
Sejak saat itu, hari hariku mulai tak begitu tenang. Rasa takut selalu menjadi bayang bayang yang selalu membayangiku. Tak aku sangka, semua akan jadi seperti ini. Seharusnya aku sudah memikirkan apa yang akab terjadi akhirnya.
Aku memutuskan untuk menjauhi Rudi. Aku tak ingin berhubungan dengan dia lagi. Tapi bagaimana caranya agar dia tak menghubungiku lagi. Dan alasan apa yang akan aku berikan ketika Adi bertanya.
Akhir akhir ini Adi sering memergoki aku melamun sendiri. Aku takut dia mulai curiga.
Pagi ini, aku membuka mataku. Aku mendengar suara adzan, aku beranjak dati tempat tidurku menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Dan sholat. Setelah sholat aku duduk diranjangku. Aku bersandar diujung ranjang. Melihat suamiku yang masih terlelap dalam tidurnya. Aku tak tenang dan perasaanku berfikir entah kemana. Suamiku terbangun dan mendapatiku sedang melamun.
"Hei istri! Kenapa kamu melamun?" Tanya Adi.
"Ehh! Tidak apa apa. Pingin melamun aja." Jawabku sambil tersenyum.
"Melamunin apa? Jangan jangan mesum ya?" Goda Adi tertawa.
"Enggak!" Teriakku.
"Lalu melamunin apa?" Tanya Adi penasaran.
"Enggak melamunin apa apa." Jawabku.
Akhir akhir ini aku perhatiin kamu sering melamun. Ada masalah apa?" Tanya Adi dengan serius.
"Aku nggak ada masalah kok." Jawabku
__ADS_1
"Kalau ada masalah jangan dipendam sendiri ya. Aku ini suamimu, bukab hanya sebagai hiasan atau status. Tapi juga tempat berbagi suka dan duka. Aku tau kamu mungkin ingin privasi, tapi setiap masalah kamu itu jadi masalah aku juga. Jadi kalau ada apa apa cerita sama aku jangan hanya diam." Terang Adi lembut dengan ekspresi wajah serius.
"Iya sayang. Beneran aku tidak apa apa." Jawabku tersenyum.
Adi membalas senyumku dan mencium keningku. Aku mendengar suara memanggilku dan Adi.
"Vina! Adi! belum bangun ya? Adi ayo bangun ajak istrimu jalan jalan. Jalan jalan pagi baik untuk kandungannya." Teriak Ibu mertuaku.
"Aku lagi yang kena." gumam Adi.
Aku tersenyum mendengarnya.
Aku dan Adi pergi jalan jalan mengelilingi kampung. Setelah matahari terbit, kami pulang.
Beberapa hari kemudian, aku tak lagi mendapat sms atau telepon dari Rudi, hatiku sedikit merasa tenang. Setidaknya aku tak perlu khawatir untuk saat ini. Yang ada dipikiranku saat ini, aku ingin hidup bahagia bersama suamiku.
Aku dan Adi semakin merasa bahagia, karena sebentar lagi sang buah hati akn hadir. Kami tidak sabar menantikannya. Memikirkan kebahgiaanku, membuatku sedikit demi sedikit mampu melupakan Rudi.
Hari demi hari, dua bulan telah berlalu. Keputusanku lalu mungkin tak salah.
Kini perutku sudsh begitu besar. Adi lebih sering berinteraksi dengan bayi yang ada didalam perut.
"Sayang! Ayah pulang. Kamu sedang apa?" Tanya Adi.
__ADS_1
Adi membungkukkan badannya kearah perutku dan berulang kali mengelus dan menciumnya. Tak sengaja aku memalingkan wajahku dan dia melihatnya.
"Kamu cemburu ya?" Tanya Adi.
"Apa? Cemburu? Siapa? Aku?" Tanyaku kembali kepadanya m menunjuk diriku dengan jari telunjukku sendiri.
"Iya. Kalau tidak cemburu ngaain kamu memalingkan muka ketika aku lebih perhatian dengan juniorku." Kata Adi dengan senyum mesumnya.
"Gak mungkin aku cemburu. Aku gak cemburu." Teriakku.
Adi hanya tersenyum mendekatiku. Aku yang curiga langsung sedikit mundur dari posisiku semula. Adi tetap mendekatiku dan menahan lenganku agar aku tidak menjauh. Adi mengarahkan bibirnya ke bibirku. Dia mulai menciumku. Adi mengarahkan aku untuk berbaring keatas ranjang dan dia memulai aksinya. Sampai ditengah aksinya, ada suara memanggilnya.
(Mengetuk pintu)
"Adi! Kamu dikamar? Ibu mau minta tolong beliin gas. Gasnya habis. Ibu mau masak buat makan malam." Teriak Ibu dari balik pintu.
"Iya." Jawab Adi menghentikan aksinya.
Dengan rasa kecewa dia beranjak dari ranjang dan kembali memakai semua pakaiannya. Melihat ekspresi wajahnya yang kecewa aku tertawa kecil menatapnya. Kemenanganku.
"Awas kamu ya!" Ancamnya dan mencium keningku.
Adi kemudian pergi. Setelah dia pergi, aku juga segera merapikan paksian dan rambutku, kemudian keluar dari kamar untuk membantu Ibuku memasak.
__ADS_1