
"Hari ini Saudara Adi sudah bisa pulang. Kondisinya sudah stabil. Hanya perlu istirahat beberapa hari. Detelah itu Anda bisa beraktifitas seperti biasa." Kata Dokter menerangkan.
"Terimakasih banyak Dok." Kata Adi berterimakasih kepada dokter yang sudah merawatnya selama ini.
"Setelah hampir satu bulan berada di Rumah Sakit, akhirnya bisa menghirup udara luar dan tinggal dirumah lagi." Kataku dengan penuh senyum kebahagiaan.
Aku dibantu oleh Rudi membereskan barang barang yang haris dibawa pulang.
"Rudi, makasih ya. Kalau gak ada kamu pasti aku kesulitan sendiri selama aku nungguin suami aku di Rumah Sakit." Katamu memandng Rudi penuh rasa terimakasih.
"Iya tidak apa apa, tidak perlu berterimakasih. Aku dengan senang hati bantuin kamu." Kata Rudi.
Aku, Rudi dan Adi bersiap siap untuk pulang. Orangtuaku dan orangtua Adi sudah menunggu dirumah. Setelah sampai dirumah, tak disangka semua keluarga besar aku dan Adi sudah berkumpul dirumah menunggu kedatangan Adi. Semua merasa lega melihat Adi sudah sehat kembali.
Aku langsung mengantarkan Adi kekamar, karena dia masih butuh istirahat.
"Kok aku diantar kekamar? Kan semua keluarga kumpul diruang tamu? Mereka jenguk aku, harusnya aku ada disana menemani mereka ngobrol." Kata Adi.
"Enggak enggak. Kamu jngan aneh aneh. Kamu masih butuh istirahat. Jadi, kamu haris istirahat gak ada kata kata ngobrol atau semacamnya. Besok kalau kamu udah sembuh, baru boleh ngobtol sepuasnya dengan mereka." Kataku dengan tegas.
"Tapi kan..." Kata Adi
"Nggak ada tapi tapian. Aku sudh bilang nggak boleh ya nggak boleh. Kamu baru keluar dari Rumag Sakit jadi nggak boleh capek capek. Harus istirahat." Terangku lebih tegas.
"Sejak kapan istriku jadi secerewet ini? Perasaan sebelum aku sakit dia gak pernah secerewet ini?" Candanya penuh keheranan. Jari telunjuk kanannya diletakkannya didahi. Seperti orang penuh pertanyaan yang membingungkan.
"Sejak aku sadar kalau aku takut kehilangan kamu. Kamu tau nggak seberapa takutnya aku waktu itu?" Kataku ingin menangis.
"Aduh sayang, sini aku peluk." Kata Adi menarik tubuhku kedalam pelukannya.
Aku hanya diam dan menangis dalam pelukannya. Adi memelukku semakin erat. tangannya mengelus ngelus rambutku. Setelah beberapa saat, Adi melepaskan pelukannya dan membungkukkan badannya kearah perutku.
"Sayang, Kamu kangen nggak sama ayah? Ayah kangen banget sama kamu. Oh iya kemarin saat ayah nggk sadar, Bunda nakal nggak sama kamu? Bunda jagain kamu nggak?" Kata Adi mengelus perutku dan kemudian menciumnya.
Aku hanya bisa menangis dan tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika Adi meninggalkan aku sendiri.
"Tuh, mamah sekarang semakin cengeng. Nangis terus kaya anak kecil." Lanjut Adi mencoba berkomunikasi dengan buah hatinya yang masih didalam perut.
__ADS_1
Mendengar perkataannya tersebut, aku mencubit punggungnya dengan keras.
"Aduh aduh sakit." Erang Adi dan tangannya menyentuh area cubitanku karena kesakitan.
"Tuh kan nak, Bunda sekarang juga jahat sama Ayah. Suka nyubit Ayah dan marahin ayah. Kamu jangan seperti Bundamu ya. Galak." Kata Adi sambil tersenyum melirikku.
Mendengar apa yang dikatakan, aku langsung memblikkan badanky membelakanginya. Adi peka dengan apa yang aku lakukan. Dia tau posisi seperti itu aku pasti sedang ngambek dengannya.
"Kamu kenapa?" Tanya Adi memelukku dari belakang sambil mencium pipiku.
"Besok jangan kamu turunin sifat ngambekan kamu keanak kita ya." Goda Adi sambil tersenyum.
"Tauk ah. Terserah kamu saja." Kataku dengan nada andalan seorang wanita.
"Aku lagi skit loh. Nggak baik istri ngambekin suami yng sedang sakit." Kata Adi juga memakai jurusnya.
"Yahh sakit jadi jurus biar nggk jadi ngambek. Dasar." Kataku tersenyum kepadanya.
"Ya sudah kamu istirahat dulu. Jangan banyak bergerak dulu. Kamu belum sembuh total." Kataku menyuruh Adi beristirahat.
Dia hanya senyum senyum melihatku. Aku tidak tahu sebenarnya apa yang terlintas dalam pikirannya.
"Enggak apa apa. Cuma bahagia aja punya istri secerewet kamu." Kata Ado menggodaku.
"Dasar." Ujarku.
"Vina." Suara Ibu memanggilku dari luar kamar.
"Iya Bu?' Jawabku.
"Kamu sebaiknya keluat kamar deh. Jangan ganggu suamimu istirahat dulu." Kata Ibuku.
"Ini Bu, Vina gangguin aku terus. Padahal aku mau istirahat kan dokter masih menyuruhku istirahat, tapi Vina godain aku terus." Teriak Adi mengada ngada.
"Vina kamu keluar dulu ya." Teriak Ibuku.
"Kenapa jadi aku yang disalahkan?" Tanyaku menghadap suamiku dengan kemarahan.
__ADS_1
Adi hanya tertawa lirih, menertawakan kekalahanku dan kemenangannya. Aku membalikkan badan dan beranjak pergi meninggalkannya. Tiba tiba diam mengejarku dan mencium pipiki, kemudian tersenyum lebar melambaikan tangannya.
"Awas kamu ya. Nanti lihat saja apa kamu masih bisa tertawa sepuas ini." Ancamku dan berlalu.
Adi hanya tertawa mendengar ancamanku. seakan akan dia sedang menunggu apa yang aku rencanakan untuknya.
Aku keluar kamar dan menuju ruang tamu untuk ikut ngobrol dengan mereka. Disana aku melihat Rudi sedang akrab dengan semua keluargaku. Dia terlihat sangat senang dn bercanda gurau dengan mereka.
Tanpa sadar aku tersenyum melihat dia sebahagia ini. Entah perasaan apa lagi ini. Setelah sadar aku mengalihkan pandanganku kearah Ibuku. Dan aku ikut nimbrung keobrolan Ibuku dengan para Ibu dari keluargaku dan Adi.
Sesekali aku melihat Rudi. Wajahnya yang penuh kebahagiaan terlihat tanpa beban apapun. Terkadang aku tersenyum disetiap saat mataku melihat kearahnya.
"Vina, sebaiknya kamu temani temau ngobrol deh. Kasian daritadi dia harus ngobrol dengan orangtua." Kata Ibuku menyuruhku mengajak Rudi ngobrol.
Aku sedikit salah paham dengan perintah Ibuku. Ada apa? Kenapa? Pertanyaan itu yang terlintas dalam benakku.
Aku hanya bisa menuruti Ibuku. Aku mengajak Rudi keluar dan kami ngobrol diluar.
"Rudi, makasih banyak ya. Kamu sudah menemani aku sebulan ini menunggu suamiku di Rumah Sakit." Kataku.
Entah kenapa jantungku berdetak begitu kencang tak seperti biasanya. Apa karena aku mempunyai hutang budi dengan Rudi? Aku bingung dengan perasaanku sendiri.
"Sudah tidak usah berterimakasih. Aku senang bisa bantu kamu." Kata Rudi
"Ya pokoknya aku berterimakasih banget sama kamu." Kataku
"Iya tidak apa apa." Jawabnya.
"Vina, makan dulu yuk. Ajak temanmu untuk makan." Suruh Ibuku.
"Ayo makan dulu Rud." Ajakku.
"Hari sudh sore sebaiknya kau pulang sekarang. Besok aku kesini lagi nterin kmu periksa kandunganmu." Ujar Rudi
"Kamu boleh pulang kalau sudah selesai makan." Kataku menarik tangannya masuk kedalam rumah untuk makan bersama.
Kami makan bersama keluarga. Sedangkan Ibuku mengantarkan makanan kekamar Adi dan menyuruhnya makam lalu minum obat dan kembali beristirahat.
__ADS_1
Selesai makan, Rudi pamit untuk pulang. Beberapa saat kemudian, keluargaku yang lainnya juga pamit untuk pulang karena hati sudah petang. Tinggal aku orangtua Adi dan orangtuaku.
Akupun juga pamit untuk mandi dan menemani Adi dikamar. Mereka tetap mengobrol dengan asiknya diruang tamu sampai larut malam.