
Keesokan harinya, ketika Adi sedang sarapan bersama Celine, aku membereskan kamarku. Aku mendengar suara telepon Adi berbunyi.
"Dia sudah tia, teleponnya sampai lupa gak kebawa. Dasar." Kataku sendiri.
Aku mendekati hp'nya dan aku melihat siapa yang menelepon. Aldi memanggil...
Aku menjawabnya, takut ad yang penting karena dia teman kerja Adi.
"Halo." Sapaku setelah mengangkat teleponnya.
Akan tetapi dia tak menjawab sapaanku. Hanya diam.
"Halo! Kenapa hanya diam saja? Halo!" Sapaku lagi. Dan dia tetap diam, kemudiab mematikan teleponnya.
Setelah selesai membereskan kamar, aku keluar dengan membawa hp Adi.
"Sayang tadi ada telepon." Kataku tanpa curiga.
"Telepon? Dari siapa pagi pagi gini?" Tanya Adi.
"Dari Aldi. Aku angkat tapi dia hanya diam saja." Jawabku tak curiga sama sekali.
__ADS_1
Akan tetapi reaksi Adi berlebihan menurutku. Dia terlihat sangat terkejut mendengar siapa yang menelepon. Apalagi setelah tau kalau aku mengangkatnya.
"Kamu kenapa?"Tanyaku penasaran.
"Oh tidak apa apa. Aku berangkat dulu ya. Sudah siang. Nanti Celine terlambat sekolahnya." Pamitnya.
"Ya sudah hati hatj berangkatnya." Kataku.
"Bunda Celine berangkat dulu ya." Pamit Celine.
Aku mencium kedua pipi Celine yang juga terburu buru karena sudah kesiangan.
Aku yang tak menaruh curiga apapun, membiarkan semua berlalu. Dan tak terlalu memikirkannya.
Aku melihatnya berjalan berdua dengan senyum senangnya. Aku hanya terpaku menyaksikannya. Mereka berdua duduk dibalik kaca depan rumah makan tersebut. Tampak jelas pemandangan yang sulit aku percaya. Airmataku mengalir deras ketika ku melihat Adi memegang lembut tangan wanita itu. Ternyata aku telah dibohonginya. Entah sudah berapa lama dia tega membohongiku.
Kini aku merasakan bagaimana rasanya diselingkuhi. Aku mencoba melakukan segala cara agar semua berakhir sebelum Adi mengetahuinya. Dan ternyata sekarang aku mendapatkan ganjaran yang lebih parah.
Aku mengurungkan niatku untuk berbelanja. Aku memilih untuk pulang karena jika aku bertanya sekarang tentang wanita itu mungkin itu akn mempermalukan Adi. Dan aku tak mau seperti itu. Akan lebih baik ku menanyakannya dirumah saja ketika aku dan dia hanya berdua.
Malam harinya setelah Celine tertidur, aku menyusul Adi yang sedang duduk diruang tamu. Aku berniat akan menanyakan tentang wanita tadi siang. Tapi aku tak berani, tiba tiba lidahku menjadi kaku didepannya. Aku takut jawaban yang akan aku dengat. Aku takut itu akan menyakiti hatiku. Aku tidak jadi menanyakannya.
__ADS_1
"Kamu kenapa? Sepertinya ada yang ingin kamu katakan?" Tanya Adi
"Enggak kok." Jawabku.
Beberapa hari kemudian, aku memantapkan hati untuk menyadap hp Adi. Dan ternyata nama Aldi di hp'nya adalah wanita itu.
Aku membaca semua pesannya. Dan itu membuat aku semakin hancur. Pesan terakhirnya si wanita mengajak Adi bertemu nanti setelah pulang kerja di taman. Airmataku bercucuran dengan derasnya.
(klunting) hpku berbunyi.
Pesan dari Adi.
"Sayang! Nanti pulang kerja aku langsung jenguk teman dulu ya kerumahsakit. Aku pulang telat." Isi pesannya.
"Iya! Kmu hati hati ya." Balasku.
Hatiku semakin sakit, karena dia sekarang sudah mulai membohongiku. Ataukah dia sudah membohongiku lama? Karena aku terlalu bodoh jadi ku tidak pernah sadar??
Sore harinya aku pergi ketaman yang mereka janjikan. Aku ingin menyaksikan apakah semuanya benar adanya.
Aku melihat Adi yang berjalan menghampiri wanita yang sedang duduk sendiri dikursi taman. Melihat Adi menghampirinya, wanita itu berdiri dan tersenyum kepada Adi. Adi memeluknya dan mencium keningnya mesra. Hatiku semakin hancur dibuatnya.
__ADS_1
Setelah hari itu, aku seringkali mengikuti mereka yang semakin sering bertemu. Aku hanya ingin memastikan dan mryakinkan hati bahwa semua itu benar. Adi menghianatiku.