
Aku menjadi seperti debu yang di terpa angin, tanpa arah tanpa tujuan. Memutuskan akan berjalan seperti apapun aku tak mampu. Semakin lama aku semakin lemah, semakin tak mampu menghadapi kenyataan yang begitu menyakitkan. Dia yang menyelamatkanku dari sebuah penderitaan. Tapi dia juga yang menghancurkanku dari sebuah kebahagiaan. Aku yang selalu belajar kuat darinya, belajar bagaimana cara menghadapi kerasnya dunia ini. Bersamanya aku mampu merasakan kebahagiaan yang sebenarnya, bersamanya aku menjadi orang yang lebih baik. Dan dengan seketika aku di hancurkan dengan sebuah kesalahpahaman yang mungkin akan dengan mudah untuknya mengerti jika dia mau mendengarkannya.
Aku tak mampu seceria seperti saat aku masuh bersama Adi. Karena bagiku keceriaanku bersumber darinya. Aku merindukannya seperti yang dulu, sebagai seseorang yang paling mengerti aku. Seseorang yang slalu bersamaku meski orang lain banyak yang mencaciku. Aku sudah terbiasa dengan adanya kamu di hidupku selama ini,dan aku tak akan mampu bila tak ada kamu yang menemaniku.
Aku begitu merasa hancur saat ini. tolong kembalilah padaku, kembalilah dengan semua kasih sayangmu dulu kepadaku. Karena aku sudah terbiasa akan semua itu. Hadirmu membuatku merasa ada, sampai aku menjadi baik baik saja.
__ADS_1
Aku hanya bisa menangis dan mencurahkan semua isi hati yang aku rasakan saat ini dengan tulisan. Bagiku hanya coretan itulah yang mampu mengerti dan mau mendengarkanku dengan diam dan tidak akan menyalahkanku atas apa yang terjadi. Rasanya tak mau lagi terlalu percaya dengan janji manusia. Karena semua njanji yang manusia berikan terkadang hanya sebatas omongan yang meyakinkan agar kita percaya tanpa ragu sedikitpun. Aku tak mau lagi percaya kepada siapapun dan apapun itu. Karena sungguh menyakitkan disaat aku percaya dan yakin, aku ditinggalkan begitu saja secara sepihak.
Keesokan harinya aku berangkat kerja seperti biasa, tapi tetap tak mempunyai semangat apapun. Sampai ditempat kerja, aku bertemu Rudi yasng ditangannya membawa coklat. Dan memberikannya kepadaku.
"Ini cokelat buat kamu. Biar sedikit mengurangi sakit hatimu." katanya sambil tersenyum
__ADS_1
"udah gak usah terpaksa gitu senyumnya." Rudi menyadari bahwa aku terpaksa tersenyum.
Lalu aku pamit untuk bekerja dan dia pun pergi. Setelah Rudi pergi aku memergoki Laras sedang memperhatikan kami. Aku mulai curiga dengannya, karena hanya dia yang terlihat tidak menyukaiku dari awal. Tapi udahlah aku tak mau terlalu curiga kepada dia. Jika memang dia yang memfitnahku "selamat kamu telah berhasil menghancurkan aku" itulah yang akan aku katakan untuknya.
Saat bekerja dan bersama teman temanku aku tak merasa begitu hancur karena aku masih bisa sedikit merasakan keramaian mereka. Mereka slalu mencoba membuat tawa satu sama lain. Aku benar benar akan merasa hancur ketika aku sendiri tanpa ada orang yang mencoba menghiburku. Sepi, sunyi itulah yang aku rasakan ketika sendiri. karena disaat itulah aku sangat merasa merindukan kehadirannya disampingku setiap aku merasa sepi seperti ini.
__ADS_1
Semua telah berlalu, meski perasaanku masih sangat kuat untuknya, aku mulai terbiasa tanpa kehadirannya. Rudilah yang saat ini selalu berusaha membuatku kuat. Dia tak memaksaku menceritakan tentang kisahku. Tapi dia tau bahwa akulah yang paling hancur saat ini. Hingga akhirnya aku ingin menceritakan semua kepadanya. karena memang saat ini aku butuh seseorang yang mendengarkanku. Aku berterus terang tentang masalahku putus dengan Adi karena pertemuanku dengan dia. Semua terjadi karena salah paham.
Rudi hanya mendengarkan tanpa berkomentar. Mungkin karena dia merasa bersalah atau memang dia tak bisa berkata apapun. Aku merasa sedikit lega setelah menceritakan semua kisahku.