingung dengan jawaban yang akan aku berikan kepada suamiku itu.
"Aku mau ngapain di rumah?" Tanyaku bingung dengan apa yang akan aku lakukan.
"Udah kamu nemenin Ibu aja di rumah. Gak usah bekerja. Biar aku yang kerja." Kata Suamiku menjelaskan
"Tapi aku pasti bosan di rumah gak punya kerjaan. Aku sudah terbiasa bekerja. Lagian kan aku bisa bantu sedikit ekonomi keluarga." Kataku menolak.
Tapi Adi tetap bersi keras tak ingin ku berkerja.
"Kamu itu sekarang udah jadi tanggung jawab aku. Jadi kamu mulai sekarang di rumah saja nemenin Ibu." Jelas Suamiku tetap tak ingin aku bekerja
"Tapi yang...." Aku belum selesai bicara, Adi sudag memotong bicaraku.
"Udah ya,, keputusan aku udah bulat dan aku gak mau berdebat dengan kamu." Kata Adi dengan tegas tanda pembahasan sudah selesai.
Tiba tiba Ibu dan Bapak Mertuaku datang, karena mendengar kami berdua berdebat.
__ADS_1
"Ada apa sih ini? Ramau banget berdebatnya?" Tanya Ibu mertuaku
"Iya. Kalian pengantin baru udah debat aja." Kata Bapak Martuaku
"Ini nih Bu Pak,, Menantu Bapak Ibu gak bisa di kasih tau, aku suruh tinggal di rumah aja gak usah bekerja ngeyel. Kan sekarang udah jadi tanggung jawab Aku menafkahi dia. Lagian kan jarak aku dan Vina kerja itu jauh." Kata Adi menjelaskan kepada orang tuanya.
Bapak dan Ibu Adi hanya tersenyum setelah tau alasan kenapa kamu berdua berdebat.
"Bener loh Vin kata Adi. Kamu sebaiknya di rumah. Sebagai suami yang baik memang harus begitu. Bapak dulu setelah menikah sama Ibu sampai sekarang tak pernah membiarkan Ibu bekerja. Karna nafkah istri itu sudah jadi kewajiban suami." Terang Bapak
Ibu mertuaku hanya tersenyum senyum sendiri mendengar Bapak berkata seperti itu. Mungkin karena sedikit malu sama aku.
Ibu hanya tersenyum ke arahku dan menganggukkan kepalanya. Aku sekarang mengerti ternyata ras tanggung jawab Adi itu keturunan dari Bapaknya. Mendengar penjelasan Bapak, aku nurut sama keputusan Adi. Aku hanya akan tinggal di rumah menemani Ibu mertuaku. Lagian kasian juga Ibu mertuaku di rimah sendirian.
"Ya sudah aku bakalan nurut sama suamiku, sama seperti Ibu." Kataku sambil tersenyum lebar.
Merekapun ikut tersenyum dengan lega karena aku nurut kepada Adi.
Pagi harinya aku di temani suamiku pergi ke tempat aku bekerja untuk berpamitan. Aku berpamitan dengan managerku dan juga teman temanku. Air mataku menetes ketika aku berpamitan dengab mereka. Merekapun menangis begitu juga Laras.
"Aky pamit ya temen temen, maafin aku ya kalau selama ini aku banyak salah ama kalian. Aku gak akan pernah lupa ama kalian. Dan terima kasih sudah mengajariku tebtang banyak hal." Pamitku kepada mereka..
__ADS_1
Mereka tak mengucapkan sepatah katapun. Mereka mengekspresika kesedihan mereka dengan menangis di pelukanku. Setelah selesai pamit, aku pergi dengab melambaikan tanganku ke arah mereka. Mereka membalas dengan lambaian tangan juga.
Di perjalanan pulang ku masih menangis, merasakan sedih karena harus berpisah dengan mereka. Sebelum pulang aku dan Adi pergi ke tempat Rudi bekerja untuk berpamitan kepadanya.
"hei." Sapaku melambaikan tangan ke arah Rudi dari kejauhan
"Hei" Balas Rudi melambaikan tangannya juga.. Rudi mendekatiku.
"Ada apa? Tumben kesini berdua?" Tanya Rudi penasaran.
"Aku mau pamit. Mungkin akan lebih jarang ketemu sekarang kita. Aku berhenti bekerja disini." Terangku
"Main lah bro ke rumahku kalau lagi libur." Suruh Adi
"Ehm. Ya baik baik ya kalian disana. Kalo ada libur sesekali aku akan main ketempat kalian. Kita kan tetap sahabat." Kata Rudi dengan senyum
"Ya sudh ku pamit dulu ya. Ntar kamu malah di marahin sama manager kmu." Pamitku sembari melambaikan tangan ke arah Rudi
Rudi hanya tersenyum dan membalas lambaian tanganku.
Aku pulang ke rumah dan beristirahat karena perjalanan yang lumayan jauh. Aku dan Adi tidur selama setengah jam, dan aku terbangun setelah mendengar panggilan Ibu memanggilku. Ibu menyuruh aku dan Adi untuk makan dulu. Aku membangunkan Adi untuk makan bersama. Keharmonisan keluarga selalu menjadi prioritas utama dalam keluarga Adi. Hari hari seperti inilah yang aku jalani di keluarga Adi setiap harinya.
__ADS_1