JODOHKU..

JODOHKU..
RAHASIA


__ADS_3

"Kalian pada ngomongin apa? kok kaya pada musuhan gitu?" Tanya Adi tiba tiba masuk.


"Gak apa apa kok. Kita ngobrol diluar saja. Biar lebih santai." Ajak Rudi.


Aku hanya diam, tak menghiraukan Adi ataupun Rudi. Aku hanya tak ingin Rudi menjauh dari keluargaku.


"Apa kamu tadi berkelahi sama Vina?" Tanya Adi terus terang.


Rudi yang mendengar pertanyaan Adi sedikit terkejut dan gelagapan bingung mau menjawab apa. Rudi bengong sejenak.


"Hei!" Seru Adi menepuk punggung Rudi.


"Ehh!" Seru Rudi terkejut.


"Kamu kenapa? Ditanya nggak dijawab malah diam melamun nggak bicara apapun." Kata Adi.


"Ohh! Kamu tadi tanya apa?" Tanya Rudi pura pura tidak mendengat pertanyaan dari Adi.


"Apa kamu tadi bertengkar sama Vina?" Tanya Adi lagi.


"Ohh! enggak kok. Aku nggak bertengkar sama Vina." Jawab Rudi.


"Tapi kenapa tadi aku melihat ekspresi wajah Vina marah gitu? Jarang jarang dia semarah ini." Kata Adi penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi.


"Tadi itu aku cuma bercanda kalau anak kamu itu gak ada mirip miripnya sama dia. Dan ku bilang semuanya mirip sama kamu. Ehh! ternyata dia malah marah sama aku." Terang Rudi membuat alasan agar Adi tak mencurigainya.


"Masak iya hanya gara gara itu Vina marah sampai segitunya? Benar nggak ada hal lain?" Tanya Adi tetap penasaran.


"Sumpah aku tadi cuma bilng gitu. Tapi nggak tau kenapa Dia tiba tiba marah begitu." Kata Rudi tetap mencari alasan untuk meyakinkan Adi.


"Ya sudahlah, nggak usah dibahas lagi. Nanti juga reda sendiri. Biarkan saja dia sendiri dulu." Kata Adi.


Rudi tersenyum lega karena Adi sedikitpun tidak mencurigainya. Tak sia sia dia membuat alasan yang sama sekali tidak terlintas dipikiran sebelumnya. Adi dan Rudi mengalihkan pembicaraan mereka.


"Bagaimana usaha kamu? Lancar?" Tanya Adi mengawali pembahasan baru.


"Ya alhamdulillah lancar. Beberapa hari ini aku tidak istirahat dengan baik, karena harus ngurusin usaha. Kemarin aku sudah nambah beberapa karyawan." Jawab Rudi dengan tersenyum.


"Wahh calon pengusaha muda." Goda Adi..


"Bisa saja kamu." Jawab Rudi dengan tertawa.


"Oh iya, kamu sudah makan?" Tanya Adi.


"Belum, laper aku sebenarnya." Jawab Rudi berterus terang.

__ADS_1


"Ya sudah ayo kita makan. Kebetulan aku juga sudah lapar." Ajak Adi berdiri dan menuju ruang makan.


Rudi mengikuti Adi dibelakang. Mereka duduk dan mulai makan bersama. Setelah selesai makan mereka melanjutkan mengobrolnya.


"Sebentar ya, aku tinggal bentar." Pamit Adi.


"Kemana?" Tanya Rudi.


"Ini mau nganterin makan buat Vina. Dia belum makan." Terang Adi.


Rudi sedikit merasa cemburu terhadap Adi karena perhatiannya kepada Vina. Tapi Rudi menahannya dan mencoba mencairkan hatinya.


"Sungguh lelaki idaman. Yang sayang sama istrinya." Goda Rudi.


Adi hanya tertawa dengan keras dan meninggalkan Rudi. Setelah Adi pergo, raut wajah Rudi yang cemburu tampak sangat jelas.


Hari sudah sore, Ibu mertuaku pulang dari arisan. Dan tak lama kemudian Bapak mertuaku juga pulang dari bekerja.


"Eh ada Rudi ya? Kapan datang?" Tanya Ibu Adi.


"Iya tante. Tadi pagi tante. Ini sudah mau pamit pulang karena sudah malam." Jawab Adi.


"Lho kok tiba tiba pamit pulang?" Tanya Ibu Adi.


"Iya tante, sudah sore soalnya. Besok main lagi." Terang Adi.


"Bro ku pulang dulu ya." Pamit Rudi kepada Adi.


"Hati hati ya." Kata Adi.


"Iya. Salam ya buat istri kamu. Aku nggak berani pamitan sama dia. Takut kalau dia masih marah." Kata Rudi.


"Iya. Dan maaf ya atas nama istri aku, kamu main kesini tapi nggak disambut baik sama istri aku." Kata Adi meminta maaf.


"Iya tidak apa apa." Kata Rudi dan pergi keluar rumah untuk pulang.


Adi masih penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa aku bisa semarah ini kepada Adi.


Adi membuka pintu kamar, berjalan kearahku dan tersenyum. Aku membalas senyumnya. Adi mencium keningku dan mencium kening sikecil yang tertidur pulas.


"Kamu kenapa seharian nggak keluar kamar? Nggak jenuh?" Tanya Adi.


"Enggak ahh! Males aku mau keluar. Dia sudah pulang?" Tanyaku dengan ekspresi benci.


Adi semakin penasaran dengan tingkahku yang tak bisa aku sembunyikan dari dia. Adi semakin yakin bahwa orang yang membuatku marah adalah Rudi.

__ADS_1


"Rudi?" Tanya Adi pura puta tidak tahu bahwa yang aku maksud dengan kata "DIA" adalah Rudi.


"Iya." Jawabku singkat.


"Dia sudah pulang. Coba sekarang jelaskan kepadaku, kesalahan apa yang Rudi perbuat sampai membuat istriku marah sampai seperti ini? Padahal hampir tidak pernah kamu marah sampai sebegini besarnya." Kata Adi dengan lembut dan bijak.


"Tidak ada apa apa." Jawabku.


"Tidak mungkin kalau dia tidak melakukan kesalahan apapun tapi sampai bisa membuat kamu marah seperti ini." Kata Adi memaksaku mengatakan apa yang terjadi.


Mana mungkin aku mengatakan apa yang sebenarnya terjadi. Jika aku berterus terang kepadanya, sama saja dengan aku membunuh diriku sendiri. Tapi jika aku tidak berterus terang, apakah artinya aku harus berbohong lagi kepadanya. Aku hanya terdiam dalam lamunanku.


"Sayang! Hei!" Seru Adi memanggilku dan mengelus pipiku dengan lembut.


Aku yang melamun, terkejut dengan seruannya. Aku tersadar dari lamunanku.


"Ehh!" Kataku.


"Kamu kenapa?" Tanya Adi semakin penasaran dengan apa yang terjadi antara aku dan Rudi.


"Enggak apa apa kok." Jawabku.


"Sudah jangan bohong sama aku. Cerita sama aku ada apa?" Tanya Adi tegas.


Kedua tangan Adi memegang kedua lenganku. Dia memaksaku menceritakan semua. Apa yang harus aku lakukan. Aku tak menemulan alasan apa yang akan membuat Adi percaya denganku. Aku berpikir dengan sangat keras.


"Sayang! Cerita ya ada apa sebenarnya? Kenapa kamu sampai marah seperti ini? Jngan buat aku khawatir begini." Kata Adi dengan lembut.


Aku tak memiliki alasan apapun saat ini. Aku tak ingin Adi mengkhawatirkan aku. Apa yang harus aku katakan.


"Sayang!" Seru Adi.


"Aku tadi bertengkar sama Rudi." Kataku.


"Kenapa kalian bertengkar? Nggak biasanya kalian seperti ini. Kamu nggak pernah marah sampai seperti ini sama dia sebelumnya." Tanya Adi semakin penasaran.


"Aku nggak tau kenapa aku bisa sampai marah seperti ini sama dia." Kataku.


"Awalnya apa yang terjadi?" Tanya Adi lagi.


"Dia bilang, katanya aku cuma baik sama dia kalau pas aku butuh dia saja. Setelah aku punya anak, katanya aku berubah. Aku harus gimana?" Kataku.


Airmatku tiba tiba mengalir dipipiku. Aku menangis bukan karna aku menyempurnakan kebohonganku. Tapi aku merasa berdosa telah membohonginya. Hatiku hancur dengan ulahku sendiri.


"Sudah sudah kamu jangan menangis." Kata Rudi meraih tubuhku dan memelukku. Aku menangis dipelukannya.

__ADS_1


"Sudah, jangan menangis lagi. Mungkin maksud Rudi bukan membuat kamu marah. Dia hanya takut kamu menjauhinya karena kmu dan dia kan sudah lama saling kenal." Kata Adi menjelaskan kepadaku agar aku tidak salah paham terhadap Rudi.


Padahal aku tak menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Aku terpaksa harus membohonginya sekali lagi. Aku tak menjawab omongannya. Aku hanya menangis didalam pelukannya.


__ADS_2