
Setelah sampai dirumah, aku merasa kepalaku pusing dan merasakan mual yang tak tertahankan. Tanpa aku sadari aku tergeletak dilantai. Adi terkejut karena aku tiba tiba terjatuh dilantai.
"Sayang.. Sayang.. Kamu kenapa? Bangun sayang." Ujar Adi merasa khawatir dengan kondisiku.
Aku tak mampu mendengar apapun. Aku tak sadarkan diri.
"Bu.. Tolongin aku Bu.. Vina pingsan ." Teriak Adi memanggil Ibunya.
Mendengar teriakan Adi, Ibunya langsung berlari menuju ketempat dimana Adi memanggilnya.
"Ada apa Adi? Eh.. Vina kenapa? Bukannya tadi kamu sampai rumah dia baik baik saja." Kata Ibunya juga mengkhawatirkan aku.
"Gak tau BU. Tadi tiba tiba dia terjatuh dan pingsan." Kata Adi menjelaskan
"Ya sudah ayo bawa kerumah sakit." Ajak Ibu mertuaku.
Adi langsung menggendongku Ke motornya bersama Ibu mertuaku menuju Rumah Sakit. Sesampainya di Rumah Sakit, Adi memanggil dokter agar segera menanganiku. Dengan rasa khawatir Dia menemaniku masuk ke ruang IGD. Dokter segera memeriksa kondisiku, denyut nadi, tekanan darah semua normal. Kemudian dokter memeriksa perutku.
"Dia kenapa dok? Apakah dia baik baik saja?" Tanya Adi merasa sangat khawatir dan tidak ingin terjadi sesuatu padaku.
"Bapak tenang saja. Istri Anda baik baik saja. Dan selamat Anda akan menjadi seorang ayah." Kata Dokter tersebut sambil tersenyum.
"Alhamdulillah." Adi mengucapkan rasa syukur karena tidak terjadi sesuatu yang tidak dia inginkan.
"Eh.. Apa dok? Saya akan menjadi seorang ayah? Berarti istri saya hamil?" Tanya Adi sedikit tidak percaya.
__ADS_1
"Iya. Usia kandungannya sudah berjalan 3 minggu. Selamat ya pak. Mungkinn tadi pingsan karena kecapekan" kata Dokter tersebut menjelaskan.
"Alhamdulillah. Bu.. Vina Hamil." Kata Adi dengan senyum bahagianya.
Ibu mertuaku juga sangat senang mendengar bahwa aku hamil. Karena Dia akan mendapatkan cucu pertamanya.
"Ya saya permisi dulu." pamit dokter
"Iya Dok. Terimakasih." Kata Adi
Mendengar kabar bahwa aku hamil Adi dan Ibu mertuaku sangat bahagia. Mereka menuju ketempat aku berbaring dan menungguku yang belum sadarkan diri. Adi terus memegang tanganku dan tangan satunya mengelus rambutku bukti rasa sayangnya kepadaku. Dia tak meninggalkan aku sama sekali, dia menunggu sampai aku siuman.
Setelah entah berapa lama aku tak sadarkan diri, aku membuka mata dan melihat Ibu mertuaku dan Adi dengan raut wajah sangat bahagia. Aku belum tau apa yang membuat mereka terlihat sangat bahagia. Karena saat itu akupun belum mengetahui tentang kehamilanku.
"Adi." Panggilku lirih karena aku merasa masih lemah.
"Aku dimana?" Tanyaku tak mengerti bahwa aku di Rumah Sakit.
"Kamu di Rumah sakit sayang. Tadi kamu pingsan dan aku bawa kamu ke Rumah Sakit." Kata Adi sambil memegang tanganku dan tangan satunya tetap mengelus lembut rambutku.
"Maaf sudah membuat kamu dan Ibu khawatir." Kataku masih lemah.
"Kamu ngomong apa? Justru aku sangat berterimakasih sama kamu, karna kamu memberi aku kesempatan untuk menjadi ayah." kata Adi
"Aku tak mengerti tentang apa yang dikatakannya. Yang jelas aku merasa aku sangat merepotkan Adi dan Ibu mertuaku.
__ADS_1
"Maksud kamu?" Tanyaku tentang maksud Adi barusan.
"Kamu sedang mengandung anak kita. kamu tadi hanya kecapekan jadi kamu pingsan. Jadi mulai sekarang kamu jangan capek capek lagi. Kamu harus jaga anak kita." Kata Adi dengan rasa percaya dirinya yang membuat aku yakin akan rasa sayangnya kepadaku.
"Apa? Aku hamil?" Tanyaku.
"Iya." Jawab Adi dengan tersenyum.
Mendengar perkataan Adi yang begitu yakin, aku hanya diam dan meneteskan air mata tanda bahwa aku sangat bahagia mendengar kabar ini. Melihat aku menangis bahagia, Adi kemudian memelukku disaat aku masih terbaring lemah diatas kasur Rumah Sakit.
"Terimaksaih ya sayang. Kamu sudah ijinkan aku menjadi seorang ayah." bisiknya.
Aku tak bisa berkata apa apa hanya mampu membalas pelukan Adi dan airmataku semakin deras mengalir dipipiku. Ibuku hanya terdiam tidak mengganggu kebahagiaan aku dan Adi. Dia hanya ikut menangis. Ketika tak tahan ingin juga merasakan kebahagiaan tersebut, Ibu mertuaku mendekati aku dan Adi kemudian memeluk kami berdua.
"Ibu sangat bahagia melihat kalian bahagia." Bisik Ibu kepada kami berdua.
"Terimakasih Bu." Kataku.
kami saling melepaskan pelukan. Dan aku menghapus air mataku yang tadi mengalir deras dipipiku.
"Sudah berapa lama aku pingsan tadi?" Tanyaku penasaran
"Kira kira hampir sehari." Canda Adi sambil tersenyum.
"Apakah selama itu?" Tanyaku merasa tak enak dengan Ibu mertuaku.
__ADS_1
Adi hanya tersenyum dan kembali memelukku. Aku bisa merasakan kebahagiaan Adi karena aku telah mengandung darah dagingnya. Akupun juga sangat bahagia karena Allah sudah mempercayakan buah hati kepada kami.