
"Ayo berangkat." Ajak Rudi.
Rudi mengajakku berangkat periksa kandungan ke dokter spesialis kandungan.
"Sebentar aku pamit suamiku dulu." Kataku.
Rudi mengangguk tanda mengiyakannya. Aku beranjak menuju kamar untuk berpamitan dengan Adi.
"Sayang aku berangkat periksa perkembangan anak kita dulu ya." Kataku membuka pintu.
Aku terkejut dan teriak histeris melihat Adi tergeletak dilantai tak sadarkan diri.
"Aaaaaa.. Sayang kamu kenapa?" Teriakku.
Aku berlari kearah Adi dan mencoba membangunkannya. Tapi dia tak kunjung bangun. Tak terasa airmataku bercucuran keluar mengalir dipipiku.
Mendengar teriakanku, Rudi berlari kearahku untuk melihat apa yang terjadi. Rudi juga berusaha membangunkan Adi tapi ak kunjung bangun.
"Ayo kita bawa Adi ke Rumah Sakit." Ajak Rudi
Aku hanya mengangguk tak bisa mengatakan apapun. Hanya menyetujui apa yang terbaik. Setelah aku menyetujuinya, Rudi menelepon taksi dan aku mencari orangtuaku dan ibu mertuaku. Mereka sedang ngobrol dihalaman belakang rumah.
"Pak, Bu Adi pingsan." Kataku sambil menangis.
Tanpa menjawab, mereka langsung pergi kekamarku untuk melihat keadaan Adi. Setelah taksi datang, Rudi mengangkat Adi dibantu oleh Bapak. Ibuku dan Ibu mertuaku menunggu dirumah. Sedangkan Bapak dan Rudi menemaniku ke Rumah Sakit.
Sampai di Rumah Sakit, Adi langsung ditangani oleh dokter yang kemarin bertanggungjawab menanganinya waktu kecelakaan. Setelah beberapa saat menunggu, dokter tersebut keluar ruangan.
"Bagaimana Dok? Bagaimana keadaan Adi?" Tanya Rudi.
Aku hanya duduk dan menangis tak berdaya.
"Dia tidak apa apa. Dia hanya butuh beristirahat. Mungkin kemarin benturan dikepalanya terlalu keras jadi dia akan sering merasakan pusing. Karena kondisinya belum normal." Terang Dr Johan.
"Apakah kami sudah bisa menengoknya?" Tanya Bapak.
"Iya, boleh. Tapi hanya satu orang saja dan jngan lama lama karena pasien butuh istirahat." Terang Dr Johan.
"Oh ya. Terimakasih Dokter." Kata Bapak.
__ADS_1
Setelah Dr. Johan pergi, Rudi menghampirilu dan menenangkan aku. Rudi duduk disampingku dan memelukku.
"Hei hei berhenti menangis, dan dengerin aku. Tenangin diri kamu baru aku mau bicara." Kata Rudi.
Aku hanya mengangguk dan kemudia Rudi menghapus airmataku agar aku berhenti menangis.
"Dengerin aku, Adi nggak apa apa. Dia hanya butuh beristirahat. Dokter tadi bilang, selama kondisinya belum normal Adi akan sering merasa pusing karena benturan dikepalanya saat kecelakaan kemarin mungkin terlalu keras. Tapi dia akan baik baik saja." Terang Rudi.
Mendengar pa yang dikatakan Rudi aku merasa lega dan lebih tenang.
"Aku sudah boleh menjenguk suamiku?" Tanyaku kepada Rudi.
"Iya. Tapi Dokter bilang jangan lama lama. Karena Adi masih butuh istirahat." Jelas Rudi.
Aku hanya mengangguk tak menjawab dengan kata kata.
"Setelah kamu menjenguknya, kita sekalian pergi buat periksa kandungan kamu." Kata Rudi.
"Iya." Jawabku.
Aku pergi menuju keruangan dimana Adi dirawat saat ini. Perasaan tak karuan menyelimuti hatiku. Rasa takut, gelisah, sedih dan skit bercampur aduk menjadi satu. Aku tak tega jika harus melihat suamiku terus seperti ini. Aku hanya berharap semoga cepat sembuh dan semua kembali normal.
Aku membuka pintu ruangan dengan penuh rasa takut. Untuk kedua kalinya aku melihat suamiku berbujur lemah tak berdaya di Rumah Sakit yang sama. Hatiku terasa sakit bukan main saat melihatnya begitu tak berdaya. Suami yang selalu membuatku terata dengan cerianya, kini berada diposisi tak sadarkan diri.
"Sayang, jangan membuatku takut. Temani aku ceria lagi. Kamu harus cepat sembuh. Kamu harus tetap sehat. Aku yakin kmu pasti kuat menghadapi semua ini." Kataku lirih.
Akupun merasa tak berdaya melihat suamiku yang tak sadarkan diri. Aku hanya terdiam menemaninya diruangan yang begitu sepi. Aku terus menggenggam tangannya, dan terus berharap dia segera membuka matanya.
Beberapa saat kemudian, Rudi membuka pintu dan mengajakku keluar. Aku sempat menolaknya.
"Aku mau menemani suamiku disini. Aku tidak akan mengganggunya." Kataku tetap menangis.
"Kamu ingat kan tadi apa kata Dokter? Boleh jenguk tapi jangan lama lama. Adi butuh istirahat. Bagaimana kamu tidak ganggu? Kamu nangis terus terusan begini. Ayo keluar dulu. Nanti kita jenguk dia lagi. Biarkan dia istirahat fulu." Terang Adi kepadaku tapi ku tetap ingin berada disamping Adi.
"Aku janji, aku nggak akan nangis lagi, tapi biakan aku disini menunggu suamiku." Kataku memohon kepada Rudi agar tetap mengijinkan aku disini menemani Adi.
"Enggak. Biarkan Adi istirahat dulu. Kita keluar dulu. Ayo." Kata Rudi menarikku keluar dan duduk diruang tunggu.
Rudi memelukku dan terus menenangkanku yang tak berhenti menangis.
__ADS_1
"Nanti kalau Adi sudah sadar baru kamu temani dia sepuas hatimu. Untuk saat ini dia butuh istirahat, jadi biarkan dia sendiri. Dan kmu tenangkan diri kamu, kasian anak yang ada dikandungan kamu. Bagaimana besok kata Adi kalau sampai terjadi apa apa dengan kandungan kamu kalau kamu tidak menjaganya? " Kata Rudi.
Aku hanya mengangguk dalam pelukannya.
"Sudah berhenti menangis." Kata Rudi melepaskan pelukannya dan menhapus airmataku.
"Makasih ya. Kalau tidak ada kamu aku nggk tau harus bagaimana." Kataku tersenyum kepada Rudi.
"Bapak, Bapak pulang dulu nggk apa apa. Biar aku yang jaga Mas Adi." Kataku kepada Bapakku.
"Kamu nggk apa apa disini?" Tanya Bapak.
"Tidak apa apa Pak. Lagian kan ada Rudi yang menemani ku disini. Aku baik baik saja." Kataku meyakinkan Bapak.
"Ya sudah Bapak pulang dulu ya. Kalau ada apa apa segera telepon Bapak." Kata Bapak.
"Nak, Om minta tolong, tolong jagain Vina ya. Tolong tenngkan dia." Kata Bapak menitipkanku kepada Rudi.
"Iya Om, saya akan jaga Vina." Kata Rudi tersenyum.
Bapak pulang. Aku dan Rudi teta menunggu diruang tunggu. Rudi beranjak pergi entah kemana meningglkan ku sendiri. Beberapa sat kemudian dia datang dengan membawa dua botol air minum serta dua potong roti ditangannya.
"Ini kamu minum dulu." Kata Rudi menyodorkan satu botol minuman kearahku. Aku sempat menolaknya, tapi dia tetap memaksaku. Aku terpaksa menurutinya.
Rudi selalu menenangkanku. Dia selalu saja membuatku nyaman. Sama seperti waktu ku kenal pertama kali dengannya.
"Rudi, terimakasih ya kamu sudah menemaniku selama Adi sakit." Kataku berterimakasih.
"Iya tidak apa apa. Aku senang kok bisa bantu kamu." Kata Rudi.
"Oh iya kamu nggak kerja? Kenapa setiap hari kamu bisa menemani aku? Apa aku yang egois selalu menahanmu ya?" Tanyaku hampir lupa dengan pekerjaannya.
Kamu tenng saja, aku sekarang sudah buka usaha kecil kecilan sendiri. Makanya aku bis selalu menemani kamu disini. Ada karyawan yang menunggu, kamu tenang saja." Kata Rudi menjelaskan.
"Oh ya? Sejak kapan? Kenapa kamu gak pernah cerita?" Tanyaku.
"Belum lama ini sih. Kamu nggak pernah tanya. Jadi ku nggak cerita, lagian sejak kamu menikah kita jadi jarang bertemu. Jadi ku juga tidak bisa cerita." Terang Rudi
"Maafin aku ya." Kataku.
__ADS_1
"Kenapa kmu minta maaf? Kamu gak salah. Dan aku senang sekarang setiap hari aku bisa melihat kamu." Kata Rudi.
Aku hanya tersenyum dan tak mengatakan apapun. Takut pembicaraan sampai kemana mana dan akhirnya membuat canggung antara aku dan Rudi.