
Aku tak sadarkan diri cukup lama. Dan aku membuka mata, aku melihat Rudi yang duduk dikursi dengan kepalanya bersandar disamping tempat tidurku.
Mungkin dia lelah menjagaku. Aku biarkan dia tertidur karena aku dia sekarang susah. Tubuhkupun masih lemah dan rasanya tak mampu untuk berdiri. Perasaanku tetap tidak tenang. Takut jika sampai terjadi sesuatu yang tidak aku inginkan.
Rudi bangun dan menatapku terkejut.
"Oh. Kamu sudah sadar. Maaf ku ketiduran. Kamu baik baik saja?" Tanya Rudi
" Iya tidak apa apa. Maaf sudah merepotkanmu." Kataku lirih seperti kehabisan tenaga.
"Iya gak apa apa. Udah kamu istirahat dulu saja. Ibu mertua kamu, nungguin Adi didepan ruang ICU. Jadi kamu tidak usah khawatir, kamu istirahat dulu sampai kamu pulih." Terang Rudi.
"Iya." Jawabku sangat singkat.
Bagaimana aku bisa pulih kalau orang terpenting dihidupku saat ini tidak berdaya di balik ruang ICU. Bagaimana aku akan baik baik saja ketika aku tidak tau keadaannya seperti apa? Ingin aku menemaninya, disampingnya, dimasa sulit seperti ini.
"Hei kamu mikirin apa?" Tanya Rudi. Dia membuatku kaget.
__ADS_1
"Aku boleh minta tolong. Tolong tanyain bagaimana keadaan suamiku." Pintaku jepada Rudi.
Rudi mengiyakan permintaanku. Dia pergi keluar untuk mencari informasi. Aku menunggunya dengan tak sabar.
Hingga beberapa saat kemudian, Rudi kembali keruangan dimana aku dirawat.
"Bagaimana keadaan Adi? Sudah ada perkembangan.?" Tanyaku penasaran.
"Belum ada perubahan, dia masih belum sadar." Ujar Rudi.
"Aku mau lihat keadaan suamiku." Kataku.
Aku melepas paksa infus yang ada ditanganku. Aku beranjak dari tempat tidurku. Tubuh Rudi menghalangiku agar aku tidak pergi. Tapi aku memaksa untuk pergi. Namun, disaat aku berdiri, tubuhku lemah dan akupun terjatuh kelantai. Aku semakin menangis sesegukan.
"Kamu harus istirahat dulu. Tubuhmu masih begitu lemah untuk berdiri dan berjalan." Kata Rudi.
"Kenapa aku begitu lemah ketika suamiku butuh dukungan dari ku. Aku begitu tak berdaya. Aku ingin menemani suamiku." Ujarku sambil terus menangis.
__ADS_1
"Kamu harus kuat, agar kamu bisa menjaga suamimu. Kalau kamu sendiri seperti ini, bagaimana bisa kmu menemani suamimu?" Ujar Rudi memberiku dukungan.
Aku berpikir pa yang dikatakan Rudi semua memang benar. Bagaimana aku bisa menguatkan suamiku kalau aku sendiri saja tak kuat.
Saat ini yang aku rasakan, aku butuh seseorang yang menguatkan aku. Dan orang yang aku butuhkan saat ini adalah Rudi. Aku hanya diam memeluk Rudi, untuk menenangkan hatiku. Rudipun mengiyakannya.
Setelah aku merasa sedikit lebih tenang, Rudi membantuku untuk berdiri dan kembali ketempat tidurku. Rudi menggenggam tanganku untuk menguatkanku. Aku mencoba menenangkan hatiku.
Keesokan harinya, ku merasa lebih tenang. Aku meminta Rudi untuk menghantarku melihat Adi.
"Rud, tolong anyerin aku melihat suamiku." Pintaku.
Rudi menopangku menuju keruangan ICU tempat suamiku dirawat. Rudi meninggalkan aku didalam ruangan sendiri. Airmataku tiba tiba menetes deras ketila melihat keadaan suamiku yang terbujur lemah tak berdaya diatas ranjang.
"Sayang kamu harus kuat. Jangan tinggalin aku. Aku tak bisa jika harus membesarkan anak kita sendiri. Kita masih punya tugas membesarkan anak kita bersama sayang. Aku yakin kamu pasti kuat." Ujarku dengan airmata yang terus mengalir dipipiku.
Melihat keadaan suamiku, aku hanya bisa menangis, menangis dan menangis. Ingin aku menjerit sekeras kerasnya tanda aku tak mampu menghadapi semua ini sendiri. Aku hanya bisa menggenggam tangan suamiku dan menangis tanpa henti.
__ADS_1