JODOHKU..

JODOHKU..
RASA PERCAYA


__ADS_3

Semakin bertambah usia kandunganku, semakin besar pula perutku. Dan Adi semakin perhatian dan menjagaku. Mau menjadi suami yang siaga katanya. Aku merasa bangga saja dengannya.


Aku tak mau lagi memikirkan tentang kesalahan yang pernah aku perbuat. Penghianatan itu biar menjadi sebuah rahasia yang tak akan pernah aku ungkit. Aku tak ingin lagi mengingat tentang kejadian dihari itu.


Semenjak Adi sembuh dan pulang dari Rumahsakit, aku tak lagi bertemu dengan Rudi. Aku berharap tak lagi bertemu. Aku mendengar dari suamiku bahwa sekarang Rudi sibuk dengan usahanya.


Hanya saja berulang kali Rudi mencoba mengirim pesan dan meneleponku tapi aku mengabaikannya. Aku tak ingin Adi mencurigaiku karena melanggati pesan atau telepon dari Rudi. Setiap dia mengirim pesan, aku langsung menghapusnya.


Malam ini aku duduk bersantai bersama Adi. Aku dan Adi ngobrol canda dan tawa. Tiba tiba suara hp ku berbunyi. (Thiiing) Aku cek pesan dari siapa, dan ternyata itu pesan dari Rudi.


"Vina kamu kenapa kok tidak pernah balas pesan atau angkat telepon dari aku? Kamu marah ya sama aku? Aku kangen sama kamu. Kamu apa kabar?" Isi pesannya.


Aku langsung menghapusnya. Tak ingin Adi melihatnya.


"Pesan dari siapa?" Tanya Adi penasaran aku mendapat pesan dari siapa setelah meliht ekspresiku berubah.


"Oh ini hanya spam kok, gak penting." Jawabku terkejut dan bingung mau jawab apa.


Aku mengubah hp ku ke mode diam. Setelah beberapa saat layar hp ku menyala. Di screwnlock ada pemberitahuan pesan dari siapa dan selalu dari Rudi.


"Vina." Isi pesannya.


"Kok nggak dibales?" Isinya lagi.


"Vin, kamu kenapa?" Kirimnya lagi.


Aku hnya menghapus semua pesannya setelah aku membacanya. Untung kali ini Sdi tak menyadari perubahan ekspresi wajahku. Adi pamit ke dapur untuk mengambil air minum. Kebetulan saat ini aku juga merasakan sangat haus.


Beberapa saat kemudian, karena aku tidak membalas pesannya, Rudi meneleponku. Dan disaat yang bersamaan, Adi datang membawa segelas air minum. Aku berpura pura tidak tau kalau ada telepon. Aku meminta segelas minuman yang ada ditangannya. Adi mengetahui hp ku ada telepon.


"Ada telepon tuh. Gak diangkat?" Tanya Adi.


"Eh? Biarin saja paling gak penting." Jawabku dan kembali meneguk segelas air yang ada ditanganku lagi.


Adi berjalan kearah hp ku berada dan mengambilnya.


"Rudi?" Katanya mamandangku.


Mendengat bahwa yang telepon Rudi, aku memalingkan wajahku dan pura pura tidak mendengar. Perasaanku tak menentu saat ini. Rasa takutku mulai muncul dibenakku.


"4 panggilan tak terjawab? Ada keperluan apa dia telepon sampai 4 kali dalam beberapa menit." Kata Rudi penasaran.


Aku takut jika sampai Adi mencurigaiku. Aku hanya bisa pura pura tak mendengarnya.


"Sayang! Ada apa kok Rudi sampai telepon 4 kali?" Tanya Adi dengan ekspresi bingung dan penasaran.

__ADS_1


"Hem?" Kataku terkejut.


Aku tak menjawab pertanyaannya. Aku hanya mengangkat bahuku tanda aku tidak tau apa apa. Karena kalau aku berbicara, akan sulit aku membohongi Adi.


"Ehh! Dia telepon lagi." Kata Adi.


Dengan buru buri Adi mengangkat telepon dari Rudi.


(Angkat)


(Lost speaker)


"Hallo bro! Ada apa nih sampai berulang kali menelepon istriku? Jangan jangan kamu kangen ya sama istriku." Sapa Adi dengan candaan tak menaruh curiga sedikitkun. Wajahnyapun tetap tersenyum dengan cerianya.


"Ohh kamu Adi. Iya nih aku kangen sama istri kamu." Jawab Rudi.


Mendengat jawaban Rudi, Adi tertawa sangat keras. Aku yang mengetahui kata kata Rudi tidak bercanda, aku memalingkan wajah karena rasa takutku kalau sampai Adi menyadari bahwa itu bukan candaan.


"Oh iya, bagaimana keadaan kamu sekarang? Sudah benar benar sehatkah?" Lanjut Rudi bertanya tentang keadan Adi.


"Aki sudah sangat sehat. Selama aku sembuh, kamu sama sekali belum menjengukku? Kamu masih temanku kan?" Canda Adi dengan tertawa kecil.


"Sorry bro! Aku sibuk ini dengan usahaku. Bisa dibilang lagi sibuk sibuknya. Besok kalau sudah tidak sibuk, aku janji akan datang menjengukmu. Oke?" Kata Rudi.


"Siap!" Jawab Rudi.


Mendengar mereka yang sedang asyik mengobrol, ku hanya diam. Tak ingin berkata sepatah katapun.


"Oh iya bro, ku mau ucapin terimakasih sama kamu ya, sudah jagain Vina selama aku di Rumahsakit. Untung aku punya teman kayak kamu. Aku sangat sangat berterimakasih." Terang Adi.


Aku terkejut mendengar Adi mengatakan terimalasihnya kepada Adi. Dan aku semakin terkejut dengan jawaban Rudi.


"Oh santai bro. Aku juga mau berterimakasih sama kamu." Jawab Rudi.


"Terimakasih buat apa?" Tanya Rudi penasaran.


"Tidak tau. Pokoknya cuma mau bilang terimakasih saja." Jawab Rudi tertawa.


"Hahaha. Pak pengusaha sedang bercanda ya? Tanya Adi dan tertawa.


Rudi membalas tawaan Adi. Mereka berdua sepertinya sangat akrab. Dan Adi begitu sangat mempercayai Rudi. Tanpa diketahuinya, Rudi sangatlah tidak bisa dipercaya. Tapi Adi tak menarih vuriga sedikitpun kepada Rudi.


Mengetahui bahwa Adi sangat mempercayai Rudi, hatiku semakin hancur dibuatnya. Aku semakin merasa bersalah. Mataku mulai berkaca kaca melihat tawa Adi yang ceria tanpa sedikitpun rasa curiga.


Lama kelamaan, mata yang berkaca kaca meneteskan airmata yang tak mampu ku bendung. Adi sangat terkejut mengetahui aku tiba tiba menangis.

__ADS_1


"Sebentar sebentar." Kata Adi menaruh hp nya.


"Kamu kenapa tiba tiba menangis?" Tanya Adi khawatir dan tangannya mengusap airmataku.


Aku menggelengkan kepalaku.


"Aku tidak apa apa. Mungkin kena angin. Aku sidah ngantuk, aku tidur dulu. Kmu lanjutin ngobrolnya sama Rudi." Pamitku mencari alasan.


"Beneran kamu tidak apa apa?" Tanya Adi lagi dengan raut wajah yang sangat khawatir.


"Iya aku tidak apa apa. Aku kembali kekamar dulu ya. Kamu jangan tidur malam malam." Pamitku.


"Ya sudah. Kamu langsung tidur ya." Suruh Rudi.


Aku berdiri dan kembali kekamar.


"Ada apa bro?" Tanya Rudi sekilas aku mendengarnya.


"Tidak ada apa apa. Istriku pamit mau tidur katanya sudah ngantuk." Jawab Adi.


Sesampainya dikamar, isak tangisku semakin keras. Ingin rasanya aku berteriak sekeras kerasnya. Semakin sakit hatiku setiap kali mengingat tentang kepercayaan Adi kepadaku dan Rudi. Perasaan bersalah yang sengaja aku tutupi, kian lama kian membayangi.


Ingin sekali saja aku berterus terang, tapi rasa takutku lebih besar dibandingkan dengan rasa beraniku. "Adi maafkan aku." Teriakku dalam hati.


Jika aku tau akan semenyesal ini, aku tak akan pernah melakukan hal semacam ini. Harusnya aku tak tergoda dengan bujuk rayu Rudi. Aku sudah tau niatnya, tapi bodohnya aku tak mampu menolaknya.


Beberapa saat kemudian, aku mendengar langkah kaki dibalik pintu kamarku.


(Tap tap tap)


Dengan segera aku menghapus airmataku.


(Membuka pintu kamar)


(Klik) Ternyata Adi. Aku menatapnya.


"Kok belum tidur?" Tanyanya.


"Belum bisa tidur." Jawabku.


"Katanya tadi ngantuk?" Tanya Adi lagi.


"Iya, tapi sampi dikamar nggk jadi ngantuk." Jawabku.


"Ya sudah mungkin bawaan ibu hamil." Kata Adi.

__ADS_1


__ADS_2