JODOHKU..

JODOHKU..
RUMAH SAKIT


__ADS_3

"Kamu sudah tenang?" Tanya Rudi.


Aku tak menjawab. Serasa aku tak mampu mengeluarka satu katapun dari mulutku. Aku hanya mengangguk dengan mata sayu.


"Aku ambilin kamu minum dulu biar lebih tenang. Kalau kamu sudh tenang aku antar kamu ke Rumah Sakit." Kata Rudi beranjak keluar kamar.


Setelah beberapa saat, Rudi kembali kekamarku dengan membawa segelas air putih dan sepiring nasi. Dia memaksaku untuk makan, padahal aku tak punya selera sedikitpun saat itu. Aku ingin menolak, tapi dia tetap memaksa dan menyuapiku. Aku memalingkan wajahku setiap kali dia akan menyuapiku. Aku sama sekali tak ingin makan ataupun minum.


"Aku tau kamu sedih. Tapi kamu juga harus mikirin anak yang ada diperut kamu. Dia butuh asupan. Dan sebelum kamu mau makan, aku gak akn bawa kamu ke Rumah Sakit." Ancam Rudi kepadaku.


Mau tak mau aku harus menerima suapannya. Agar dia segera mengantarkan aku melihat suamiku. Rudi menyuapiku dengan sabar, meski setiap sendok nasi yang masuk kemulutku butuh waktu yang cukup lama untukku mengulumnya. Aku benar benar tak berdaya saat ini.


Hanya 3 suapan, aku menolak menerimanya lagi. Aku benar benar tak ada selera untuk makan. Memikirkan keadaan Adi saja sudah membuatku tak ingin melakukan apa apa. Akhirnya Rudi menyerah dan menurutiku.


Setelah aku lebih tenang, Rudi mengajakku ke Rumah Sakit agar aku bisa melihat keadaan suamiku dan merasa lega.


"Kalau kmu sudah tenang, ayo kita ke Rumah Sakit." Ajak Rudi.


Aku hanya mengangguk, belum mampu mengatakan satu katapun. Airmata yang tiba tiba menetes tak mampu aku membendungnya. Rasa sakit yang belum pernah aku rasakan. Kejadian yang belum pernah aku alami ini membuatku semkin tak berdaya. Aku hanya berharap Allah masih melindungi suamiku.

__ADS_1


Wajah yang terlihat kusut, Mata lebam, dan tubuh yang terasa lemas, kini menuju Rumah Sakit tempat Adi dirawat.


Sampai didepan Rumah Sakit, aku sudah membayangkan yang tak ingin ku bayangkan. Tiba tiba saja tubuhku menjadi lemas dan terjatuh. Rudi yang melihatku terjatuh buru buru berlari kearahku. Dan menolongku untuk berdiri. Rudi menopangku masuk kedalam Rumah Sakit dan mencari ruangan dimana suamiku dirawat.


Aku melihat Ibu mertuaku yang mondar mandir didepan ruangan ICU. Beliau terlihat khawatir. Rudi menopangku kearahnya.


"Ibu." Kataku lirih.


Memang aku tak mampu berkata apapun. Tubuhku terlalu lemah.


"Sayang." Ibu terkejut melihatku. Dan kemudian memelukku.


"Kamu yang sabar ya. Kita sama sama berdoa semoga dia kuat. Dia masih koma, belum sadar. Masih diruang ICU." Terang Ibu.


Mendengar perkataan Ibu mertuaku, airmataku tak mampu lagi aku bendung. Tubuhku semakin lemas. Dan bruuukkk. Aku tak sadarkan diri. Rudi dan Ibu mertuaku kebingungan harus bagaimana. Mereka takut terjadi apa apa padaku karena aku sedang mengandung saat ini. Rudi memanggil suster untuk meminta bantuan. Aku diangkat keruang IGD untuk diperiksa.


"Vina, bangun." Panggil Rudi memegang pipiku.


Aku dibawa keruang IGD untuk diperiksa.

__ADS_1


" Bagaimana keadaannya dok?" Tanya Rudi.


"Dia tidak apa apa. Hanya shock saja. Biarkan dia istirahat beberapa saat." Kata dokter.


"Bagaimana dengan kandungannya dok?" Tanya Rudi lagi.


" Kandungannya baik baik saja. Jangan lupa ingatkan dia makan, dan jangan biarkan dia terlalu stres karena bisa mempengaruhi janinnya." Terang Dokter.


"Baik dokter. Terimakasih." Kata Rudi


Ibu Adi sangat sedih melihat kondisiku dan Adi.


"Tante,Tante istirahat duli saja. Biar saya yang menunggu Vina dan Adi. Tante terlihat lelah gitu." Kata Rudi.


"Tidak apa apa nak. Tante baik baik saja." Ujar Ibu Adi.


"Ya sudah. Tante kembali saja ketemat Tante menunggu Adi, disana Tante bisa istirahat. Biar saya yang menunggu Vina disini." Usul Rudi.


Ibu Adi menyetujui usulan Rudi. Dia kembali ketemat dimana dia menunggu Adi. Dan Rudi tetap menungguku yang masih belum tersadar. Rudi sangat khawatir kepadaku. Dia tak pernah meningglkan ku selama aku tak sadarkan diri.

__ADS_1


__ADS_2