
"Bapak sama Ibu pulang dulu ya sayang. Kapan kapan kami akan datang kesini lagi untuk menjengukmu." Pamit Ibuku
"Iya Bu. Hati hati ya dijalan." Kataku
Orangtuaku kemudian pulang setelah pamit kepadaku dan keluarga Adi. Aku sepertinya belum rela mereka pulang. Aku masih ingin mereka tinggal disini untuk sementara waktu. Karena dengan adanya mereka, aku jadi tidak kesepian dirumah.
"Kok kamu sepertinya belum ikhlas gitu Bapak sama Ibu pulang?" Tebak Adi hanya dengan melihat ekspresiku saat ini.
"Aku sebenarnya masih ingin mereka disini." Kataki agak kecewa.
"Kenapa tadi gak nyegah pas mereka pamit? Harusnya tadi jangan diiyanin pas mereka bilang mau pulang." Kata Adi menasehatiku.
"Aku gak boleh egois dengan menahan mereka. Lagian mereka udah menenin aku beberapa hari ini. Kan mereka juga punya rumah yang harus diurus. Karena gak ada yang ngurus rumah kalau mereka pergi lama lama." Terangku.
"Kalau pas posisi hamil gini, egois dikit gak apa apa sayang. Gak ada salahnya. Mereka pasti maklum kok." Kata Adi.
Aku pikir perkataan Adi ada benarnya juga. Aku benar benar belum rela kalau orangtuaku pulang. pinginnya ditemani mereka lebih lama lagi.
Beberapa saat kemudian Adi pamit untuk berangkat bekerja. Dia masih melihat wajahku penuh kekecewaan.
"Sayang udah jangan dipikirin lagi. Kaan kaan kita suruh Bapak sama Ibu main lagi kesini ya." Kata Adi menghiburku dan mencoba menenangkan aku.
Aku hanya tersenyum dan mengangguk tanda mengiyakan perkataannya.
"Kalau wajah kamu masih seperti ini, bagaimana aku bisa berangkat kerja. Aku gak punya semangat untuk itu." Lanjut Adi.
Aku merasa bersalah kepada Adi karena sudah menunjukkan ekspresi kecewaku dipagi ini. Aku tersenyum ikhlas didepannya agar dia bersemangat lagi.
"Iya kamu berangkat kerja gih. Semangat sayang. Hati hati dijalan." Kataku.
"Ya sudah, aku berangkat kerja dulu ya sayang." Pamit Adi.
Aku tersenyum dan mengangguk tanda mengiyakannya.
"Sayang, ayah berangkat dulu ya. Kmu jangan nakal." Bisik Adi didepan perutku dan mengelusnya kemudian menciumnya.
__ADS_1
Adi berlalu dalam pandanganku. Setelah aku sendiri berdiri didepan pintu rumah, entah perasaan apa yang timbul dalam benakku. Serasa sakit yang begitu dalam, dan perasaan hati yang didak tenang. Tanpa ku sadari airmataku menetes kepipiku. Ingin rasanya ku menjerit tanpa sebab. Aku memegangi dada karena terasa begitu sesak.
Aku pergi kedapur untuk mengambil air minum, dan meminumnya. Aku berpikir semua akn berlalu setelah aku minum. Tapi dugaanku salah, aku tetap merasa tidak tenang.
Melihat suasana hatiku yang tidak tenang, Ibu mertuaku menemaniku dan beberapa kali mencoba menghiburku. Tapi tetap saja hatiku tak bisa tenang. Entah karena rasa kecewa sebab orangtuaku sudah pulang, atau karena sebab lain. Aku tidak mengerti.
Beberapa saat kemudian, telepn rumah berbunyi. Aku beranjak untuk mengangkat telepon.
"Selamat siang, Apa benar ini keluarga Bapak Adi?" Tanya seseorang ditelepon.
"Iya benar. Saya istrinya. Ini dengan siapa ya?" Tanyaku penasaran siapa penelepon ini.
"Ini dari Rumah Sakit Husada, Ibu. Mau memeberitahukan ini Bapak Adi mengalami kecelakan. Mohon dari keluarga untuk datang ke Rumah Sakit, Ibu." Terang pihak Rumah Sakit.
Mendengar semua itu, aku tak mampu berkata apa apa lagi. Hanya derai airmata yang mewakiliku menunjukkan rasa sakitku. Aku terjatuh dan tak mampu berdiri. Lemah tubuh ini tak mampu aku kendalikan. Melihat aku terjatub lemah, Ibu mertuaku berlari menghampiriku.
"Kamu kenapa Vina? Ada apa?" Kata Ibu mertuaku yang begitu khawatir dengan keadaanku.
Aku tak mampu berkata apapun. Hanya derai air mata yang semakin deras mengalir dipipiku. Aku tak menjawab apapun, karena aku tak lagi mampu menenangkan hatiku. Seakan akan mulutku dibungkm dengan seketika. Ibuku menjadi tak tenang dan meraih gagang telepn yng masih dalam genggamanku.
"Iya Ibu, ini dari Rumah Sakit Husada, mau menginformasikan bahwa Bapak Adi mengalami kecelakaan. Dan dimohon dari pihak keluarga segera datang kerymah sakit." Terang pihak Rumah Sakit.
Mendengar berita tersebut, Ibu Adi juga langsung terjatuh lemah tak berdaya. Aku dan Ibu saling peluk. Ibu mencoba menguatkan aku. Tapi aku benar benar tak berdaya saat itu. Ibu menyarankan aku tetap dirumah dulu sampai aku merasa sedikit lebih tenang. Karena pikir Ibu aku sedang mengandung.
"Kamu tenangin diri dulu dirumah. Biar Ibu yang ke Rumah Sakit memasyikan suami kmu tidak apa apa." Kata Ibu memelukku sambil menangis.
Aku hanya mengangguk, tak mampu berkata satu katapun. Aku tetap menangis ketakutan jika terjadi sesuatu dengan Adi. Apa yang hatus ku lakukan.
"Kamu kekamar saja. Tenangkan diri kamu. Suami kamu tidak apa apa, Ibu yakin." Kata Ibu mertuaku mencoba menenangkanku.
Aku ditopang Ibu mertuaku kekamar. Aku tetap terkulai lemah tak berdaya. Aku takut kehilangn sesuatu yang berharga dihidupku.
"Bagaimana Ibu bisa ninggalin kmu kalau kamu seperti ini? Ibu gk tega ninggalin kmu jadinya." Kata Ibuku.
Ibuku pergi mengambil hpku dan menghubungi temanku agar bisa meneaniku dirumah. Dan saat itu Ibu menemukan nomor Rudi. Lalu Ibu meneleponnya meminta tolong untuk datang kerumah menemaniku. Rudi yang saat itu kerja, mendengar kabar bahwa Adi kecelakaan dan aku sangat shock, tanpa berpikir panjang langsung meminta ijin dan langsung datang kerumahku.
__ADS_1
(Mengetuk pintu)
Ibu mendengar ada orang mengetuk pintu langsung berlaru kedepan untuk membukakan pintu.
"Kamu sudah datang?" Tanya Ibu Adidengan nada sedih.
"Bagaimana keadaan Adi tante?" Tanya Rudi khawatir.
"Tante juga belum tau. Ini tante baru mau ke Rumah Sakit, tapi tante gak tega ninggalin Vina sendiri, makanya tante minta tolong kamu jagain Vuina." Terang Ibu Adi.
"Ya sudah tante, aku temani Vina dan tante segera kerumah sakit. Nanti kalau ada kabar soal Adi tolong kabari saya." Pinta Rudi.
"Terimakasih ya. Tante jadi ngerepotin kamu." Kata Ibu Adi.
"Gak apa apa tante. Aku sudah anggap Adi dan Vina keluarga sendiri." Kata Rudi.
" Ya sudah, tante pergi dulu." Pamit Ibu Adi
" Oh iya tante. Vina dimana?" Tanya Rudi.
"Dia dikamarnya, sebelah sana (menunjuk kekamar). Tolong jaga dia, kalau bisa hubur dia. Tolong tenangin hatinya." Kata Ibu Adi
Rudi hany mengangguk tanda setuju. Ibu Adi langsung meninggalkan Rudi tanpa berpikir panjang. Kemudian Rudi menuju kekamarkau.
(Membuka pintu)
Aku tak perduli siapa yng datang. Aku hanya sedih mendengar kabar yang tak pernah aku bayangkan. Rudi mendekatiku dan mencoba menenngkan hatiku. Dia mengarahkan kepalaku kebahunya, tangan kanannya memelukku, sedang tangan kirinya menggenggam tanganku. Aku menangis dibahunya. Aku merasa lemah karena rasa takutku. Dan Rudi hanya tetap diam membiarkan posisi kami tetap seperti itu.
"Kamu tenangin diri kamu dulu. Kalau kamu sudah tenang kmu pergi ke Rumah Sakit sama aku." Kata Rudi.
Aku hanya diam tak berkata apapun.
"Kamu harus percaya bahwa Adi tidak apa apa. Kamu harus yakin Adi orangnya kuat. Pasti akan mampu menghadapi semua ini." Kata Rudi menenangkan aku.
Aku yang percaya dengan Rudi, kemudian menatapnya dan memeluknya. Aku menangis cukup lama dipelukannya. Rudi memvalas pelukanku dan mengusap usap bahuku untuk menenangkanku. Aku cukup lama memeluk Rudi.
__ADS_1