
"Sayang, kemarin Rudi telepon aku. Katanya lusa dia mau datang kesini. Mau main sekalian jenguk sikecil. Mau lihat mirip siapa katanya." Kata Adi sambil tertawa.
"Hem?" Aku sangat terkejut mendengar ucapan Adi.
"Kamu nggak dengerin ya aku tadi ngomong. Rudi lusa mau kesini." Kata Adi lagi.
"Oh!" Jawabku dengan ekspresi kecewa.
"Kenapa ekspresi kamu kaya gitu? Kamu tidak seneng Rudi datang kesini?" Tanya Adi.
"Hem? Suka kok suka!" Jawabku tersenyum tipis.
Aku tak bisa bilang kalau aku tidak senang. Karen jika aku jawab tidak senang, pasti akan lebih banyak pertanyaan yang akn diajukan Adi kepadaku.
"Tapi kok ekspresi kamu begitu, kayak tidak suka." Ujar Adi sedikit curiga.
"Enggak kok. Cuma kaget aja. Bocah itu sudah lama sibuk terus, gak pernah ada waktu. Kenapa tiba tiba ada waktu buat kesini." Kataku mencari alasan agar Adi tak curiga lagi kepadaku.
"Iya juga sih ya?" Kata Adi percaya dengan ucapanku.
Aku merasa lega, karena akhirnya Adi percaya dengan ucapanku. Aku menjadi panik setelah mendengar bahwa lusa Rudi akan datang kerumah. Apa yang harus aku lakukan. Aku takut jika dia sampai nekat memberitahu Adi hubungan aku dan Rudi. Tapi aku juga tidak bisa melarangnya datang kerumah. Meski sebenarnya aku sangat tak ingin melihatnya.
Hari yang tidak aku nantikan tiba. Dati dalam rumah aku mendengar suara motor berhenti dihalaman depan. Perasaanku sudah tidak karuan rasanya. Beberapa saat setelah moyor berhenti didepan pintu, aku mendengar ketukan pintu dan suara memanggil Adi. Dan aku tau jelas itu suara siapa. Rudi, iya Rudi.
__ADS_1
Semakin bingung harus bagaimana.
"Aku mau lihat anak kamu dulu, nanti baru kita ngobrol." Kata Rudi.
"Oke!" Jawab Adi.
Jelas aku mrndengar suara mereka yang berjalan kearah kamarku.
Membuka kamar.
Aku melihat Adi masuk, tepat dibelakangnya berjalan seseorang yang tak ingin aku temui untuk saat ini.
"Hei Vina. Apa kabar?" Sapa Rudi dan bertanya tentang kabarku tanpa canggung sedikitpun.
"Aku juga baik. Maaf ya lama tidak ada kabar, soalnya aku sibuk sekarang. Biasa orang sibuk." Kata Rudi dengan percaya diri membanggakan dirinya sendiri.
Aku tak menjawab, hanya tersenyum kepadanya. Ingin mengakhiri percakapanku dengannya.
"Anakmu cantik Vin, kaya kamu." Pujinya sambil tersenyum.
"Hallo! Dia kaya Ayahnya ya." Kata Adi tak terima.
"Apa?" Tanya Rudi pura pura tidak mendengar.
__ADS_1
"Ehh! kok tiba tiba mendung? Sebentar ya bro, aku ngurusin cucian dulu." Pamit Adi kepada Rudi.
"Biar aku saja, kamu lanjut ngobrol saja." Usulku.
Aku tidak ingin Adi meninggalkan aku berdua dengan Rudi.
"Udah tidak usah, biar aku saja. Kamu jagain sikecil saja disini." Larang Adi.
Adi langsung pergi keluar kamar meninggalkan aku sama Rudi. Aku hanya diam tak mengatakan apapun. Aku pura pura sibuk mengurusi sikecil.
"Vin! Kamu kenapa? Kmu menghindari aku?" Tanya Rudi dengan serius.
"Enggak kok." Jawabku singkat.
"Tapi kenapa kmu berubah? Aku kangen sa kamu. Aku sengaja datang karena aku kangen sama kamu." Kata Rudi menatapku, dan berterus terang tujuannya datang kerumah.
"Aku tidak perduli." Jawabku
"Kamu jangan seperti ini." Kata Rudi.
"Sudah! Kalau kamu disini hanya mau membahas hal yang nggak guna, lebih baik kamu keluar dari sini!" Kataku tegas.
"Tapi Vin ..." Kata Rudi
__ADS_1
"Jangan bahas apapun tentang kesalahan mulai sekarang!" Kataku memalingkan mukaku darinya.