JODOHKU..

JODOHKU..
KABAR BAHAGIA UNTUK ORANGTUAKU


__ADS_3

Hari ini genap empat minggu kehamilanku, artinya sudah satu bulan aku hamil. Dan aku belum memberi kabar bahagia ini kepada kedua orangtuaku. Hari ini aku memutuskn untuk memberitahu mereka.


(Telepon)


"Hallo." Terdengar suara Ibuku menjawab telrpon dariku.


"Hallo Bu. Bagaimana kabar Bapak Dan Ibu?" Tanyaku tentang kabar mereka.


"Alhamdulillah, kabar Bapak dan Ibu baik. Bagaimana kabar kalian?" Tanya Ibuku balik tentang kabarku.


"Alhamdulillah Bu, kabarku juga baik, suami juga baik. Bapak ibu mertuaku juga baik." Kataku.


"Dimana suamimu?" Tanya Ibuku.


"Dia juga ada disini Bu. Ini disampingku. Ibu mau bicara dengannya?" Tanyaku pada Ibu yang menanyakan Adi.


"Oh enggak. Ada masalah apa nak telepon? Kangen lagi?" Tanya Ibu menggodaku.


"Hehehe Aku pasti kangen terus sama Ibu dan Bapak. Aku punya kabar bahagia Bu." Kataku.


"Kabar apa sayang?" Tanya Ibuku penasaran.


"Aku hamil Bu. Cucu pertama Ibu dan Bapak." Terangku sambil tersenyum.


Adi yang hanya menjadi pendengar dari tadi tiba tiba memelukku. Aku agak terkejut tapi aku membiarkan pelukannya.


"Alhamdulillah. Pak kita bakalan punya cucu. Vina hamil." Kata Ibu dengan bahagia memberi kabar ini kepada Bapak.


"Alhamdulillah Bu." Suara Bapak samar samar tapi terdengar sangat bahagia.


"Kalau begitu, kapan kapan Ibu tak kesitu." Kata Ibu.


"Beneran Bu?" Tanyaku senang.


"Iya." Jawab Ibuku


"Yang.. Kapan kapan Ibu Bapak mau kesini." Kataku pada Adi.


Adi hanya tersenyum dan mengangguk tanda menyetujuinya.


"Kalau Ibu kesini ngabarin aja ya Bu. Ini aku juga sudah bilang sama mas Adi kalau kapan kapan Ibi sama Bapak mau kesini." Terangku.


"Iya sayang. Kamu jangan sampai kecapekan ya. Dijaga kandungannya." Kata Ibu menasehatiku.


Mendengar nasehat dari Ibu, mataku mulai berkaca kaca. Ketika Adi melihatnya, dia hanya tersenyum dan mencium keningku.


"Aku gak bakalan kecapekan Bu disini. Selama ku hamil aku tidak boleh ngapa ngapain. Cuma disuruh duduk, makan dan tidur sampai bosan." Kataku dengan tertawa kecil.


"Kamu bahagia sayang?" Tanya Ibuku.


"Aku bahagia kok Bu." Jawabku


"Kalau Adi nyusahin kamu bilang ya sama Ibu biar Ibu sunatin dia." Kata Ibu sambil tertawa.


Mendengar perkataan Ibuku, aku juga ikut tertawa dan melihat Adi. Adi yang tidak tahu kenapa tiba tiba aku ngelihatin dia, terlihat bingung.

__ADS_1


"Ada apa? Ibu ngomong apa?" Bisiknya lirih bertanya kepadaku penasaran.


"Kata Ibu, kalau kamu nyusahin aku, suruh bilang sama Ibu. Katanya Ibu mau sunatin kamu." Jelasku kepada Adi sambil tertawa.


Adi yang mendengar penjelasanku, langsung mengambil hp dari tanganku dan berbicara kepada Ibuku.


"Hallo Bu, Ibu mau nyunatin aku?" Tanyanya.


"Iya kalau kamu nyusahin Vina." Kata Ibuku mengancam Adi.


"Wah Ibu kalau mau nyunatin aku, sama saja Ibu merenggut kebahagiaan Vina, anak Ibu." Kata Adi tertawa.


Mendengar jawaban Adi, aku terkejut dan langsung memukul bahunya. Aku tertawa tak tertahankan. Ibuku juga tertawa mendengar jawaban Adi. Ibu mengancamnya, tapi Ibu juga diancam balik.


Aku dan Adi ngobrol bersama Bapak Ibuku via telepon. Perbincangan kmi penuh canda gurau. Tak terasa hari sudah malam dan Ibuku menyuruhku untuk tidur.


"Sudah malam, kamu cepetan tidur. Hamil jangan tidur malam malam gak bagus buat janin." Suruh Ibuku.


"Iya Bu. Ibu juga buruan tidur." Kataku.


"Ya sudah. Selamat malam sayang. Jaga kesehatannya." Kata Ibuku.


Setelah ngobrol sama orangtuaku aku merasa gemas pada Adi yang selalu saja menggodaku selama telepon. Aku menatapnya tapi ternyata dia pura pura tertidur.


"Udah gak usah pura pura tidur. Aku tau kamu belum tidur." Kataku dengan nada agak keras membelakanginya.


Adi tersenyum, dan beranjak memelukku dari belakang.


"Apa sih sayang? Kenapa teriak teriak." Katanya kemudian mencium pipiku dari belakang.


"Aduh aduh sakit. Ampuni aku." Erangnya kesakitan sambil tertawa.


Aku tak perdulikan erangannya, hanya tetap mencubitnya sampai puas. Setelah puas aku berniat untuk tidur.


"Aku mau tidur." Pamitku.


"Wah suami kesakitan malah ditinggal tidur." Katanya manja.


"Salah sendiri." Kataku


"Salahku apa?" Tanya Adi.


Aku memilih tak menjawabnya. aku hanya memejamkan mata.


"Sayang, Ayah dianiaya sama Bunda. Besok kalau kamu sudah lahir, kamu bantuin ayah ya." Bisik Adi kepada buah hatinya yang masih didalam perutku. Adi mengelus ngelus perutku.


"Jangan ngarep. Dia pasti akan membelaku." Kataku dengan yakin.


"Jadi, kalian akan bersekongkol menganiayaku?" Tanya Adi dengan raut wajah pura pura kecewa.


Melihat ekspresi wajahnya aku hanya terseyum tak memperdulikannya. Melihatku tak perduli, dia langsung mrnyerangku dengan ciumannya. Aku tertawa karena merasa geli dan meminta ampun.


"Haha.. Ampun ampun. Sudah sudah aku kalah." Kataku merasa geli.


"Gak akan aku ampuni. Mumpung belum ada yang membelamu." Kata Adi tetus menyerangku.

__ADS_1


"Udah udah. Udah malem gak enak kaau didengar Bapak sama Ibu. Ayo tidur." Kataku agar Adi menghentikan aksinya.


"Biarin aja. toh kita sudah suami istri." Katanya ak menghiraukan aku.


"Udah ah ku mau tidur. Ibu hamil gak boleh tidur malam malam." Kataku sambil tersenyum.


Mendengar tentang kehamilanlah yang membuat Adi menyerah. Dia hanya mengalah disaat dia menyadari bahwa aku sedang hamil. Aku dan Adi tidur berhadapan, dengan tangan kanan Adi berada dibawah kepalaku, sedangkan tangan kirinya memelukku. Tangan kanankupun memeluknya.


Kusambut pagi dengan senyuman. Aku sapa Adi junior yang masih didalam perutku. Saat Adi terbangun, dia melakukan hal yang sama denganku. Kebahagiaan tiada tara.


Seperti biasa, aku pergi kedapur untuk membantu Ibuku, dan Adi bergegas untuk mandi dan bersiap sip untuk bekerja. Sebelum bekerja, aku menyuruhnya untuk sarapan terlebih dahulu.


Aku mendengar teleponku berbunyi. Aku mengeceknya. Ternyata telepon dari Ibuku.


"Hallo Bu." Angkatku


"Hallo. Nak Ibu jadinya akan kesana lusa ya." Kata Ibuku.


"Oh iya Bu. Lusa ya?" Tanyaku


"Iya. Gimana? tidak apa apa kan?" Tanya Ibu ditelepon.


" Oh iya Bu. tidak apa apa." Kataku


"Ya sudah Ibu cuma mau ngasih tau itu. Ibu mau nyiapin sarapan dulu ya buat Bapak. Kamu jangan lupa makan." Kata Ibu


"Iya Bu. Beson kalau kesini hati hati ya Bu." Kataku lalu menutup telepon.


Aku menghampiri Ibu mertuaku dan membicarakannya dengan beliau tenyang kedatangan orangtuaku besok lusa.


"Ibu, aku mau minta ijin, besok lusa orangtuaku mau berkunjung kesini." Kayaku meminta ijin.


"Iya gak apa apa. Kenapa harus minta ijin? Anggap saja ini rumah kamu sendiri." Kata Ibu mertuaku sambil tersenyum.


"Makasih ya Bu." Katamu dan kemudian memeluknya.


Ibu mertuaku membalas pelukanku dan mengelus kepalaku. Melihat Ibu memelukku, Adi menggoda dengan pura pura iri kepadaku.


"Ibu. Aku saja yang anak Ibu belum pernah loh dipeluk sampai seerat itu." Godanya.


Aku hanya memandang Adi dengan mata melotot dan pura pura kesal.


"Aduh Ibu aku sudah dipelototin, aku berangkat kerja saja. Aku merasa, aku tidak akan selamat kalau aku tidak pergi sekarang." Katanya dengan tertawa.


Mendengar itu, Bapak dan Ibu hanya tertawa menatapku. Aku hanya bisa tersenyum malu didepan mereka.


"Aku pamit dulu pada Adi junior." Kata Adi berjalan menuju kearahku. Aku membalikkan badanku tanda tidak setuju.


Mengetahui aku tidak setuju dengan apa yang hendak dilakukannya, Adi memelukku dari belakang dan mencium pipiku.


"Ini perwakilan karena aku tidk boleh mencium Adi junior." Bisiknya sambil tersenyum tanda kemenangannya.


Aku hanya bisa tersenyum dengan ekspresi malu karena Adi melakukan itu didepan orangtuanya. Melihat ekspresi wajahku Ibu tak henti hentinya tertawa. Aku langsung melarikan diri kebelakang beralasan akan membereskan dapur.


Aku merasa sangat malu meski sudah serumah dengan mereka. Tapi aku bahagia karena Adi sangat terbuka didepan kedua orangtuanya. Karena itu bisa sebagai yanda bahwa dia benar benar menyayangiku. Dan ku sudah menjadi bagian dari dunianya.

__ADS_1


__ADS_2