
Dua hari setelah kematian Ibu mertuaku, aku tak pernah berpikir bahwa Rudi akan datang untuk melayat.
"Assalamu'alaikum." Sapa seseorang dari luar rumah.
"Wa'alaikumsalam." Jawab kami yang ada didalam rumah.
"Biarkan aku saja pak yang membuka pintu." Kataku.
Dengan menggendong si kecil, ku beranjak ke pintu depan untuk membukakan pintu. Aku melihat sosok wajah yang aku kenal tetapi sangat tak ingin ku temui lagi. Rudi ya dia adalah Rudi.
"Vina, maaf aku baru sempat datang melayat. Aku kemari mendengar kabar tapi aku masih diluar kota." Jelas Rudi.
"Oh iya tidak apa apa. Masuklah." Kataku dengan terpaksa.
Rudi berjalan mengikutiku dari belakang.
"Vina siapa yang datang?" Tanya Bapak mertuaku.
"Rudi." Kata Adi.
"Iya. Bapak dan Adi maaf saya baru sempat datang hari ini. Kemarin saya mendengar kabar tapi saya masih diluar kota." Kata Rudi meminta maaf.
"Iya tidak apa apa." Kata Bapak mertuaku.
"Sebenarnya tante sakit apa?" Tanya Rudi.
"Sebenarnya Tante tidak punya riwayat penyakit apa apa. Hanya saja beberapa hari sebelumnya dia sakit sakitan katanya tidak enak badan." Terang Bapak Adi.
"Apa tidak dibawa kerumah sakit." Tanya Rudi.
"Sudah berulang kali kami semua membujuk untuk kerumah sakit tapi tidak pernah mau. Oh iya, bagaimana usaha kamu?" Tanya Adi.
"Alhamdulillah udah mulai berkembang." Jawab Rudi.
"Wah, jadi sekarang aku punya teman seorang pengusaha nih?" Goda Adi.
"Ahh bisa saja kamu. Jangan begitu kan aku jadi malu." Kata Rudi tersenyum memalingkan wajahnya seakan akan dia merasa malu.
"Dasar kamu!" Kata Adi tertawa melihat tingkah Rudi.
__ADS_1
Adi, Rudi dan Baoak mertuaku mengobrol dengan asyik. Mereka bercanda tawa bersama. Rudu memang dari duly dianggap seperti keluarga sendiri di keluarga Adi. Jadi dia tak perlu sungkan lagi.
Semakin aku melihat Rudi tertawa senang, semakin aku mambencinya. Entah kenapa aku sama sekali tak ingin melihat wajahnya. Karena jika bukan karena dia semua ini tak akan pernah terjadi. Dan Adi tak akan kehilangan Ibunya.
Aku menatapnya dengan penuh rasa dendam. Dan ternyata Rudi menyadarinya. Dia tau bahwa aku sangat membencinya. Ketika dia melihatku, aku memalingkan wajahku dan pura pura sibuk mengurus anakku dalam gendonganku. Aku tak menghiraukan dia lagi.
Ditengah tengah obrolan mereka, keluarga Adi yang berasal dari luar kota juga berdatangan. Semua mengucapkan bela sungkawa kepada kami sekeluarga. Setelah mempersilahkan mereka duduk, aku menyiapkan minum dan beberapa camilan. Aku duduk dan menemani mereka ngobrol. Setalah beberapa saat mengobrol dengan mereka, aku merasa sesak dan anakku rewel, mungkin merasa pengap karena berada dikerumuman banyak orang. Karena memang cuaca hari ini panas. Aku pamit dengan keluarga suamiku, untuk pergi mencari udara segar didepan.
Aku berjalan keluar rumah dan aku menenangkan anakku yang rewel, dia merasa pengap didalam rumah karena terlalu banyak orang. Setelah mendapat udara segar, si kecilku kembali tertidur. Tanpa sepengetahuanku, Rudi mengikutiku keluar mencari udara segar.
"Vina. Aku mau bicara sama kamu!" Panggil Rudi.
Aku menghentikan langkahku karena mendengar suara dari belakangku. Aku sangat,mengenali suara itu dan aku tau persis itu suara siapa, jadi aku tak sudi untuk menoleh. Rudi berjalan mendekatiku.
"Vina! Aku salah apa sama kamu? Kenapa kamu terlihat sangat marah sama aku? Sebegitu benvinyakah kamu sama akau?" Tanya Rudi ingin mendengar penjelasanku.
"Kamu masih berani bertanya apa salah kamu dan kenapa aku membencimu?" Kataku mulai marah.
"Aku benar benar tidak mengerti maksud kamu." Kata Rudi bingung.
"Semua sudah seperti ini, tapi kamu tak sadar diri dan masih bertanya apa salah kamu?" Kataku dengan nada marah.
"Aku benar benar tak mengerti apa maksud kamu!" Kata Rudi semakin bingung.
"Bagaimana bisa semua gara gara aku?" Tanya Rudi semakin bingung.
"Kamu masih punya muka untuk bertanya. Jika kamu tak sembarangan bicara waktu itu, semua tak akan seperti ini. Ibu Adi tak akab skit sakitan dan Adi tak akan kehilangan Ibunya." Teriakku.
"Apa? Tidak mungkin gara gara itu bisa seperti ini." Kata Rudi terkejut dan merasa bersalah.
"Tapi kenyataannya memang seperti itu. Ini semua gara gara kamu." Kataku memojokkannya.
"Maafkan aku. Jika aku tau ini akan terjadi aku tak akan melakukan semua ini Aku benar benar tidak sengaja. Apa yabg harus aku lakukan?" Kata Rudierasa sangat bersalah.
"Apa menurutmu dengan minta maaf semua akan kembali seperti semula?" Tanyaku tetap memojokkannya.
"Aku benar benar minta maaf. Aku tidak tau bahea semua akan seperti ini." Kata Rudi menyesali perbuatannya.
"Setelah mendengar semua ini, apakah kamu masih punya muka bertemu dengan keluarga Adi? Apakah kamu bisa menanggung semua? Sebaiknya mulai sekarang kmy ergi dari kehidupan kami. " Tanyaku marah.
__ADS_1
"Aku benar benar minta maaf. Aku benar benar menyesal." Kata Rudi merasa bersalah.
"Jika kamu menyesal, pergilah. Jangan lagi mengganggu kehidupan keluargaku. Jangan pernah lagi muncul dihadapanku. Kamu tau bahwa aku sangat membencimu." Teriakku mengusirnya.
"Tapi ..." Kata Rudi.
"Tidak ada tapi. Saat ini kamu tidak punya pilihan selain menjauh dari kehidupanku dan Adi. Atau kamu memilih aku menceritakan semua ke Adi tentang apa yang kmu perbuat kepada Ibunya?" Ancamku dengan serius.
"Baiklah aku akan pergi sekarang." Pamit Rudi.
"Pergilah! Dan jangan pernah berpikir untuk menampakkan wajahmu lagi didepan kami." Kataku mengusirnya.
Rudi pergi. Dan aku merasa lega bisa mengusirnya. Beberaoa sat kemudian, Adi keluar.
"Loh dimana Adi. Bukannya tadi diluar?" Tanya Adi.
"Iya. Tadi dia disini sebentar. Tapi dia tiba tiba ada telepon mendadak, dan buru buru pergi dan nggak sempet pamit kekamu dan Bapak." Terangku terpaksa berbohong.
"Dasar dia. Orang sibuk dia sekarang." Kata Adi dengan tersenyum.
Melihat senyum diwajahnya membuatku semakin bersalah telah membohonginya. Tetapi aku tidak punya pilihan lain selain melakukan ini.
Lebih baik aku mengusir Rudi daru kehiduoanku dan Adi daripada aku merasa hidup tak tenang.
Sore harinya, keluarga Adi berpamitan untuk pulang.
"Kami pamit pulang dulu, karena hari sudah sore. Kalian yang sabar ya." Kata paman tertua.
"Terimakasih paman." Kata Adi.
Mereka berjalan pergi keluar rumah untuk pulang. Setelah rumah sepu, aku meletakkan si kecil yang sedang tertidur ditempat tidurnya. Dan aku kembali untuk membereskan rumah. Adi membantuku membereskan rumah dan menyuruh Bapak untuk istirahat.
"Nanti aku minta upah ya, kan aku sudah membantumu." Kata Adi menggodaku.
"Upah apa?" Tanyaku terkejut.
"Menyelesaikan sesuatu yang jemarin belum kita selesaikan." Kata Adi dan berisyaray dengan matanya.
Aku yang tau jelas akan isyaratnya tak bisa menahan tawa dan meninggalkannya pergi ke dapur untuk melarikan diri.
__ADS_1
Selesai membereskan semua aku pergi mandi dan beristirahat, begitu juga Adi.
Malam harinya aku menepati janjiku kepada Adi untuk menyelesaikan sesuatu yang belum kami selesaikan tanpa gangguan si kecil. Dan kamipun tertidur pulas karena rasa lelah.