
Hampir satu bulan Ibu mertuaku mendiamkan aku. Dan selama itu juga aku tak berani bertemu dengannya karena takut beliau akan semakin membenciku. Setiap kali aku memerlukan sesuatu aku hanya meminta bantuan Adi dengan alasan tak teg meninggalkan si kecil. Dengan begitu Adi tak perlu terlalu banyak bertanya.
Keesokan harinya, setelah Adi dan Bapak pergi untuk bekerja, aku menemui Ibu mertuaku kekamarnya.
Tok tok tokk (Suara ketukan pintu)
"Ibu." Panggilku mengetuk pintu.
Tak ada suara yang menyahutnya.
"Ibu aku mau berbicara sama Ibu." Lanjutku.
Tetap tak ada suara.
"Ibu aku masuk." Kataku lagi sambil mencoba membuka pintu kamar beliau. Ternyata tidak dikunci.
Aku melihat Ibuku terbujur lemas dikamar. Aku sangat khawatir. Aku berlari kearah Ibu mertuaku.
"Ibu! Ibu kenapa?" Tanyaku khawatir. Aku memegang dahinya dan ternyata panas.
"Aku antar kerumah sakit ya Bu?" Ajakku.
"Tidak usah nanti juga sembuh sendiri." Kata Ibuku menolak ajakanku.
"Ya sudah aku beliin obat dulu ya Bu." Kataku.
Aku berlari ke kamar mengamb se kecil dan kemudian bergegas pergi ke apotik untuk membeli obat.
Beberapa saat kemudian, aku pulang dari apotik. Mengambilkan makan Ibuku dan memberikannya obat. Setelah itu aku kompres dahinya agar panasnya berkurang. Aku seharian mengurus Ibu mertuaku.
Beberapa jam kemudian Ibuku bangun dari tidurnya dan aku lihat dia sudah agak mendingan.
__ADS_1
"Ibu sudah merasakan mendingan?" Tanyaku.
"Sudah. Terimakasih." Jawab Ibu mertuaku.
"Iya Bu, tidak usah berterimakasih." Kataku.
"Kamu mau ngomong apa? Sepertinya ada hal yang ingin kamu katakan?" Tanya Ibu mertuaku.
"Enggak ada apa apa Bu. Aku katakan kalau Ibu sudah sembuh saja. Sekarang Ibu istirahat saja biar cepat sembuh." Pintaku.
Ibu mertuaku tak menjawab, hanya saja beliau menurut untuk istirahat. Setelah Ibu mertuaku sudah agak mendingan dan sekarang baru istirahat, Sekatang tugasku beralih untuk mengurus si kecil. Karena dijam jam segini si kecil waktunya untuk bermain.
Sore harinya setelah aku selesai mengurus si kecil, aku menengok Ibuku dan menyuruhnya untuk makan lalu meminum obat. Setelah semua selesai sekatang giliranku mengurus diriku sendiri. Aku pergi mandi dan kemudian makan.
Beberapa saat kemudian, Adi pulang kerumah.
"Kok sepi? Bapak belum pulang?" Tanya Adi.
"Kalau Ibu kemana?" Tanya Adi lagi.
"Ibu sesang sakit. Aku menyuruhnya untuk istirahat dikamar." Jawabku.
"Sakit? Sakit apa? Sudah dibawa kedokter?" Tanya Adi.
"Badannya panas. Masuk angin mungkin. Tadi mau aku bawa ke rumah sakit tapu Ibu menolaknya." Jawabku.
"Kenapa kamu nggak telepon aku tadi? Harusnya kmu telepon kan aku bisa pulang." Kata Adi dengan nada sedikit keras.
Aku terkejut dengan suaranya yang sedikit keras. Tapi aku mencoba mengerti posisinya sedang khawatir dengan keadaan Ibunya. Aku hanya diam tak mengatakan apapun. Adi langsung meninggalkan aku, dan pergi kekamar Ibunya.
"Ibu! Ibu kenapa? Kenapa tadi nggak telepon aku? Kalau gitu kan aku bisa pulang dan bawa Ibu kedokter." Kata Adi khawatir dengan keadaan Ibunya.
__ADS_1
" Ibu sudah tidak apa apa. Tadi Vina yang rawat Ibu. Tadi dia juga mau ajak Ibu kerumah sakit tapi Ibu menolaknya. Kamu suruh Vina buat istirahat. Ibu tau seharian ini dia belum istirahat karena harus mengurus Ibu dan anaknya." Kata Ibu.
"Iya Bu. Ibu istirahat lagi ya. Biar cepat sembuh. Adi pergi dulu." Pamit Adi.
Ibunya hanya menganggukkan kepalanya.
Aku mendengar langkah kaki menuju kekamar. Adi membuka pintu kamar dan mendapati aku yang sedang mengurus mengganti popok si kecil. Memang aku merasa sangat lelah hari ini karena aku belum istirahat sama sekali.
Aku melihat kearah Adi yang berdiri didepan pintu dengan rasa bersalahnya, aku hanya tersenyum kepadanya. Adi yang melihatku tersenyum langsung menghampiriku dan memelukku erat.
"Maafkan aku! maafkan aku tadi sudah berbicara keras sama kamu." Kata Adi meminta maaf.
"Iya tidak apa apa. Aku tau kamu hanya sedang khawatir sama Ibu kamu." Kataku merasa lega.
"Aku benar benar minta maaf." Kata Adi meminta maaf lagi.
"Iya tidak apa apa." Jawabku.
Keesokan harinya, aku bangun dan berniat untuk membuatkan sarapan untuk keluargaku. Tetapi sesampainya didapur aku melihat Ibu mertuaku sedang memasak.
"Ibu! Ibu istirahat saja. Biar aku yang masak. Ibu belum pulih." Kataku.
"Ibu sudah tidak apa apa. Kamu istirahat saja." Kata Ibu.
"Ibu yang harus istirahat. Ibu masih sakit." Kataku
" Sudah. Ini sudah hampir selesai masak. Kamu istirahat saja." Kata Ibu mertuaku menyuruhku beristirahat.
Aku hanya menuruti Ibu dan pergi kekamar. Sesampainya dikamar ternyata si kecil sudah terbangun dan bermain sendirian. Ayahnya belum bangun.
Aku menggendongnya dan mengajaknya untuk jalan jalan keluar mencari udara segar.
__ADS_1