JODOHKU..

JODOHKU..
HANGAT DAN NYAMAN


__ADS_3

Keesokan harinya, aku terbangun dari tidurku. Aku mengusap mataku agar terbuka dengan sempurna. Aku melihat disekelilingku. Aku melirik kesamping, aku sudah tak melihat Rudi disampingku.


"Kemana dia? Apakah sudah pulang? Kapan dia perginya? Kenapa nggk bangunin aku dan bilang kalau dia mau pulang? Atau jangan jangan dia ninggalin aku sendiri semalam. Ah masak iya dia setega itu sama aku?" Pikirku kebingungan.


Ketika nyawaku yang melayang kemana mana sudah berkumpul dan artinya aku sudah tersadar dari tidurku yang lelap, tiba tiba aku teringat apa yang terjadi tadi malam. Aku merasa malu dan menutup wajahku dengan kedua telapak tanganku.


"Aaaa apa yang harus aku lakukan? Betapa malunya aku jika bertemu dengan Rudi nanti? Aku harus bagaimana?" Bisikku lirih dengan penuh rasa malu.


Aku mencoba menenangkan diriku sendiri. Menarik nafas lewat hidung dan keluarkan lewat mulut. Begitu terus aku lakukan hal tersebut berulang kali sampai diriku merasa sedikit lebih tenang.


"Tenang.. Tenang.. Tenang.. Anggap bahwa semua tidak pernah terjadi. Lupakan." Gumamku memenangkan diriku sendiri.


"Aaaaaaa aku tetap tidak bisa tenang. Bagaimana aku bisa melupakan? Ya ampun apa yang harus aku lakukan? Mau aku taruh dimana mukaku ini? Aku malu sekali." Gumamku semakin bingung harus melakukan apa. Aku kembali menutup wajahku dengan kedua telapak tanganku.


"Sudah, aku harus tenang. Hal yang harus aku lakulan sekarang adalah tenang. Kemudian pergi ke Rumah Sakit untuk menunggu suamiku yang sedang sakit." Kataku menenangkan diriku sendiri.


Tiba tiba aku dikagetkan oleh ketukan dari balik pintu.


(tok tok tok) Suara ketukan pintu.


"Vin... Vina.. Apakah kamu sudah bangun?" Suara dibalik pintu memanggilku.


"Aku seperti mengenal suara itu. Iya itu suara Rudi , benar suara Rudi. Kenapa dia masih ada disini? Bukankah dia sudah pulang? Kenapa?" Bisikku. Aku semakin merasa malu. Apa yang harus aku lakukan?


"Vin.. Belum bangun ya kamu? Ayo sarapan dulu." Lanjut Rudi membangunkanku.


Mengetahui aku tak merespon panggilannya, dia membuka pintu kamarku dan membukanya. Rudi sedikit terkejut karena ternyata aku sudah bangun.


"Kamu sudah bangun? Kenapa tidak merespon ketika aku memanggilmu?" Tanya Rudi menghampiriku dan duduk disebelahku.


Aku tak merespon pertanyaannya, hanya saja mataku tertuju kearahnya. Tidak mungkin kan aku berterus terang kepadanya kalau aku malu gara gara apa yang terjadi semalam. Aku hanya bisa menahan rasa maluku didepannya.


"Kenapa kamu diam saja?" Tanya Rudi lagi. Kali ini dia membelai lembut rambutku.


Entah perasaan apa ini ku merasakan suatu kenyamanan. Kemudian dia mengarahkan keningku kebibirnya. Aku merasakan kehangatan yang mungkin aku rindukan. Aku menutup mataku dan merasakan kenyamanan ini dihatiku.


"Ayo kita sarapan dulu. Aku sudah masakin masakan kesukaanmu." Bisik Rudi ditelingaku.

__ADS_1


Aku mengangguk tanda setuju. Aku beranjak dari tempat tidurku bersama Rudi menuju meja makan. Rudi duduk didepanku.


"Kamu harus makan yang banyak. Agar anak dalam kandunganmu tetap sehat. Aku tak akan membiarkan dokter memarahiku untuk yang kedua kaliny kalau aku menemani kamu periksa lagi." Kata Rudi dengan menunjukkan senyumannya.


"Iya." Jawabku dengan senyum.


Aku bisa mengingat dengan jelas bagaimana dokter memarahinya kemarin, karena dikira dia adalah suamiku.


"Kenapa kamu senyam senyum sendiri?" Tanya Rudi.


"Enggak.. Enggak apa apa." Jawabku tetap tertawa kecil.


"Bilang nggak kenapa kamu tertawa? Kamu menertawakan aku ya? Ada apa?" Tanya Rudi.


" Enggak apa apa. Aku cuma ingat saja pas dokter marahin kamu. Aku pingin tertawa saja setiap kali ingat ekspresi wajah kamu." Jawabku dan tertawa semakin keras.


" Berani beraninya kamu menertawakan aku. Awas kamu ya." Kata Rudi mengancamku.


Melihat ekspresi wajahnya, aku semakin ingin tertawa lebih keras lagi. Aku mengira antara aku dan dia semua akan menjadi canggung karena kejadian semalam. Ternyata Rudi bisa membaca suasana yang membuat seakan akan semua baik baik saja.


Padahal sebelum bertemu dengannya, aku tak tau apa yang harus aku lakukan. Aku berfikir bahwa semua akan menjadi canggung. Tapi ternyata semua baik baik saja. Aku sangat merasa bersalah kepada Adi, suamiku. Tapi disisi lain, aku merasakan kehangatan dan kenyamanan dari sosok Rudi.


Aku diam diam memperhatikan Rudi yang duduk didepanku. Tanpa aku sadari, ternyata seperti inilah yang dulu pernah aku rindukan. Aku tersadar, ternyata dulu aku melupakannya karena diriku sendiri, bukan karena takdir. Jika itu karena takdir, mungki hal semacam ini tak akan pernah terjadi.


Tanpa aku tau, Rudi ternyata menyadari bahwa aku daritadi memperhatikannya.


"Kamu kenapa daritadi mandangin aku terus? Baru sadar kalau aku ini ganteng atau gimana?" Canda Rudi menggodaku.


"Idih siapa yang mandangin kamu. GR banget sih jadi orang." Jawabku sinis.


"Ya sudah ayo sarapan dulu, keburu semua dingin malah nggak enak dimakan." Ajak Rudi.


Aku tak meresponnya. Hanya menyetujui ajakannya.


"Kamu makan yang banyak biar nggak kurus. Gemuk sedikit biar enak dipeluk." Canda Rudi lagi.


"Kamu!" Teriakku dengan menatapnya tajam.

__ADS_1


"Hahahha." Tawa Rudi.


Rudi hanya tertawa melihat ekspresi kesalku.


"Sudah makan dulu. Jangan cemberut nanti makanannya pada kabur loh karena takut." Canda Rudi dengan senyum liciknya.


"Kalau kamu tidak bisa diam, aku tidak mau makan." Ancamku agar dia diam.


"Wah ancamannya terlalu mengerikan. Ya sudah aku akan diam. Yang penting kamu makan yang banyak. Berani beraninya kamu mengancamku seperti itu. Kamu tau kalau kelemahanku adalah kamu ya?" Kata Rudi.


Aku tersenyum karena kemenanganku. Aku tersenyum licik menatapnya, dan mengejeknya dengan menjulurkan lidahku. Aku merasa puas karena tau kelemahannya adalah aku sendiri. Jadi kapan saja aku bisa mengancamnya.


"Sudah berhenti tertawanya. Sarapan dulu." Kata Rudi.


aku dan Rudi sarapan bersama. Dia selalu memaksalu memakan lebih banyak dari porsiku yang biasanya. Mau tidak mau aku harus menurutinya. Karena sebagai ras menghargaiku karena dia sudah memasakkannya untukku.


Selesai makan, aku ingin membereskan meja makan tapi dia menolaknya. Dia melarangku melakukan apapun. Aku hanya tersenyum nyaman dengan perlakuannya yang seperti iti terhadapku. Dia menyuruhku mandi dan bersiap siap pergi ke Rumah Sakit.


Beberapa saat kemudian, Bapak mertuaku pulang dari Rumah Sakit karena harus pergi bekerja.


"Untung Bapak baru pulang. Kalau daritadi, pasti beliau akan mengira kalau Rudi tidur disini Meski memang tidur disini." Kataku dalam hati. Merasa lega. Aku langsung pergi kekamar mandi agar Bapak tidak curiga.


"Eh kamu Rud. Udah sampai sini?" Tanya Bapak mertuaku.


"Iya Om. Aku baru saja sampai kok Om. Oh iya, bagaimana keadaan Adi?" Tanya Rudi mengalihkan pembicaraan.


"Dia belum siuman. Semoga saja nnti segera sadar." Kata Bapak mertuaku.


Rudi hanya mengangguk nganggukkan kepalanya tanda mengerti.


"Ya sudah, Om mandi dulu ya. Taku telat kerjanya." Pamit Bapak mertuaku.


"Oh iya Om." Kata Rudi.


Rudi menungguku duduk diruang tamu. Selesai bersiap siap aku keluar kamar berpamitan dengan Bapak mertuaku untuk pergi ke Rumah Sakit. Aku dibuat terkejut oleh Rudi yang tiba tiba memegang tanganku saat menuju kepintu keluar. Secepat kilat aku melepaskan pegangannya.


"Kamu gila ya. Kalau sampai Bapak melihatnya, dia pasti akan salahpaham dengan kita." kataku dengan nada marah.

__ADS_1


"Maaf." Kata Rudi meminta maaf.


Aku dan rudi berangkat ke Rumah Sakit. Sesampainya di Rumah Sakit aku menyuruh Ibu mertuaku untuk pulang beristirahat. Beliau pasti lelah karena menunggu semalaman. Ibu mertuaku menyetujuinya. Aku menunggu suamiku ditemani oleh Rudi yang sekarang entah statusnya apa denganku.


__ADS_2