JODOHKU..

JODOHKU..
KEDATANGAN ORANGTUAKU


__ADS_3

Hari ini adalah hari dimana orangtuaku bilang akn datang menunjungiku. Aku sengaja menyuruh Adi untuk mengambil libur karena orangtuaku akn berkunjung. Dan Adi menurutinya.


Sekitar pukul 10.00 WIB, orangtuaku tiba dirumah Adi.


(Mengetuk pintu)


"Assalamu'alaikum." Sapa Bapakku dengab mengetuk pintu.


Aku mendengar suara Bapak dari balik pintu. Aku bergegas membuka pintu.


"Bapak Ibu sudah sampai?" Sapaku, bersalaman dan mencium tangannya.


Adi menghampiriku dan melakukan hal yang sama denganku. Adi menyalami Bapak dan Ibu mertuanya dengan mencium tangannya.


"Bapak Ibu tadi dari rumah jam berapa?" Tanyaku.


"Sekitar jam 9 tadi kayaknya ya Bu?" Kata Bapak tak yakin jam berapa mereka berangkat dari rumah.


"Sampai kapan kamu akan membiarkan Bapak dan Ibu berdiri saja diluar sayang?" Kata Adi memberiku kode untuk mengajak Bapak Ibu masuk kedalm rumah.


"Oh iya. Ayo Pak bu masuk." Ajakku mempersilahkan orangtuaku masuk kedalam.


"Kamu gak kerja Di?" Tanya Bapak.


"Enggak Pak. Vina bilang kalau hari ini Bapak dan Ibu datang jadi Adi ambil libur." Kata Adi.


"Maaf ya ngerepotin." Kata Ibu meminta maaf.


"Kenapa Ibu minta maaf? Sudah sewajarnya begini Bu." Kata Adi.


Aku berjalan dari balik dapur membawakan minuman dan sedikit camilan. Dan menaruhnya diatas meja dan mempersilahkan Bapak dan Ibu meminumnya.


"Silahkan diminum Pak Bu." Pintaku


"Kalau Bapak Ibu capek bisa istirahat dulu." Kata Adi


"Enggak gak apa apa. Oh iya orangtuamu kemana?" Tanya Ibu


"Bapak bekerja Bu, Kalau Ibu tadi pamit mau pergi kepasar dulu." Jawab Adi.


"Oh begitu?" Kata Ibu.


Kami ngobrol banyak tentang apa saja yang bisa dibicarakan.


"Bagaimana kandungan kamu sayang? Baik baik saja kan? Kamu gak disusahin sama suami kamu?" Tanya Ibuku melirik suamiku dengan lirikan agak sedikit tajam.


"Baik baik saja kok Bu."Terangku sambil tersenyum melihat lirikan curiga Ibuku kepada Adi.


"Ibu menuduhku menyusahkan Vina?" Tanya Adi terkejut.

__ADS_1


"Ingat kata kata Ibu kemarin ya. Kalau sampai kamu nyusahin Vina, awas aja." Ancam Ibuku


"Wahh Ibu terlalu yakin mengancamku. Ancaman Ibu hanya akan merenggut kebahagiaan Vina. Ibu gak tau?" Kata Rudi balik mengancam Ibuku dengan yakinnya.


"Kamu balik mengancam Ibu?" Tanya Ibuku.


"Enggak. Mana berani aku mengancam Ibu?" Jawab Adi sambil tersenyum.


Candaan kami terus berlangsung. Beberapa saat kemudian, Ibu mertuaku datang dari pasar.


"Wahh.. Lagi ngobrolin apaan nih? Sepertinya pembahasannya serius." Kata Ibu mertuaku menyalami orangtuaku.


Aku menghampiri Ibu mertuaku dan meminta barang belanjaannya untuk aku taruh didapur. Adi dengan manjanya menghampiri Ibunya dan menceritakan tentang niat Ibuku. Aku hanya tersenyum mendengar Adi menceritakan semua kepada Ibunya. Ibunya hanya tersenyum. Dan semua membalas senyumannya.


"Ya sudah kalian selesaiin dulu masalah kalian, saya mau masak dulu buat makan siang." Pamit Ibu mertuaku.


"Jadi Ibu gak membelaku sedikitpun ini? Aku ini anak Ibu lho. Ibu gak ingat?" Canda Adi


Ibunya hanya tersenyum kepada Adi.


"Kamu sudah dewasa sayang. Jadi kamu harus selesaikan itu sendiri." Kata Ibu mertua yang kemudian beranjak meninggalkan Adi.


Mendengar jawaban Ibunya, kamu hanya tertawa. Ibuku pamit kedapur untuk membantu Ibu mertuaku menyiapkan makan siang.


"Ibu istirahat saja. Biar aku yang bantu Ibu. Kan Ibu tamu disini." Kataku.


Aku hanya bisa mrngiyakan perintah ibuku. Aku menemani ngobrol Bapak dan Suamiku. Aku hanya mendengarkan obrolan mereka, karena selama hamil ini matakupun kalau siang tak bisa diajak kompromi. Ngantuk mulai menyerangku.


"Kalau kamu ngantuk, kamu tidur aja dikamar. Biar aku yang nemenin Bapak disini." Kata Adi mengelus kepalaku.


Aku hanya bisa menuruti Adi, karena memang saat ini ku tak bisa menghindari rasa ngantukku. Aku berpamitan dengan Bapak, dan Bapakku mengiyakannya. Aku beranjak kekamar untuk tidur.


Setelah selesai masak, Ibuku dan Ibu mertuaku menyiapkan makanan diruang makan dan menyuruh Adi dan Bapak makan siang.


"Loh Vina kemana?" Tanya Ibu mertuaku.


"Tadi Adi suruh tidur Bu. Kasian dia ngantuk katanya." Jawab Adi.


"Oh iya. Soalnya selama hamil ini dia kalau siang harus tidur. Ya sudaj kita makan dulu saja." Ajak Ibu mertuaku.


Selesai makan mereka ngobrol ngobrol sampai sore. Beberapa saat kemudian Bapak mertuaku pulang dari kerja.


"Wahh ternyata sudah datang ya Pak Bu. Maaf ya gak bisa libur kerja." Terang Bapak Adi


"Iya tidak apa apa Pak." Ucap Bapakku


"Tadi dari rumah jam berapa Pak?" Tanya Bapak Adi


"Sekitar jam 9." Jawab Bapakku.

__ADS_1


"Ya sudah kalian lanjutin ngobrol dulu, saya mau mandi dulu. Gerah." Pamit Bapak Adi


"Oh iya Pak. Silahkan." Kata Ibu.


Aku dibangunin oleh Adi, disuruhnya untuk mandi.


"Sayang bangun gih, mandi dulu." Kata Adi membangunkan aku.


Aku membuka mata dan melihat Adi tersenyum dihadapanku.


"Mandi dulu gih." Suruhnya.


Adi meraih tanganku dan membangunkan tubuhku agar aku beranjak dari tempat tidurku. Aku masih merasa malas karena aku merasa nyawaku belum terkumpul saat itu.


Mengetahui aku masih malas, Adi kemudian mencium pipiku. Bertujuan agar aku tersadar dan segara bangun.


Aku beranjak mandi dan Adi meninggalkan aku keruang keluarga untuk kembali menemani Bapak dan Ibuku disana. Mereka tetap ngobrol seperti yang dilakukan mereka sebelumnya. Entah apa yang dibahas, kenapa tak habis habis pembahasan mereka. Setelah mandi, Adi mengambilkan aku makan dan menyuruhku untuk makan karena dari tadi siang ku belum makan apapun. Aku hanya bisa menuruti suamiku. Adi menemani aku makan dengan duduk disebelahku.


Selesai makan, aku dan Adi ikut mengobrol dan hanya menjadi pendengar obrolan orangtua. Karena memang tak tau apa yang mereka bahas. Hanya mendengarkan dan ikut tertawa disaat mereka semua tertawa. Hanya untuk mengimbangi obrolan mereka.


Waktu sudah malam, Ibuku dan Ibu mertuaku menyiapkan makan malam. Setelah semua siap, Ibu menyuruh semua makan malam. Dan aku tetap duduk didepan TV, menunggu mereka selesai makan malam.


Selesai makan malam, karena tak ada yang dikerjakan, mereka kembali keruang keluarga. Meneruskan apa yang mereka bahas tadi. Aku memilih menonton TV karena memang tak tau apa yang mereka bicarakan. Adi mendekatiku dan duduk disebelahku.


"Kamu tau apa yang mereka bahas?" Bisikku bertanya kepadanya.


"Enggak sama sekali." Jawabnya berbisik


Aku hanya tersenyum mendengar jawaban Adi.


"Kalau aku paham, aku gak akan nusulin kamu." Lanjut bisikannya.


Aku semakin ingin tertawa.


"Ya sudah nonton TV aja." Ajakku.


"Iya. Tapi kalau aku sih mending nonton kamu dikamar." Godanya dengan ulah genitnya.


"Ih apaan sih. Mulai genitnya." Kataku sambil mencubit perutnya.


"Aduh. Senjata kamu pasti nyubit." Kata Adi memelukku.


"Biarin." Kataku.


Tanpa sadar ternyata orangtuaku dan Adi memperhatikan tingkahku dan Adi. Mereka tertawa.


"Lihatlah, seperti itulah tingkah mereka setiap hari." Bisik Ibu Adi.


Mendengar bisikan Ibu Adi, mereka tertawa makin keras. Mendengar tawa mereka, aku penasaran apa yang mereka tertawaka. Dan aku melihat mereka, ternyata semua mata tettuju padaku dan Adi. Ternyata mereka menertawakan tingkahku dengan Adi. Aku spontan merasa malu dan ingin melarikan diri. Begitu juga Adi.

__ADS_1


__ADS_2