
"Kenapa jawaban mereka berbeda? Apakah Rudi mengatakan seperti itu karena tak ingin aku salah paham, jadi dia bohongin aku. Dan Vina mengatakan yang sebenarnya? Tapi mengapa Rudi sampai mengatakan hal seperti itu? Ada apa diantara mereka sebenarnya?" Kata Adi dalam hati.
Adi terlalu keras berpikir dan terhanyut dalam lamunannya. Hatinya dipenuhi dengan pertanyaan pertanyaan yang tak bisa dia temukan jawabannya. Siapa yang harus dia percaya saat ini.
"Aku ini apaan sih. Nggak boleh curiga gini. Vina istri aku dan Rudi sahabat aku sekarang meaki dia pernah menjadi mantan Vina, aku percaya sama mereka. Mereka nggak akan hianati aku. Lebih baik ku tidur biar gak mikir yang macam macam." Pikir Adi.
Adi berjalan menuju kamar. Ceklekk!!! Adi membuka pintu kamar. Sikecil sudah terlelap. Tapi aku masih belum bisa tidur.
"Kok kmu belum tidut?" Tanya Adi berjalan menghampiriku.
"Aku belum bisa tidur." Jawabku.
"Ya sudah ayo tidur dulu. Sudah hampir larut malam." Ajak Adi berbaring disampingku dan langsung memejamkan mata.
Aku sangat terkejut malam ini. Semakin membuat hatiku lebih keras berpikir tentang apa yang terjadi. Malam ini Adi melupakan kebiasaannya yang sejak dulu dia biasakan untukku. Meski seberapapun lelahnya dia, dia tak akan pernah melupakan kebiasaannya itu.
Aku merasa sedih malam ini. Aku sudah terbiasa dengan perlakuannya. Setiap malam sebelum tidur dia selalu mencium keningku dn mengucapkan selamat tidur. Akan tetapi malam ini dia sangat berbeda. Tak seperti biasanya.
Aku membaringkan tubuhku dan kemudian tidur menghadap sikecil. Aku tak ingin terlalu banyak memikirkan hal hal yang belum tentu terjadi. Sudahlah.
Keesokan harinya, Adi berangkat bekerja. Dia tak seperti biasanya yang penuh perhatian.
"Kamu kenapa sayang? Kamu sakit?" Tanyaku mengkhawatirkannya.
__ADS_1
"Aku tidak apa apa kok." Jawab Adi.
"Kalau kamu sakit, kamu istirahat saja dirumah." Suruhku.
"Tidak, aku tidak apa apa. Aku berangkat bekerja dulu." Pamit Adi.
Beberapa saat setelah Adi berangkat kerja, Rudi datang kerumahku.
"Pagi Vina." Sapa Rudi dengan tersenyum.
"Pagi juga. Adi baru saja berangkat bekerja. Kamu lebih baik pulang." Kataku cetus.
"Enggak, aku nggak cari Adi. Aku mau bertemu kamu." Kata Rudi terus terang.
"Apa tidak boleh seorang teman bertemu dengan temannya?" Tanya Rudi memojokkanku.
"Terserah kamu saja. Silahlan masuk, tapi jangan lama lama." Kataku dan berjalan masuk kedalam rumah.
Rudi mengikutiku dibelakang.
"Sepi amat pada kemana?" Tanya Rudi mengawali pembicaraan didalam rumah.
"Ibu pergi kepasar. Bapak sama Adi bekerja." Jelasku.
__ADS_1
"Oh begitu?" Tanya Rudi.
"Iya." Jawabku.
"Vina! Kamu marah ya sama aku?" Tanya Rudi.
"Menurut kamu?" Tanyaku balik.
"Vina maafin aku. Aku nggak akan ungkit ungkit lagi asal kamu jangan marah sama aku. Aku tidak bisa kalau kamu sampai marah sama aku." Ucap Rudi sambil memegang kedua tanganku.
Tiba tiba tanpa aku dan Rudi sadari, Ibuku sudah pulang dan melihat Rudi memegang tanganku. Spontan aku menjauhkan tangan Rudi dari tanganku. Ibuku pura pura tidak melihatnya dn tersenyum kepadaku.
"Ehh Ibu sudah pulang?" Sambutku.
"Sudah. Oh ada Rudi ya." Tanya Ibu mertuaku.
"Iya tante." Jawab Rudi.
"Bu aku bisa jelasin semua." Kataku.
"Jelasin apa? Ibu dari pulang pasar loh ini. capek." Kata Ibuku memberi kode kepadaku untuk membawa semua belanjaannya kedapur.
Aku meminta semua barang belanjaannya dan membawanya kedapur. Aku takut jika Ibu mertuaku akan marah. Aku hanya diam tidak berani berkata apapun.
__ADS_1