JODOHKU..

JODOHKU..
SEMBUH


__ADS_3

"Bagaimana keadaan Adi Bu?" Tanyaku kepada Ibu mertuaku tentang kondisi Adi saat ini.


"Dia sudah sadar sabtu malam kemarin." Kata Ibuku.


Aku sedikit terkejut mendengar ucapan Ibu mertuaku. Ternyata Adi sudah sadar.


"Kok Ibu gak ngabarin aku kalau Adi sudah sadar? Kalau Ibu bilang, aku bisa langsung kesini." Kataku dengan rasa menyesal.


"Tadinya Ibu mau ngabarin kamu. Tapi Ibu berfikir, kalau Ibu beritahu kamu, kamu pasti tidak bisa istirahat. Ibu juga mikirin kondisi kamu dan anak didalam perut kamu." Terang Ibuku.


"Tapi kemarin kan bisa ngabarin Bu." Kataku.


"Sebenarnya kemarin mau Ibu kasih tau, tapi kamu bilang mau main buat ngilangin penat kamu. Jadi Ibu gk kasih tau kamu. Maafin Ibu sayang." Kata Ibu mertuaku dengan rasa menyesal.


"Ya sudah Bu, tidak apa apa. Aku mau lihat Adi boleh Bu?" Tanyaku.


"Boleh boleh silahkan." Kata Ibu mertuaku.


"Sebentar ya Bu. Aku lihat Adi dulu." Kataku pamit dengan Ibu mertuaku.


"Iya nak." Kata Ibu mertuaku.


Aku berjalan menuju ruangan dimana suamilu dirawat. Aku membuka pintu. Aky berjalan mendekati Adi yang berbaring ditempat tidur. Kondisinya yang terlihat masih lemah mencoba tetap tersenyum kepadaku agar terlihat bahwa dia kuat. Aku membalas senyumannya dan duduk disampingnya.


"Sayang! Bagaimana keadaan kamu? sudah baikkah? Apa yang kamu rasakan? Aku khawatir sama kamu. Kamu cepetan sembuh, aku kangen sama kamu." Kataku lirih.


"Aku sudah tidak apa apa. Hanya saja masih terasa lemas tubuhku." Kata Adi membelai kepalaku, berusaha membuatku tenang dan tidak khawatir.


"Maafin aku ya, karena disaat kmu sadar aku tidak ada disini. Kalau aku tau kamu siuman kemarin, aku tidak akan meninggalkanmu." Kataku merasa sangat menyesal.


"Iya tidak apa apa. Ibu sudah jelasin ke aku kemarin. Kata Ibu kemarin kamu pergi keluar buat menghilangkan penat. Aku justru senang, karena kamu mau nyari udara segar. Aku hanya ingin kamu dan anak kita selalu sehat." Kata Adi dengan tersenyum lemah.


"Iya (mengangguk). Aku kemarin pergi ditemani Rudi. Kamu tidak marah? Kamu tidak cemburu?" Kataku mengajukan pertanyaan yang bodoh.


Tersenyum.


"Kenapa ku harus marah? Aku justru senang Rudi bisa menemani kamu. Cemburu? Aku percaya sama kalian tidak akan menghianatiku. Kalau itu orang lain, bukan Rudi mungkin aku akan marah dan cemburu." Terangnya.


Aku yang mendengar kata kata Adi, hatiku ingin rasanya meledak. Mengingat apa yang sudah aku lakukan kepadanya. Semakin Adi mempercayaiku, hatiku semakin hancur dan tak berdaya.

__ADS_1


"Kamu kenapa sebegitu percayanya sama aku? Melihat kamu begitu percaya sama aku membuat hatiku semakin hancur. Aku memang wanita terbodoh didunia ini." Teriakku dalam hati.


Airmataku mengalir sangat deras dipipiku. Aku tak mampu membendungku. Rasa menyesal, marah, dan kecewa bercampur aduk menjadi satu dalam hatiku.


"Hei hei sayang! Kenapa kamu tiba tiba menangis. Kamu kenapa? Ada masalah apa?' Tanya Adi sangat mengkhawatirkan aku.


"Aku tidak apa apa. Tiba tiba saja aku ingin menangis. Aku sayang sama kamu. Maafin aku." Tangisku semakin terisak isak.


"Kenpa kamu minta maaf. Kamu kenapa?" Tanya Adi semakin khawatir.


"Aku hanya ingin minta maaf saja sama kamu." Kataku masih menangis dan airmataku tetap deras mengalir dipipiku.


"Sudah kamu jangan menangis. Katanya kamu kangen sama aku. Apa kamu tidak mau aku cepat sembuh?" Tanya Adi.


Mendengar pertanyaannya membuat ku seketika berhenti menangis dan menatapnya karena terkejut.


"Kamu kok ngomong gitu?" Tanyaku menatapnya dengan tajam dan tanganku menghapus airmata yang mengalir dipipiku.


"Kalau kamu ingin aku cepat sembuh, kamu gak akan membuatku khawatir seperti ini. Kalau kamu menangis terus otomatis aku khawatir dan pikiran aku tidak akan tenang." Kata Adi dengan tersenyum memcoba menenangkanku.


"Maafkan aku. Aku tidak akan menangis lagi asal kamu cepat sembuh." Kataku membalas senyumnya.


Seminggu telah berlalu, kesehatan Adi telah pulih dan dokter sudah membolehkannya pulang.


"Hari ini Bapak Adi sudah boleh pulang. Dan tentang kesehatannya sudah tidak perlu khawatir lagi. Sekarang Bapak Adi sudah 100% sembuh." Kata Dokter.


Aku dan Adi tersenyum secara bersamaan. Alu memeluk Adi dengan rasa senang.


"Akhirnya kmu pulang." Bisikku ditelinga Adi.


"Sebegitu rindunyakah kamu sama suamimu ini. Aku belum begitu sehat dan aku masih butuh istirahat. Maaf membuatmu menyesal karena tidak bisa menuruti apa yang nyonya pikirkan." Goda Adi dengan suara mesumnya.


"Dasar mesum." Teriakku melepaskan pelukanku dengan cepat. Aku tak sadar bahwa disitu masih ada dokter, perawat dan orangtua mertuaku.


Setelah aku sadar dimana aku, aku merasa sangat malu dan aku menundukkan kepalaku tak berani mengangkatnya. Melihat tingkah maluki semua yang ada diruangan ini tertawa kecil menertawakanku yang membuat aku semakin merasa malu.


"Awas kamu ya. Walaupun kamu suamiku, tapi aku pasti kan membalasmu. Lihat saja." Kataku dalam hari, dan melirik tajam kearah Adi.


"Ibu tolong lindungi aku, aku baru saja sembub tapi aku sudah punya perasaan tidak enak disini. Sepertinya ada orang yang ingin membalas dendam denganku. Ibu temani aku ya." Kata Adi manja kepada Ibunya sambil memegang tangan Ibunya untuk memohon.

__ADS_1


"(tertawa) Sudah ah kalian seperti anak kecil. Tidak malu apa sama dokter dan suster. Lihat mereka masih ada disini." Kata Ibu mertuaku merasa geli dengan tingkah Adi.


"Tapi Ibu, Ibu harus tetap menemaniku hari ini." Kata Adi tetap merayu Ibunya.


"Iya iya, Ibu temani. Sudah berhenti." Kata Ibu Adi.


Adi yang mendengar perkataan Ibunya yang setuju, dia menatap dan mengejekku. Senyum kemenangannya tersirat jelas diwajahnya. Aku ikut tersenyum melihat Adi tersenyum. Aku ingin dia merasakan kebahagiaan seperti yang dia inginkan.


Setelah melepas infus ditangan Adi, Dokter tersebut pamit untuk pergi.


"Kalau begitu saya permisi dulu. Anda bisa pulang setelah mengurus semua administrasinya." Pamit Dokter.


"Baik pak." Jawab Ibu mertuaku.


Orangtua mertuaku pergi keluar untuk mengurus semua biaya administrasi selama Adi di Rumah Sakit. Setwlah melihat orangtua mertuaku keluar, aku menatap Adi dengan tajam.


"Ada apa? Ingat aku masih pasien loh." Kata Adi mencurigaiku.


Masih dengan tatapan tajam, aku mendekat kearahnya.


"Kamu!" Kata Adi dengan senyum tipis.


Setelah mukaku dan Adi bertatapan, aku langsung mencium bibirnya karena rasa rindu. Adi sedikit terkejut. Tetapi beberapa saat kemudian, dia membalas ciumanku dan ******* bibirku. Tak berlangsung lama, tiba tiba saja aku teringat kejadian aku bersama Rudi. Aku dengan cepat melepaskan ciuman itu. Adi terkejut.


"Kamu kenapa?" Tanya Adi khawatir.


"A.. Aku tidak apa apa. Hanya tiba tiba ingat bahwa kamu masih seorang pasien." Kataku.


Aku membalikkan badanku untuk sedikit menjauh dari Adi. Tapi dengan kuat Adi menarik tanganku dan akupun terbalik kembali kearahnya. Dia menciumku lagi. Ciuman kami begitu lama dan tak menyadari ada langkah kaki menuju kekamar Adi. Tiba tiba membuka pintu. Aku dan Adi gelagapan malu melihat orangtua Adi yang tiba tiba masuk kedalam ruangan ini.


Ibu Adi hanya menggeleng gelengkan kepala. Aku dan Adi hanya tersenyum melihat Ibu.


"Bisa kalian tunda bermesra mesraannya. Ini masih di Rumahsakit. Lagian kita harus mbereska barang barang dan pulang." Kata Ibu Adi dengan senyum menggoda.


Aku yang merasa sangat malu karena dipergoki orangtua mertuaku, langsung bergegas membereskan semua barang barang yang akan dibawa pulang kerumah.


"Ayo kita pulang." Ajak Ibu mertuaku setelah kami selesai berberes.


"Akhirnya aku bisa merasakan udara segar." Kata Adi bernafas lega.

__ADS_1


__ADS_2