
Hari yang aku nantikan telah tiba. Hari ini adalah hari dimana keluarga Adi akan datang ke rumahku untuk membicarakan kelanjutan hubungan antara aku dan Adi. Keluarga besarku kumpul di rumahku dan mempersiapkan hidangan untuk menjamu keluarga Adi. Setelah selesai menyiapkan segala sesuatunya, kami sekeluarga duduk menunggu kedatangan keluarga Adi.
Tepat pukul 10.00 siang, Adi beserta keluarganya tiba di rumahku. Keluargaku menyambut mereka dengan senyuman bahagia. Kamipun saling bersalaman dan mempersilahkan duduk. Kami kemudian menyajikan minuman dan makanan ringan. Setelah semua tersaji, paman Adi mulai membuka berbicara. Paman Adi menyampaikan tujuan keluarga Adi datang ke rumahku.
"Assalamu'alaikum wr wb. Sebelumnya saya mengucapkan terima kasih sudah memberikan ijin kepada saya untuk mewakili keluarga Bapak Rahmad. Tujuan kami hari ini datang kesini mau melamar anak Bapak Sholeh dan Ibu Fatma yang bernama Vina, untuk saudara Adi Nugroho. Apakah Bapak dan Ibu merestui hubungan mereka? Dan apakah Saudari Vina bersedia?" Kata Paman Adi menjelaskan maksud kedatangan mereka.
"Kami sekeluarga menyetujuinya." Kata Bapakku
"Bagaimana dengan saudari Vina? Bersedia?" Kata Paman Adi kepadaku.
"Bersedia." Jawabku sambil tersenyum.
"Karena semua pihak keluarga menyetujuinya, dan Saudari Vina sendiri telah bersedia, marilah kita lanjut dengan membahas pelaksanaan acara pernikahan mereka." Kata Paman Adi mewakili keluarga Adi.
"Menurut Bapak/Ibu lebih baik acara pernikahan di adakan kapan?" Tanya Paman Adi kepada keluarga Adi dan keluargaku.
__ADS_1
"Kapan saja kami nurut pak, asal jangan lama lama. Pamali soalnya kalau udah ada acara lamaran tapi masih lama. Takut terjadi apa apa." Kata Bapakku mewakili keluargaku.
"Oh benar, lebih baik jangan lama lama." Sahut pamanku
"Bagaimana awal tahun depan?" Usul Tante Adi
"Ini Bulan september. Bagaimana kalau februari atau Maret?" Kata Pamanku
"Bagaimana Bapak/Ibu? Setuju?" Tanya paman Adi
Aku hanya melongo dan berfikir "secepat itukah? Aku akan jadi seorang istri?". Kataku dalam hati. Aku sedikit tak percaya akan secepat ini. Dan tak aku sangka semua berjalan selancar ini. Bahagiaku satu per satu datang menghampiriku. Sampai aku lupa bagaimana cara untuk bersedih.
"Kalau soal tanggal kita tentukan di lain waktu. Biar di bicarakan Bapak sholeh dan keluarga terlebih dahulu." Kata Paman Adi
"Akhirnya semua sudah selesai di bahas. Keluarga sudah menentukan dan semua sudah setuju. Terima kasih sudah menyambut kami dengan baik. Jika ada kesalahan dalam ucapan saya minta maaf yang sebesar besarnya. Cukup sekian Wassalamu'alaikum wr wb." Lanjut Paman Adi mengakhiri acara.
__ADS_1
Kami melanjutkan makan makan bersama keluarga besarku dan keluarga besar Adi. Setelah selesai makan, kami berbincang bincang, bercanda tawa dengan keluarga besar aku dan Adi. Jam menunjukkan pukul 12.30 siang, keluarga Adipun berpamitan untuk pulang karena acara sudah selesai.
"Karena Acara sudah selesai, kami sekeluarga pamit pulang. Terima kasih atas jamuan yang Bapak/Ibu berikan." Kata Paman Adi berpamitan pulang.
"Kami juga berterima kasih kepada Bapak/Ibu telah bersedia datang ke gubuk kami." Kata Pamanku yang mewakili keluargaku.
Keluargaku berdiri dan bersalaman dengan keluarga Adi. Keluarga Adipun pulang. Dan aku masih tak percaya dengan semua ini. "Apakah semua ini mimpi?" Tanyaku dalam hati tak mempercayai semua ini. Aku tersenyum sendiri saat itu tanpa aku sadari.
"Ciiie yang bentar lagi nikah, senyum senyum sendiri kayak orang gila." Goda keponakanku.
Aku hanya tertawa dan mencubit lengannya. Karena aku tak tau mau ngomongt apa. Bahagiaku tak mampu membuatku berkata kata saat ini. Hanya rasa ingin terus tersenyum tanpa ingin menjelaskan kepada orang lain betapa bahagianya aku hari ini.
Aku membantu keluargaku membereskan rumah. Memindahkan semua sisa makanan dan piring ke dapur. Setelah selesai aku pamit kepada Ibuku untuk istirahat di kamar. Setelah Ibuku mengiyaniku, aku beranjak pergi ke kamar. Aku tiduran dan beristirahat. Setiap ingat yang terjadi hari ini, seakan aku tak percaya. Aku merasa bingung ini semua nyata atau hanya sekedar mimpi dalam tidurku. Aku mencoba mencubit pipiku, akupun mengerang kesakitan. Ternyata ini bukanlah mimpi, ini nyata.
Tuhan melancarkan jalanku saat ini. Dan semoga tetap melancarkan jalanku untuk kedepannya. Aamiin.
__ADS_1