
Setelah satu bulan kemudian, aku dan Adi menjalani sidang perceraian. Dan akhirnya kami resmi bercerai. Dan hak asuh Celine jatuh ketanganku karena Adi yang menghianati semuanya. Adi mengakui semua kesalahannya dan menyerahkan Celine tanpa perlawanan. Tapi dia meminta syarat, kapanpun dia ingin bertemu Celine, aku harus mengijinkannya. Dan akupun menyetujuinya. Karena bagaimanapun dia adalah Ayah Celine.
Setelah resmi bercerai, aku dan Adi menjalani kehidupan kami masing masing. Akupun tak mendengar apapun tentang kabarnya. Hanya saja setiap kali dia rindu dengan Celine dia datang kerumah.
Enam bulan telah berlalu, aku mulai terbiasa hidup sendiri dengan anakku. Aku berusaha semampuku untuk tidak mengeluh dan mengikhlaskan semua. Aku percaya inilah jalan terbaik yang harus aku jalani.
Setelah bercerai dengan Adi, aku menjalankan bisnis olshop. Awalnya memang terasa berat dan sulit. Akan tetapi aku tetap menekuninya dan akhirnya semua berjalan lancar dan sanggup untuk memenuhi kebutuhan aku dan anakku sehari hari.
Dihari minggu pagi, Adi datang sendiri untuk menemui Celine.
"Oh kamu! Sebentar aku panggilkan Celine dulu. Dia tadi bermain dikamar." Kataku.
Aku membalikkan tubuhku, berniat untuk memanggilkan Celine untuk bertemu Ayahnya. Tetapi tangan Adi memegang tanganku, seakan menahanku untuk pergi.
"Aku ingin bicara sama kamu."Kata Adi.
"Bicara soal apa? Apa masih ada hal yang harus kita bicarakan?" Tanyaku sinis.
"Kita duduk dulu." Kata Adi.
Adi menarikku keluar rumah dan menyuruhku duduk dikursi teras.
"Ada apa?" Tanyaku.
"Aku minggu depab mau nikah dengan Siska. Kamu datang ya." Kata Adi sambil mengulurkan surat undangan.
Aku tertegun mendengar dia akan menikah. Ternyata semudah itu buat dia membuka lembaran baru bersama orang lain. Meskipun aku tak ingin menerimanya lagi, tetapi hatiku tetap sakit mendengar kabar pernikahannya. Tak bisa dipungkiri, dia sudah menjadi sebagian besar hal penting dari hidupku. Meski kini aku tak mempunyai hak tentang dia, tetapi aku masih merasa sakit yang amat dalam.
"Vin! Vina!" Panggil Adi
"Ehh! Iya?" Jawabku.
"Kamu kenapa? Kok malah diam?" Tanya Adi.
"Kenapa tiba tiba kamu ingin menikah?" Gumamku.
"Apa?" Tanya Adi yang tak mendengar gumamanku.
"Enggak kok. Selamat ya atas pernikahan kamu. Aku doakan yang terbaik buat kamu. Semoga selalu bahagia." Kataku mendoakan Adi.
"Aamiin. Makasih ya Vin." Kata Adi.
"Tapi soal kedatangan. Sepertinya aku tidak bisa. Karena mungkin aku nggak akan kuat menyaksikan pernikahanmu. Aku lebih baik tidak datang." Terangku.
"Ya sudah tidak apa apa." Kata Adi.
__ADS_1
Aku hanya tersenyum tak mengatakan apapun.
"Ya sudah, aku pulang dulu ya. Aku kesini hanya ingin memberitahu kamu ini." Pamit Adi.
"Loh? Kamu nggak mau ketemu Celine dulu?" Tanyaku.
"Tidak usah. Dan mungkin mulai besok aku akan sibuk mengurusi pernikahanku. Kmu bisa kan ngurus Celine sendiri dulu. Karena aku nggak bisa datang untuk bertemu dengannya." Terang Adi.
"Iya. Tidak apa apa." Jawabku.
Adi pulang. Dan entah kenapa hatiku hancur tanpa alasan. Apa mungkin karena Adi akan menikah? Rasanya aku ingin menangis dan menjerit sekeras mungkin. Mataku mulai berkaca kacadan tak mampu mengatakn apapun.
Seminggu kemudian, ini adalah hari dimana Adi akan menikah. Dan aku hanya berdiam diri dirumah tak melakukan apapun. Meski tak ingin dia kembali, tapi tahu bahwa dia akan menikah lagi membuatku seperti kehilangan sesuatu hal yang selama ini penting dihidupku.
Hari demi hari berjalan dengan semestinya. Bulan demi bulan telah berlalu. Tahunpun telah berganti. Aku tetap memilih sendiri dulu untuk menjalani hidup. Dan aku mendengar dari mantan Ibu mertuaku, bahwa Siska telah melahirkan seorang malaikat laki laki untuk Adi. Aku turut mendoakan kebahagiaannya. Dan aku yakin Adi kini sudah bahagia dengan keluarga barunya. Karena kini Adi sudah jarang mengunjungi Celine. Adi mulai tak menepati janjinya kepada Celine. Setiap aku merasa kasihan kepada anakku yang kecewa kepada Ayahnya, aku menelepon Adi atau mengirimkannya pesan, tetapi dia selalu mengabaikannya.
"Bunda! Apakah aku punya salah sama Ayah? Apa aku bukan anak baik untuk Ayah? Kenapa Ayah sekarang tidak pernah datang lagu untyk bermain denganku." Kata Celine dengan mata berkaca kaca.
"Sayang! Mungkin Ayah lagi sibuk. Jadi Ayah tidak bisa datang menemui Celine." Terangku.
"Bunda, aku janji akan menjadi anak yang baik untuk Ayah. Dan bilang ke Ayah aku nggak akan nakal lagi. Aku nggak akan lagi melarang Ayah menciumku. Bunda suruh Ayah pulang. Aku kangen sama Ayah." Kata Celine sesegukan menangis.
"Sayang! Celine anak baik kok. Kamu ngertiin Ayah ya. Ayah mungkin sekarang sedang sibuk bekerja. Jadi tidak bisa menemui Celine. Celine harus percaya kalau sebenarnya Ayah juga kangen sama Celine tetapi tidak bisa meninggalkan pekerjaannya." Terangku agar Celine tak sesih lagi.
Aku memeluk Celine yang masih sesegukan menangis dan air matanya mengalir deras. Aku tak sanggup melihatnya seperti ini. Mungkin sekarang aku bisa menenangjannya. Tapi besok? Apa yang harus aku lakukan.
"Iya besok Bunda bilang sama Ayah. Dan sekarang Celine tidur dulu ya." Kataku.
Keesokan harinya, sebelum mengantarkan Celine sekolah, aku mencoba menghubungi Adi tetapi tak ada jawaban. Dan aku mengirimkannya sebuah pesan.
"Aku tau sekarang kamu sibuk dengan keluarga barumu. Tapi ingat Celine jyga anak kandung kamu. Dia juga butuh kasih sayang kamu. Tadi malam dia menangis. Aku sebagau ibunya, baru kli ini aku melihat Celine sesedih ini. Dia sangat merindukanmu. Jadi tolong temui dia." Isi pesanku.
Aku mengantarkan Celine pergi kesekolah dan berharap Adi mau menemuinya. Aku tak sanggup melihat kesedihan yang Celine rasakan karena kerinduannya kepada Ayahnya.
Aku melihat Adi sudah ada didepan pintu gerbang sekolahan Celine.
"Aaayyyaaahhhh.....! Teriak Celine dan berlari kearah Ayahnya. Dan memeluknya.
"Celiine. Ayah rindu sama kamu." Kata Adi.
"Celine juga rindu sama Ayah. Apakah aku melakukan kesalahan? Apakah Ayah membenciku?" Tanya Celine tiba tiba.
"Kenapa Ayah harus membenci Celine?" Tanya Adi balik.
"Ayah aku akan jadi anak yang penurut. Aku nggak akan nakal lagi. Aku tidak akan melarang Ayah menciumku lagi Tetapi Ayah jangan membenciku. Asalkan Ayah ada disampingku. Aku butuh Ayah." Kata Celine menangis lagi.
__ADS_1
"Sayang maafin Ayah. Ayah akan pergi bekerja dan mungkin tak akan bertemu Celine dalam waktu yang lama. Celine harus jadi ank yang pintar buat Bunda. Celine harus janji akan menjadi anak yang baik dan akan membuat Bunda selalu tersenyum." Kata Adi.
Aku terkejut dengan perkataan Adi. Dalam waktu yang lama? Apa maksudnya? Apa dia tak ingin lagi menemui Celine?
"Iya Ayah, aku janji." Kata Celine kembali tersenyum ceria lagi, habis bertemu Ayahnya.
"Ayah aku masuk kelas dulu ya. Ddadda Ayah." Pamit Celine melambaikan tangannya dan berlari menuju kelasnya.
"Apa maksud kamu untuk waktu yang lama?" Tanyaku penasaran.
"Sekarang aku dan kamu mempunyai kehiduoan masing masing. Kamu punya Celine dan aku sudah punya keluargaku sendiri. Dan mulai sekarang, kita harus menjaga apa yang kita miliki masing masing. Kamu jaga Celine." Terang Adi.
"Apa maksud kamu? Celine juga butuh kamu. Kamu Ayahnya." Teriakku marah.
"Aku sudah pasrahkan Celine kepadamu. Aku akan tetap membiayai kehiduoan Celine. Tapi maaf mulai sekarang kamu jaga Celine." Kata Adi.
"Aku baru tahu bahwa kamu sebrengsek ini." Kataku marah.
"Maafkan Aku. Aku harus pergi bekerja. Jaga dirimu baik baik. Dan jaga Celine." Pamit Adi dan kemudian pergi meninggalkan aku.
Sejak saat itu, aku sudah tak bertemu dengannya lagi. Setiap bulan dia mentransfer uang untuk membiayai semua kebutuhan Celine. Celine sudah terbiasa dengan kehidupannya tanpa seorang Ayah disisinya. Meski terkadang aku melihatnya melamun karena rasa rindunya dengan Ayahnya, tetapi dia tak pernah membahas sedikitpun tentang Ayahnya lagi.
Dua tahun kemudian, entah ini takdir atau hanya kebetulan,Tuhan mempertemukan kembali aku dengan Rudi. Dan ternyata dia belum menikah.
Rudi sangat dekat dengan Celine. Setiap waktu senggangnya, Rudi selalu datang menemani Celine bermain. Tampak rasa sayangnya kepada Celine. Aku sudah lama tak melihat tawa bahagia Celine semenjak Ayahnya pergi. Dan kini dengan kehadiran Rudi, Celine bisa kembali merasakan kebahagiaan itu. Rudi jauh lebih dekat dengan Celine dibandingkan dengan Ayah kandungnya.
"Bunda, aku mau Om Rudi menjadi Ayahku." Kata Celine tiba tiba.
Tubuhku terpaku. Terkejut darimana anakku mendapatkan kata kata seperti itu.
"Sayaang! Kamu ngomong apa sih??" Tanyaku ingin mengalihkan pembicaraan.
"Aku serius Bunda. Aku ingin Om Rudi jadi Ayahku. Aku tadi sudah bilang sama Om Rudi, dan dia mau jadi Ayahku." Kata Celine lagi.
Apaaa??? Sejak kapan anakku jadi makcomblang Ibunya?? Teriakku dalam hati.
Beberapa hari kemudian, Rudi datang membawa sebuket bunga dan sebuah cincin. Rudi melamarku didepan anakku. Aku yang melihat anakku tersenyum bahagia dengan apa yang dilakukan Rudi, aku menerimanya. Aku berpikir, jika ku menolak dan menyia nyiakan kesempatan ini, mungkin esok aku tak akan lagi menemukan orang yang mencintai anakku seperti Rudi. Karena yang terpenting saat ini bukan hanya diriku, tetapi juga anakku.
Akhirnya aku menikah dengan Rudi. Dan semenjak aku menikah dengan Rudi, kehiduoanku mulai kembali seperti biasanya. Kebahagiaan yang lama tak aku rasakan, kini aku rasakan kembali.
Setahun kemudian, aku melahirkan anak pertamaku bersama Rudi. Celine sangat bahagia mempunyai adik laki laki. Kasih sayang Rudi kepada Celine tak berubah meski dia telah mempunyai anak sendiri bersamaku.
Dan aku berharap keluarga kecilku kali ini akan selalu bahagia seperti yang aku impikan.
SELESAI....
__ADS_1
NB : TERIMAKASIH SUDAH SETIA MEMBACA NOVEL INI. DAN MAAF JIKA MASIH BANYAK KESALAHAN DALAM MENULIS NOVEL INI.
TERIMAKASIH..