
"Aduch, perutku udah mulai sering mulas. Sakit." Teriakku.
"Mungkin sudah mulai kontraksi. Ayo dibawa ke Rumahsakit." Ajak Ibu mertuaku.
Hari ini memang tepat 9 bulan 10 hari. Perhitungan dari dokter juga hari ini HPLnya.
Samoai di Rumahsakit, aku langsung ditangani oleh dokter. Dokter langsung mengecek kondisiku.
"Ini baru tahap awal. Kita tunggu sampai tahap selanjutnya dulu. Akan sering mulas tidak apa apa itu wajar. Suami tolong siaga menemani istrinya." Kata Dokter.
"Baik Dok." Jawab Adi.
Kontraksiku lebih sering terjadi. Aku merasa mulas dan sakit diperut bagian bawah. Adi yang khawatir tak tak apa yang harus dilakukan. Dia hanya mengelus elus pinggangku terus menerus. Karena dengan begitu bisa sedikit mengurangi rasa sakitku.
Beberapa sat kemudian, Dokter datang lagi keruanganku. Dokter mengecek lagi kondisiku dan bayiku.
"Ditunggu sebentar lagi ya." Kata Dokter tersebut kemudian keluar.
__ADS_1
Adi kembali mengelus ngelus pinggangku. Tak lama kemudian aku merasakan semakin sakit.
"Sebentar ya aku panggilin dokter." Kata Adi berlari keluar ruangan untuk manggil dokter.
Dokter datang bersama suster susternya dan kemudian mulai menanganiku.
"Dia sudah mau melahitkan." Teriak Dokter tersebut.
Ibu mertuaku menungguku diluar, sedangkan Adi menemaniku didalam ruangan tersebut. Adi melihat proses lahiranku. Dia terlihat gelisah dan sangat khawatir. Aku memegang erat tangannya. Dan terkadang meremasnya dengan sangat kuat. Aku mempertaruhkan nyawaku. Dan setelah beberapa kali berusaha, akhirnya sang buah hati telah lahir.
Suara tangis bayi memenuhi ruangan. Aku merasa sangat lega, begitu juga Adi. Aku tersenyum kepada Adi dan Adi membalas senyumku kemudian mencium keningku dengan penuh rasa sayang. Tubuhku merasa lemas dan sempat tak sadarkan diri karena terlalu banyak mengeluarkan darah.
Setelah dia hari aku berada di Rumahsakit, akhirnya aku diperbolehkan pulang oleh Dokter. Sampai dirumah, semua keluargaku dan Adi berkumpul untuk melihat junior.
"Aduchh mirip siapa ini? Syantik ya ponakan tante." Kata adik sepupuku.
"Mirip sama Ayahnya yang pasti dong tante. Semua mirip Ayahnya, Bundannya tidak ada" Jawab Adi sambil tersenyum melirik kearahku.
__ADS_1
"Egois banget semua mirip kamu." Kataku balik meliriknya.
"Biarin." Kata Adi dengan tertawa.
"Jadi aku cuma perantara aja?" Candaku.
kami sekeluarga mengobrol hinga satu per satu pamit untuk pulang katena hari sudah mulai larut. Aku berterimakasih kepada semua yang sudah datang dan mendoakan sikecil.
Suasana rumahku menjadi tak hening lagi selama ada sikecil. karena sekarang sering terdengar suara sikecil menangis. tangisannya sering kali membangunkan aku dan Adi setiap malam.
Hari hariku sekarang mulai sibuk dengan mengurus sikecil. Adipun terkadang membantuku sebisanya.
Ibuku yang masih menginap dirumah mertuaku, membantuku mengurusi Anakku. Karena aku belum sepenuhmya bisa mengurusnya.
Aku dan Adi sepakat memberi nama anak kami "Celine putri prasetya". Prasetya biar bermarga ayahnya. Semua setuju dengan nama itu. Dan memanggilnya celine.
Adi mulai bekerja seperti biasanya. Jadi aku meminta Ibuku untuk tetap tinggal untuk membantuku mengurus celine untuk sementara waktu. Karena aku tak enak hati jika terus terusan meminta bantuannya. Ibuku menyetujuinya.
__ADS_1
Sudah sebulan lamanya Ibuku tinggal dirumah mertuaku. Pagi ini Ibuku pamit pulang, aku menyetujuinya karena sekarang aku sudah biasa mengurus si kecil.