JODOHKU..

JODOHKU..
SADAR


__ADS_3

Hari demi hari aku lalui tanpa semangat sedikitpun. Besar harapan semoga Tuhan memberi kemudahan dalam setiap cobaan yang saat ini aku hadapi. Hancur rasanya ketika melihat suamiku terkapar tak berdaya.


sudah dua minggu aku menunggu suamiku dirumah sakit. Rudi selalu menemaniku. Aku merasa lega saat dokter mengatakan Adi telah melalui mas kritisnya. Tinggal menunggu dia sadar.


Dua jam kemuadian, Adi siuman. Aku lega dan bersyukur. Rudi juga merasa lega. Kemudian dia memelukku. Dia menyuruhku menemui Adi terlebih dahulu.


Aku masuk kedalam ruangan dimana suamiku dirawat. Dia melihatku dengan tersenyum. Tak terasa air mata bahagiaku menetes dan senyum tipis dari bibirku.


"Akhirnya kamu sudah sadar. Aku sangat takut kehilangan kamu." Kataku tetap meneteskan air mata.


Karena baru siuman dan belum pulih, Adi hanya diam masih lemah. Aku tetap menangis lega melihatnya. Aku memegang tangannya erat tak ingin aku lepaskan.


Setelah satu jam aku menunggu suamiku, dokter menyuruhku keluar dulu agar Adi bisa beristirahat. Aku keluar dan melihat Rudi masih duduk menungguku diruang tunggu.


"Kamu masih disini?" Tanyaku menghampirinya.


"Oh.. Masih. kok sudah keluar?" Tanya Rudi


"Iya. Doktet menyuruhku keluar, agar Adi bisa beristirahat karena belum pulih benar." Kataku.


"Kamu belum makan daritadi. Kamu makan dulu." Lanjutku menyuruhnya makan. Karema sejak pagi dia sama sekali belum makan.

__ADS_1


"Ayo. Kamu juga makan. Kasian anak dalam perut kamu." Ajak Rudi menarik tanganku.


"Enggak, aku gak nafsu makan." Kataku sambil berusaha melepaskan genggaman tangannya.


"Iya mungkin kamu gak nafsu, tapi kamu harus mikirin anak kamu. Ayo makan." Kata Rudi tetap memaksaku makan.


Aku tak bisa menolak lagi. Aku hanya bis menurutinya. Aku juga harus memikirkan anak yang masih didalam kandunganku.


Usai makan, aku dan Rudi kembali keruang tunggu. Sampai diruang tunggu suster datang memberitahuku kalau Adi mencariku. Aku langsung pergi menemani Adi.


"Sayang, cepetan sembuh. Aku kangen bercanda sama kamu." Kataku sambil terseny.


Hari hari berlalu, kesehatan Adi mulai pulih. Tinggal pemulihan lebih lanjut. Dokter belum memperbolehkan pulang, karena masih perlu pengawasan dokter.


Aku selalu menemani Adi, begitu juga Rudi. Dia tak pernah meninggalkan aku sendiri.


Aku, Rudi dan Adi bercanda gurau. Aku bersyukur karena Adi sudah pulih. Hanya tinggal pemulihan saja.


Ibu dan Bapak mertuaku datang mengunjungi Adi. Mereka merasa lega dan senng karena anaknya sekarang sudah sehat dan bisa tersenyum lagi.


Keesokan harinya orangtuaku datang menjenguk Adi.

__ADS_1


"Aduh menantuku sayang, ditinggal Bapak Ibu belu ada sehari saja sudah berada di Rumah Sakit." Canda Bapak kepada Adi.


"Mungkin karena Adi masih pingin Bapak dan Ibu disini, jadi Adi buat Bapak Ibu kesini lagi." Canda balik Adi.


Semua tertawa dengan candaan Bapak dan Adi.


"Vina, bagaimana kandungan kamu nak?" Tanya Ibuku kepadaku.


"Eh baik Bu, besok mau diperiksain lagi sekalian USG." Jawabku.


"Kamu harus jaga kondisi. Makan yang banyak." Kata Ibuku


"Iya Ibu sayang." Jawabku


"Makasi ya bro, sudah temani istriku selama aku sakit disini." Kata Adi mengucapkan terimakasih kepasa Rudi.


"Iya, sama sama." Jawab Rudi.


"Tapi aku kewalahan jaga istrimu. Besok lagi jngan deh. Susah dibilangin." Canda Rudi smbil melirikku.


Aku tak menjawab hanya melitiknya balik. Semua tertawa lagi mendengarnya. Aku merasa dipermalukan oleh Rudi. Aku hanya diam tanpa kata, kalau aku menjawab pasti Rudi akan semakin mempermalukan ku .

__ADS_1


__ADS_2