
Bulan demi bulan telah berlalu. Kini tinggal menunggu hari, dimana aku dan Adi akan hidup bersama. Aku sengaja mengambil cuti lebih awal karena takut besok di hari H aku akan merasa kelelahan. Aku mengambil cuti 1 minggu sebelum hari H. Adi juga mengikutiku mengambil cuti lebih awal. Dan menurut orang tua jaman dulu orang yang akan menilah harus di pingit dulu. tidak boleh pergi kemana mana. Jadi aku nurut saja.
Hari H masih kurang satu minggu, tapi aku sudah merasakan detak jantungku berdetak dengan sangat kencang setiap kali berpikir hari H besok. Perasaan antara senang dan takut bercampur menjadi satu semakin membuat hatiku tak karuan.
Selama satu minggu aku juga tidak boleh menghubungi Adi karena alasan pingit. Telepon saja tidak boleh, apalagi bertemu dengannya. Tidak mungkin di bolehin. "Apakah Adi juga merasakan apa yang saat ini aku rasakan? perasaan senang dan takut seperti ini?" Slalu tanyaku dalam hati. Penasaran dengan apa yang di rasakan Adi saat ini.
Hari ini adalah hari dimana undangan pernikahanku di sebar. Dan aku semakin tak karuan rasanya. perasaan lega tapi takut jika sampai terjadi apa apa. Perasaan itulah yang slalu tiba tiba muncul dalam benakku. Maklum dari hati nurani.
Malam harinya, pengirim undangan datang ke rumahku, untuk melaporkan bahwa undangan telah di sebar.
"Alhamdulillah". Kataku lirih sambil tersenyum sembari mengelus dada setelah mendengar penyebaran undangan sukses tanpa kendala.
Aku tiba tiba ingin tau bagaimana kabar Adi, rasa rindu di dalam hati karena belum biasanya seperti ini. Meski aku setiap hari tak bisa bertemu, tapi aku dan Adi masih bisa bertukar kabar melalui pesan singkat atau telepon. Nah, sekarang mau bagaimana bingung. handphone saja di sita. Mereka takut kalau sampai aku nekat menghubungi Adi.
Tak bisa berbuat apa apa, dan aku harus kuat. Tinggal menunggi beberapa hari saja semua ini akan berakhir. Tak ada yang akan menghalangi aku bertemu dengan Adi lagi. Aku hanya harus lebih sabar sedikit lagi.
__ADS_1
Malam terasa sangat panjang, mungkin karena aku sngat merindukan Adi. Akupun juga belum merasakan ngantuk, meski berulang kali mencoba memejamkan mata agar bisa tertidur. Tapi sepertinya rasa rinduku lebih kuat dari apapun.
Keluargaku belum tidur malam itu, jadi aku ikut ngobrol bersama mereka. Paman, Bibi, Om dan Tante juga belum pulang.
"Kenapa udah malem gini malah keluar kamar?" Tanya tanteku.
"Gak bisa tidur, karena hp di sita sama Ibu." Jawabku
Mendengar jawabanku mereka justru menertawakanku. Aku bingung, apa ada yang salah dengan jawabnku?? tanyaku dalam hati. Aku hanya memandang mereka dengan raut wajah bingung.
Aku hanya tersenyum semanis mungkin.
"Udah sabar saja dulu, tinggal beberapa hari juga." Kata Bibiku
"Ih Ibu ini kaya gak pernah muda aja. Namanya juga orang lagi kasmaran. Di tinggal sehari saja udah kayak tertipu uang 1 milyar." Kata pamanku
__ADS_1
Tawa mereka memenuhi ruangan saat itu. Kehadiranku justru menghadirkan tawa mereka. Aku hanya tersenyum malu karena godaan mereka. Karena merasa malu ku berpikir lebih baik ku ke kamar, biar gak di godain lagi oleh mereka.
"Ya udah ah aku ke kamar aja." Kataku pamit kepada mereka.
"Iya iya, tante doain semoga bisa tidur ya. Biasanya kalau kangen pada susah tidur." kata tanteku masih saja menggodaku.
Aku tak menjawab, aku hanya tersenyum dan mengacungkan jempolku tanda setuju dengan omongannya.
"Apa perlu om temenin sebagai gantinya Adi?" kata omku ikut menggodaku yang tadinya hanya diam mendengarkan.
Semya semakin tertawa terbahak bahak, menjadikan aku semakin merasa malu. Aku langsung bergegas pergi ke kamar, jalanku ku percepat agar tidak di hentikan lagi oleh godaan mereka.
Sesampainya di kamar aku tersenyum bahagia mrelihat keluarga yang rukun satu sama lain. Tak pernah ada pertikaian di antara mereka. Kalau adapun pasti mereka selesaikan dengan pikiran dingin. Makanya mereka semua terlihat sangat akur dan bahagia.
Aku sudah bersyukur mempunyai keluarga seperti merrka. Rasa bersyukurku bertambah disaat Adi hadir untuk melengkapi hidupku. Dan aku sudah terbiasa dengan kehadirannya. Aku sangat mencintainya.
__ADS_1
Aku harus kuat, hanya butuh berdabat sedikit lagi semua penghalang tak akan ada lagi. Dan aku berharap besok aku dan Adi akan hidup bersama dalam sebuah keluarga kecil yang bahagia. Seperti keluarga yang aku miliki saat ini.